Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 38. Itu Fitnah


__ADS_3

Itu Fitnah


Keesokan harinya, saat Lintani keluar dari kamar, dia langsung ke dapur dan mengolah beberapa makanan dari bahan-bahan yang tersedia di dalam kulkas. Dia bisa memasak beberapa makanan istimewa saat bekerja sebagai pelayan restoran kecil di pinggiran kota dan, dia akan membuatnya untuk Elliyat.


Setelah semua selesai dan hendak berangkat ke rumah sakit, Lintani melihat sejumlah uang di atas meja. Itu menunjukkan jika Askelan mendengar permintaannya semalam. Hatinya menjadi hangat, walaupun pria itu sudah menuduhnya sebagai wanita malam, tapi, dia tidak bersalah.


Wajar bila laki-laki itu memahami dirinya seorang tuna susila karena sudah pasti dia akan percaya pada Haifa. Bukankah dia kekasihnya, yang akan percaya apa pun yang dikatakan wanita itu padanya.


‘Ibu, apa kau akan menangisi nasibku setelah kau menjual ku, tidak, kan?’ kata Lintani dalam hati, dia berlutut sambil menggenggam kuat uang itu dengan telapak tangan dan memasukkannya ke dalam tas, lalu, menangis.


“Ibu, tentu saja kau tersenyum sekarang karena aku menjadi seperti keinginanmu, di cap sebagai wanita malam, diasingkan dan tidak diakui sebagai istri juga sebagai anak! Kenapa Tuhan selalu tidak ada saat aku membutuhkan Dia, Bu? Bahkan kau pun tidak!” lirih Lintani dalam tangisannya.


Lintani keluar dari Apartemen setelah mencuci mukanya dan meriasnya sedikit, untuk menutupi wajahnya dari sisa tangisan, khawatir jika Elliyat bersedih karenanya.


Sesampainya di kamar perawatan Elliyat, kedua wanita itu sarapan bersama dengan masakan spesial yang di buat Lintani dari bahan seadanya.


“Lin, apa putraku pernah memakan masakanmu?”


“Ibu, dia suami yang baik, dia tidak pernah mengizinkan aku terlalu lelah untuk memasak!”


“Jadi, kau belum memasak sebelum ini?”


“Belum, Bu! Hari ini dia sudah pergi dan aku bisa memasak untuk kita!”


“Sudah kubilang, kau akan sangat beruntung memiliki putraku! Dengar ... dia pernah ditinggalkan Ayahnya waktu dalam perut, aku yakin dia tidak akan melakukan hal yang sama pada istrinya. Dia laki-laki penyayang dan sopan padamu!”


“Ibu, sudah kubilang, jangan keras-keras memujinya, dia akan jadi besar kepala dan aku akan lebih report karena aku tidak boleh turun dari kasur nanti!”


“Ah, Lin! Kau memang pintar bercanda! Dasar kau! Askelan akan rugi kalau menelantarkan wanita seperti dirimu. Kau sangat berarti!”


“Ibu, kau pun sangat berarti bagiku, apa lagi putramu! Apa ini enak? Ayo! Tambah lagi, Bu.” Lintani mengalihkan pembicaraan.


Elliyat begitu lahap menikmati makanan buatan menantunya, membuat mereka ingat sering memasak bersama di penjara tapi, tidak pernah kebagian masakan mereka sendiri. Itu adalah masa-masa sulit, yang begitu menyedihkan untuk dikenang. Mereka bersama di penjara selama lima tahun, dan Lintani keluar setelah tiga tahun kemudian.


Lintani selesai melakukan tugasnya, mengantarkan Elliyat sampai tertidur, hari ini dia masih kenyang setelah makan banyak di rumah sakit, hingga dia tidak perlu memasak makan siang. Dia akan pergi ke rumah keluarga Lux dan memberikan uang sesuai keinginan Rauja karena dia sangat berharap, bila keluarga itu tidak lagi mengganggunya.


