Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 80. Pembuat Masalah Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Pembuat Masalah Yang Sesungguhnya


Askelan selalu menampakkan kelembutan pada Haifa, tapi, tatapan matanya tidak pernah lepas dari Lintani. Dia memperlakukan Haifa dengan penuh kasih, tapi, perbuatan lainnya menunjukkan perhatian yang besar pada Lintani. Dia masih dalam perjalanan meyakinkan hatinya sendiri.


Jordan melihat semuanya sejak makanan di antar ke sana, dia duduk di dekat ketiga orang yang sedang menikmati hidangan dalam satu meja. Pemandangan itu menghadirkan perasaan yang aneh. Dia benar-benar sulit menebak jalan pikiran Askelan soal wanitanya.


Haifa makan tidak berselera dengan tatapan mata selalu mengawasi Askelan dan Lintani. Sedangkan dua orang yang diperhatikan sama-sama tidak peduli satu sama lain. Namun, dia tetap merasa kesal saat melihat Askelan yang mencuri pandang pada istrinya.


Semantara itu, seorang pelayan mengantarkan makanan untuk Jordan dan mengagetkannya, “Tuan! Silakan makanan Anda!” katanya.


“Kau ini!” kata Jordan kesal.


Jordan bicara dengan suara tertahan, hingga tidak mengganggu tiga orang di sebelahnya, yang mulai makan dalam suasana yang entah disebut apa. Bagaimana tidak aneh? Ada seorang pria makan malam dengan dua wanita, yang satu sebagai istri dan satu lagi adalah kekasihnya.


Kebetulan Jordan dan pelayan adalah orang yang saling kenal, begitu juga dengan Askelan. Pemilik restoran dan juga beberapa pelayannya adalah teman baik.


Dia dan beberapa orang dalam lingkaran hidupnya sekarang, adalah orang-orang yang pernah mengalami nasib seperti dirinya di masa lalu. Demikian pula sahabat yang lain, seperti Pit, Mat, Max, Leo, dan Greg adalah teman Askelan, dalam perjuangan hidupnya dahulu.


“Maaf, kalau saya mengagetkan.” Pelayan itu berkata sambil menyajikan makanan, lalu melirik meja sebelah.


Pelayan itu, kembali berkata, “Aku pikir perempuan yang satu lagi adalah kekasihmu!”


“Aku tidak menyukai keduanya, tapi, aku menghormati salah satunya!” Jordan berkata sambil mengusap layar ponsel untuk mengirim pesan pada seseorang.


“Kenapa Tuan Askel membawa dua wanita makan malam bersama?”


“Diam, kau, sialan! Kau pikir aku tahu segalanya? Tidak ... sebab aku hanya seorang pengawal!”


“Iya, iya, maaf ... Lebih sedikit yang Kau tahu akan lebih tenang hidupmu, iya kan?”


“Hmm ....” gumam Jordan sambil mengangguk.


“Aku permisi. Makanlah selagi hangat!” kata pelayan sambil menaik turunkan alisnya, membuat Jordan memalingkan muka.


Pelayan pergi begitu saja, setelah membungkuk pada Jordan, sebagai teman sekaligus pelanggan kehormatannya malam itu.


Jordan pun menikmati beberapa makanan di mejanya sendiri. Sambil menunggu jawaban dari pesan di ponselnya, yang kemungkinan akan memakan waktu lama. Dia menyelidiki kebenaran tentang kehamilan Haifa, dan itu adalah inisiatifnya sendiri demi Lintani dan juga Askelan.


Jordan bukan mau sok menjadi pahlawan, tapi, dia peduli pada masa depan hubungan tuannya, dia lebih suka kalau mereka tetap menjalankan pernikahan sampai tutup usia.

__ADS_1


Entah mengapa dia memiliki firasat kuat kalau penyerangan saat di bukit, ada hubungannya dengan Lintani, dan kalau pun benar komplotan itu hendak berniat buruk padanya, artinya mereka punya musuh yang sama.


Sementara itu di meja sebelah, Askelan tetap menunjukkan kelembutan pada Haifa dengan menyimpan beberapa makanan di piringnya.


“Kau harus mencoba ini,” katanya sambil melirik Lintani. Dia ingin tahu bagaimana reaksi istrinya itu dengan sikapnya.


“Terima kasih, sayang!” kata Haifa seraya tersenyum manis sambil melirik Lintani yang juga tengah meliriknya. Dalam hati dia berkata, “Pecundang!”


