Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 65 Ombak Dan Gelisah


__ADS_3

Ombak Dan Gelisah


Cukup lama Askelan tenggelam dalam lamunan, memikirkan kesudahan dari dirinya di dalam rumah kayu malam itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, karena tubuhnya dimasukkan dalam kantong mayat oleh petugas.


Dia sempat pingsan, dan dibangunkan oleh Mo, di ruang jenazah rumah sakit. Wanita pengasuhnya itu hanya memastikan dan jika Askelan benar-benar tiada, maka dia akan lebih bersedih dari kesedihan ibu kandungnya.


Namun, ternyata Askelan masih hidup, hingga mereka mengadakan kerja sama, dengan seorang dokter tua yang langsung setuju untuk membebaskannya. Mereka melakukan sebuah prosedur yang rumit demi bisa keluar dari sana dan mayat lain telah menggantikan posisinya tanpa penyelidikan lebih lanjut.


Tentunya Askelan tidak peduli dengan gadis yang menjadi pelampiasan dirinya, karena dia pikir gadis itu adalah bagian dari rencana Dex. Namun, sekarang hatinya kembali terusik karena Lintani, yang mirip dengan gadis umpan pamannya malam itu. Aroma tubuhnya, suara dan kakinya pun yang terluka.


Askelan membuang kegelisahannya, dan berjalan keluar dari kafe, menuju mobilnya sambil menerima telepon dari Jordan.


“Tuan!” kata Jordan di ujung telepon setelah Askelan mengangkatnya. Dia bicara sambil mengemudikan Pagani blue metalik yang mencuri perhatian orang.


“Ya! Cepat katakan!”


Jordan tahu Bos-nya itu tengah tidak mood berbicara dengannya, sebab baru beberapa jam yang lalu mereka mengobrol, untuk merencanakan sesuatu dengan seorang muncikari xx, dan sekarang dia telah menelepon lagi.


“Ada sesuatu yang mencurigakan, saya ingin Anda mendukung rencana saya sepenuhnya!”


“Apa itu?”


“Beberapa hari terakhir, Helikopter sewaan milik group Shaw, sering mondar-mandir ke arah barat daya kota!”


“Lalu, kau masih bertanya padaku soal seperti ini, hah? Seharus kau sudah mengikutinya dengan cara yang sama, kalau tidak ingin ketinggalan langkah, jangan hanya mengandalkan ferari-mu untuk pergi, jalan di sana tidak ada yang bagus!”


Jordan kembali diam dengan bibir yang berkedut. Antara akan kesal atau tertawa, apakah orang harus punya kemampuan seperti ini baru bisa dianggap layak sebagai ketua?


“Tentu Tuan, saya punya cara agar mereka tidak curiga jika Helikopter kita terbang ke arah yang sama!”


“Baik, lakukan dengan baik!”

__ADS_1


“Tapi, Tuan, saya butuh dukungan pemerintah kota!”


“Tidak masalah, itu akan jadi urusanku. Kau harus terbang sejauh mungkin dari tempat yang kau curigai, hingga teropong mereka tidak bisa menjangkaunya!”


“Pasti Tuan!”


“Satu lagi, kau tidak boleh menipu negara tetangga hanya dengan pura-pura!”


Askelan menutup telepon, lalu, mengetik beberapa angka dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Jordan.


Dia sesekali melihat ke langit, berharap helikopter itu ada di atasnya dan pasti akan dia jatuhkan dalam sekali tembakan, tidak peduli apakah pemilik Helikopter sewaan itu yang menyekap Lintani atau bukan.


“Ada apa di sebalah barat daya kota?” gumam Askelan lirih dan menekan gas mobil semakin dalam. Menuju rumah.


Dia mengamati semua gerak-gerik keluarga Harrad, keluarga Barseba, khususnya Petra dan group Shaw. Setelah dua hari kematian ibunya, dia sudah bisa mengendalikan diri, merelakan kepergiannya dan menjalani hidup seperti biasa setelah hari ketiga.


Semua tidak ada yang mencurigakan, bahkan ketua kedua yang menginginkan Lintani pun tidak menampakkan pergerakan yang aneh, semua biasa saja. Ketua hanya bersantai di rumah dan Alex—anaknya, pun melakukan tugasnya seperti biasa sebagai pengawas pelabuhan bongkar muat peti kemas di pesisir timur kota.


Hanya Dex yang tidak terlihat, tapi Askelan ragu jika pamannya itu pun menginginkan Lintani, karena dia sudah memiliki Bibi Nazaret yang cantik. Konon katanya, bibinya itu adalah wanita yang memiliki wajah paling mirip dengan ayahnya. Mereka sama-sama, menyukai warna hijau. Sedangkan Askelan menyukai warna hitam dan putih.


