
Rasevan Dan Sebuah Ingatan 1
“Sudah kubilang, jangan bicarakan dia saat kita bersama.” Askelan berkata sambil mengendurkan pelukannya.
“Aku hanya bertanya, sebab kau pernah menjanjikan untuk menikahinya!”
“Untuk apa, aku sudah menikah denganmu! Kau istriku dan aku mencintaimu.”
Mendengar alasan itu, Lintani termangu, dia pikir alasannya adalah karena Askelan sudah menemukan kebenaran, ternyata bukan. Namun, dia sudah cukup bahagia, karena yang terpenting adalah suaminya menerima apa adanya.
Saat itu Lintani tidak khawatir kalau Haifa akan lebih marah padanya karena hal ini. Dia tidak bersalah apalagi menyalahkan, Haifa juga. Sebab Askelan yang berhak menentukan nasibnya sendiri, akan bersama wanita yang mana, dia kelak menghabiskan sisa hidupnya. Dia tidak pernah memaksa pria itu untuk memilih dirinya.
Saat berpikir, tiba-tiba Lintani tersadar saat ini Askelan berdiri terlalu lama.
“Elan, kau sudah lama berdiri! Apa kau tidak lelah?”
Askelan melihat ke arah kakinya, yang baru saja diobati Jemal. Sudah tidak lagi terasa menyakitkan.
“Kalau hanya untuk berdiri dan memelukmu saja, aku bisa!”
Lintani tersenyum, Askelan hari ini begitu memanjakannya dan membuat perasaannya melambung tinggi, dia khawatir jika suatu saat nanti, terjatuh dari ketinggian di mana Askelan merasa bosan, lalu, menghempaskannya ke dasar bumi.
“Sudah, sudah, sekarang duduklah, aku lapar.” Lintani melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati pintu.
Sebelum Lintani mencapai, pintu, Askelan sudah bicara melalui telepon yang menjadi interkom dalam rumah itu.
“Bawakan makanan ke kamarku!”
Telepon di tutup dan Lintani menoleh, setelah Askelan selesai bicara kemudian dia duduk di kursi rodanya.
“Kemarilah, kau tidak perlu melakukan apa pun!”
Lintani menurut karena dia enggan berdebat, Askelan kembali membawanya di atas pangkuan, dan mengajari perempuan itu bagaimana caranya menggunakan interkom.
Namun, bagi Lintani apa yang dilakukan suaminya terlalu berlebihan, dia tidak biasa dimanjakan seperti itu, dan kalau terlalu lama berada di kamar, dia akan bosan.
__ADS_1
“Baiklah, aku mengerti, waktu aku di tahan Dex dalam rumah itu, juga sering melakukannya.”
“Apa saja yang kau lakukan di sana?”
Askelan sempat kesal, saat dia ingat waktu itu, padahal setengah mati dia merindukan Lintani. Bahkan, dia mengabaikan panggilan dari Haifa.
“Tidak ada, aku seharian hanya duduk-duduk saja. Membosankan. Laki-laki itu begitu manis, dia seperti sengaja membuatku tertarik padanya, aku juga tidak mengira kalau dia akan menuruti keinginanku berbelanja. Padahal, aku hanya ...”
“Hanya apa?”
“Mencari cara untuk kabur atau aku bisa bertemu denganmu!”
Askelan hampir saja menangis mendengar ucapan ini, dia merasa begitu istimewa di hadapan Lintani.
“Apa kau juga merindukan aku?”
“Ya!”
Askelan menatap Lintani dengan sinar mata yang berbinar-binar. Begitu juga gadis itu tersenyum malu-malu.
“Tidak, sekarang sudah malam!”
Tak lama setelah itu, hidangan untuk kedua suami istri itu datang, Mo membawa salad buah yang dia pikir akan di sukai Lintani seperti kebanyakan ibu hamil lainnya.
