Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 56. Di Kamar Askelan


__ADS_3

Di Kamar Askelan


Lintani tidak kuasa menahan kesedihan di hatinya saat seorang perawat yang, sering melihatnya mengunjungi Elliyat, berpapasan lalu mengatakan jika sekarang kondisi wanita itu sedang sangat kritis. Tubuhnya tiba-tiba lemas dan luruh ke lantai, dia menangis sambil menepuk dadanya berharap rasa sesak itu bisa hilang dari sana.


“Kenapa kau menangis? Bukankah kehilangan dan kematian itu pasti? Jadi, kenapa kau tidak berdoa saja untuk Ibumu?” kata perawat itu seakan menyadarkan Lintani.


Dia segera bangkit, menuju kamar ICU dan melihat beberapa orang dokter secara bersamaan, memberikan penanganan medis pada Elliyat.


Askelan pun ada di sana, mereka sama-sama melihat tindakan para dokter itu dari balik jendela kaca. Pria itu menoleh dan dia melihat Lintani yang mengucurkan air mata dengan derasnya.


Tiba-tiba Askelan mendekat dan menarik tangan Lintani, menjauh dari sana dan mencengkeram dagunya.


“Apa kau begitu bersedih karena Ibuku?” Askelan bertanya dari jarak yang dekat sambil menatap tajam pada istrinya. Seandainya pandangan itu berubah menjadi pisau maka dia akan terbelah saat itu juga.


Lintani tidak menjawab pertanyaan konyol itu, dia justru membuang muka ke arah samping.


Askelan kembali membuat wajah Lintani menatapnya.


“Jadi, kenapa kau menangis? Bukankah kau seharusnya senang akan mendapatkan kompensasi secepatnya jika Ibuku tiada?” kata pria itu lagi.


“Tuan, aku tidak menginginkan kompensasi itu, karena aku tulus menikah karena Bibi Elle!”


“Benarkah? Kalau begitu aku tidak akan memberimu apa pun setelah Ibuku tiada!”


“Tidak masalah.” Suara Lintani rendah, Askelan melepaskan tangannya dari dagu Lintani.


“Seperti apa Ibuku bagimu?” Dia berkata sambil memagari tubuh Lintani dengan kedua tangannya.


Akh, Lintani berpikir jika pertanyaan Askelan ini sangat terlambat.


“Dia seperti Ibuku sendiri yang dikirimkan Tuhan, Elle seperti air embun pagi yang sejuk dikala aku kehausan. Aku baginya adalah pelipur lara, itulah yang selalu dia katakan tentang aku!”


“Berapa besar uang yang sudah Ibuku berikan padamu?”


“Tidak sepeser pun!”


Askelan mengernyitkan keningnya hampir tidak percaya, tapi, sepertinya memang benar karena saat di penjara dahulu, Elliyat selalu menolak setiap kali dia memberi ibunya uang, dan dia selalu mengatakan bila uangnya masih utuh.


Dia tidak bisa mengeluarkan Elliyat dengan berbagai cara karena hukum saat itu sudah berlaku dan Askelan hanya bisa mengusahakan Ibunya mendapatkan remisi saja.

__ADS_1


Elliyat di hukum atas tuduhan memalsukan identitas Askelan, pencemaran nama baik keluarga Harrad dan pencurian. Semua memang Elliyat lakukan demi anaknya itu.


Dia mengikuti gaya Robin Hood untuk berderma, mengambil uang orang-orang kaya, lalu, dia gunakan untuk menolong anak-anak yatim di rumah-rumah ibadah dan di panti-panti penampungan. Anak-anak itu senasib dengan putra tunggalnya.


Cukup banyak yang mengeluhkan perbuatan wanita ini dan teman-temannya. Saat mereka tertangkap, yang lain bisa melarikan diri, tapi Elliyat memilih untuk menyerah.


Wanita itu paling sering mencuri uang majikan tempat dia bekerja, karena dianggap seperti benalu di kantor pemerintah dan mencuri uang negara, untuk membeli kebun teh, hingga dia kaya raya. Majikannya inilah yang kemudian mengadukan Elliyat sebagai pencuri dan memenjarakannya.


Itu artinya Lintani memang tulus dan tidak memanfaatkan ibunya dalam pertemanan, sialnya dia sangat terlambat untuk mengkonfirmasi hal ini pada ibunya. Tiba-tiba dia kesal dan, menarik Lintani keluar rumah sakit.


“Awasi Ibuku dan kalau ada apa-apa terjadi padanya, hubungi aku!” kata Askelan pada Jordan sambil berlalu, dia memasukkan Lintani secara paksa ke dalam mobil, lalu mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi sampai ke rumahnya sendiri.


Setiap kali Askelan menariknya Lintani menolak dan berontak tapi, Askelan mengabaikannya, bahkan, Askelan sendiri yang memasangkan sabuk pengaman untuk Lintani.


Askelan keluar dengan cepat dari mobil dan membuka pintu lalu melepaskan sabuk pengaman Lintani sambil berdiri di pintu. Setelah itu, merengkuh bahunya dan membawanya sampai ke dalam lift, dengan posisi berdekatan seolah mereka sepasang kekasih, yang sedang bermesraan.


