Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 81. Untuk Kesekian Kalinya


__ADS_3

Untuk Kesekian Kalinya


Haifa akhirnya melepaskan cengkeramannya dan melangkah lebih cepat dari Lintani, kembali menuju meja di mana Askelan tengah duduk sambil menikmati segelas anggur. Pria itu terlihat sedang menatap layar ponselnya.


Saat kedua gadis tiba di hadapannya, dengan cepat dia mematikan layar smartphone dan, menoleh pada Haifa. Gadis itu sudah berada di sisinya, lalu, mencium kedua pipinya secara tiba-tiba. Wanita itu langsung duduk di pangkuannya.


Sementara Lintani kembali duduk di tempatnya semula, menuang sedikit anggur dengan elegan lalu, meminumnya sedikit. Menggoyangkan gelas secara perlahan dengan tatapan kosong keluar jendela. Seolah-olah tidak ada orang lain di sebelahnya. Dia mempelajari semua cara manis dan tenang itu dari para wanita-wanita kaya, sejak kecil. Saat dia menjadi gadis penari demi mendapatkan uang pada pesta-pesta wanita sosialita kalangan atas.


“Askel Sayang ... kau belum menjawab pertanyaanku, apa makan malam kali ini untuk melamarku, di hadapan, Lin?” tanya Haifa, sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Askelan.


“Duduk dulu di kursimu, apa kau tidak tahu kalau kakiku masih sakit?” tanya Askelan, sambil melepaskan belitan tangan Haifa mendorong pinggangnya, hingga gadis itu kembali berdiri. Askelan sudah mual karena aroma parfum Haifa yang menyengat.


Lintani mendengar dan melihat hal itu dengan jelas dari balik kaca besar di hadapannya, sontak membuat dia menahan tawa.


Haifa kembali duduk di tempatnya semula.


“Kau pakai parfum apa?” Askelan balik bertanya pada Haifa.


“Askel Sayang, kenapa kau selalu bertanya soal itu? Aku sudah memakai parfum Lorde Paris, ini yang paling mahal di kelasnya!”


“Oh, ya? Tapi, aku tidak suka ... Oh ya, aku mau bertanya satu hal pada kalian berdua!”


Ucapan Askelan itu membuat Lintani menoleh, menyimpan gelas anggurnya sambil melirik Haifa dengan senyum tipis di bibirnya.


“Apa yang akan kalian lakukan jika hamil dengan seorang pria yang tidak jelas dan tidak mau bertanggungjawab?” tanya Askelan.


“Pertanyaan macam apa itu?” tanya Lintani sambil memalingkan wajahnya kembali keluar jendela.


“Jawab saja!” kata Askelan.

__ADS_1


“Aku akan mencari pria itu, hingga dia mau bertanggungjawab atas perbuatannya!” Jawab Haifa, sambil menoleh pada Lintani yang duduk di seberang meja. “Bagaimana denganmu, Lin? Kau akan menjawab sama denganku, kan? Apalagi kau pengangguran!”


“Tidak! Aku akan mengurus bayiku sendiri, aku tidak membutuhkan laki-laki seperti itu! Untuk apa meminta seseorang yang tidak bertanggung jawab untuk mempertanggungjawab kan perbuatannya?”


“Lin, apa kau menyindir?”


“Lalu, apa kau merasa tersindir? Aku tidak sama seperti dirimu, Hai! Aku tidak suka berpura-pura!” Lintani tertawa kecil saat bicara, lalu berdiri dan kembali berkata, “Sudahlah, Tuan. Aku akan menunggu Anda di mobil, silakan lanjutkan acara kalian berdua!”


Saat Lintani hendak melangkah, Haifa segera mencegahnya, dia sangat ingin Lintani melihat Askelan melamarnya dan menyematkan cincin berlian saat itu juga.


“Lin! Tolong jangan pergi, hargai Askelku, ya ...? Tentu hanya dia yang akan mengizinkan kita pergi atau tidak.” katanya lembut dan air mata sudah mengalir di pipi, sambil menggenggam kedua tangan Lintani erat.


“Biarkan dia!” Suara Askelan menghentikan rengekan Haifa.


