Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 147. Seorang Bayi Laki-laki


__ADS_3

Seorang Bayi Laki-laki


Askelan pergi untuk melihat bayinya yang berada dalam tabung inkubator, dia meraba benda yang terbuat dari kaca tebal itu dengan perasaan terharu.


“Aku memiliki anak, dan itu sama seperti diriku! Dia laki-laki! Ah ... perasaan apa ini?” Askelan berkata dengan lirih sambil tersenyum. Dia tidak bisa melukiskan seperti apa perasaannya. Melihat anak yang matanya tertutup rapat, dengan napasnya yang pendek-pendek, seolah melihat dunia dan seisinya di sana. Dia berharap begitu besar pada anak itu kelak, akan bisa menyayangi ibunya seperti dirinya menyayangi Lintani saat ini.


Perasaan Askelan adalah hal yang sama dirasakan oleh semua ayah di dunia, ketika melihat anak mereka untuk pertama kali. Bangga, takjub dan juga bahagia adalah sekian rasa yang muncul dalam benaknya. Tentunya, terlepas dari hati yang mulai mengerti tentang perjuangan seorang wanita yang, sudah bertaruh nyawa untuk melahirkannya.


Tatapan pria itu masih tertuju pada anak laki-lakinya, saat dia kemudian mengeluarkan ponsel dan menghubungi Pit, memerintahkan sahabatnya, untuk membawa beberapa barang yang mereka temukan ketika berada di Rasevan. Dia akan memberikannya kepada Lintani sebagai hadiah kelahiran putra mereka.


Rasa terima kasihnya tidak bisa terlukiskan, tetapi setidak-tidaknya memberikan hadiah itu adalah ungkapan rasa terbesarnya sebagai suami kepada istrinya.


Dia tahu, bahwa benda dari masa lalu Lintani itu bersifat sangat emosional walaupun, dilihat secara nilai mungkin tidak ada artinya. Berbeda dengan seseorang yang kehilangan keluarganya sejak masih kecil, dengan cara yang tidak wajar, seperti yang dialami istrinya, maka, hal seperti itu sangat berharga.


Setelah menghubungi Pit, dia mencari Jordan untuk menanyakan apa yang dilakukannya pada Haifa dan Rauja. Dia akan melihat dua wanita itu, sambil menunggu waktu selama enam jam yang, diberikan dokter pada Lintani, hingga dia bisa menemuinya lagi.


“Tuan!” sapa Jordan begitu melihat Askelan mendekati dirinya yang masih berbincang dengan Mo dekat kamar perawatan Lintani.


“Ayo! Temui wanita itu!” Sahut Askelan tanpa menghentikan langkahnya, Jordan menyusul di belakangnya menuju halaman parkir.


“Mereka ada di Markas rumahku!” Kata Jordan sambil berjalan. Dia sengaja menyuruh pengawal lain, menyekap Haifa dan Rauja di markas rumahnya yang berjarak paling dekat dengan rumah sakit.


Askelan tidak menjawab lagi, dan terus menutup mulut menahan geram yang tidak berkesudahan pada dua wanita itu, hingga mereka sampai rumah Jordan.


Ada Jabie dan Pit yang tengah berjaga dan sekali lagi, keberadaan kedua manusia itu di sana, membuat Jordan cemberut. Dia menutupi ketidak sukaannya pada hubungan adik dan sahabatnya itu, karena Askelan justru mendukung keduanya.


“Apa kalian sudah melakukan sesuatu pada tahanan kita kali ini?” tanya Askelan begitu masuk dalam rumah itu. Jabie dan Pit, menyambut kedatangan bos mereka dengan ramah.


“Belum!” sahut Jabie dan Pit secara bersamaan.


“Lalu, apa saja yang kalian berdua lakukan di sini?” tanya Askelan lagi, saat sudah memasuki lorong bawah tanah.

__ADS_1


“Kalian tidak bisa diandalkan!” bentak Jordan lebih keras dari suara Askelan.


Jabie melotot ke arah kakaknya, sedangkan Pit hanya melirik Jordan sekilas dan kembali pada wajah datarnya.


“Pit, apa kau sudah mengemas hadiahku dengan baik?” tanya Askelan lagi. Dia berjalan paling depan di lorong sempit itu.


“Ya, Tuan! Saya sudah menyiapkan semuanya.”


Askelan mengangguk, bertepatan dengan sesampainya mereka di ruang penyekapan. Saat pintu terbuka, dia melihat Haifa dan Rauja yang terikat masing-masing pada sebuah kursi. Pria itu mendekat dan duduk di hadapan keduanya, sambil menyilangkan kaki.


Pit dan Jordan membuka penutup pada mulut dan mata dua wanita yang, saat disekap tadi, ditutup mulut dan matanya. Lalu, tetap di samping mereka, siap menunggu perintah selanjutnya.


