
Pertengkaran Di Media Sosial
Petra tengah menggandeng dua gadis cantik, Yasmin dan Haifa saat berada di Mal terbesar di kota. Mereka tidak sengaja bertemu di tempat itu. Lalu, berjalan dengan santai sambil melihat-lihat sesuatu yang menarik.
“Kita kebetulan ada di sini, bagaimana kalau aku mentraktir kalian makan?” ajak Petra antusias, dia laki-laki yang ramah dengan semua orang yang dikenal.
“Boleh!” kata Haifa.
“Aku pikir seleramu buruk, mengajak kami makan di tempat ini!” kata Yasmin.
“Apa salahnya, ada restoran bagus juga di lantai tiga!” kata Petra.
“Aku sudah biasa ke sana!” kata Yasmin.
“Tapi, kau belum pernah makan bersama kami, kan? Ayolah!” kata Haifa.
“Oke! Aku akan membuat Putra Barseba ini bangkrut, karena akan memesan makanan paling mahal di sana!” kata Yasmin sambil mendahului naik ke lift.
“Coba saja!” sahut Petra.
Kemudian mereka menaiki lift itu bersama menuju restoran yang dimaksud Petra.
Mal dengan bangunan megah dan indah itu menjadi salah satu kebanggaan keluarga Harrad. Selain hotel Hardo dan pabrik karoseri alat berat satu-satunya di dalam negeri, adalah milik mereka.
Askelan yang pertama kali mendirikan tempat itu sejak enam tahun lalu, setelah dia sukses menjabat sebagai CEO perusahaan Harrad Tower. Pada saat yang sama, dari usaha waralabanya dia berhasil meraup keuntungan sampai 4 kali lipat dalam setahun. Keuntungan itu terus bertambah bagi Perusahaan Harrad setiap tahunnya.
Lintani dan Dex berada di tempat yang sama, tapi, pria itu berada jauh darinya dan hanya ada beberapa pengawal yang, menemaninya memilih gaun. Ini hiburan bagi gadis itu walaupun agak sedikit riskan karena penjaga selalu mengawasi gerak geriknya.
Sebenarnya Dex tidak ingin membuat masalah, dia sebelumnya membawa Lintani ke Butik yang ada di pinggiran kota, tapi Lintani bersikeras untuk pergi ke mal yang justru ramai dikunjungi orang itu. Akhirnya dengan terpaksa pria itu menurutnya.
Lintani sengaja mengajak Dex ke sana, selain karena ingin melihat sejauh mana keteguhan laki-laki itu dalam menuruti kemauannya, juga karena agar dirinya terlihat. Dia diam-diam memancing kedatangan Askelan.
__ADS_1
Tanpa Lintani tahu, sebenarnya Askelan justru, mendatangi dan akan menjemputnya, saat dia justru pergi meninggalkan tempat itu.
Beberapa anak buah Dex, terlihat seperti pengunjung biasa yang tidak menampakkan diri sebagai pengawal agar tidak mencolok perhatian. Sementara Lintani memilih beberapa barang, yang dia sukai walaupun, tidak dibutuhkan sama sekali.
Gadis itu baru saja selesai mencicipi makanan di salah satu restoran bagus atas rekomendasi Dex. Dia tidak heran mengapa pria itu tidak berada di dekatnya tapi, hanya mengikutinya dari belakang. Semua karena dia tidak ingin diketahui oleh orang lain kalau dirinya bersama dengan Lintani.
Hal itu pula yang Lintani rencanakan, dia berusaha menjauhi Dex dan, tidak mau belanja di tempat sepi atau makan di restoran private, karena pria itu pasti akan leluasa menggerayangi tubuhnya.
Di dekat lift, Lintani tidak sengaja bertemu dengan rombongan Haifa. Tentu saja mereka heran mengapa gadis yang seharusnya sudah di buang oleh Askelan itu ternyata masih berani muncul di Kota Hill.
Bukankah seharusnya perempuan ini malu dan pergi sejauh mungkin, karena status istri pura-pura sudah berakhir? Tapi, kenapa dia sekarang ada di sini dengan baju yang bagus? Kemarin saja aku menghubungi Askelan dan, dia mengaku kalau gadis kampung ini pergi. Anehnya dia tetap belum mau menikahiku! Dasar perempuan sial! Batin Haifa kesal.
