
Bukankah Dia Lucu
Hari itu menjelang sang, Askelan tengah berada di kantornya bersama dengan Jordan. Dia sudah bersiap untuk pergi dengan Lintani memenuhi undangan Aston untuk makan siang di rumah keluarga miliknya, yang terletak di Kilometer 17, sebelah barat dari perusahaan Harrad berada.
“Jadi, apa yang dilakukan Haifa, setelah terlibat dengan mereka?” tanya Askelan sambil duduk dan bersandar, dan menyimpan kedua tangannya pada sandaran sofa, kepalanya menengadah ke atas.
“Ya! Pit merekam pembicaraannya dengan Yasmin saat bertemu di restoran, perempuan itu tidak melakukan apa-apa selain memeras Yasmin atau Petra!”
“Mereka bodoh kalau percaya begitu saja dengan perempuan itu!” kata Askelan sambil menyeringai.
“Ya! Sepertinya dia selalu mengancam akan membocorkan rahasia kalau Yasmin atau Petra tidak menuruti kemauannya. Dia bisa apa sekarang? Hah!”
“Kau pikir, apa yang akan dia minta pada Petra?” Askelan berkata setelah tertawa, “Sepertinya Petra sangat beruntung karena tiap malam dia akan kelelahan!”
“Tuan! Aku bersyukur karena menikahi Nona Lin dan kita mengetahui semuanya sebelum terlambat! Aku tidak bisa membayangkan kalau kau jadi menikah dengan Haifa!”
Askelan meluruskan punggung setelah Jordan selesai bicara.
“Aku akan membuat pesta untuk pernikahanku secara besar-besaran setelah Aston mengumumkan secara resmi, siapa pewaris Bukit Shaw pada dunia! Aku akan memperbaiki kesalahanku!”
“Apa?” Jordan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Apa aku harus mengulangi ucapanku?”
“Tidak, tidak perlu ... baiklah! Aku akan mempersiapkan semuanya dari sekarang,” Jordan berhenti sejenak, sebelum dia melanjutkan ucapannya kembali.
“Oh ya, Tuan! Aku mohon katakan pada Pit, untuk tidak terus melibatkan Jabie dalam misinya menjaga Aston tua, pasukannya itu sudah cukup, pengamanan dari pihak keluarga Shaw juga banyak!”
“Kenapa? Biarkan Jabie yang menentukan sendiri dengan pilihannya. Kalau dia menyukai semua tugasnya bersama Pit, bukankah itu bagus? Mungkin mereka berjodoh!”
__ADS_1
“Tuan! Kau tahu, kan? Pit kadang sangat ceroboh!”
“Kau terlalu menyayangi Jabie. Dia tidak akan berkembang kalau menjadi pengawal istriku, lebih baik dia bersama Pit! Tugasnya cukup menantang!”
Jordan termangu sebentar, lalu mengangguk walaupun sedikit ragu. Semua yang dikatakan Askelan benar, hanya saja dia masih kuatir dengan keselamatan adik perempuannya itu. Saat ini dia hanya bisa mencoba meyakinkan diri jika memang Jabie yang keras kepala itu, akan menjadi lebih baik bersama dengan Pit, sahabatnya. Maka dia akan mendukungnya.
“Tuan! Ini berkas yang mungkin dibutuhkan kalau nanti berada di rumah Tuan Shaw!” Jordan berkata sambil memberikan selembar kertas berisi data dan bukti secara ringkas tentang Lintani.
Askelan melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku bagian dalam jasnya.
“Bagaimana berkas follow up dari tender kita, apa semua sudah lengkap?”
“Sudah, saya hanya perlu memeriksa ulang dan menunggu tanda tangan Anda, mungkin akan siap nanti malam, ini masalah kecil.” Jordan berkata sambil menjentikkan jarinya.
Dua orang itu begitu yakin saat menghadapi perusahaan yang dikelola Yasmin, saat tender kemarin lusa. Mereka bahkan bisa mendapatkan tender itu dengan mudah, padahal mereka datang pada saat acara hampir di mulai, karena Askelan dan Jordan harus mengantarkan Lintani kembali ke rumah setelah pulang dari rumah sakit.
