Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 29. Datang Menjemputnya


__ADS_3

Datang Menjemputnya


Petra seketika menoleh dan hendak memukul seseorang di sampingnya yang telah membekap mulut dan hidung gadis itu dengan tangan besarnya. Namun, secara tiba-tiba pula kedua tangannya dibelenggu oleh dua orang berbadan kekar dari belakang.


“Lepaskan aku, keparat! Apa salahku!” Petra berteriak keras tapi, percuma karena kedua orang yang menguasai dirinya jauh lebih kuat.


“Lepaskan wanita itu! Kurang ajar, kalian!” Petra kembali berteriak.


“Diam, kau Pet! Tenanglah, aku tidak akan melukainya kalau kau menurut!” kata pria yang mengikat tangannya.


“Aku dan dia tidak ada hubungannya dengan Askelan, apalagi dengan kalian!” kata Petra dengan suara gemetar menahan marah.


Pria itu memang memiliki postur tubuh yang bagus, tapi dia tidak memiliki kemampuan bela diri apa pun hingga dia tidak mampu melawan, saat dirinya di seret ke tempat sepi dekat bangunan pabriknya sendiri. Dia tidak berdaya melihat gadis yang pernah menawan hatinya saat masih remaja itu, menjadi lemas karena dia dibekap oleh pria itu, menggunakan obat bius tadi. Dia anak pertama dari Noul si penguasa perguruan bela diri, tapi dia sendiri tidak bisa membela diri. Petra pernah cidera saat masih kecil hingga dia tumbuh menjadi anak manja.


Dia merasa geram saat mengetahui jika pria yang mengikat tangannya adalah orang-orang suruhan Dex. Dalam hati Petra mengutuk dirinya sendiri, yang sudah secara tidak sengaja mengatakan tentang Lintani pada sepupu ayahnya itu.


Dex Barseba bermusuhan dengan Askelan karena pria itu, ingin menguasai kekayaan keluarga Harrad, tapi, kedudukannya yang hanya sebagai suami dari Nazaret, adik kandung Yardo, membuatnya tidak berkutik.


Apalagi Dex berteman dengan Makra, seorang pria di masa lalu, yang pernah menyukai Elliyat. Namun, wanita itu lebih memilih menyerahkan diri kepada putra pertama keluarga Harrad, yaitu ayah Askelan hingga anak yang dilahirkannya, yang tidak tahu menahu, tentang akar permasalahan antara orang tuanya itu menjadi sasaran.


Tanpa sepengetahuan Nazaret—istrinya, Dex melakukan sesuatu yang buruk, bersekongkol dengan saudara-saudara lainnya menggunakan cara licik untuk membunuh Askelan, yang notabene adalah keponakan istrinya.


Dex menganggap Askelan tidak berhak untuk mewarisi kekayaan dari Yardo, sebagai anak laki-laki tunggal. Seharusnya dia, yang menjadi orang kepercayaan keluarga Harrad setelah Yardo tiada. Lalu, dia bisa memberikan tampuk pimpinan perusahaan selanjutnya kepada putranya sendiri.


Siapa yang tahu jika beberapa hari sebelum terjadi serah terima jabatan, justru Askelan—anak yang lahir dari istri pertama Yardo itu datang. Mereka menyesali mengapa laki-laki seperti Yardo bisa sangat mencintai Elliyat, seorang wanita terlahir dari keluarga miskin. Oleh karena itu, ketua Harrad pun menolaknya, kemudian menikahkan Yardo dengan Sofia, gadis pilihan para tetua keluarga. Sayangnya, Sofia tidak memiliki anak, alias mandul, hingga mau tidak mau mereka mengakui Askelan sebagai keturunan.

__ADS_1


Namun langkah Askelan menuju puncak kekuasaan tidak mudah, walaupun, pihak keluarga menerimanya. Julukannya sebagai anak di luar nikah membuat beberapa pamannya, tidak menyukai keputusan para tetua.


Ayah dan ibu Askelan sebenarnya menikah secara sah pada adat keluarga Elliyat, bahkan tercatat di pemerintahan setempat. Mereka menikah dalam keadaan yang sederhana dan jujur, mereka keluarga baik-baik yang menjunjung kearifan adatnya secara menyeluruh.


