
Di Kamar Askelan 2
Askelan mengantar Lintani sampai ke rumah. Setelah itu ia kembali ke kantor bersama Jordan untuk membahas rencana selanjutnya.
Mereka merancang sebuah dokumen penting, apabila kelak Aston dan juga Yasmin berubah pikiran dan mengembalikan tiga per empat dari kekayaan bukit itu kepada Lintani, sesuai perjanjian yang sebenarnya.
Yasmin hanya mendapatkan seperempat saja dari kekayaan itu, sesuai bagian dari Aston waktu itu.
Jordan membantu tuannya, sekuat tenaga dan pikirannya, guna mewujudkan proposal terbaik jika kerja sama antara perusahaan Harrad berubah, dengan Lintani sebagai pemilik tanahnya secara langsung. Itu tandanya otoritas orang yang akan menandatangani pun berubah pula.
Seperti biasa mereka berdua selalu mempersiapkan segala sesuatunya, jauh sebelum mereka melakukan sebuah tindakan. Seandainya situasi berubah pun, mereka hanya perlu memperbaikinya sedikit.
Mereka merancang sendiri dokumen proposalnya, tidak memberikan kepada tim kreatif, manajer perencanaan atau semacamnya. Bahkan dari editing dan revisi pun tidak diserahkan pada pegawai lainnya, sampai dokumen itu selesai.
Mereka sendiri yang mengoreksinya secara berulang-ulang sehingga tidak ada kesalahan baik dalam ke penulisan, faktur, jumlah nominal dari perkiraan yang bisa didapatkan berupa keuntungan, penyusutan, serta waktu yang bisa dicapai.
Standar kontrak pengolahan tanah di berbagai kota di negeri itu, berlaku hingga 30 sampai 40 tahun. Oleh karena itu, mereka berdua pun, merancang pendanaan produksi, yang bisa didapatkan dalam kurun waktu tersebut.
Askelan pulang sampai di rumah saat sudah menjelang dini hari, setelah pekerjaannya hanya perlu pencetakan saja. Sementara semua data lengkap tentang kejadian di Rasevan, sudah dikirimkan oleh Jordan ke surel milik Yasmin dan Aston Shaw. Mereka tinggal menunggu reaksi kedua orang itu selanjutnya.
Lintani membuka mata saat ada pergerakan dari Askelan di sisinya. Dia melihat pria itu tidur seperti bayi, kelelahan terlihat jelas di wajahnya. Gadis itu duduk secara perlahan dan turun dari tempat tidur, membiarkannya tertidur dan jendela yang tetap tertutup.
“Dari mana saja dia semalaman tidak pulang, apa kau kelelahan Tuan Askel? Kau bilang cinta, tapi kenapa tidak memelukku saat tidur? Dasar!” Lintani bermonolog pada dirinya sendiri, tentu saja Askelan tidak bisa mendengar, karena dia tertidur sangat nyenyak.
Baru saja Lintani hendak beranjak ketika dia melihat tangan Askelan bergerak-gerak seolah-olah mencari sesuatu, hingga dia menyodorkan sebuah guling ke tangan itu. Refleks Askelan memeluk guling dan menciumi benda empuk itu sambil bergumam lirih.
“Sayang ... maaf aku pulang terlambat malam ini, hmm .... aku mencintaimu ....”
__ADS_1
“Aku tidak akan memaafkanmu, awas kau ya!” pekik Lintani dari sisi tempat tidur.
Setelah Lintani berkata begitu, Askelan semakin mengeratkan pelukannya pada guling dan menciumnya lebih dalam, “maaf ... maafkan akun....!” berulang kali bibirnya berkata maaf.
Lintani terkekeh-kekeh melihatnya, sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suaranya tidak keluar hingga membangunkan suaminya. Dia mencuci muka dan menggosok gigi setelah itu, lalu, keluar mencari Mo di dapur.
“Bibi, jam berapa Elan pulang malam ini?”
Litani berkata setelah duduk di hadapan meja bar, yang ada di dapur memperhatikan Mo, yang tengah membuat sarapan pagi untuk mereka.
“Sekitar jam tiga tadi pagi, Nona!”
Mo menjawab sambil mengambil sebuah gelas dan membuatkan teh manis untuk Lintani.
“Oh, pantas saja sekarang dia tidur seperti tidak pernah tidur selama beberapa hari.”
“Oh ya?”
“Ya, tepatnya sejak delapan tahun yang lalu!” kata Mo sambil menyodorkan teh hangat itu di hadapan Lintani dan dia pun duduk di hadapannya.
“Apa yang terjadi padanya waktu itu?”
“Tuan mengalami hal yang mengerikan dan memalukan. Dia dijebak seseorang, sebelum dinobatkan sebagai CEO perusahaan Harrad. Untung saja sekarang pelakunya sudah mati, kalau tidak, bisa saja aku yang akan membunuhnya!”
Lintani tersenyum dia paham mengapa wanita itu begitu menyayangi dan menjaga Askelan, karena pria itu seperti anaknya sendiri. Apalagi setelah Elliyat tiada, maka, Mo adalah pengganti untuk ibunya.
“Apa kau berani melakukan itu? Membunuh orang?”
__ADS_1
“Ya, aku punya banyak kesempatan untuk melakukannya tetapi, Tuan selalu melarangku dan dia tidak ingin aku terjebak di penjara seperti Ibunya!”
Lintani tiba-tiba teringat akan nasibnya dahulu, dia pun berkata, “Ah, aku juga pernah terjebak di penjara delapan tahun lalu, untuk sesuatu yang tidak pernah aku lakukan!”
Mendengar apa yang diucapkan Lintani tiba-tiba perempuan setengah baya itu mengerutkan alisnya, heran, memikirkan waktu yang bertepatan saat delapan tahun yang lalu pun, Askelan mengalami penjebakan.
“Apa yang Nona alami waktu itu?” tanyanya kemudian.
“Apa Bibi Elle tidak pernah bercerita kepadamu tentang aku yang seorang narapidana?”
Mo tertegun sejenak, dia hanya tahu bahwa Lintani adalah teman Elliyat waktu di penjara di masa yang lalunya, tetapi, tidak pernah menceritakan latar belakang dan penyebab Lintani mendapatkan hukumannya. Elliyat hanya membicarakan semua hal kebaikan saja.
Mo menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak!”
“Aku dituduh membunuh seseorang pria, setelah aku digaulinya padahal, aku tidak pernah membunuhnya aku hanya melihat dia tidak bergerak dan polisi membungkusnya dalam kantong mayat, dan aku masuk penjara, tanpa tahu siapa laki-laki yang sudah mati itu.”
“Apa Nona tidak bisa melihat wajahnya dan tidak bisa mengenalinya?”
“Tidak! Keadaan rumah di bukit itu begitu gelap aku tidak bisa melihat apa pun di dalamnya, bahkan, aku pikir laki-laki yang sudah merebut mahkotaku itu adalah monster! Dia sangat kasar dan seluruh tubuhku sakit, kakiku terluka, karena menginjak pisau dan dengan pisau itulah aku terbukti bersalah, sidik jariku ada di sana. Aku bahkan tidak bisa percaya sampai sekarang bahwa, orang sekarat bisa melakukan hal itu padaku berulang kali!”
“Oh! Mungkin ini hanya kebetulan!” Mo berkata sambil menggelengkan kepalanya.
“Kebetulan bagaimana maksudmu, Bibi?”
Bersambung
❤️❤️❤️❤️❤️❤️👍🙏🙂
__ADS_1
"Judul di kamar Askelan sudah pernah di bab awal ya, jadi anggap saja sekarang judul yang keduanya, hehe"