Semua klasifikasi perusahaan Harrad jauh lebih baik dari perusahaan yang menjadi pesaingnya. Semua kebutuhan untuk pengolahan tanah dan pembangunan sebuah Selter bahan tambang, sangat mudah dipenuhi Askelan.
Kedua pria itu meninggalkan gedung, menuju tempat parkir khusus Presdir dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, menuju villa Harrad, untuk menjemput Lintani.
Gadis itu sudah menunggu di depan pintu, di temani Mo dan dua pelayan lainnya. Dia berdiri sambil menenteng sebuah tas tangan berukuran sedang, dengan warna yang senada dengan pakaiannya. Dia memakai dres longgar warna peach yang berenda du ujung lengan serta bagian bawahnya.
Saat memasuki pekarangan rumah, Askelan meminta Jordan untuk melambatkan laju mobilnya, tatapan matanya tak lepas dari wanita yang tampak gelisah menunggu dirinya.
“Lihat ... bukankah dia lucu, perutnya mulai buncit! Haha!” Askelan tertawa mengomentari penampilan istrinya sendiri.
“Tuan, jangan bicara seperti itu di hadapan Nona!” kata Jordan perlahan, dia takut kalau apa yang dikatakan oleh mulutnya itu membuat Askelan marah.
“Apa kau pikir dia bisa marah padaku? Tidak akan!”
__ADS_1
“Aku pikir kalau Tuan berkata jujur tentang siapa kita sebenarnya, pasti Nona akan marah, bahkan lari meninggalkan Tuan!” Kata Jordan.
Askelan mencebikkan bibirnya, lalu berkata, “Dia tidak akan lari dariku, karena aku sudah menunjukkan rasa cintaku, lihat saja ... di seluruh tubuhnya itu tidak ada yang terlewat dari sentuhan tanda cintaku!”
Jordan menggelengkan kepalanya saat mendengar Askelan yang membanggakan tindakannya pada tubuh istrinya.
“Ah! Yang benar saja, Tuan. Kalau soal itu, tentu saja Tuan juga keenakan, kan?”
“Kau ini! Cepat menikah sana! Jangan berkomentar tidak jelas begitu!” Askelan berkata sambil menendang jok di depannya.
‘Sebenarnya yang tidak jelas itu Tuan apa saya, sih?’ pikir Jordan.
“Aku akan menikah kalau Jabie sudah bahagia!” sahutnya kemudian.
Askelan mengedikkan bahunya, sambil membuka pintu mobil, sambil menoleh pada Jordan, sambil berkata lagi.
“Kau tahu, Jode, dia sangat menggemaskan kalau baru selesai mandi dan rambutnya itu harus di keringkan!”
“Mana saya tahu, Tuan!” kata Jordan sambil melihat Lintani yang berjalan mendekati mobil menuju pintu yang sudah dibuka oleh Askelan.
Rambut Lintani memang panjang bahkan sampai sebatas paha, jika baru dicuci dan dikeringkan, akan terlihat lucu dan menggemaskan bagi Askelan. Namun, di saat yang sama, terkadang Askelan justru menitikkan kesedihan di hatinya jika mengingat atas dasar apa Lintani memanjangkan rambutnya. Hatinya sakit setiap kali memikirkan bahwa dia memiliki anak yang sudah mendahuluinya, padahal dia belum pernah melihatnya sama sekali.
“Kenapa lama sekali?” tanya Lintani saat sudah masuk dan duduk di samping suaminya. Dia melihat tadi mobil itu justru berjalan melambat.
Askelan tidak menjawab, dia langsung memeluk dan membelai rambut istrinya yang, dianyam sedemikian rupa, terlihat memanjang di salah satu bahunya.
“Maaf ...!” hanya itu yang dia katakan.
Sementara mobil kembali melaju kencang keluar dari villa menuju kediaman keluarga Shaw berada.
__ADS_1
Bersambung
❤️🙏 Jangan lupa like dan dukungan lainnya🙏❤️