
Aku Akan Selalu Ada Untukmu
Dokter ahli kandungan dan para perawat sudah mengerti siapa Askelan dan memahami keadaan yang mereka hadapi saat ini, hingga dengan cepat mereka melakukan persiapan untuk kelahiran secara normal.
“Maaf, Tuan. Apa Anda akan menemani Nona di sini?” kata salah satu dokter yang ada dalam ruangan itu.
Askelan melihat ke arah dokter yang bertanya, dengan tatapan penuh tanda tanya pula. Biar bagaimanapun juga, hal ini adalah pengalaman pertamanya untuk menjadi seorang ayah, hingga dia harus memastikan diri apakah akan tetap berada di dalam atau tidak.
Bukan hal yang mudah untuk melihat Lintani merasakan sakit seperti itu, tapi meninggalkannya pun dia tidak sanggup. Seandainya bisa dia menggantikan rasa sakit itu, maka akan melakukan dengan senang hati.
Sebelum menjawab, dia menoleh pada Lintani yang tengah diperiksa, melihat wanita itu begitu tidak berdaya dan meringis kesakitan, perasaannya semakin sedih saja.
“Berikan dia penghilang rasa sakit!” katanya sambil memasukkan kedua telapak tangannya di dalam saku celana.
Semua dokter saling melempar pandangan. Memberikan obat pereda rasa sakit justru akan membahayakan, karena seorang ibu tidak tahu apakah sudah semakin dekat posisi kepala bayi berada di mulut rahim atau tidak.
“Maaf, Tuan kami tidak bisa memberikannya! Sebab beberapa kondisi dan sakit tertentu yang tidak bisa diberikan pereda rasa sakit, salah satunya adalah sakitnya melahirkan.” Salah satu dokter memberikan penjelasan.
“Apa katamu?” Askelan berkata sambil mencengkeram kerah dokter dan mendorongnya hingga ke tembok. Dokter yang kebetulan laki-laki itu, tidak pernah berhadapan dengan musuh atau berkelahi, hingga membuat tubuhnya begitu mudah terdorong ke belakang dan ia pun meringis kesakitan.
Dokter dan perawat yang semuanya perempuan itu, mencoba menenangkan Askelan. Sementara Jordan yang mengetahui kekacauan di dalam ruangan, tidak bisa terlibat karena pintu perawatan itu ditutup dan hanya pihak keluarga terdekat yang diizinkan masuk.
“Apa kau tidak melihat istriku begitu kesakitan apa kau tidak melihatnya?” kata Askelan lagi masih penuh amarah.
Keadaan Lintani butuh ketenangan, tapi adanya Askelan di sana pun memaksa mereka memberi ketenangan. Merepotkan sebenarnya, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
“Maka dari itu, Tuan ... kami bertanya apakah Anda akan tetap di dalam atau tidak, karena seperti inilah memang proses persalinan bagi setiap wanita. Tidak ada obat pereda rasa sakit yang bisa kami berikan karena sebesar apa pun dosis yang kami suntikan tentu tidak akan bisa mengatasinya.” Seorang dokter perempuan memberinya penjelasan.
Askelan sudah membaca beberapa artikel tentang kelahiran bayi dan juga, tentang bagaimana prosesnya, tapi, semua yang dibaca dan pelajari sejak satu bulan terakhir itu, seolah menguap begitu saja.
“Mengapa bisa begitu?” kata Askelan mulai melunak, seraya melepaskan cengkeramannya dan mengelapkan telapak tangan ke baju dokter tadi, seolah menghilangkan kotoran yang menempel di tangannya.
“Proses melahirkan seorang bayi memang begitu menyakitkan bagi perempuan, tetapi banyak dari mereka yang tidak jera melakukannya, bahkan lebih dari sekali saja mereka hamil. Prosesnya memang sangat menyakitkan karena, rasa sakit keluarnya kepala bayi dari mulut rahim itu, sama seperti sakitnya akibat empat tulang persendiannya patah!” Kata dokter itu lagi.
