
Pergi Kubilang
Haifa dan Rauja melihat ke arah cambuk di tangan Askelan dengan tatapan memelas dan putus asa.
‘’Bagaimana dia bisa tahu semua itu?” kata kedua wanita itu dalam hati. Lalu ...
Cetar!
“Aakh!”
Suara cambukan keras mengenai kaki kedua wanita itu hingga Haifa dan Rauja berteriak keras dengan teriakan yang menyayat hati, lalu menangis sejadinya.
“Aku kira itu cukup, aku masih memberi kalian kesempatan ... untuk hidup!” kata Askelan sambil meletakkan kembali cambuk besar itu ke tempatnya semula. Dia melihat ke arah kaki Haifa dan Rauja, yang terlihat merah serta membengkak, padahal hanya sekali cambukan saja. Itu hanya sebuah pelajaran, agar kedua wanita itu benar-benar jera.
Setelah itu dia berjalan keluar sambil berkata, “Pit, suruh Max ke sini dan membawa mobil tahanan kita, jemput juga Luxor, di tempat perjudian, mereka sekeluarga harus dibuang secara bersamaan!”
Mobil tahanan yang dimiliki Askelan adalah mobil yang tertutup rapat baik kaca dan juga body mobilnya dengan kawat baja yang kuat, kacanya anti peluru dan memiliki standar keamanan tinggi hingga orang di luar tidak bisa melihat ke dalam dan sebaliknya.
“Baik, Tuan! Anda ingin mereka dibuang ke mana?” kata Pit, dia kembali menutup gudang senjata bekerja sama dengan Jabie.
“Bawa mereka ke daerah Excellure, apa itu terlalu berlebihan bagi mereka?” Askelan berkata saat sudah berada di lorong bawah tanah untuk keluar gudang.
“Tidak! Itu kawasan yang tepat, mereka tidak akan pernah kembali.” Jordan menyahut ucapan tuannya.
Exellure adalah kawasan yang biasa digunakan Askelan dan juga para mafia di kota, untuk membuang musuh atau anak buah mereka yang membangkang. Sebuah tempat yang keras baik alam dan juga kehidupan masyarakatnya. Hampir tidak ada tempat untuk, bisa melarikan diri atau bertahan hidup di sana kecuali, dengan perjuangan keras pula. Bagi Askelan hukuman seperti itu jauh lebih baik dari pada hukuman penjara.
Hari sudah menjelang malam saat Askelan tiba di rumah sakit dan dia memasuki kamar perawatan Lintani. Dia berniat menemui istrinya itu setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian.
__ADS_1
Sementara Lintani masih terbaring setelah satu jam yang lalu, Mo dan suster bekerja sama untuk, membantu Lintani mengeluarkan air susunya untuk diberikan kepada baby boy yang masih ada di dalam inkubator.
Mo keluar dari kamar perawatan Lintani begitu Askelan masuk, sambil membawa sebuah kotak di tangannya. Laki-laki itu meletakkan kotak berukuran kertas folio di atas meja kecil di sisi tempat tidur, kemudian dia ikut berbaring di samping Lintani, yang masih memejamkan mata.
Lintani masih membutuhkan banyak istirahat dan juga asupan nutrisi untuk pemulihan tenaga serta kesehatannya. Enam jam sudah berlalu dari waktu yang dibutuhkannya, untuk pemulihan pasca melahirkan.
Wanita itu membuka mata secara perlahan, ketika merasakan gerakan di sisinya dan hembusan nafas Askelan di wajahnya, menandakan posisi laki-laki itu begitu dekat.
Secara spontan Lintani memundurkan kepala, demi melihat wajah Askelan yang tepat di hadapannya. Dia pun mengingat semua ucapan pria itu, sebelum pergi meninggalkannya enam jam yang lalu.
Askelan membelai pipi Lintani dengan lembut sambil berkata, “Jangan bergerak ... jangan menjauh lagi dariku, aku bisa melakukan apa pun padamu selama aku mampu ... termasuk menemuimu kapan pun aku mau ... walaupun, kau tidak mau!”
“Oh. Benarkah?”
“Ya!”
“Apa yang kau lakukan pada Haifa dan Bibi?”
“Jangan membicarakan orang lain denganku! Tapi, kau tidak usah khawatir, karena mereka tidak akan bisa menyusahkanmu lagi!”
“Apa kau membunuhnya?”
“Tidak! Aku hanya mengusir mereka pergi dari kota ini.”
Lintani diam dan kembali memejamkan mata, mencoba berdamai dirinya sendiri dengan semua yang sudah dia alami, hingga hari ini.
Dia semakin kesal sekarang, pada Askelan yang seenaknya saja memeluk tanpa permisi, bahkan menciumi seluruh wajahnya bertubi-tubi, hingga gadis itu menutup mulut Askelan dengan telapak tangan, barulah suaminya itu menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
Dia pun berkata, “Pergilah, aku masih butuh istirahat!”
“Apa kau mengusirku, lagi? Ini sudah lebih dari enam jam! Aku sudah bersabar untuk tidak menemuimu, dan sekarang ... jangan gunakan alasan kesehatanmu untuk menjauhiku, waktu yang kau berikan sudah cukup! Aku sudah lebih dari tiga bulan tidak tidur denganmu!”
“Kau cerewet sekali!” kata Lintani sambil merubah posisi dan melepaskan tangan Askelan yang melingkai pinggangnya.
“Sayang ....!”
“Pergi, kubilang!”
“Apa kau benar-benar membenciku?” Askelan tampak putus asa karena sudah dua kali dia diusir seperti ini oleh Lintani, membuatnya patah hati.
Lintani menoleh pada Askelan dan tersenyum, lalu, dia berusaha untuk bangkit dan duduk di pangkal tempat tidur. Askelan pun ikut membantunya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Elan ... aku tidak membencimu lagi ..., tapi, aku masih belum mau dekat denganmu dulu, tunggulah setelah dua bulan lagi!”
“Kenapa harus selama itu, apa yang akan kau lakukan selama itu, apa kau akan pergi lagi?” pria itu berkata dengan panik.
“Bukan begitu, tapi ... aku khawatir kalau kau ingin bercinta denganku, karena aku belum bisa melakukannya!”
“Kenapa belum bisa, apa kau masih sakit selama itu?”
“Ya!”
“Ah. Yang benar saja! Jangan-jangan ini hanya alasanmu. Lihat ... aku punya sesuatu yang menarik untuk hadiahmu, karena kau sudah melahirkan anak kita, kalau kau melihatnya, apa kau masih mau menolakku?”
Bersambung
__ADS_1
❤️🙏 Tetap dukung dan terimakasih 🙏❤️