
Jabie Gadis Berkaki Lumpuh
Gadis itu adalah Jabie, dan temannya, Syalum, mereka bersahabat sejak kecil dan, sudah lama menjadi rekan kerja di salah satu restoran terkenal.
Mereka bekerja di sana setelah kaki Jabie yang semula cacat sejak lahir, bisa berjalan kembali. Semua karena bantuan dari Askelan, yang telah membiayai operasinya dan membelikan kaki palsu yang bagus, serta nyaman.
Namun, gadis itu diam-diam mengikuti jejak sang kakak dengan banyak berlatih di club tembak.
Jabie adalah adik perempuan Jordan, mereka lahir dari keluarga miskin. Namun, berkat Askelan, mereka bisa hidup makmur sampai saat sekarang.
Mereka pernah tidak mempunyai apa-apa untuk di makan sementara Jordan belum mendapatkan uang. Gadis itu mencuri selembar roti kering di toko milik Mork. Namun, karena ketahuan pemilik toko menyiksa dan menghancurkan kakinya yang cacat.
Ternyata Mork adalah seorang tangan kanan Marka dan Dex, pantas saja dia rela berbuat sekeji itu pada gadis remaja yang cacat. Sejak saat itu Jordan mendendam, hingga bertemu Askelan dan, berhasil memenuhinya, dengan menghantarkan nyawa Mork kembali ke nirwana.
Jabie dan temannya mendarat di halaman rumah sakit yang halaman gedungnya luas. Seperti sengaja dirancang agar helikopter bisa mendarat dengan mudah jika menurunkan pasien.
“Tuan Askel, aku akan pergi!” kata Jabie setelah Askelan sampai.
“Kau benar-benar tidak mau Jode tahu, kenapa?”
“Tuan, dia terlalu menyayangiku hingga aku tidak bebas.”
“Baiklah, tapi kau akan berguna kalau bergabung.”
“Tidak, aku ingin jadi orang biasa saja!”
“Ya! Itu juga bagus.”
“Tuan, aku akan meninggalkan heli di sini, dan katakan, bahwa ada orang lain yang menyelamatkanmu, oke?”
Askelan mengangguk. Bersambung dengan mesin yang berhenti dan para petugas datang dengan membawa crack otomatis, lalu, mengangkat tubuh Lintani dan Askelan.
Setelah memastikan Askelan dan Lintani mendapatkan perawatan, dua wanita itu pergi kembali melakukan latihan seperti biasanya.
Dua wanita itu tengah berbincang dan berswa foto di atas atap mal saat Jabie melihat ada iring-iringan mobil Dex, di halaman parkir. Dia curiga setelah melihat orang-orang turun dengan saling memberi kode-kode yang janggal, hingga menarik perhatiannya. Apalagi semua memakai earphone canggih di telinga.
__ADS_1
Syalum temannya memiliki ide untuk tetap di atap, untuk melakukan hobi mereka membuat gambar di ketinggian sebuah gedung. Cukup lama mereka berada di sana sampai mereka melihat ada baku tembak antara helikopter yang terbang dengan pasukan Dex di bawahnya.
Tak lama kemudian, dia melihat Jordan sang kakak ada dalam helikopter yang mendarat di dekat mereka dan turun ke dalam mal. Karena khawatir ketahuan kalau dirinya tengah membawa senjata, dia memutuskan untuk tetap bersembunyi dan menunggu hingga Jordan dan Askelan pergi lagi.
Namun yang dia lihat setelah itu bukan Jordan atau Askelan, namun Dex yang tengah menyekap Lintani, hingga dia merekam kejadian yang menurutnya janggal.
Dia menyaksikan seorang ajudan perempuan membunuh pilot yang, menerbangkan helikopter Askelan, karena menolak terbang untuk mereka.
Lalu, terjadilah hal yang membuat Jabie harus melenyapkan Dex walau, apa pun risikonya. Dia keluar dari persembunyian, mendekati Helikopter, dengan mengarahkan senjatanya tepat ke jantung dari arah belakang. Dia tidak akan membiarkan Askelan yang terdesak itu, terbunuh sia-sia di tangan laki-laki yang dibencinya.
‘Tapi, di mana Jode, apa dia masih melawan pasukan yang di bawah?’ pikirnya waktu itu.