Melihat hidangan yang tersaji di meja, gadis itu begitu berselera, tapi, saat dia mendekat, ada aroma dari salah satu makanan yang justru membuatnya mual, hingga dia berlari ke wastafel untuk mengeluarkan isi perutnya.
Askelan dengan sabar, mengusap lembut punggung Lintani dengan penuh kasih sayang. Dia merasa kasihan, mengingat istrinya harus mengalami mual dan muntah saat di penjara, dan tidak ada orang lain yang membantunya. Seandainya dia bisa menukar keadaan, maka dia akan menanggung bebannya seorang diri.
Setelah muntahnya reda dan rasa mualnya sudah berkurang, Lintani mencoba salad buah, namun dia kembali memuntahkannya. Akhirnya, Askelan menawarkan diri untuk menyuapinya lagi seperti siang tadi.
Lintani tidak memiliki alasan untuk menolak karena setelah disuapi, dia bisa makan dengan baik.
Askelan menyuapi istrinya dengan sabar, dia pun sesekali memasukkan makanan ke mulutnya sendiri. Menyuapi makan orang lain, bukan hal baru baginya, karena dia pun pernah mengurus ibunya, tidak masalah selama mereka sama-sama bahagia.
“Cukup!” kata Lintani setelah merasa kenyang.
__ADS_1
“Jadi, sekarang tunggu aku kalau kau mau makan, oke?”
“Baiklah,” kata Lintani dengan pasrah dan malas, dia tidak ingin menyusahkan orang lain apalagi suaminya sendiri, mengingat sejak kecil dialah yang selalu melayani dan bukan dilayani. Namun, dia merasakan kehamilannya berbeda kali ini, hingga dia mengikuti keinginan Askelan agar bisa makan.
Setelah selesai makan, minum dan Mo sudah membereskan bekasnya, Lintani mengambil amplop coklat berisi uang kompensasi di atas meja.
“Aku akan menyimpan uang ini di brankas, apa boleh?” tanya Lintani sambil mendekatkan wajahnya pada Askelan yang sedang melihat ponselnya.
Pria itu mendongak, menyimpan ponsel dan menatap Lintani lekat-lekat. Meraih tangannya, lalu berkata, “Itu uangmu, aku memberikannya bukan hanya karena janji, tapi karena kau istriku, lupakan soal perjanjian kita waktu itu ... kenapa tidak kau gunakan saja sesuka hatimu?”
“Entahlah, aku tidak tahu akan aku gunakan untuk apa uang sebanyak ini!”
Askelan hampir saja tertawa, ada wanita yang tidak tahu bagaimana menikmati uang banyak, di depan matanya. Mereka biasa membawanya ke pusat perbelanjaan dan akan habis dalam waktu beberapa jam saja, tapi, Lintani tidak. Ah! Yang benar saja. Apa dia harus mengajarinya?
“Kau bisa memakainya untuk berbelanja!”
“Belanja, apa? Semua yang aku perlukan sudah kau sediakan di sini!”
“Kau bisa membelikan aku hadiah?”
Apa orang seperti dia masih membutuhkan hadiah dariku, kau memiliki segalanya bukan? Batin Lintani, sambil menggelengkan kepalanya.
“Elan, benarkah kau akan memberikan apa yang aku inginkan?” Lintani kembali mengalihkan pembicaraan.
“Ya! Selama aku mampu!”
“Apa uang ini cukup untuk membuat sebuah perahu, dan membahagiakan orang di Rasevan?”
“Rasevan, tempat kelahiranmu?”
“Ya!”
Askelan tahu, kalau hanya untuk membuat perahu, uang itu lebih dari cukup. Namun, untuk membahagiakan orang di sana, dia tidak tahu, apakah dia bisa mewujudkannya atau tidak, karena dia tidak memperkirakan berapa jumlah orang yang tinggal di sana. Menurut informasi yang dikumpulkan, tempat itu bahkan sudah rata dengan tanah.
Bersambung
__ADS_1