Kini, sebenarnya Makra sudah menjadi tua dan dia punya keluarga sendiri setelah memutuskan untuk melupakan Elliyat yang sudah menikah. Namun, dendam Dex sebagai temannya, tidak juga hilang. Banyak kebetulan lainnya terjadi, jika istri Makra saat ini adalah adik dari Saniel, ibu Petra yang tidak memiliki dendam apa pun pada Askelan, tapi, dilibatkan juga.


Sementara Askelan tidak bisa menjerat Dex—pamannya itu, dengan pasal pidana karena dia selalu menggunakan anak buah yang cerdik seperti Mork, orang yang pernah di bunuh oleh Jordan, untuk melakukan aksinya.


Petra saat itu hanya berharap, Askelan segera datang menyelamatkan Lintani. Dia pernah melihat bagaimana posesifnya Askelan pada gadis itu, saat tengah berbincang dengannya beberapa hari yang lalu. Dia tidak punya kekuatan, bahkan untuk menolong dirinya sendiri pun tidak mampu.


Setelah Petra selesai berteriak dan kedua pria itu berhenti tertawa, tiba-tiba saja hening. Suasana itu mirip sekali dengan keadaan di lautan yang tiba-tiba tenang sebelum datangnya badai tsunami.


Ternyata, yang datang bukan tsunami melainkan Askelan, yang melangkah lebar mendekati dua pria tadi, dengan membawa kemarahannya. Dia melepaskan tinjunya berulang kali karena dua pria itu menghadangnya saat hendak melepaskan Lintani.


Sementara seorang pria lagi, yang bahkan belum selesai mengikat tubuh lemas gadis itu, kini sudah terkapar karena tendangan keras diperutnya. Lalu, usaha penyekapan itu berhasil digagalkan dengan mudah, oleh Askelan sendiri.


“Ck! Apa kau tidak lihat? Aku sibuk!” kata Askelan sambil berlalu, tanpa melirik pada Petra sedikit pun.


“Cih! Aku masih saudara jauhmu! Tega sekali, kau!” kata Petra.


“Hai! Jode! Ayolah! Lepaskan aku!” kata Petra Lagi, saat melihat Jordan yang datang dengan membawa seutas tali, untuk mengikat ketiga pria. Dia yang akan memberi pelajaran selanjutnya setelah mereka sadar, nanti.


“Aku juga sibuk! Kau tidak lihat?” Kata Jordan sambil mengikat tangan tiga pria suruhan Dex itu, lalu, mengikat badan ketiganya menjadi satu


“Makanya, seharusnya kau menjauhi Nona Lin, agar tidak mendapatkan masalah seperti ini. Dasar Bodoh!” Jordan melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


“Hah! Mana aku tahu soal itu, memang siapa Lin bagi Askel?”


“Kau tidak perlu tahu!” sahut Jordan.


Sementara itu, hati Petra penuh dengan penyesalan, seandainya tahu sejak awal, maka, dia tidak akan mendekati Lintani.


“Baiklah. Aku tidak akan peduli mulai sekarang!”


“Kau salah lagi!” Jordan berkata dengan kesal.


Sebenarnya Petra heran mengapa orang seperti Askelan membiarkan wanitanya bekerja kasar di pabriknya, tapi, sebanyak apa pun dia bertanya mungkin, sepupu jauhnya itu tidak akan menjelaskan apa-apa.


“Lepaskan aku dulu, sialan! Ayo! Kita bicara!”


“Tidak ada yang perlu dibicarakan dengan orang sepertimu!”


“Ada! Lin bekerja padaku, jadi setelah ini aku akan melindunginya untuk Askel. Apa pun urusan mereka berdua!”


Jordan menyeringai. LaLu, dengan cekatan dia melepaskan ikatan di tangan dan kaki Petra.


“Kau seharusnya bersyukur, menjadi keponakan dari Bibi Tuan Askel, kalau tidak, mungkin kau sudah bernasib sama!” kata Petra sambil menggerakkan dagunya pada tiga pria kekar, mereka sudah pingsan dalam sekejap dengan tubuh dan wajah yang lebam.


******


Sementara itu, Askelan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sebentar-sebentar dia melirik Lintani, yang duduk bersandar pada kursi di sampingnya, dia masih lemas karena efek dari obat bius.

__ADS_1


Saat gadis itu keluar dari lokasi pabrik tadi, sebenarnya dia sudah dalam perjalanan untuk menjemput. Semua dia lakukan karena janjinya pada Elliyat untuk menjaga istrinya.


Bersambung


__ADS_2