“Apa?” Askelan begitu terkejut, dia terlihat lebih gelisah bagai dia sendiri yang akan melahirkan. Dia berjalan mondar-mandir sambil mengusap wajahnya kasar. Kalau orang lain mungkin akan dia biarkan.
__ADS_1
Ya, begitulah para wanita itu senang kalau hamil, karena ada manusia kecil, hasil dari percikan cinta dengan pasangannya, bersemayam di perutnya.
“Iya, Tuan ... memang seperti itu rasa sakitnya tapi, tidak apa-apa proses persalinan ini wajar untuk setiap wanita, aku juga pernah mengalaminya, tapi, lihatlah aku sekarang baik-baik saja!” kata dokter wanita yang ada di sebelahnya itu.
“Apa kau juga pernah melahirkan?” tanya Askelan pada perawat lain, yang umurnya terlihat lebih tua.
“Ya, aku sudah memiliki dua orang anak!” sahut perawat itu sambil mengangguk.
Ada dua orang dokter ahli kandungan yang terlibat di ruangan itu. Sisanya adalah dokter ahli lain yang masih berhubungan dengan kehamilan. Mereka segera menuju ke tempat itu setelah dihubungi oleh Jordan.
Jordan bersikap cepat tanggap, saat melihat Lintani terjatuh dan mengeluarkan banyak darah. Dia dan Askelan sudah berada di rumah sakit itu sebelumnya, bahkan sebelum Lintani bertemu dengan Haifa. Sudah menjadi kebiasaan Askelan untuk melihat istrinya secara sembunyi-sembunyi.
Setiap kali Lintani pergi ke rumah sakit atau mal, Askelan akan menyempatkan diri menguntitnya, kecuali dia sedang sibuk atau waktunya rapat. Maka dia merasa cukup walaupun hanya melihat Lintani melalui video yang dikirimkan pengawalnya. Selama wanita itu baik-baik saja, dia akan puas.
Pria itu terpaksa mengurungkan niatnya mengadakan pesta pernikahan setelah dia diumumkan sebagai pemilik sah Bukit Shaw dan dinyatakan secara resmi sebagai cucu dari keluarga Shaw yang telah hilang. Bahkan keluarga Harrad pun bersuka cita menjadi besan Aston Shaw yang legendaris.
Namun, karena masalah pribadi Askelan dan Lintani, yang tidak diketahui oleh umum, menyebabkan rencana pesta secara besar-besaran ditangguhkan, dengan alasan tuan putri keluarga Shaw itu, sedang tidak sehat.
“Elan!”
Askelan dengan segera menengok Lintani yang tiba-tiba memanggil, dia melihat istrinya itu masih meringis kesakitan, sementara pakaiannya sekarang sudah diganti dengan baju rumah sakit.
Askelan justru mendekat, meraih tangannya dan menciuminya beberapa kali, tanpa terasa setetes air mata mengalir di pipinya. Dia terlihat enggan menuruti keinginannya kali ini.
Bagaimana mungkin dia mengusirku keluar? Apa dia benar-benar membenciku? Batinnya.
Di samping tempat tidur pasien sudah berjajar alat-alat medis yang sudah disediakan secara lengkap. Para petugas medis pun sudah siap melakukan tindakan saat kedua insan yang sebenarnya saling mencintai itu masih saling menggenggam tangan.
Keadaan Lintani sekarang tetap diistilahkan sebagai kelahiran prematur. Walaupun usia kandungannya sudah mendekati kelahiran, tapi, keluarnya bayi saat kurang 35 hari dari waktu perkiraannya, maka tetap di sebut prematur.
Begitulah yang terjadi pada Lintani, apalagi setelah terjatuh tadi, dia berada pada keadaan percepatan dilatasi, yaitu posisi di mana kepala bayi lebih cepat memasuki area serviks hingga menyebabkan kontraksi.
“Keluarlah!” sekali lagi Lintani meminta Askelan untuk keluar, bukan karena benci, tapi karena dia tidak ingin pria itu lebih merepotkan dirinya beserta semua petugas medis yang akan membantunya.
