
Kutunggu Kau Di Hotel Morena
Askelan melirik kesal pada Lintani karena cemburu, ibunya begitu memperhatikan gadis itu seperti dialah anak kandung sesungguhnya. Pria itu merasa terpojok, apalagi saat Lintani dengan beraninya bergelayut mesra di lengannya sambil tersenyum. Sialnya lagi, senyuman itu sangat manis hingga membuatnya mau tidak mau harus membalasnya.
“Ibu, itu tidak perlu, Askel sudah sangat baik padaku, aku benar-benar sangat bahagia berada di dekatnya!” Kata Lintani, setelah itu dia melepaskan pelukannya di lengan Askelan dan beralih memgang tangan Elliyat.
Seketika Askelan merasa sebelah tangannya seolah-olah kosong, dia merasakan hangat dari dada gadis yang menempel tadi, lenyap.
“Lin, jangan seperti aku, kau harus bisa menunjukkan di hadapan anak-anak kelak, kalau kau sangat cantik dan bangga menikahi anakku dengan baju rancanganku.”
“Ibu, pengorbananmu sudah cukup banyak .... tidak perlu lagi membuat pesta seperti itu!” kata Askelan.
“Anak, bodoh! Bukan pesta yang kuinginkan ....” Elliyat mengalihkan pandangannya dari Askelan pada Lintani dan kembali berkata, “Lin, aku ingin ada orang yang memakai gaunku, itu adalah satu-satunya baju yang bisa aku buat, setelah itu aku tidak pernah mendesain lagi.”
“Baiklah, Ibu ... aku yakin bajumu sangat indah, aku akan memakainya kalau itu keinginan yang bisa membuatmu bahagia.” Lintani berkata sambil melepaskan genggaman pada Elliyat dan meraih tangan pria di sampingnya, seraya berkata, “Ayo, Sayang ... kita siapkan pernikahan itu secepatnya!” sambil mengedipkan sebelah matanya.
Semua yang dilakukan Lintani membuat jantung Askelan, seakan berhenti berdetak seketika. Baginya gadis itu sangat kurang ajar, tidak ada wanita yang berani berbuat seperti itu padanya kecuali para gadis nakal yang dikirim beberapa kolega bisnisnya untuk menggoda atau menjebaknya.
Askelan tidak pernah gagal dalam pertahanan, seberapa sering para kompetitor berusaha menjatuhkannya dengan berbagai cara, tapi, dia selalu berhasil mengalahkan mereka. Hanya saja, sebulan yang lalu, dia pernah patah arang, dia kesal pada dirinya sendiri yang tidak waspada hingga para pesaingnya bisa meracuninya beberapa kali dalam sehari. Dia tidak tahan dan akhirnya meminta Jordan mencari wanita lemah, yang kurang lebih mirip dengan gadis di malam itu, delapan tahun yang lalu.
__ADS_1
Saat Jordan memasukkan seorang wanita berpenampilan seperti badut, dia sempat ragu, tapi, gadis itu begitu lemah saat berada dalam pelukannya hingga dia bisa merasakan sentuhan yang sama, membuatnya tidak mual ketika mereka saling menyatu. Bahkan kehangatan dari dalam tubuhnya pun sama dengan gadis di pondok kayu.
Askelan sadar walaupun, dia sudah jadi sangat berkuasa dan keluarganya pun bertekuk lutut padanya, tapi, ada saja beberapa celah dari beberapa patriarki yang tidak bisa dia kuasai sepenuhnya. Orang licik ada di mana-mana membuatnya harus lebih licik dari mereka!
Namun, sekarang dia lagi-lagi tidak berdaya di hadapan dua wanita, yang satu adalah ibu yang dicintainya sedang yang lain adalah wanita licik yang memanfaatkan ibunya karena uang dan sekarang dia ingin baju pengantin juga.
Sungguh itu keinginan yang sangat naif, tapi dia harus membuat ibunya senang walaupun gadis itu pun ikut senang. Dia harus menyewa sebuah Hotel yang jauh dari pusat kota untuk menutupi pernikahannya.
Lintani keluar dari ruangan Elliyat sambil menggandeng tangan Askelan—suaminya. Namun, dia melepaskannya begitu saja saat sudah berada di luar pintu, dia berjalan meninggalkan pria yang menatapnya serta tangannya sendiri secara bergantian.
“Tunggu!” kata Askelan mencegah Lintani pergi sebelum menjauh beberapa langkah darinya.
Gadis itu pun menoleh dan menjawab panggilannya dengan ketus serta sinar mata dingin bak kutub Antartika. Seandainya Askelan bukan beruang kutub, pasti pria itu sudah membeku dibuatnya.
Baginya apa yang dilakukan itu sepadan padahal dia sangat tidak menyukai saat harus menyentuh atau bermanja dengan Askelan tapi, demi membuat Elliyat senang dan sinar matanya tetap berbinar, dia pun melupakan rasa enggan.
Namun setelah Elia tidak melihatnya lagi, tentu saja ia bebas berkehendak sesuka hatinya pada pria ini. Dia tidak perlu bermanis-manis karena dia bukan suami asli, dia hanya istri boneka demi Ibunya. Apalagi, dia tidak mau orang lain memperlakukannya dengan buruk lagi, berada di penjara, adalah keburukan terakhirnya.
Askelan tidak segera menjawab karena dia tengah menyelesaikan mengirimkan beberapa pesan pada seseorang.
“Pergi ke hotel monera dua hari lagi, aku tidak ingin kau ada di sana saat Ibuku datang nanti!” kata Askelan setelah selesai dengan ponselnya, dan menyimpan kedua tangan pada kedua saku celananya.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan di hotel itu?”
“Mengadakan pernikahan, seperti keinginan ibuku!”
“Ah, Tuan. Sebaiknya kau tidak berbohong di hadapan Tuhan, itu adalah janji seumur hidupmu lebih baik kau tidak usah melakukan kalau memang tidak suka, tidak masalah ... Aku pandai berpura-pura!”
“Ya, aku tahu kau sangat pandai berakting!” Askelan berkata tanpa melepaskan tatapan matanya dari Lintani yang juga menatapnya. Seakan-akan tatapan mereka bisa berubah menjadi aduan ribuan pedang.
“Baiklah jadi ayo kita terus berakting!”
“Dengar ... kalau kau tidak datang jam 10.00 pagi di hotel itu, maka jangan harap kau bisa hidup besok hari!”
“Gila! Kerjaanmu mengancam saja, kau pikir aku takut?” Lintani berkata tanpa tahu, tapi ada sedikit gemetar pada nada suaranya.
‘’Ya Tuhan! Sebenarnya aku memang takut! Pria seperti dia bisa membunuh kapan saja, siapa yang tahu apa yang dia simpan di balik bajunya!’ batin Lintani.
Askelan hampir saja tertawa mendengar ucapan yang begitu menantang tapi, sebenarnya gadis itu begitu ketakutan.
Semula dia menyangka bahwa, Lintani adalah gadis yang sama dengan gadis di pondok kayu karena aroma yang dikeluarkannya sama dan, saat dia bisa tertidur dengan tenang dalam pelukannya. Namun, melihat karakter kasar dari gadis di hadapannya itu, dia kembali ingin muntah seperti kebiasaannya saat bertemu dengan wanita lain yang mendekatinya.
Namun, akal dan perasaannya tidak kompak karena tiba-tiba tangannya terulur untuk meraih pinggang Lintani ke arahnya hingga tubuh mereka saling menempel. Dan sialnya lagi, Askelan merasa akrab dengan semua yang ada pada gadis itu.
__ADS_1
Bersambung