Lalu, Haifa melihat ada sedikit saus di ujung bibir Askelan dan dia mengusapnya dengan jarinya sendiri.


Lintani semakin kesal melihatnya. Dia sebenarnya tidak ingin jatuh cinta tapi, sekarang menyadari perasaan panas dan marah karena melihat kemesraan terjadi di depan matanya sendiri, membuat hatinya sakit.


Cintakah ini? Pikirnya dalam hati.


“Aku sudah selesai,” kata Lintani tiba-tiba, sambil meletakkan sendok dan garpunya, tanpa melihat pada Askelan dan Haifa.


“Lin, apa makannya tidak enak? Lafonte adalah restoran terkenal yang menyediakan makanan berkualitas, apa kau tidak menghargai pilihan Askelan?”


“Aku sudah kenyang.” Lintani berkata singkat sambil berdiri. Lalu, berkata lagi, “Aku permisi sebentar, silakan kalian lanjutkan tanpa aku!”


Haifa dan Askelan sama-sama mengangguk dan tersenyum puas melihat sikap Lintani itu, tentu dengan kepuasan yang berbeda.


Tak lama setelah Lintani pergi, Haifa pun meletakkan sendok dan berdiri.


“Askel Sayang, aku mau ke belakang juga, sepertinya Lin cemburu, aku akan minta maaf padanya,” katanya sambil mengusap bahu Askelan lembut. Pria itu hanya mengangguk.


“Kau ikuti, mereka!” kata Askelan pada Jordan yang juga sedang mengusap bibirnya dengan tisu.


“Baik!” sahut Jordan sambil berdiri dan menyalakan ponsel, dia berniat membuat siaran langsung dengan Askelan, melalui sambungan pribadi mereka.


Di toilet wanita, Lintani tengah mencuci tangan dengan sabun di wastafel, saat Haifa datang dan melakukan hal yang sama.


“Lin, apa kau cemburu padaku? Maafkan Askelan, ya?” Tanya Haifa.


“Tidak! Kau mencintainya, kan? Ambil saja!”


“Jangan munafik!” bentak Haifa. Hilang sudah sikap manja dan suara lembut yang tadi begitu mendayu-dayu terdengar di telinga.


“Kau yang munafik! Aku memberikan Tuan Askel karena kasihan padamu!”

__ADS_1


“Kau naif sekali, padahal kau jelas-jelas menyukainya, sayangnya dia hanya mencintaiku!”


“Kau terlalu percaya diri! Dengar, aku tidak akan mengusik urusan pribadimu, dan soal perasaanku ... itu urusanku!”


“Tapi, Askelan yang jadi urusanku, kenapa kau tidak minta cerai darinya? Kalau aku jadi dirimu, aku akan melakukannya!”


Lintani tertawa, lalu berkata, “Apa kau percaya, kalau aku bilang dialah yang mencariku padahal aku sudah pergi meninggalkannya?”


“Omong kosong!”


“Nah, jelas kau tidak akan percaya, kan ... apalagi kalau aku bilang, bagaimana dia bisa tertembak?”


“Kenapa?” Haifa ternyata penasaran juga.


“Dia berusaha menyelamatkan aku!”


“Apa?”


“Jadi, apa kau percaya sekarang?”


“Tidak mungkin! Aku tidak percaya padamu!”


“Ya sudah! Aku tidak butuh kepercayaanmu!”


Lintani hendak pergi, tapi, Haifa menarik tangannya, seraya berkata, “Bercerailah darinya, agar kau tidak melihat hal seperti tadi lagi?”


“Hal seperti apa, maksudmu?” tanya Lintani sambil melihat jemari Haifa yang mencengkeram kuat menggunakan kuku panjang di pergelangan tangannya.


“Ya. Saat dia akan selalu bersikap manis padaku!”


Lintani kembali tertawa.


“Jadi, seperti itu kau bilang manis? Lalu, kenapa dia membiarkanmu duduk di dekat Jode, dan mengajakku makan malam dengan kalian, meletakkan bunga kesukaanku, dan memesankan semua makanan untukku?”


“Huh! Lihat saja, nanti dia pasti akan melamarku di hadapanmu juga!”


“Kau pikir begitu? Baiklah ... mari kita lihat, aku harap kau tidak kecewa kali ini!”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2