Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 123. Tetap Menyembunyikan


__ADS_3

Tetap Menyembunyikan Rahasia


Tiba-tiba Yasmin dan Petra saling melempar pandangan, menatap penuh keheranan, bagaimana mungkin Haifa tahu, sebab masalah bukit Shaw adalah rahasia keluarga. Sementara Haifa hanyalah orang luar bagi mereka.


“Apa yang kau tahu?” Saat bicara, Yasmin dan Petra sudah berdiri dari duduknya.


“Apa kalian benar-benar ingin tahu apa yang aku tahu?” kata Haifa Sambil menatap wajah kedua orang yang ada di hadapannya secara bergantian. Dia merasa Petra dan Yasmin terlalu meremehkannya. Selain itu, ada hal lain yang dipikirkannya, tentang sebuah cara untuk mendapatkan bagian dari kekayaan dari tanah itu. Seandainya bisa maka itu lebih baik. Dan kalaupun tidak ... setidak-tidaknya Petra dan Yasmin harusnya mau sedikit mengalah padanya.


Yasmin dan Petra kembali bertatapan setelah melihat pada Haifa sekilas.


“Tentu, tidak masalah, kan? Kita teman!“ kata Petra penuh keraguan.


Akhirnya, Haifa mengatakan semua pengetahuannya tentang kekayaan keluarga Shaw yang tersembunyi, dia mendapatkan informasi itu dari Marka.


Sudah pasti dia melewati cerita tentang siapa pemilik sebenarnya dan bagaimana gelang itu bisa sampai hilang. Seandainya dia tahu dari awal, dia tidak akan memberikan Lintani sebagai umpan. Dia pikir saudaranya begitu beruntung, karena takdir mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah menjamah tubuhnya pertama kali, setelah bertahun-tahun.


Namun, Haifa tidak tahu bagaimana Marka bisa mengetahui tentang gelang itu, dan yang lebih mengherankan, pria itu pun menanyakan tentang Lintani atau sebuah stempel dari besi berbentuk bunga Cruise. Kalau soal itu, dia benar-benar tidak tahu.


Awal pertemuan Haifa dengan Marka adalah saat undangan makan malam, pria itu sangat memanjakannya dan hubungan mereka pun lama kelamaan berlanjut sampai ke tempat tidur.


Marka menjanjikan semua hal menarik bagi seorang wanita, apalagi jika bisa membawa dua benda, yaitu stempel dan gelang padanya, maka, gadis itu akan mendapatkan saham dari perusahaan emasnya suatu hari nanti.


Tentu saja Marka sudah menyelidiki tentang Lintani sebelumnya, oleh karena itu dia memancing Haifa, agar mau menjadi rekan kerjanya. Dia memberikannya segala barang yang diinginkan dan disukainya, termasuk melayani napsunya di tempat tidur. Dia tahu, ada wanita seperti itu yang memiliki gairah bertumpuk dan mau melakukannya dengan pria mana pun, asalkan bisa memuaskan, tapi dengan berbagai imbalan tentunya.


“Baiklah, ini kerja sama kita. Aku bisa memuaskanmu kapan saja!” janji Marka waktu itu.


Haifa melihat pria itu dari ujung kaki sampai ujung rambut, dan mengangguk seraya berkata, “Benarkah? Hmm ..., kamu tidak buruk!”


Setelah selesai bercerita, dia menawarkan bantuan dan mengancam akan mengatakan rahasia itu pada semua orang jika mereka tidak mau memberinya sedikit dari kekayaan itu.


“Jadi, kau mengenal Marka?” tanya Petra sambil mengerutkan alis dan memegangi dagunya. “Aku sudah kenal dengan orang itu dari Paman Dex, kenapa dia tidak pernah mengatakannya hal ini padaku?”


“Apa kau sepenting itu baginya, Pet? Ah yang bener saja, kalau Paman Dex tahu, pun tidak akan dia ceritakan padamu!” kata Yasmin sambil mengusap rambut pria itu.

__ADS_1


“Aku juga mengenal Marka secara kebetulan, dan dia menjadi partnerku. Aku juga tidak menyangka kalau dia menceritakan rahasia bukit emas itu padaku?” kata Haifa.


“Tunggu ...” kata Petra kemudian, “Apa kau pikir sama seperti pikiranku, kalau Askelan juga tahu sesuatu?”


“Hai! Mana mungkin!” kata Haifa dan Yasmin secara bersamaan.


“Akh, aku hanya menduga sebab kejadian katian Paman Dex dan kaki Askelan yang terluka waktu itu hampir bersamaan, dan kau tahu, beberapa orang yang berbaku tembak di mall Harrad waktu itu adalah kelompok Marka!”


“Benarkah begitu?” Haifa dan Yasmin kembali bertanya secara bersamaan.


Petra memang tidak tahu apa yang terjadi dalam keluarga Harrad, atau apa yang menjadi kesepakatan para komisaris perusahaan itu, saat terjadi perkelahian antara Askelan dan Dex, tetapi, otaknya berpikir cukup baik dan dugaan itu tidak sepenuhnya salah.


Namun, karena kedua rekannya membantah keras, maka, dia pun menepis pikirannya jauh-jauh. Tidak mungkin Askelan mengetahui tentang rahasia dari Bukit Shaw di balik surat wasiat dari tanah itu. Seperti yang diketahui Petra selama ini, bahwa di sana tidak ada perjanjian berdarah, bahkan sudah memakan korban jiwa. Dia hanya tahu jika bukit emas itu hanya bisa dimiliki Yasmin sebagai pewaris tunggalnya, kalau Aston sudah tiada.