“Askelan!” kata Lintani kasar. “Kenapa kau membawaku kemari, Ibumu sedang sekarat dan kau justru pulang?”


Lintani mengomel sepanjang perjalanan menuju rumah. Askelan tetap diam seolah tidak mendengar.


“Kau mirip orang yang pernah menghancurkan aku, dia justru bercinta saat nyawanya hampir lepas dari tubuhnya!”


“Diam!”


“Kau di sini atau di sana sama saja, tidak berguna!”


“Ah, ya! Laki-laki itu benar, dirinya bukan dokter dan juga bukan perawat yang bisa melakukan sesuatu untuk Elliyat.


Brak!


Pintu kamar Askelan ditutup secara kuat dengan kakinya saat mereka ada di dalam. Pria itu mendorong kuat tibuh Lintani hingga terjerembap di atas tempat tidur.


“Aw!” pekiknya lirih sambil mengernyitkan dahi.


“Buka bajumu, cepat!” kata Askelan sambil membuka pakaiannya sendiri saat persatu dengan cepat.


“Untuk apa? Semua ini tidak ada dalam perjanjian kita! Aku bukan budak napsumu, Askel!”


Askelan mencium bibirnya kuat tapi, sejenak kemudian melepaskannya.

__ADS_1


“Sialan, kau! Askelan Harrad! Lepaskan aku!” Lintani terus menolak dan mencegah usaha Askelan yang akan melucuti pakaiannya saat itu.


Namun, hanya pakaian atas yang baru terlepas.


“Dengar ... kau menolak kompensasi, bukan? Itu artinya kesepakatan kita batal ...” Berhenti dan menarik napas dalam. “Kau bilang, tulus melakukan pernikahan karena Ibuku, apa itu artinya kau tidak menyukaiku?”


Lintani diam, dia menyukai pria ini, tapi hanya sedikit saat dia baik dan melindungi. Namun, sekarang dia tidak tahu apakah dia masih mencintainya atau tidak.


Askelan duduk di sisi Lintani tubuhnya sudah hampir polos. Dia menoleh membiarkan Lintani mengambil bajunya lagi.


“Kalau aku tidak memaksa, apa kau mau melakukannya denganku?”


Lintani diam dan menoleh, mereka kini sama-sama berpandangan, gadis itu melihat jakun Askelan yang bergerak-gerak. Namun, dia heran, bagaimana mungkin ada pria yang justru ingin bercinta di saat ibunya hampir tiada? Pria itu benar-benar menginginkannya pada laki-laki di malam kelam itu.


“Kau wanita pilihan Ibuku, aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu tertarik padamu, apakah aku boleh tahu?”


“Maaf ... Tuan Askel, saya juga tidak tahu ....” suara Lintani merendah. Tiba-tiba dia merasa kasihan saat melihat kini Askelan diam dan merebahkan diri di sampingnya.


Ini kamar Askelan, pikir Lintani, apakah kalau dia bergerak turun dari tempat tidur maka akan ada senjata yang, melayang menusuk jantungnya hingga dia mati menyusul Elliyat?


Tidak! Tiba-tiba dia takut mati, karena dia belum memberikan hadiah yang dibelinya hari ini.


“Apa kau menginginkan aku?” Tanya Lintani seraya menyimpan bajunya kembali.


Askelan menatapnya dengan tatapan sendu, dan berkata, “Ya. Tapi, aku tidak akan memaksamu lagi sekarang. Pergilah kalau ingin pergi.”


Lintani memalingkan pandangan, menyibakkan rambut di wajahnya sambil berkata, “Aku bukan wanita suci, aku juga bukan wanita kalangan atas yang layak untuk mendapatkan cintamu, Tuan Askel. Walaupun aku menyukaimu, aku tetap tidak layak, kau berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.”


“Apa karena itu kau membatasi dirimu?”


“Ya!”


Jawaban singkatnya membuat Askelan tersenyum tipis. Itu senyum yang cukup manis yang baru dilihat oleh Lintani sejak tinggal bersamanya.


“Kemarilah!” Askelan sambil bangkit dan mengukurkan tangannya ke bahu Lintani dan memeluknya erat seolah ingin menyatukan diri. Tangan Askelan mulai meraba ke atas dan bawah bagian tubuh gadis itu, lalu, melepaskan pakaian yang masih tersisa di tubuh mereka.


Askelan terus menciumi wajah dan bibir Lintani sepenuh gejolak yang ada di di benaknya, menumpahkan semua rasa kesal, penasaran, amarah, dan juga kasih sayang serta minat tinggi padanya. Menikmati sesuatu yang baru kali ini dilakukannya, dengan sadar dan tanpa pengaruh dari apa pun.


Dia membubuhkan banyak tanda pada dada dan lehernya, saat itu tiba-tiba dia teringat bagaimana pergumulan dengan seorang wanita seperti badut di mobil. Dia merasa aneh, karena menemukan bentuk tubuh yang sama.

__ADS_1


Ini seperti tubuh wanita itu, tapi, bukankah dia adalah Haifa? Pikir Askelan.


Bersambung


__ADS_2