
Ke Rumah Sakit
Lintani tersenyum sambil mendekati Askelan, dia sudah selesai memakai pakaiannya, kemeja pendek warna putih dan kulot warna biru muda, menjadi pilihannya. Dia duduk di pangkuan pria itu, melingkarkan kedua tangan di leher, dan memberinya ciuman di bibir. Itu ciuman yang tadi tertunda karena dia tiba-tiba mual.
“Untuk apa aku membunuhmu?” tanya Lintani setelah melepaskan ciumannya.
“Entahlah, mungkin kalau kau punya satu alasan.”
“Alasan seperti apa misalnya?” Lintani hanya mencoba mencari obrolan, agar mereka menjadi lebih dekat karena selama ini, mereka tidak pernah terlibat obrolan panjang dan serius, meskipun tunggal bersama.
“Hmm ... Misalnya ada seorang yang pernah menghancurkan hidupmu, apa yang akan kau lakukan kalau kau tidak membunuhnya?”
“Aku bukan orang seperti itu!”
Askelan tersenyum, lalu, kembali berkata, “Apa kau percaya ada orang yang tiada hidup kembali?”
“Tidak!”
“Aku juga tidak!”
Lintani melempar pandangan matanya ke jendela sebentar, lalu, dia kembali menatap Askelan.
“Seandainya bisa, ada satu orang yang ingin aku bunuh, mungkin aku akan meminjam pistolmu itu!”
“Benarkah? Siapa dia?”
Lintani tertawa kecil sambil menggeleng kepala, mencoba mengusir pikiran buruk yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
“Dia orang yang merenggut kehormatanku. Tapi tidak! Orang itu sudah mati!”
“Hmm ... dan seandainya dia sekarang masih hidup? Apa kau akan membunuhnya?”
“Kurasa iya!”
Tanpa Lintani sadari, Askelan mengepalkan tangannya dengan kuat dan rahangnya pun mengeras. Dia sudah beranjak dari pangkuan Askelan dan menuju lemari kaca yang tadi terbuka lalu, menutupnya kembali.
Setelah menenangkan diri dan menetralkan debaran jantungnya, Askelan menggamit tangan Lintani menuju area yang lain di ruangan itu, memberi tahu di mana dia menyimpan senjata, lainnya. Bukan hanya itu, dia memberitahu Lintani letak brankas, di mana dia menyimpan uang, emas, dan semua surat-surat berharganya. Dia begitu mempercayai istrinya, dengan mengatakan kode sandi brankas adalah, tanggal lahir Elliyat.
“Kenapa kau memberi tahu semuanya padaku, apa kau tidak khawatir aku mengkhianatimu?” tanya Lintani sambil mendorong kursi roda Askelan keluar dari ruang ganti.
Askelan diam seraya mengambil remote yang tadi dia letakkan begitu saja, lalu, menekan angka 23, membuat pintu dinding pun tertutup kembali.
__ADS_1
“Kau sendiri bilang kalau tidak akan berkhianat padaku, apa semua itu bohong?” katanya kemudian.
“Tidak,” sahut Lintani tegas.
“Aku tahu, aku percaya ... bahkan, aku menyerahkan nyawaku padamu!”
“Untuk apa kau menyerahkan nyawa? Kau pikir aku bisa mencabut nyawamu kapan saja?” kata Lintani sambil tertawa kecil, menurutnya ucapan Askelan lucu sekaligus menakutkan.
“Kalau kau mau, karena aku sangat mencintaimu, Sayang!” Askelan berkata sambil menarik tubuh Lintani kembali dalam pangkuan dan menghujani wajahnya dengan kecupan.
Disaat yang bersamaan, pintu diketuk dan terbuka setelah Askelan berkata, “Masuk!”
“Ini makan siang Anda Tuan, Nona!” kata Mo yang masuk dengan wajah riang, sambil mendorong meja yang penuh dengan makanan.
“Makan siang?” tanya Lintani, sambil turun dari pangkuan suaminya dan mendekati meja. Dia melihat jam dinding dengan tatapan mata tidak percaya kalau jam itu sudah menunjukkan waktu makan siang.