Dia masih memiliki uang sisa dari pekerjaannya mencetak batu bata, hingga dia tidak perlu berjalan dan, bisa membayar bis dengan uang tunai.

__ADS_1


Sesampainya di rumah keluarga Lux.


“Nah, akhirnya kau datang, juga?” kata Rauja begitu asisten rumah tangga membukakan pintu untuk Lintani dan mempersilakan masuk.


Tiba-tiba Lintani menyesal kenapa tidak membeli sebuah materai untuk membuat sebuah perjanjian.


“Kenapa diam?” apa kau baru menyadari sesuatu bila kau melupakan uangmu! Jangan harap kau bisa keluar dari sini, kalau kau tidak membawa yang aku inginkan!”


“Aku bawa!” kata Lintani sambil mengeluarkan uang dari dalam tasnya dan membuat sebuah video kalau wanita itu mengambil semua uangnya dengan rakus.


“Ah! Aku tidak peduli kau dapatkan dari mana uang sebanyak ini, tapi baiklah ... aku akui kehebatanmu merayu Askelan, dan merangkak ke tempat tidurnya demi uang!” kata Rauja sambil menumpuk uang di atas meja.


“Apa itu merugikan mu? Biar itu jadi urusanku, yang penting kau bisa mendapat uangnya, kan?” sahut Lintani sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


“Berjanjilah, kita akan saling tidak mengganggu saat bertemu, dan aku membawa sebuah surat, seharusnya kau dengan senang hati menandatanganinya!” katanya lagi.


“Kau?” Rauja berkata mengacungkan jari.


Lintani mengeluarkan selembar kertas, baginya itu cukup, tapi Rauja menandatangani dengan tertawa.


“Ya, ya, aku berjanji! Haha!” Haifa sudah selesai membubuhkan tanda tangan saat dia tertawa.


“Ibu, apa yang kau lakukan?” Kata Haifa, tiba-tiba muncul bersama Askelan. Membuat Lintani sangat terkejut, dia menduga akan ada badai yang datang.


“Lihat, Tuan Askel, wanita ini datang dan memberikan uang ini padaku, dia memintaku agar Haifa menjauh darimu, aku tidak sudi! Tidak ada yang lebih hebat dari Haifa, kan?” kata Rauja sambil melemparkan uang yang ada di meja ke arah Lintani.


Rauja sudah tertangkap basah hingga hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan harga diri.


Seketika Lintani meradang, dia mengepalkan tinjunya dan mengambil ponsel yang ada di saku kemeja sambil menunjukkan benda itu dia berkata.


“Ah! Harusnya aku tahu kau akan melakukan itu dan memfitnahku! Untungnya aku merekam semuanya dari awal, lihat, Bibi, bahkan kau sudah menandatangani surat buatanku.”


“Kau pikir apa kuatnya surat itu di hadapan hukum? Ha?”


“Hampir tidak ada, tapi aku setidaknya punya bukti! Kalau kau suatu saat memfitnahku seperti ini! Ah, rasanya aku tidak perlu menjelaskan apa pun!”


Dia menoleh pada Haifa.

__ADS_1


“Kau tahu, kan, apa yang Ibumu minta kemarin padaku, dan aku membawa uang itu sesuai permintaannya!”


Lintani menunjukkan rekamannya yang masih berlangsung, dia hendak memutar ulang saat Rauja merampas benda itu dan melemparkannya ke tanah.


“Sudah, tidak ada gunanya kau membuktikan apa pun, percuma!”


“Kau panik Bibi! Itu artinya aku benar! Kau salah menuduh orang karena aku sama sekali, tidak melibatkan anakmu agar menjauhi pacarnya!”


Lintani berbalik dan meninggalkan semua yang ada di sana, termasuk uangnya begitu saja. Dia hanya mengambil kepingan ponselnya yang hancur, lalu, keluar rumah dengan mengabaikan Askelan yang menatap ke arahnya dengan tatapan rumit.


