Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 144. Dia Masih Sibuk


__ADS_3

Dia Masih Sibuk


Lintani duduk di sisi brankar Aston, di rumah sakit, sambil mengusap perutnya yang semakin membuncit. Matanya tertuju pada layar televisi yang memberitakan perkembangan kerja sama antara dua perusahaan besar untuk mengolah tanah yang mengandung emas. Bahkan pemerintah pun sudah terlibat di dalamnya.


Walaupun, namanya sering di sebut sebagai pemilik dan diharapkan muncul di hadapan publik, tapi, dia sama sekali tidak tergoda. Bahkan dia menemui Aston pun secara sembunyi-sembunyi, tanpa mengatakan apa-apa pada para wartawan yang terlihat di sekitar rumah sakit.


Tentunya para awak media itu tidak ada yang tahu wajah Lintani, sebagai pemilik gunung emas itu seperti apa. Dia tersembunyi dari publik, sebab apabila dia terlihat dan diketahui oleh para wartawan, maka, ketenangan hidupnya akan terusik.


Dia menengok Aston hampir setiap hari, dan dia juga bertemu Yasmin, mereka sudah menjadi saudara yang akur dan saling mendukung satu sama lain.


Lintani mensuport agar Yasmin segera menikah dengan Petra, tapi kedua orang itu menunggu Lintani mengadakan pesta pernikahannya bersama Askelan, barulah mereka akan mengadakan resepsi juga.


“Apakah itu perlu, kata Lintani pada Yasmin dan Petra, mereka berada di ruangan yang sama, untuk menjenguk Aston saat ini.


Pria itu tampak lebih bersemangat, sorot matanya pun berbinar saat melihat kedua cucunya bersama. Meski kondisinya tidak berkembang, tapi, setidaknya dia tidak lebih parah.


“Ya! Dan, kami akan menyusulmu!” kata Yasmin sambil bergelayut mesra di lengan Petra.


“Kalian berdua membuat duniaku terasa sempit!”


“Apa maksudmu, apa kau masih mengingat masa lalu kita dulu, maaf, kalau itu terlalu menyakitkan bagimu, hingga kau sulit melupakannya!” kata Petra, penuh rasa bersalah.


“Bukan begitu, kalian terlalu memaksaku untuk membuat pesta, kenapa harus membatasi diri? Aku sudah pernah menikah dan aku hamil seperti ini, akan sulit membuat gaun pengantin, jadi, menikahlah tanpa harus menungguku!”


“Kau mengada-ada, Lin, banyak perancang yang akan bersedia merancang gaunmu!” kata Yasmin.


“Ah tidak, aku bisa merancang gaunku sendiri!”


“Benarkah? Lalu, kenapa kau tidak merancang gaunku juga?” pinta Yasmin.


“Hus! Tidak pantas bagimu meminta Lin melakukannya. Meskipun usia kalian hampir sama!” kata Aston. Pria itu tidak bisa jauh-jauh dari peralatan rumah sakit.

__ADS_1


“Tidak apa-apa Kakek, kalau hanya merancang saja, aku bisa ..., terserah dia mau menjahit pakaiannya pada siapa?” ujar Lintani sambil mengusap tangan sang Kakek.


“Jadi, kau hanya bisa mendesain, tanpa bisa menjahitnya hingga selesai?” tanya Yasmin.


“Tentu saja aku bisa, dari mulai merancang, memilih kain dan juga hiasan, payet atau pelengkap lainnya hingga selesai, tapi aku tidak mungkin melakukan saat perutku besar begini!”


Yasmin tertawa menertawakan kebodohan sendiri, seolah lupa jika saudaranya itu tengah hamil.


“Oh ya, maaf ... maaf.” Katanya.


“Jadi, kita sepertinya harus bersabar ... Kita akan menikah kalau Lin sudah melahirkan,” kata Petra, dia tidak mau dianggap tidak sopan.


“Ya! Terserah kalian saja,” sahut Lintani


“Apa Tuan Askel akan menjemputmu kali, ini, Lin?” tanya Yasmin.


“Tidak, dia sibuk?”


“Tidak ada, aku hanya masih mengidam tidak suka dengan wangi parfum suamiku saja!”


“Suruh dia jangan pakai parfum!” Petra memberi usul sambil tertawa.


“Akh, tetap tidak bisa, aku selalu muntah!”