“Apa kau membenciku?” Askelan berkata sambil menciumi tangan Lintani yang justru ingin tertawa karena melihat pria itu menitikkan air mata. Dia tidak tahu apakah harus mengusir atau tidak.
“Ya!” akhirnya kata itulah yang keluar dari mulut Lintani. Dia pikir ucapannya akan membuat Askelan menurutinya. Walaupun sebenarnya dia tidak tega, kalau tidak ada Askelan di sana tadi, mungkin keadaannya akan lebih mengenaskan lagi. Dia tidak tahu bagaimana suaminya itu bisa muncul dan menggendongnya di saat yang tepat.
__ADS_1
“Baiklah, kalau kau membenciku aku akan keluar, tapi, izinkan aku menengok anakku!” Askelan berujar sambil berdiri dan melangkah keluar pintu.
“Tentu! Aku akan mengizinkannya!” kata Lintani sambil meringis lagi, karena sakitnya lebih terasa semakin menyakitkan.
Askelan menunggu di luar ruang bersalin dengan gelisah, dia tidak bisa duduk tenang dan sebentar-sebentar mengusap wajah, karena terus memikirkan istrinya yang, kembali merasakan sakit karena dirinya. Tiba-tiba saja dia menjadi benci pada dirinya sendiri.
Dua jam lebih dia menunggu, hingga akhirnya terdengar suara tangis bayi dari dalam sana yang membuat kecemasan Askelan sedikit berkurang. Lima belas menit kemudian, perawat mengabarkan keadaan ibu dan baby boy sehat.
“Kau dengar itu, Mo! Mereka sehat!” kata Askelan sambil memegang tangan Mo kuat-kuat.
Wanita itu sejak tadi hanya duduk tenang di kursi besi yang ada di dekat pintu ruangan itu. Dia tahu kalau Lintani wanita yang tangguh, dia berada di lingkungan yang keras dan kejam, hingga melahirkan seperti itu bukanlah hal tabu. Apalagi dia pernah melahirkan sebelumnya, hingga dia tidak terkejut lagi.
Kondisinya sekarang jauh lebih baik dari saat dia berada di penjara waktu itu.
Setelah satu jam semua dokter sudah keluar dan mengucapkan selamat kepada Askelan. Bersamaan dengan Lintani yang akan di bawa ke ruang perawatan.
Wanita itu sudah memakai pakaian bersih yang berbeda, dan tampak lebih tenang. Dia tinggal menjalani masa pemulihan.
Namun, baby boy masih harus berada di inkubator.
“Tuan, biarkan Nona beristirahat, tidak boleh bangun atau banyak bergerak, sebelum enam jam,” kata perawat itu setelah Askelan berada di kamar perawatan VVIP yang sudah dia tentukan.
“Kenapa?” tanya Askelan.
“Itu prosedur dan keharusan bagi semua wanita yang melahirkan, Tuan. Kalau Nona membutuhkan sesuatu, tolong hubungi kami.”
“Apa istriku pingsan?” tanya pria itu lagi, sedangkan Mo menutup mulutnya karena menahan tawa.
Perawat melihat Lintani yang terpejam sebelum menjawab, “Tidak, tapi Nona sedang tidur dan sebaiknya jangan diganggu.” Sepertinya perawat itu cukup cerdik, dia tidak berbohong, tapi ucapannya bisa menghindarkan Lintani dari kemanjaan suaminya, sebab dia melihat sendiri bagaimana posesifnya Askelan tadi.
Askelan memutuskan untuk melihat keadaan baby boy sebelum Lintani bisa di ajak bicara. Dia berbisik pada Lintani sebelum pergi.
“Aku mencintaimu, Sayang ... apa kau tahu, aku selalu bersamamu, walaupun kau tidak mau bertemu denganku, tapi, aku mau bertemu denganmu! Sebenarnya, aku selalu datang tiap malam saat kau tidur dan aku menciummu ... Aku tahu, kau menginginkan aku, kan? Makanya cepatlah bangun agar kita bisa berciuman! Jangan berbohong lagi mulai dari sekarang!”
Bersambung
__ADS_1