Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 79 Haifa


__ADS_3

Haifa


 


Haifa kecewa karena sudah menunggu dengan persiapan yang sangat sempurna baik pakaian, rambut dan juga riasan wajah, tapi justru seperti ajudan bagi kekasihnya sendiri. Padahal sebelumnya, dia berharap Askelan akan melamarnya malam ini dengan membawa cincin berlian yang langka.


Saat Jordan membukakan pintu mobil bagian depan, membuatnya heran dan hendak protes, menganggap sopir pribadi Askelan itu tidak menghormatinya. Namun, demi melihat Lintani ada di sana, bahkan terlihat baik-baik saja, dia merubah ekspresi kecewa dengan wajah manja seperti biasanya. Bahkan menyapa dengan ramah.


“Lin, apa kau baik-baik saja?” tanyanya begitu ramah pada Lintani, meskipun, sebenarnya hatinya tengah panas bagai besi yang membara. Bagaimana tidak, saat masuk tadi, dia sekilas melihat riasan wajah dan rambut Lintani yang begitu elegan dan menawan.


“Ya, aku baik, bagaimana denganmu?” tanya Lintani datar.


“Tentu, aku baik. Oh, ya Ibuku merindukanmu.” Haifa kembali mengakrabkan diri.


“Oh ya?” hanya itu komentar, sejenak kemudian dia memalingkan muka ke arah jendela lalu, mencibir pada dirinya sendiri. Tidak mungkin Rauja merindukannya.


Kesannya adalah Haifa begitu menghargai pernikahan kekasih dan saudara angkatnya itu. Padahal sebaliknya, dia sangat membencinya.


Kalau tahu akan seperti ini, dalam hati dia menyesal mengapa dulu dia menerima Lintani kecil dalam keluarganya. Dia bisa saja menolak atau mengusirnya dan tidak peduli jika Lintani menjadi gelandangan, karena semua keluarganya tidak akan menuntut mereka.


Huh!


‘Kenapa dia tidak mati saja?’ batin Haifa.


Sembilan belas tahun yang lalu, dia hanya melihat Lintani manis dan lucu, saat ayahnya membawanya ke mobil, di tepi danau besar Rasevan. Gadis itu memberinya kupu-kupu dalam stoples yang cantik. Setelah gadis kecil itu tinggal bersamanya, dia selalu meminta hal yang aneh, bahkan menyuruh Lintani mencari uang jajan sendiri, dengan menjadi penghibur, pengemis di mana-mana atau memakai kostum yang bermacam-macam pula.


Pada puncaknya, tibalah hari saat dia merengek pada Lux agar Lintani saja yang menggantikan dirinya, untuk melayani seseorang suruhan Dex, malam itu di rumah kayu di atas bukit. Ayahnya bilang Dex akan memberinya peran besar kalau dia melayaninya dengan baik, sekitar delapan tahun yang lalu.

__ADS_1


Saat itu semua orang tidak ada yang tahu bahwa, ada kamera tersembunyi dalam rumah itu, yang akan merekam semua perbuatan mereka nantinya.


Muncullah niat buruk Haifa seperti biasanya, agar Lintani menggantikan dirinya, dengan menggunakan algojo kepercayaannya untuk mengancam, hingga saudara angkatnya itu mau. Dalam pikirannya, orang lain yang yang menjadi korban, tapi dirinyalah yang mendapatkan keuntungan. Sebuah peran besar yang akan dia mainkan dalam sebuah film, sesuai mimpinya, akan dia dapatkan tidak lama lagi.


Lux, Rauja dan Haifa, setuju begitu saja dengan rencana Dex dan setuju jika Lintani yang menggantikan anaknya. Akan tetapi di kemudian hari mereka baru sadar kalau kenyataannya, mereka telah mempermainkan orang yang salah.


Luxor hanya orang yang bekerja sebagai penjual minuman keras di bar milik Dex dan kadang menghabiskan uang di casino, merasa puas dengan imbalan besar dari Dex yang mengalir ke saldo rekeningnya, karena setuju dengan rencana ini. Dia tidak tahu jika kemudian Lux menukar anaknya sendiri dengan Lintani.


Saat itu, Haifa tertawa begitu keras saat Lintani setuju begitu saja menuruti keinginannya, hingga terjebak, bahkan membuatnya masuk dalam penjara. Namun, siapa yang menduga jika sekarang, Lintani-lah orang yang memiliki kedudukan seperti yang diinginkannya.


Ini mungkin takdir yang berputar, di saat dia menginginkan posisi yang dulu sempat dia lemparkan, kini justru sangat dia inginkan. Biar bagaimanapun juga, dia tidak tahu kalau roda bumi akan berputar seperti ini, dan membuatnya berada di bawah orang yang justru dahulu sangat dia rendahkan.


