
Siapa Aston Shaw Sebenarnya
Setelah melihat dan membaca berita pada akun media sosial itu, dia menoleh pada Askelan yang juga tengah sibuk dengan ponselnya.
“Apa kau mengenal orang yang bernama Aston Shaw?” tanya Lintani sambil menunjukkan berita di media sosialnya ke hadapan Askelan.
“Aku hanya tahu, tapi tidak kenal!” jawab Askelan jujur.
Pria itu membacanya sekilas, dia sudah tahu semua berita itu dari Jordan, sejak beberapa hari yang lalu dan saat menghubunginya tadi, sahabatnya mengatakan jika tender akan dilangsungkan hari ini.
Berita itu menunjukkan gambar dan ulasan bahwa perusahaan Shaw mengalami kebangkrutan dan dengan terpaksa, ketua Aston Shaw menyerahkan harta kekayaan terakhirnya kepada Yasmin Shaw. Untuk dikelola. Pengelolaan kekayaan yang berupa tanah yang mengandung emas itu akan menjadi modal bagi perusahaan mereka agar tetap berdiri.
Beberapa infestor mulai berdatangan untuk bekerja sama. Termasuk perusahaan Harrad. Tentu saja Askelan sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari untuk masalah perusahaan Shaw ini. Dia tidak memikirkan bukit emas untuk dirinya, tapi demi Lintani, biar bagaimanapun, tanah itu milik istrinya. Hanya saja wanita itu tidak gila harta jadi tidak ingin bersusah payah mencarinya.
Antara Askelan dan Lintani sama-sama mengetahui rahasia Bukit Shaw, dan memiliki bukti. Namun, keduanya seperti saling menyembunyikan diri dan menunggu siapa yang hendak memulainya lebih dahulu.
Seperti halnya rahasia masa lalu malam kelam bagi keduanya delapan tahun yang lalu. Mereka sama-sama tahu kejadian itu. Bedanya adalah, keduanya sama-sama menutupi dan tidak ingin mengungkit kejadian yang mereka alami, lebih jauh lagi.
Namun, Lintani yakin tentang satu hal, bahwa pria yang bersamanya malam itu jelas-jelas sudah tiada. Dia melihat sendiri kantung mayatnya. Tidak mungkin pria itu masih hidup dan berubah menjadi Askelan. Keduanya memang ada kemiripan, tapi, berulang kali Lintani menepis pikiran buruknya. Tidak mungkin itu dia! Pikirnya.
Lintani tidak tahu apa yang harus diakukannya, kalau pria itu benar-benar Askelan, suaminya. Padahal, dia sudah bertekad membunuh pria yang sudah membuat hidupnya kacau, sakit seluruh tubuh dan, masa remajanya harus berlalu dengan buruk di penjara.
Lintani beberapa kali bermimpi tentang anak perempuannya, yang memintanya untuk bangun dari tidurnya, dan saat dia terbangun, hal yang pertama kali dilihatnya adalah Askelan.
Ini tidak mungkin, kan? pikir Lintani sekali lagi.
Saat Lintani tengah duduk di atas pangkuan Askelan, tiba-tiba kulit perutnya terasa sedikit sakit dan seolah mengeras, karena pergerakan lembut janin di dalamnya. Gadis itu mengalami ketegangan di perutnya, tapi, saat Askelan mengusapnya, tiba-tiba sakit itu hilang dan bayinya menjadi tenang. Hal seperti ini sering kali berulang, menandakan bahwa Lintani begitu bergantung pada suaminya.
__ADS_1
Dahulu, saat di penjara, Lintani sering sekali mengalami hal seperti tadi, perutnya terasa mengencang dan tegang, bahkan kalau terlalu lama di biarkan, maka akan terasa sangat menyakitkan.
“Sudah, jangan di baca lagi!” Askelan berkata seraya meraih ponsel Lintani dan menyimpannya kembali di meja. Lintani membiarkannya. Setelah itu, dia membawa tangan suaminya agar terus berada di perutnya.
“Kenapa? Ada apa dengan bayinya?” kata Askelan dengan raut wajah gusar, dia menatap Lintani sambil terus mengusap lembut.
“Kau selalu menanyakan soal bayinya! Apa kau tidak peduli pada.Ibunya?” Lintani berkata sambil cemberut.
"Tentu saja aku peduli pada Ibunya!"
"Tapi, kau selalu menanyakan soal anak lebih dulu dari pada aku!"
Tiba-tiba Askelan memegang kedua telinganya dan mengetuk meja sebanyak tiga kali, sambil berkata, “Maaf kan aku, Tuan Putri. Aku sangat kuatir padamu!”
“Bohong!”
“Ayo! Kita ke dokter, sudah lama kita tidak melihat anak kita!” kata Askelan lagi sambil menggeser duduknya.
“Jangan coba menghindar, aku sedang membahas soal Aston! Dan kiita baru memeriksa Cery, sepekan yang lalu, untuk apa ke dokter lagi?" Lintani berkata sambil beringsut dari atas pangkuan Askelan, dia berdiri dan pindah di sofa yang lain.
“Siapa Cery?” tanya Askelan.
“Anak kitalah!”
“Apa dia perempuan, bukannya kau menolak diberi tahu jenis kelaminnya?”
“Aku hanya menebak saja!” kata Lintani.
__ADS_1
“Kalau begitu, ayo! Ke dokter lagi, aku ingin melihat jenis kelaminnya!”
‘Sebenarnya, siapa yang jadi ratunya, sih?’ batin Lintani.
Akhirnya mau tidak mau, Lintani menurut saja atas kemauan suaminya, untuk pergi ke rumah sakit.
Oleh karena itu, Jordan yang secara kebetulan sedang berada di perjalanan pun, segera memutar arah menuju villa Askelan saat itu juga.
Selama perjalanan, Askelan membicarakan tentang Aston Shaw dan bagaimana kedudukan keluarga itu di Kota Hill. Sebagai perusahaan yang cukup punya nama baik, jika saat ini hanya memiliki kekayaan di bawah tujuh ratus juta dolar itu, akan sangat menyedihkan.
Namun, menurut informasi dari bagian mata-mata Askelan dan Jordan. Munculnya jumlah kekayaan itu adalah rekayasa agar keabsahan dari kepemilikan tanah yang mengandung emas itu bisa dikelola secara legal, oleh Yasmin dan juga Petra.
“Elan, aku ingin kau benar-benar memenuhi janjimu untuk menjagaku!”
“Tentu!”
“Jadi, apa kau tahu sesuatu tentang Bukit Shaw?”
“Jode! Hentikan mobilnya!”
Bukan jawaban yang diterima Lintani, melainkan tindakan Askelan yang meminta Jordan untuk menghentikan mobilnya. Setelah kendaraan yang ditumpanginya itu menepi, Askelan memiringkan badannya sambil menatap tajam ke arahnya.
“Apa kau juga tahu tentang semua rahasia, termasuk tato yang ada di tubuhmu?” Tanya Askelan sambil menarik napas dalam, membuat Lintani heran. Dia tahu kalau Askelan pasti tahu tentang semua masa lalunya, tetapi, kenapa dia mesti bertanya?
Bersambung
❤️🙏 Tetap dukung karyaku yaaa.....🙏❤️
__ADS_1