Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 151. Pasangan Bibi Nazaret


__ADS_3

Pasangan Bibi Nazaret


Keluarga Harrad dan juga Askelan memang sudah merencanakan untuk mengadakan pesta besar-besaran untuk pernikahan Lintani. Mereka merencanakan untuk menyelenggarakan pesta atas desakan keluarga Harrad, meskipun awalnya Lintani menolak, tapi, akhirnya dia menyetujui keinginan keluarga besar suaminya, yang akan di laksanakan bulan depan, tepat di saat baby boy Ceryo berusia dua bulan.


Begitu mendengar rencana Lintani, Nazaret tersenyum, dia datang memang ingin menanyakan soal itu, dia ingin tahu di mana Askelan akan menyelenggarakan pesta, apakah di Pantai Loyola, di Rasevan atau di Hotel Hardo Harrad.


Dalam hati wanita itu ingin agar Askelan dan Lintani mengadakan pesta pernikahan mereka di pantai Loyola. Dia ingin mengajak seseorang di sana.


Belum lama ini, dia mengenal seorang pria yang menarik baginya. Walaupun, pria itu tidak memiliki apa-apa, tapi, dia pria yang sudah memberinya banyak perhatian dan juga semangat, untuk hidup setelah sekian lama dia merasa putus asa. Sudah cukup lama dia sering melamun di pantai itu seorang diri, karena dia memang wanita tanpa suami.


Nazaret kehilangan rasa percaya diri, karena malu dengan kematian suaminya yang ternyata, memiliki rekam jejak yang tidak baik. Bagaimana dia bisa selama ini buta akan hal itu.


“Kalian akan mengadakan pesta di mana?” tanya Nazaret terlihat antusias dia seolah lupa dengan sikapnya barusan, yang jelas-jelas menunjukkan ketidak sukaannya pada Lintani.


“Menurut Bibi, di mana sebaiknya kita mengadakan pesta?”


Sekali lagi, Nazaret tidak menyangka bila Lintani begitu menghargai, dengan menanyakan pendapatnya Dia pikir gadis itu membencinya, karena sudah bersikap tidak baik, apalagi suaminya yang sudah tiada itu, dulu pernah memperlakukan dia dengan sikap yang buruk pula.


“Apa kamu minta pendapatku?” tanya Nazaret tidak percaya.


“Ya! Kenapa tidak? Bukankah Bibi pengalaman, dalam hal pesta? Tentu tidak seperti aku!”

__ADS_1


“Baiklah, kalau kau setuju, bagaimana kalau kita mengadakannya di pantai Loyola bukankah banyak villa keluarga Harrad di sana?”


“Ya! Itu tempat yang bagus!”


“Jadi, kalian setuju?”


Lintani dan Askelan mengangguk, mereka setuju saja sebab di mana pun tempatnya, semua undangan akan hadir, termasuk awak media yang akan meliput berita itu lalu, mengumumkan pada dunia siapa sebenarnya pasangan fenomenal yang, menyelenggarakan pesta pernikahan mereka setelah mereka memiliki anak. Itu berita yang menarik bukan?


Tanpa sadar Nazaret pun berkata sambil mengeluarkan ponselnya, “Ah. Sepertinya aku harus memberitahu Pinot soal ini, rencanaku berhasil!”


Mendengar ucapan Nazareth itu Lintani dan Askelan saling bertukar pandangan.


Seketika Nazaret seperti tersadar ia memundurkan badannya kemudian bersandar dan meletakkan ponsel di pangkuannya, dia berpikir dan sadar telah salah menyebut sebuah nama.


“Apa kalian mengenalnya?” Nazaret balik bertanya.


“Ya! Dia adalah salah satu asistenku!” sahut Lintani tegas.


“Apa?”


Walaupun tidak percaya, tapi akhirnya Nazaret bercerita juga bagaimana pengalamannya bertemu dengan Pinot ketika dia sering menyendiri di pantai itu sejak dua bulan yang lalu.

__ADS_1


Begitu juga Lintani yang bercerita bagaimana dan siapa Pinot hingga dia bisa menjadi asisten tanpa bayaran di vila dengan jaminan nyawanya jika dia mencoba kabur dari sana.


Tiba-tiba saja Nazaret tersungkur di hadapan Lintani dan memohon agar gadis itu mau memaafkan Pinot dan membebaskannya.


Lintani pun menitikkan air mata, serasa dunia begitu sempit baginya, satu persatu orang yang dulu berbuat jahat dan culas padanya memohon ampun dan meminta sesuatu yang sangat berharga bagi mereka, bahkan sesuatu yang mereka minta adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Lintani sebelumnya.


“Bibi, bukankah kehidupan ini seperti roda yang terus berputar, kadang berada di atas kadang berada di bawah ... kadang roda itu bisa berputar kadang pula dia berhenti. Apa yang Bibi lakukan dan minta padaku saat ini, tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, apalagi tentang Pinot.”


“Jadi, apakah kamu mau memaafkan dia?” tanya Nazaret masih dalam keadaan berlutut di dekat kaki Lintani.


“Aku tidak pernah mengira kalau orang seperti Pinot akan menjadi begitu berharga bagi seseorang, terutama Bibi ... Apa kira-kira yang akan Bibi lakukan seandainya aku tidak akan pernah memaafkannya?”


“Tolonglah, Maafkan dia aku menyukainya dan berharap dia bisa tetap bersamaku, sampai akhir hayat dan aku tidak tahu bahwa, dia memiliki masa lalu yang demikian buruk pada keluargamu!”


“Apa kalian juga dulu tahu apa yang aku alami sebelum menikah dengan Elan, apa yang melatarbelakangi pernikahanku dengannya, lalu, mengurus Bibi Elle. Apa kalian peduli tentang itu? Tapi, kalian tetap saja merendahkanku!”


Ucapan Lintani menyadarkan bahwa dia pun, dulu tidak tahu apa-apa tetapi, terus saja menghina dan memperlakukan Lintani seperti sampah, lalu saat ini dia meminta sesuatu yang berharga, mungkin memang begitu menyedihkan tetapi, tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali memohon.


“Lin, apa aku harus menjadi asistenmu juga untuk, bisa tetap bersama dengan dirinya?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2