Ketiga orang itu akhirnya membuat kesepakatan jika besok Aston mengabulkan permintaan Yasmin, maka Haifa akan diberi tiga persen dari hasil yang dimiliki Petra. Pemberian itu sudah sangat banyak, bila dihitung dari perkiraan kasar, jumlah emas yang terkandung di dalamnya.


Haifa menyetujuinya, hingga dia pergi meninggalkan restoran itu dengan perasaan puas dan dia pulang ke rumah dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


“Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?” tanya Rauja, yang sedang duduk di ruang tamu rumah mereka sambil melihat layar ponselnya. Luxor pun ada di sana.


“Kau ini!” kata Rauja, sambil melirik suaminya, dia ingin laki-laki itu membelanya agar Haifa mau jujur pada mereka, tentang sebab perasaan senangnya hari ini.


Sudah sejak kemarin Haifa tidak pulang dan saat ini dia sudah memakai pakaian yang berbeda. Walaupun hal itu sudah biasa bagi mereka, tapi, biasanya Haifa selalu pulang dalam keadaan letih dan minta Rauja mengikuti semua kemanjaannya.


“Kenapa kau heran? Bukannya kau seharusnya senang kalau anakmu bahagia?” kata Luxor.


“Ah, Ayah benar!”


“Tapi, biasanya kau selalu cemberut kalau pulang, seperti orang yang tidak pernah hidup tennag saja! Jangan seperti Lin, dia anak tidak tahu diri, dan menggigit tangan yang sudah memberinya makan!” Rauja berkata dengan perasaan kesal, mengingat bagaimana Lintani pergi, dengan segala keberuntungannya dan mereka tidak mendapatkan secuil pun, dari kekayaan yang kini di milikinya.


Rauja dan Luxor merasa dirinyalah yang paling berjasa pada Lintani, tapi, mereka sakit hati setelah Lintani mengabaikannya. Apalagi setelah Askelan benar-benar mencampakkan Haifa mereka kesal setengah mati.


Namun, setidaknya, Rauja sudah mengambil sedikit keuntungan dari Lintani, tanpa sepengetahuan suaminya. Yaitu, saat dia meminta sejumlah uang, menjadikan Lintani wanita Jak Lang, hingga dia mendapatkan apartemen dan menjualnya.

__ADS_1


Luxor memang sedikit kasar pada Lintani sebagai pelampiasan, karena merasa Viana, memanfaatkannya. Dia mengetahui bahwa wanita itu sudah tiada, setelah Rasevan tertutup untuk umum oleh pemerintah kota dan semua penghuninya dinyatakan tewas.


Oleh karena itu, dia tidak lagi menganggap Lintani sebagai keponakannya melainkan beban, karena sejak menjadi orang yang mapan di Kota Hill, dia sudah tidak peduli lagi dengan semua keluarga di Rasevan. Dia mau merawat Lintani karena imbalan besar yang diberikan Viana padanya. Namun demikian, Lintani tetap harus bekerja membantunya mencari uang.


“Sudahlah, Bu! Jangan mengungkit nama itu lagi, dia sudah cukup menjadi beban selama ini. Jangan membuat hati Ibu sendiri sakit, hanya mengingatnya!”


“Anakmu benar, Rauja!” kata Luxor


“Tapi, aku tidak rela dia merebut Askelan dari Haifa!” kata Viana


“Biarkan saja, aku punya sumber kekayaan lain selain dia!” sahut Haifa.


“Apa maksudmu?” tanya Rauja dan Luxor secara bersamaan. Sebab setahu mereka, karir Haifa sedang sekarat, mereka harus menghindar jika bertemu keluarga Harrad, hidupnya terbatas dan sulit. Bahkan mereka terpaksa membiarkan Haifa selalu melayani pria hidung belang demi mencari uang.


Akhirnya Haifa pun mulai bercerita dengan semangat, tentang sebuah rahasia besar yang dimiliki Lintani, dan semua benda yang titipkan Viana pada ayahnya, ternyata memiliki makna.


Rauja membelalakkan mata sambil menutup mulutnya dengan tangan. Bahkan jantungnya pun seolah kehilangan satu detakan. Seketika dia ingat sebuah tato yang ada di pinggul Lintani gambarnya mirip dengan ukiran pada gelang.


“Apa Ayah tidak mengetahui hal ini sama sekali tentang keluarga itu?”


Luxor terdiam seribu bahasa, dan menggelengkan kepalanya. Dalam hati dia menyesal mengapa dahulu dia melupakan keluarganya sendiri, meninggalkan mereka sejak remaja dan, tidak peduli pada semua cerita ayahnya, tentang seorang raja di bukit emas. Dia pikir itu hanya dongeng belaka, hanya Viana yang begitu senang mendengar Syahrain itu bercerita.


“Apa kemungkinan Askelan mengetahuinya?” tanya Rauja.


“Mungnkin saja!” sahut Haifa dan ayahnya secara bersamaan.


“Apa ada orang lain yang tahu rahasia Lintani, selain kita?” tanya Rauja lagi, sambil melirik suaminya.


“Tidak ada!” sahut Haifa dengan yakin.


Semua orang yang ada di ruangan itu pun hanya bisa menyesal. Namun, mereka juga tahu kalau sesuatu yang paling tidak ada gunanya di muka bumi ini adalah penyesalan.


Di saat sadar dan menyesali perbuatan jahat mereka, di luar rumah itu cuaca mulai tidak bersahabat, hujan turun disertai angin menerbangkan dedaunan yang gugur. Manusia akan seperti daun, yang begitu dirindukan saat hijau tapi, begitu layu dan menguning tidak akan diharapkan lagi, bahkan dibiarkan jatuh ke tanah.

__ADS_1


Bersambung.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️ Lope banyak buat kalian yang tetap setia dukung karyaku


__ADS_2