Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 108. Benda Berkarat


__ADS_3

Benda Berkarat


Mereka meneliti tempat itu hampir satu bulan penuh, hingga menemukan fakta jika sebelum tempat itu dihancurkan, beberapa manusia yang di sekap di dalamnya sudah tiada.


Oleh karena itu tulang belulang yang mereka temukan tidak beraturan. Bekas penyiksaan masih ada, walaupun, peledakan itu dilakukan untuk menghapus sisa-sisa perbuatan jahat sebelumnya.


Sepertinya Mharka lupa, jika sebaik apa pun teknik kejahatan yang disembunyikannya, tetap ada kekurangan. Si tukang onar itu tidak tahu jika bebauan besar, yang digunakan untuk menyembunyikan jasad para korban, akan menghalangi setidaknya 30 persen dari dampak ledakan bomnya.


“Apa masih ada yang lain di dalam?” tanya Lintani pada dua pengawal yang menjelaskan keadaan di sana.


“Kau tidak perlu masuk ke sana!” kata Askelan saat melihat Lintani yang akan masuk ke dalam celah bebatuan besar itu.


Lintani menggenggam tangan Askelan, lalu berkata, “Jangan kuatir ... aku dulu sering bermain ke sini, dengan Milo. Dia menggendongku di punggungnya, kami main petak umpet dengan, Dee, Do, dan—ah, siapa lagi—aku lupa! Dia suka menyembunyikan mainanku di sana!” sambil menunjuk ke bagian yang lebih dalam.


“Aku akan mengambilnya untukmu!”


“Tidak perlu!”


Lintani tetap melangkah, tiba-tiba saja jantungnya berdebar, dia mengingat saat terakhir kali dia bermain di tempat itu dengan sang kakak, sebelum ibunya membawanya pergi, saat itu usianya masih sembilan tahun. Hatinya kembali bersedih dan air mata pun kembali menetes.


Askelan memberinya sebuah masker penutup mulut dan hidung, katanya, “Pakai ini, di sana pengap dan berdebu!”


Setelah Lintani menerimanya, Askelan pun melakukan hal yang sama, begitu juga pengawal lainnya. Mereka melangkah secara perlahan dan tiba-tiba Lintani berjalan lebih cepat, ke salah satu celah batu, dia berlutut dan mengambil sesuatu di sana.


“Hai! Hati-hati!” Askelan mengikutinya dengan cepat, begitu juga Jordan, Greg dan pengawal lainnya.


Setelah itu Lintani mendekap benda itu ke dadanya sambil menangis lebih keras, menunjukkan kesedihan yang tiada tara.


Askelan ikut berlutut, membelai Kapala dan merengkuh bahu Lintani ke dadanya. Dia ikut merasakan tubuh istrinya terguncang karena tangis, membiarkan wanitanya larut dalam kesedihan, sambil melirik benda kecil di tangannya.


Lintani melihat benda yang sudah tidak berbentuk ditangannya berulang kali, sambil menangis. Askelan sendiri menduga bila benda dalam dekapan istrinya itu, seperti sebuah mainan anak kecil, yang terbuat dari bahan campuran kaleng dan kayu berbentuk tabung. Benda itu sudah penyok dan berkarat.


Askelan melihatnya dengan alis yang bertaut, dia tahu benda itu bisa membahayakan Lintani bila disentuh begitu , tanpa sarung tangan. Namun, dia tidak ingin melarang, karena akan semakin mengacaukan perasaan. Dia tidak khawatir sebab sudah menyiapkan dokter yang nanti, bisa memberikan suntikan anti tetanus padanya.


“Apa itu milikmu?” tanya Askelan setelah Lintani meredakan tangisnya, dan gadis itu mengangguk.


Askelan bertanya lagi, “Apa nama mainan itu?”

__ADS_1


“Gong!” Jawab Lintani, sambil melihat mainan itu, laku berdiri dan melangkahkan kakinya yang lemas keluar celah batu, dengan tatapan kosong.


Setelah berada di luar celah batu, Lintani melemparkan pandangannya ke segala penjuru, lalu menoleh pada Askelan yang selalu berada di sisinya.


“Kau tahu siapa pelakunya, kan?”


Askelan menatap Lintani penuh selidik mencari celah, ke mana arah pembicaraannya.


“Hmm ... Aku hanya menduganya.”


“Beri tahu aku di mana dia bersembunyi, aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri!” ucap Lintani sambil mengusap kasar air mata di pipinya, dengan pangkal lengan.


Seketika Greg maju satu langkah ke arah Lintani, dengan raut wajah yang sedikit keruh.


“Aku yang akan melakukannya, Nona!” kata Greg, membuat Lintani menoleh padanya dengan tatapan mata tidak suka.


“Greg! Diamlah!” kata Askelan terlihat kesal.


Jordan menarik tangan sahabatnya sambil berkata, pada Lintani, “Maafkan dia Nona ... Namanya Greg Mousha. Dia memiliki dendam pada orang itu juga!”


Lintani tersenyum sekilas lalu, memalingkan pandangannya seraya berkata, “Kalau begitu, kita bisa mencarinya bersama-sama, kan? Tidak masalah siapa yang akan melenyapkannya, asal kita sepakat, jangan biarkan nyawanya pergi dengan mudah!”