Lamunan Haifa berakhir, saat mobil berhenti di depan pintu sebuah restoran yang sepi, karena semua area lantai dasar sudah di pesan oleh Askelan.


Jordan membukakan pintu mobil untuk istri tuannya lalu, mengambil kursi roda Askelan di bagasi. Setelah itu dia membantu majikannya, hingga duduk dengan nyaman, sebelum menyimpan mobil ke tempat parkir. Lintani yang mendorong kursi rodanya, sementara Haifa hanya melihat semuanya dalam diam.


Askelan tetap tampak tenang, berwibawa dan bersinar walaupun, dia duduk di atas kursi roda. Haifa tercengang, saat melihat jika ternyata, pria itu tidak bisa berjalan normal. Peluru mengenai dan meretakkan tulang mata kakinya, hingga membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Oleh karena itu Askelan terpaksa harus duduk di sana dalam melakukan aktivitas, setelah keluar dari rumah sakit.


Bukankah jarang sekali restoran menyediakan bunga seperti ini, kebanyakan bunga mawar merah. Batin Lintani, seraya tersenyum. Dia menduga jika Askelan menyukai bunga yang sama seperti ibunya. Kebetulan sekali bukan?


Lintani bersikap seperti pelayan yang menyimpan serbet di paha Askelan, dan mengunci rodanya agar tidak bergerak. Setelah selesai, dia duduk sambil meraih bunga itu, menghirup aromanya, lalu meletakkan kembali seperti semula.


“Kau menyukainya?” tanya Askelan dan Lintani mengangguk.


Sementara seorang pelayan menuangkan anggur merah untuk para pelanggan istimewa itu. Minuman yang cukup mahal, terlihat dari aroma serta kepekatan warnanya, para penyuka anggur pasti akan mengetahuinya.


Askelan duduk di antara dua gadis, Haifa di sebelah kiri dan Lintani di sebuah kanannya.

__ADS_1


Haifa sempat terpesona dengan gaun indah yang dikenakan Lintani dan menduga jika semua dipesan oleh Askelan, melalui seorang desainer terkenal. Dia terlihat sangat cemburu, karena harus memilih gaunnya sendiri. Dia pikir mana mungkin Lintani yang kampungan itu, bisa tahu soal mode baru dan juga merek terkenal.


“Askel Sayang, maaf aku tidak menunggumu di rumah sakit sampai sembuh!” kata Haifa sambil membelai tangan Askelan, di atas meja.


“Tidak masalah, aku tidak lama di rumah sakit, aku tidak suka baunya!” kata Askelan tanpa melihat Haifa, tapi justru memperhatikan Lintani yang meneguk sedikit anggur di gelasnya, sambil memalingkan muka. Gadis itu terlihat tidak tertarik sama sekali, dengan obrolan sepasang kekasih di hadapannya.


“Askel Sayang, apa kau akan melamarku, malam ini?” Haifa tidak sabar, dia bertanya tanpa melirik Lintani sedikit pun, sambil menggenggam tangan kiri Askelan dengan lembut, ada jam tangan dengan logo terkenal melingkar di sana.


Mendengar ucapan itu, tiba-tiba saja Lintani tersedak, secara refleks dia menyimpan gelas anggurnya, sambil melirik Askelan.


“Kau sudah berjanji akan menikahiku, kan? Ingat Sayang, aku sedang mengandung anakmu!” kata Haifa mengalihkan perhatian Askelan yang akan membantu Lintani.


Pada saat yang bersamaan, dua orang pelayan datang dengan mendorong meja tempat membawa semua hidangan, mengalihkan semua perhatian, hingga Lintani berjuang sendiri meredakan batuknya.


 Askelan sengaja tidak memesan sesuatu dari menu restoran, tapi dia meminta semua hidangan andalan masing-masing satu. Baik Askelan, Lintani dan Haifa, diam saat pelayan menyimpan satu persatu makanannya.


“Tuan, Kau memesan makanan sebanyak ini, untuk makan malam kita?” tanya Lintani sambil menatap pria di sampingnya dengan alis yang berkerut.


“Ya. Kau boleh mencicipi semuanya, dan makanlah yang kau sukai.” Askelan menyahut Lintani tegas.


“Askelan Sayang ....” Haifa berkata sambil menggeser kursi mendekati kekasihnya, lalu, bergelayut manja di lengan Askelan. Dia tidak peduli pada makanan mereka.


“Ayo! Makanlah dulu, nanti kita bicara lagi, sekarang aku sudah lapar!” kata Askelan dengan lembut dan menepuk tangan Haifa yang bergelayut di pangkal lengannya.


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2