Namun, jawaban Lintani membuat Aston dan Yasmin heran, sebab saat mereka pertama bertemu di rumah Aston waktu itu, Lintani dan Askelan baik-baik saja. Lagi pula mana ada mengidam sampai usia kandungan hampir melahirkan.


Seperti biasanya, setiap kali pulang dari menengok Aston di rumah sakit, Lintani selalu sendiri dan hanya Mo yang menemani. Dia sudah lama tidak memeriksa kandungannya, karena Askelan tidak menemaninya. Rasa rindu kembali hadir, namun rasa khawatirnya jauh lebih besar lagi. Dua rasa berseberangan itu selalu berperang di benaknya.


Semua berharap bila Lintani bisa segera memaklumi keadaan, dan memaafkan Askelan untuk tetap bersama. Namun, nyatanya Lintani tetap mengabaikan Askelan, sampai usia kandungan mendekati hari kelahiran bayinya.


Lintani berjalan meninggalkan ruangan Aston, dan dia berhenti sejenak saat melewati ruangan ibu dan anak, di mana dia biasa memeriksa kandungannya bersama Askelan.

__ADS_1


Namun, tanpa di duga, dia justru bertemu dengan Rauja dan Haifa yang berjalan dari arah berlawanan, atau dari bagian penyakit umum.


Mereka sempat terkejut dan kemudian saling beradu pandang sejenak dengan tatapan yang rumit.


Rauja dan Haifa sudah menunggu kesempatan untuk bertemu dan meminta maaf dengan cara sembunyi-sembunyi di beberapa tempat, yang biasa dikunjungi para sosialita, termasuk mal. Mereka lupa kalau Lintani bukan tipe wanita seperti itu, hingga mereka tidak juga bertemu Lintani, setelah sekian lama.


Siapa yang menyangka bila, mereka justru bertemu di tempat seperti rumah sakit ini. Baru saja Rauja memeriksakan diri karena dia sedang tidak enak badan dan melihat Lintani di sana.


Lintani mengabaikan mereka dan hendak beranjak pergi, tapi baru saja beberapa langkah, Rauja menghampiri langkahnya.


“Lin! Apa itu kau?” kata wanita itu sedikit ragu, tapi, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.


Lintani berhenti dan menoleh pada Rauja.


Rauja hampir tidak percaya, melihat penampilan Lintani yang berbeda, gadis itu terlihat lebih segar dan sangt cantik. Busana serta aksesoris yang dipakainya, begitu serasi dan berkelas, dia mencerminkan jika diri yang sesungguhnya, bukan lagi Lintani yang pernah dia kenal.


“Apa kita pernah kenal sebelumnya?” sahut Lintani membuat Rauja terkejut, dia heran karena Lintani masih mengingat perjanjiannya dulu, untuk bersikap seolah-olah tidak saling kenal jika bertemu, hingga mereka akan saling mengabaikan.


“Lin! Kau ingat, kan? Aku ini Bibirmu! Kita keluarga!”


Lintani membuang mukanya ke arah lain, karena kesal dengan wanita yang sudah begitu jahat, tapi, tiba-tiba sekarang mengaku jika mereka bersaudara, bahkan tidak tahu malunya mengaku bibi, entah demi apa dia menjilat ludahnya sendiri.


“Maaf, aku tidak punya Bibi seperti dirimu! Mana ada saudara yang meminta uang kompensasi dari kebaikannya, padahal dia tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali?”


“Apa kau mencoba melupakan kebaikan kami, kau pernah tinggal di rumah kami, kau makan dengan ka—“


Belum habis kalimat Rauja, Lintani menyela, “Bukankah kau sudah mendapatkan bayaran dari semua itu? Anggap saja aku menyewa kamar sempit di gudang itu dan membeli makanan sisa kalian! Jadi, kita impas!”


“Lin!” Haifa tiba-tiba memanggilnya dengan wajah memelas dan suara yang lembut seperti waktu dulu, “Lin, maafkan aku ... sungguh aku minta maaf ... kami rela pergi asal kau memaafkan kami, aku akan di buang dari kota ini asal jangan dendam ... Ampuni kami!” dia kemudian menangis. Tersungkur sujud di kakinya.


Lintani sempat terkecoh, apakah ini akting seperti dulu atau bukan, tapi, sekarang Askelan tidak bersamanya, apa ini sungguh-sungguh? Pikir Lintani.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2