Askelan mengambil beberapa senjata Laras panjang, dan di masukkan ke dalam koper besar beserta amunisinya. Lalu, dia mengambil dua buah postol, senapan berperedam dan semua dia isi penuh dengan peluru.


Dia sendiri belum tahu apa yang ada pada gadis itu, hingga diinginkan ketua kedua, tapi, dia tidak peduli karena perasaannya menuntut untuk, menyelamatkan Lintani, entah dari musuh seperti apa.


Sementara itu di tepi pantai yang curam. Lintani duduk sambil memeluk lututnya sendiri di salah satu batu yang lebar, melempar pandangan ke tengah laut lepas, seolah ingin membebaskan pikiran walau, kenyataannya tubuhnya terkurung.


Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan percuma saja melawan, karena para penjaga jauh lebih banyak dari kebutuhan, seolah mereka sedang menjaga seorang penjahat kelas kakap dan akan menghadapi Medan pertempuran.


Lintani tidak tahu mengapa mereka memperlakukan dirinya seperti itu seolah dia adalah wanita yang bahaya atau berharga, padahal, dia tidak akan mampu melawan atau melarikan diri. Bukan Cuma sekali dia mencoba kabur, tapi, baru saja dia melangkah keluar, alarm sudah berbunyi.


Gadis itu sesekali mengalihkan pandangannya ke langir luas dan juga tebing di bawahnya, kalau pun dia berniat untuk menyelamatkan diri dari sana, bukan keselamatan yang akan dia dapatkan melainkan kematian. Suara deburan ombak begitu mengerikan, seperti tidak pernah surut.

__ADS_1


Penjaga ada empat orang di belakangnya, masing-masing membawa senjata di pinggangnya. Mereka siap menerima perintah Lintani kapan saja.


Tiba-tiba terdengar suara helikopter yang begitu kuat meningkahi suara ombak, Lintani tidak heran, hingga dia mengabaikannya. Sudah biasa ada helikopter terbang di sekitarnya dan tidak pernah lama, karena hanya akan singgah sebentar seperti menurunkan Dex, atau seseorang, lalu pergi lagi.


Namun, kali ini berbeda, Dex ada di dalam rumah, dia tengah menelepon seseorang dan, Lintani di biarkan keluar oleh pria itu sejak kemarin, setelah dia merengek meminta untuk melihat laut dari luar karena bosan. Dia tidak menduga kalau pria itu mengizinkannya.


Dex memang terlihat berminat tinggi pada Lintani, tapi, dia tidak pernah memaksa, membuat Lintani senang. Dia merasa suatu saat dia bisa memanfaatkannya.


Lintani kini terusik untuk melihat ke atas, dia yang sebelumnya tidak peduli, menjadi penasaran, heli itu ternyata tidak berhenti, dan terus terbang melintasi area di mana dirinya berada, ini diluar kebiasaan sebelumnya.


Dia melihat ada bendera negara dan lambang kota berkibar di bawah Helikopter yang terbang begitu dekat, hingga nampak apa yang ada di dalamnya dari tempat Lintani berdiri, mereka membawa banyak sekali bahan makanan dalam kardus besar, sebagai bentuk kepedulian sesama manusia.


“Apa ada kota lain, di seberang sana?” kata Lintani, pada pengawal di belakangnya.


“Ada Nona, masih ribuan mil dari sini, dan kabarnya, mereka dalam konflik yang serius sekarang!” sahut pengawal wanita yang berdiri paling dekat dengan Lintani.


“Oh, begitu. Apa itu tadi helikopter milik pemerintah kita?”


“Ya!”


Bukankah Askelan dan keluarga Harrad juga merupakan bagian penting dalam pemerintahan kota, yang tidak terbantahkan lagi pengaruhnya. Apa helikopter itu ada hubungannya dengan Askelan? Seandainya benar, tapi, kenapa dia tidak turun untuk menyelamatkan aku? Pikir Lintani.


Tiba-tiba dia jadi putus harapan, bila laki-laki itu sudah tidak peduli lagi padanya. Dia mendekati Dex dan, pria itu segera mematikan sambungan telepon ketika gadis itu berdiri di sampingnya.


Dex mendongak dan membenarkan posisi duduknya, menatap Lintani dengan lembut.


“Ada apa, Sayang?” katanya sambil tersenyum dan Lintani menoleh ke arah lain, karena muak dengan panggilan sayang yang selalu disematkan pria itu padanya.


“Kalau aku mau jadi istrimu, apakah aku boleh pergi hari ini untuk berbelanja?”


“Tentu saja! Apa pun untukmu, boleh!”

__ADS_1


“Apa kau akan membawaku pergi dengan helikopter juga?”


Bersambung


__ADS_2