“Hai, Lin! Kau di sini?” sapa Haifa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Lintani berhenti sebentar melihat wajah-wajah yang menatap dirinya dengan ekspresi wajah yang berbeda. Haifa menatap penuh dendam, Yasmin melihat dengan merendahkan dan Petra memandang dengan penuh keheranan.
“Aku tidak ada urusan dengan kalian!” jawab Lintani tenang sambil melangkah.
Sementara penjaga mulai waspada walaupun tidak mendekat, sebab mereka tahu, tiga orang itu bukanlah musuh.
Lintani diam dan menepiskan tangan Haifa, sambil berkata, dengan lirih, “Haifa, sadarlah, di sini bukan hanya kita berdua, jangan sampai mereka tahu siapa kau sebenarnya!”
Haifa segera sadar dengan maksud Lintani bicara demikian, karena dia terkenal sebagai artis manja dan lemah lembut.
“Ah!” tiba-tiba Haifa mundur dengan kuat beberapa langkah seolah Lintani mendorongnya, di saat tangannya terlepas.
Trik yang bagus! Sekali lagi kau sukses merubah keadaan! Batin Lintani sambil menyeringai tipis, dia hafal betul trik murahan gadis itu.
“Lin! Apa kau marah? Apa salahku padamu?” kata Haifa, air mata sudah meluncur di pipinya, dan kembali berkata, “Kau tega sekali hanya karena aku adalah kekasih Askelan dan kau mantan istrinya yang terbuang?”
Semua sudah tahu hal ini dan Lintani tidak heran dengan kata-kata menyakitkan seperti itu.
__ADS_1
“Kau ingin aku mengatakan siapa dirimu yang sebenarnya pada mereka? Baiklah! Lagi pula aku sudah membayarmu dan ibumu agar tidak mengganguku!” kata Lintani dengan suara yang cukup keras.
“Apa maksudmu membayarku?” Haifa semakin menangis, lalu, kembali berkata, “Ingat, kami juga pernah berjasa padamu!”
Sementara itu, Petra dan Yasmin saling beradu pandang.
“Apa kalian sudah akrab sebelumnya?” tanya Petra dengan alis yang berkerut.
“Tentu saja, Pet! Aku sering bertemu Askel dan setiap kali itu pula dia mengganggu kemesraan kami!” kata Haifa. Membuat Petra berwajah masam.
“Menjijikkan sekali!” tandas Yasmin.
“Kau tidak usah berbohong! Kalau memang Askelan benar-benar mencintaimu, mengapa dia belum juga menikahimu?” Lintani berkata sambil tertawa.
Ucapan Lintani telak menyudutkan Haifa, membuat Yasmin mengangkat salah satu sudut bibirnya. Dia merasa benar sudah menolak Askelan, karena kini dia tahu, laki-laki macam apa akan dijodohkan dengannya itu.
“Dia masih butuh waktu untuk melupakan ibunya!” jawab Haifa tanpa rasa bersalah, padahal, dua hari yang lalu saat dia menghubungi Askelan, pria itu jelas-jelas menolak keinginannya untuk bertemu.
“Benarkah? Aku pikir dia tidak bisa melupakan aku sampai dia enggan, untuk menjadikanmu pengantin baru!” Lintani kembali tertawa.
Diam-diam ada seorang pengunjung Mal yang kebetulan sudah selesai makan di restoran yang sama dengan Lintani, membuat video secara life pada akun pribadinya. Dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi mengarahkan kamera ponsel, pada pertengkaran Haifa sang artis dengan perempuan yang tidak di kenal.
“Kau?” kata Haifa kesal.
“Sudahlah, Haifa ... Kenapa kau meladeni wanita gila seperti dia?” kata Yasmin sambil menggerakkan dagunya.
“Ah! Aku hampir lupa, dia pernah menjadi badut penghibur di pesta kalangan atas demi uang. Lalu, apa bedanya dengan sekarang? Ayo pergi!” Petra berkata sambil menggamit tangan kedua gadis, melewati Lintani bahkan menyenggol bahunya keras hingga dia mundur selangkah ke belakang.
“Eum ...!” Haifa mengangguk sambil mencibir pada Lintani, lalu pergi mengikuti Petra.
Lintani hanya terpejam, menarik napas dalam dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?” Kata salah satu penjaga kepada seorang pengunjung yang tertangkap basah sedang menayangkan videonya.
Bersambung