“Askel Sayang, dia sudah tidak sopan padamu!” kata Haifa, sebenarnya dia masih ingin menyiksa Lintani dengan bersikap manja pada Askelan.


“Aahk ...!” Tiba-tiba Haifa terlempar ke lantai, dia meringis sambil memegangi perutnya.


“Haifa?” teriak Lintani tanpa sadar, langsung berlutut di dekat saudaranya. Dia tidak tahu bagaimana Haifa bisa tiba-tiba tersungkur ke lantai, dengan cara mengibaskan tangannya.


Askelan menggeser kursi rodanya dengan cepat ke arah di mana Haifa meringkuk di lantai sambil menangis.


“Lin ... begitu bencinya, kau padaku, sampai kau mendorongku? Aku sedang hamil bayi Askel, karena itukah, kau mendorongku?”


“Aku tidak--!” Lintani menjada ucapannya sendiri. Merasa percuma saja mengatakan hal yang tidak dia lakukan. Apalagi sekarang, dia sadar betul akan posisinya yang pasti akan disalahkan. Dia berdiri, sambil berpikir, apa dia akan kembali masuk penjara karena Haifa? Tiba-tiba saja dia tersenyum tipis, mengejek dirinya sendiri.


Bukankah sudah bisanya dia mendapatkan hal yang demikian, dipenjara dan disalahkan atas sesuatu yang tidak pernah dilakukan? Ah! Yang benar saja.


“Apa perutmu sakit?” tanya Askelan, pria itu sudah melorot dari kursi rodanya ke lantai, memegangi perut dan kepala Haifa, memastikan jika gadis itu baik-baik saja.

__ADS_1


“Askel Sayang, sakit sekali perutku, aahk! Apa kau masih mengabaikan aku, Sayang?” Haifa kembali meringis dengan air mata yang masih bercucuran.


“Sudahlah, pikirkan keadaanmu dulu ... tenang ya, aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang!” Askelan berkata sambil melambaikan tangan pada Jordan. Dia terlihat gusar.


Jordan mendekati Haifa lalu, membopong tubuhnya tanpa ekspresi dan membawanya keluar restoran.


“Bawa dia ke rumah sakit!” perintah Askelan, sambil mengulurkan tangannya pada Lintani, sebagai isyarat agar gadis itu membantunya.


Lintani membantu Askelan berdiri, lalu, duduk kembali ke kursi Roda sementara Haifa menoleh pada Lintani sambil menyeringai tipis, dalam gendongan Jordan. Dia masih percaya diri, karena Askelan masih memihaknya, lagi dan lagi.


Askelan dan Lintani dengan cepat menyusul Jordan yang, sudah lebih dulu berada di dalam mobil. Dia sudah mendudukkan Haifa di kursi belakang.


Sementara itu, Askelan di bantu Lintani duduk di kursi belakang, sebelum duduk di kursi penumpang samping kemudi. Dia melihat pria itu menjadikan pahanya sebagai bantal, bagi Haifa sampai mereka tiba di rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, para dokter dan perawat segera membawa Haifa ke ruang pemeriksaan dan observasi. Askelan dan Jordan pun mengikuti di belakang mereka.


Sementara Lintani lebih memilih tetap berada di dalam mobil, menyandarkan tubuh dan kepalanya sambil mendengarkan musik. Dia mencari ketenangan sendiri sebelum menerima kabar tentang apa yang dialami Haifa. Dia harus siap mendapatkan kabar dan nasib buruk, karena dirinya telah melukai kekasih suaminya.


Sementara di dalam ruang pemeriksaan, Haifa tengah mendapat tindakan darurat dari dokter yang biasa menaganinya, Askelan dan Jordan duduk saling berhadapan di luar pintu yang tertutup rapat. Mereka sedang berbincang tentang satu hal.


“Jadi, Tuan. Tolong pertimbangkan hal ini baik-baik,” Kata Jordan serius, sambil memberikan ponselnya pada Askelan.


“Apa kau pikir aku tidak tahu?”


“Lalu, bagaimana dengan Nona sekarang?”


“Tunggu, sampai besok ... aku akan melakukan sesuatu padanya!”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2