Namun Jabie lega, karena sampai dia pergi pun Jordan tidak muncul juga. Itu artinya dia tidak perlu menjelaskan apa pun pada kakaknya itu, mengenai soft gun yang dia dapatkan dari gudang senjata Jordan di rumah mereka.
Epilog
“Apa kau mendengar sesuatu?” tanya Haifa saat masih menikmati makanan yang sudah di pesan oleh Yasmin.
“Mendengar apa?” tanya Yasmin dan Petra secara bersamaan.
“Suara tembakan!” kata Haifa lagi tanpa berhenti mengunyah.
“Mungkin itu petasan!” kata Petra
“Atau bisa saja balon meletus!” sahut Yasmin.
“Ya. Bisa jadi, tapi aku bahkan mendengar suara helikopter juga!”
Petra mengangguk sambil berkata, “Mungkin ada sebuah drama sedang berlangsung!”
Ketiga orang itu selesai menikmati makanan siang, mereka kembali berjalan menyusuri mal sambil berbincang-bincang. Saat berada di luar mal dan hendak menuju tempat parkir, barulah mereka sadar bila suara tembakan yang didengar tadi bukanlah khayalan melainkan kenyataan. Mereka melihat ada kesibukan para petugas keamanan dan pihak medis, tengah melakukan tugas mereka masing-masing, dalam menangani beberapa orang tewas dengan luka tembakan.
Namun, yang lebih menyedihkan lagi bagi Petra adalah salah satu korban tewas itu adalah Dex Barseba, Pama sepupunya sendiri.
Setelah itu pengumuman berduka cita bagi keluarga Harrad dan keluarga Barseba dinyatakan secara resmi dan terbuka oleh pihak pengacara masing-masing keluarga.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Lintani membuka mata perlahan-lahan, dia merasakan angin dan sinar matahari membelai pipinya secara bersamaan. Dia sudah memakai baju rumah sakit dan tangannya yang terdapat jarum infus. Kepalanya terasa sakit, dia baru tahu kalau kepalanya terluka, setelah meraba.
‘Apa yang terjadi padaku?’ pikirnya, sambil mengedarkan pandangannya dan mendapati kamar itu kosong.
Sejenak kemudian, Lintani sudah mengingat kejadian sebelumnya hingga membuatnya ketakutan.
Dia duduk di ujung bangsal dan menekuk lututnya sambil menangis, karena tidak tahu di tangan siapa dirinya kini harus menjalani hidup. Sebelum terjatuh, dia mendengar suara tembakan tapi, siapa yang terbunuh, apakah Dex atau Askelan, dia tidak tahu.
Lintani kemudian turun dari tempat tidur, setelah mencabut jarum infus, dan keluar. Namun, ada dua orang penjaga bertubuh besar di sisi kiri kanan pintu. Membuatnya urung melangkah. Ini sudah jelas, kan, ditangan siapa pun, pasti akan ada penjagaan.
Melihat pintu terbuka dan Lintani ada di sana, salah satu dari penjaga langsung berbicara melalui interkom.
“Alfa satu sudah sadar.”
Lintani diminta untuk tetap berada di kamar oleh penjaga secara sopan, mau tidak mau gadis itu menurut. Dia sadar kalau tidak bisa melarikan diri dengan keadaan lemah seperti ini.
‘Sudah lamakah aku pingsan?’ batin Lintani.
Sesaat kemudian pintu kembali terbuka, melihat Mo yang muncul di sana membuat Lintani berteriak girang. Dia langsung memeluk Mo dengan perasaan senang. Dia tahu di tangan siapa dia kini harus menjalani hidupnya.
“Bibi, apa Askel baik-baik saja?”
“Kakinya terluka parah, bagaimana dia bisa baik-baik saja, Nona?”
“Oh, maaf!”
“Tidak perlu minta maaf. Kau harus sehat dan pulih seperti sebelumnya kalau mau melihatnya.”
“Kenapa?”
“Dia tidak mau ditemui oleh orang yang sakit!”
Lintani mengerutkan keningnya tanda dia berpikir keras, itu artinya dia tidak akan bertemu Askelan selama beberapa hari.
__ADS_1
‘Apa ini cara yang halus untuk menolakku? Lalu, bagaimana dengan Haifa? Selintas saudara angkatnya itu hadir dalam pikirannya tapi, dia tidak akan peduli padanya sebab dialah istri Askelan yang sesungguhnya.
Bersambung