“Kau! Lepaskan kami!” kata Rauja, sambil memberontak dan melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya. Pit memegangi pundaknya dengan kuat.


“Kau tidak berhak menyuruhku!” sahut Askelan tenang, dengan tatapan tajam ke arah dua wanita itu secara bergantian.


“Aku tidak punya urusan denganmu!” kata Rauja.


“Memangnya apa yang pernah kita lakukan dulu? Kau tidak pernah memberiku apa-apa, bahkan aku tidak pernah menyentuhmu, seperti yang selalu kau katakan dulu, dasar penipu!”


“Askel, Sayang ... ak—“


“Diam!”


“Tuan Askel! Walaupun kau membenci kami, tapi ingatlah, bahwa karena Kamilah, kau bisa menikahi Lin! Kalau bukan karena aku mengadopsi anak itu, maka selamanya mungkin dia tidak pernah bertemu Ibumu di penjara!” ucap Rauja penuh ekspresi. Dia berharap Askelan akan melepaskannya karena ucapan ini.


“Ah, apa kalian lupa bagaimana cara kalian membesarkannya?”


“Aku sudah melakukan yang terbaik untuk dia, sebagai Ibunya! Aku memasukkan Lin ke sekolah yang bonafid, bersama Haifa, memberinya tempat tinggal dan menjadi walinya selama dia sekolah, apalagi yang kurang?”


“Jangan lupa juga, kalian memerasnya, menyuruhnya bekerja siang malam, memaksa menjadi pela cur dan mengambil uangnya!”

__ADS_1


“Kau!”


Askelan menyeringai, Haifa masih menangis dia takut memikirkan nasibnya, mengingat pria yang ada di hadapannya itu bisa melakukan apa pun pada mereka dengan cara yang tidak bisa di duga, sedangkan Rauja geram.


“Aku masih memikirkan hukuman yang pantas untuk kalian!” kata Askelan sambil menjentikkan kedua jarinya, “Kalian sudah aku peringatkan untuk menjauh dan, tidak menampakkan diri di depan istriku, kenapa kalian tidak lari saja? Kenapa kalian justru membuatnya kesakitan lagi? Apa kalian tidak lihat tadi? Hah!”


Sambil berkata, Askelan mengepalkan tangannya dan, memberi isyarat kepada Jordan untuk membuka lemari senjata mereka. Pria itu segera mendorong tumpukan jerami hingga terbukalah lemari kaca yang, dipenuhi dengan berbagai macam senjata di dalamnya membuat Haifa dan juga Rauja, refleks memundurkan tubuh mereka karena ngeri.


Tentu dalam hati wanita itu menjadi sangat takut karena akan menyakitkan jika Askelan, benar-benar menyiksa dengan salah satu senjata yang ada di sana.


“Apa yang akan kau lakukan? Lepaskan kami sekarang juga! Kau tidak bisa memungkiri, Tuan Askel! Walaupun, aku memang sudah berbuat jahat pada Lin, tapi kami tetap berjasa membesarkannya!”


“Ya, aku tahu beberapa orang seperti kalian yang, merasa bangga dengan kejahatan yang sudah dilakukannya, seolah keburukan Itu adalah sebuah kebaikan padahal kalian tidak melakukan apa-apa!”


“Itu kenyataan!”


“Kenyataan seperti apa? Banyak sekali orang yang bahagia dengan kesalahan yang dilakukannya, seperti kalian! Menyiksa anak kecil dan mengambil hartanya? Lalu, setelah tahu bahwa anak itu orang yang kaya raya, kalian bersujud meminta ampun atas semua kejahatan yang sudah kalian lakukan dan kalian menyesal, padahal sebenarnya kalian sedang menipunya? Tapi, aku tidak akan tertipu oleh kalian lagi!”


“Kami tidak menipunya!” kata Rauja dan Haifa secara bersamaan.


Askelan mendekati lemari senjata dan mengambil salah satu cambuk yang ada di sana seraya berkata, “Apa kalian sanggup merasakan sakit seperti yang dirasakan istriku selama berada dalam siksaan kalian?”


“Kami tidak pernah melakukan kekerasan fisik pada Lin, apalagi mencambuknya!” kata Rauja, sementara Haifa masih terus menangis.


“Apa memperlakukannya seperti pelayan, tidak memberinya makanan yang layak dan, memberinya tempat tidur di gudang, bukan kekerasan fisik? Kau salah! Kau tahu dia keponakanmu, tapi, kau tega melakukan hal itu kepadanya!”


Askelan berkata sambil mengusap cambuk besar di tangannya. Haifa dan Rauja terlihat sangat ketakutan, mereka terus memohon ampunan dan berjanji akan menjauhi Lintani saat ini dan selamanya.


Bersambung


❤️❤️ Tetap dukung sampai tamat ya, terima kasih 🙏❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2