Ya! Itulah kekuatan dendam. Di mana kekuatan itu bisa merubah seorang yang lembut menjadi kasar, seorang yang baik menjadi jahat dan seorang yang lemah menjadi kuat, atau seorang yang bodoh menjadi sangat licik!


Mereka mungkin harus sepakat dalam hal ini, sebab mereka memiliki musuh yang sama, hingga semua orang merasa dirinyalah yang paling berhak untuk menghabisi nyawa Marka.


Saat itu, Greg merasa perlu menjelaskan pada semua teman-teman jika Lintani, bukanlah orang yang akan menghalangi Askelan dan kelompoknya untuk, menyalakan dendam. Namun, wanita itulah yang justru akan membuat tuannya semakin kuat. Selama ini mereka mengira, sang tuan muda, akan melemah karena pria itu pasti akan mementingkan keinginan Lintani dari pada keinginan kelompoknya sendiri.


“Baiklah, Nona! Itu bisa kita bicarakan nanti, kalau kita bisa menangkapnya hidup-hidup!” Greg berkata penuh semangat bahkan terkesan akrab, membuat Askelan tiba-tiba merubah raut wajahnya, masam.


“Menangkapnya dalam keadaan hidup, adalah tugas kalian. Kabari aku kalau laki-laki bedebah itu sudah berada di tangan kita!” Kata Lintani tidak kalah semangatnya.


“Kami sudah punya rencana, Nona. Ayo! Kita kembali ke kapal dan aku akan mengatakan semuanya pada Nona!” Greg kembali berkata, dan hampir menggamit tangan Lintani.


Tentu saja Askelan tidak menyukainya, dia kesal karena Greg tidak juga sadar jika wanita itu lebih berharga bagi Askelan dari apa pun juga.


“Jangan sentuh istriku!” Askelan berkata saat berhasil menepis tangan Greg secepat kilat, “Akan kupatahkan tanganmu kalau kau seperti ini, Ge!”

__ADS_1


Greg segera mundur ke posisi sebelumnya, setelah sadar jika dia terlalu bersemangat. Dia kini berjalan di samping Jordan, pria itu menahan tawanya sekuat tenaga. Jordan adalah orang di antara mereka yang sudah selesai dengan dendamnya. Keberadaan dirinya di sana, hanyalah sebagai teman sekaligus bawahan yang harus membalas kebaikan Askelan.


“Ayo! Kita pulang!” kata Lintani sambil melihat mainan rusaknya dan berjalan sambil memeluk lengan suaminya.


“Apa kau lelah? Aku akan menggendongmu!” kata Askelan lagi sambil menepuk tangan Lintani, mengambil benda berkarat di tangannya dan menyerahkannya pada pengawal, “Bawa mainan itu jangan sampai rusak!” katanya.


Lintani menjadi terharu, karena Askelan menghargai barang pribadi miliknya, walaupun, benda kecil yang rusak itu tampak tidak berharga.


Dia merasa kasihan bila tidak mengizinkan Askelan menggendongnya, sepertinya pria itu akan patah hati kalau tidak menggendong Lintani.


“Baiklah, ayo! Gendong aku di punggungmu!” kata Lintani setelah menghentikan langkahnya.


Askelan berlutut, mengambil sapu tangan dan mengelap tangan Lintani yang kotor, setelah itu berbalik agar gadis itu dengan mudah naik ke punggungnya.


Lintani melingkarkan tangannya di pundak Askelan yang lebar, meletakkan dagunya di kepala, sambil menciumnya.


“Apa seperti ini rasanya saat Milo menggendongmu dulu?” tanyanya dengan penuh kelembutan.


Saat itu mereka mulai berjalan melewati jalan yang sedikit menanjak, meninggalkan lembah.


Tiba-tiba suasana haru menyelimuti tempat itu, ingin rasanya Lintani menghentikan waktu, agar perjalanan terasa lebih lama. Beberapa orang yang berjalan di sekitar pasangan itu pun merasakan kelembutan yang sama.


“Ya!” Litani menjawab dengan perasaan bahagia. Betapa sejuk rasa hatinya, menyadari Askelan yang berusaha mengembalikan kesenangan masa kecilnya yang sudah hilang akibat kegelapan dan keserakahan seorang anak manusia.


“Tapi, kau bukan Milo, Elan ... kami dulu masih kecil, tapi, setidaknya kalian adalah orang yang sama-sama mencintaiku!”


“Hmm ...” Askelan bergumam, padahal dalam hati dia tidak terima saat cintanya di samakan dengan orang yang sudah tiada. Cintanya tentu lebih besar dari Milo.


Lintani bisa merasakan bika Askelan tidak suka dengan persamaan itu saat dia berkata dengan nada ketus.


“Aku lebih baik dari dia!”


“Ah, Ya!” Lintani berkata sambil menghela napas dalam, dia tahu Askelan cemburu.


“Ya! Tentu kau lebih istimewa, kau adalah suamiku yang bisa melakukan apa pun untukku lebih baik dari yang Milo bisa lakukan padaku!”


‘Setelah semua ini, apa jadinya kalau suatu saat Nona tahu tentang kebenaran yang kau sembunyikan, Tuan Askel?’ batin Jordan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2