Sebenarnya kedua tangan pria itu mengepal cukup kuat, saat melihat sendiri bagaimana keluarga Lux memperlakukan Lintani hingga Haifa merasakan beberapa urat di tangannya memegang.


“Askel Sayang, apa kau baik-baik saja?” kata Haifa penuh kemanjaan. “Terima kasih sudah mau mengantarku ke rumah sakit memeriksakan anak kita!” katanya sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher Askelan, tapi pria itu melepaskan dengan penuh kelembutan.


“Aku baik, dan kau tidak perlu berterima kasih sebab sudah seharusnya aku melakukan itu.” Kata Askelan lembut sambil menepuk kepala Haifa perlahan, biar bagaimanapun juga, dia sangat berterima kasih pada wanita itu.


Hal yang menyakitkan bagi Haifa, karena Askelan selalu baik, lembut dan melindunginya tapi, anehnya, dia selalu menolak jika mengadakan kontak fisik secara langsung. Dia tidak tahu mengapa pria itu selalu bertanya merk parfum yang dipakai, tapi, tidak pernah menciumnya. Sudah ratusan mungkin ribuan jenis parfum dia coba tapi, belum ada yang membuat Askelan mendekat dengan penuh minat padanya.


Oleh karena itu, Haifa harus menggunakan alasan bayi di rahimnya. Kemarin dia sudah menghubungi seorang dokter kandungan dan, seorang wanita lain yang akan menjadi mitranya. Dia akan melakukan cek ultrasonografi di rumah sakit bersama Askelan hari ini. Semua harus dipersiapkan sebelumnya termasuk isi perut wanita, yang akan ditayangkan di layar monitor hingga pria gagah itu pun percaya.


Askelan pergi setelah memastikan Haifa masuk rumah dan baik-baik saja, lalu dia segera menuju ke jalanan sambil mengedarkan pandangannya ke sana-kemari tapi, seseorang yang dicarinya sudah tidak ada.


‘Apa dia memiliki uang untuk naik taxi dan pulang?’ Dia memikirkan Lintani.


Lintani menumpang bis dan memilih duduk paling belakang lalu menangis. Dia merasa tidak ada artinya hidup di dunia kecuali di hadapan Elliyat, dialah yang menganggap dirinya paling berarti sedunia.


Dia bahkan melihat mobil yang tadi dipakai Askelan, untuk mengantarkan Haifa, meluncur mendahului bis yang ditumpanginya.


Lintani heran mengapa Askelan tidak pernah memakai kendaraan yang sama setiap harinya. Apa dia terlalu terkutuk atau khawatir hingga tidak ingin dikenali oleh siapa pun? Dia bahkan cuma menyewa apartemen biasa, walaupun, cukup mewah tapi, seharusnya dia bisa menyewa sepuluh apartemen seperti itu dalam satu waktu.


Lintani berhenti di sebuah tempat penyewaan kamera, untuk menanyakan berapa harga kamera paling murah, yang bisa dia sewa. Dia akan menolong Elliyat, tapi, karena ponselnya sudah hancur, dia tidak bisa menggunakannya lagi.


Entah bagaimana dia bisa melihat Foto ibunya yang tengah memeluk dirinya saat masih kecil. Dia menebalkan muka dengan mengambil hp yang sudah hancur karena gambar itu, tersimpan dalam kartu SD yang suatu saat masih bisa digunakan.


Suatu saat nanti kalau dia punya uang, dia akan membelinya lagi. Dia tidak akan mengandalkan uang kompensasi dari Askelan, sebab sama saja dia menunggu Elliyat segera meninggal.


Dia sudah bersyukur Askelan memberinya uang itu tadi pagi, dengan catatan bahwa dia berhutang dan, nanti akan dipotong saat kompensasi sudah dia dapatkan.

__ADS_1


Dia harus bekerja lagi, kali ini untuk membeli sebuah ponsel!


Bersambung


__ADS_2