Mo menyimpan semua makanan yang dibawa tadi ke meja yang dikelilingi sofa besar di kamar itu. Lintani membantunya, lalu mengambil beberapa makanan untuk Askelan. Wanita itu keluar setelah selesai menuangkan jus buah ke dalam dua gelas.
Askelan menerima piring dari Lintani, dengan satu tangan dan tangan yang lainnya memegangi pergelangan tangan wanita itu.
“Duduklah, aku akan menyuapimu.”
“Tidak perlu, aku bisa makan sendiri!”
“Apa makanannya tidak enak?” tanya Askelan.
Lintani mencuci mulutnya sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku hanya mual! Sepertinya aku tidak akan makan saja.”
“Cobalah makanan dari piringku!” kata Askelan menyodorkan satu sendok penuh kepada Lintani. Dengan malu-malu gadis itu membungkuk untuk menerima suapannya.
Lintani duduk sambil mengunyah dengan hati-hati, khawatir dia akan muntah lagi, tapi, sampai dia selesai menelan, ternyata dia baik-baik saja.
Askelan menatap istrinya sambil tersenyum, lalu berkata dengan bangga. “Jadi, masih mau menolakku?”
Lintani menggeleng, dan membuka mulutnya, dia sangat lapar, sebab semua makanan dari semalam hampir tidak ada yang mengisi lambungnya.
Satu demi satu makanan berhasil masuk ke perut Lintani, hingga suapan terakhir, pria itu sibuk mengambil beberapa makanan untuk mereka berdua.
“Sudah, sudah, aku sudah kenyang!” kata Lintani saat Askelan hendak mengambil kembali makanan di meja.
__ADS_1
“Kau yakin?”
“Eum ...!” kata Lintani sambil mengangguk dan meneguk air minum di gelasnya. Askelan pun melakukan hal yang sama, setelah menyimpan piring di meja.
“Ayo! Kita keluar, aku akan mengajakmu ke rumah sakit.”
“Untuk apa, semalam dokter sudah memeriksaku dan memberiku obat!”
“Aku hanya ingin memastikan kau dan bayiku sehat,” kata Askelan sambil menjalankan kursi rodanya ke luar kamar, dengan tangan Lintani dalam genggamannya.
“Aku harus membereskan meja!”
“Tidak perlu, biar Mo yang melakukannya!”
“Kasihan Bibi bekerja sendirian!”
“Tidak, dia hanya bertugas mengurus kita, kalau pekerjaan yang lain, ada orang lain yang melakukannya!”
“Apa dia juga tahu tentang kamar itu?”
“Tidak semuanya, dia hanya tahu tempat lemari pakaianmu saja, ruangan itu akan terpisah menjadi dua bagian kalau dia yang masuk ke sana, tapi kalau kau atau aku yang masuk, akan terlihat seperti tadi!”
“Oh, jadi, aku tidak akan mengalami seperti di kamarmu dulu?”
Askelan sudah memasukkan sidik jari Lintani pada setiap pintu dan laci juga brankas bersandi, hingga gadis itu akan aman saat memasuki kamar dan ruang ganti.
Selama sepekan dia merancang dan membuat sendiri semua jebakan, hingga tidak ada yang tahu jebakan seperti apa yang telah dibuatnya. Jordan dan Mo tahu kalau Askelan pasti memasang jebakan, tapi, tidak tahu secara detil mengenai jenis pemicunya.
“Tidak. Maafkan aku soal itu,” kata Askelan setelah terdiam beberapa saat.
“Kau tidak perlu minta maaf, itu sudah menjadi masa lalu ... terima kasih sudah menyelamatkan aku! Tapi, bagaimana kau tahu aku ada di sana waktu itu?”
“Jode yang memberitahuku!”
“Oh! Aku belum berterima kasih padanya!”
“Tidak perlu berterima kasih pada laki-laki lain!”
Lintani tersenyum kecut, dia tahu Askelan cemburu.
Mereka pergi ke rumah sakit setelah Jordan menjemput mereka. Askelan hanya ingin memastikan jika Lintani baik-baik saja, saat mengandung buah hatinya.
__ADS_1
Bersambung