Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 113. Askelan Menyerah


__ADS_3

Askelan Menyerah


 


Jordan seketika keluar, dari dek kapal mendekati Askelan, seraya  menoleh pada wanita di sampingnya.


“Kau!” katanya penuh emosi. Ada amarah dan banyak pertanyaan memenuhi benaknya, tapi untuk saat ini lebih baik menyingkirkan kekesalan, karena pihak musuh lebih memerlukan luapan amarah dari pada memarahi,  wanita yang berpura-pura menjadi Lintani itu.


Rencana memakai wanita palsu untuk mengecoh pihak musuh adalah rencana mereka dan Jordan tahu itu. Namun, dia tidak menyangka jika wanita itu yang akan menggantikan posisi Lintani. Dia bahkan belum pernah melihat adik perempuannya memegang senjata, dengan cara yang bagus seperti orang yang sudah terlatih menggunakannya.


Dia adalah Jabie, dan hanya Jordan saja yang tidak tahu jika Askelan sebenarnya sudah merekrut gadis itu jauh-jauh hari sebelum rencana mereka di eksekusi.


Jabie diam dan dia melemparkan syalnya ke lantai kapal, sambil membidikkan senjata ke arah helikopter yang kini semakin dekat, dia mengincar baling-baling. Sementara Askelan terus membidik ke arah seseorang yang tengah menembak mereka, dari pintu helikopter yang terbuka. Jordan pun melakukan hal yang sama, lalu ...


Dor! Suara ledakan kecil dari tembakkan Jabie, tepat mengenai sasaran hingga helikopter itu hilang kendali dan terus berputar. Tembakan anak buah Marka pun kehilangan arah karena mereka ikut berputar. Bahkan, beberapa orang jatuh ke danau, tapi, sebelum sempat menyentuh air, mereka sudah menjadi sasaran empuk peluru Askelan, Jordan dan beberapa anak buah lainnya.


Greg hanya melihat pemandangan itu sambil mengeluarkan selilit di giginya, dia tidak akan terlibat karena tahu, Marka hanya menurunkan beberapa anak buah campuran amatir di sana.


Namun, tiba-tiba dia meraih bazoka dengan sigap, dan membidikkan senjata itu ke udara, saat melihat helikopter yang terus berputar tak menentu, mengarah, di atas mereka.


Dan, dalam hitungan detik saja, kendaraan mewah itu sudah meledak di udara sebelum jatuh mengenai kapal mereka. Askelan menoleh dan mengacungkan jempol karena dengan hancurnya heli itu, mereka bisa bernafas lega untuk sejenak.


Sesuai perhitungan, tidak sampai sepuluh menit setelah semua ledakan diudara sirna, serangan dari darat muncul secara beruntun. Tembakan dari senjata otomatis terus menyasar ke kapal Askelan. Musuh menempati beberapa lokasi strategis seperti pepohonan dan bebatuan yang ada di sekitar tepi danau.


 Saat itu juga tiga kapal lain yang di pimpin oleh, Leo, Mat dan Pit sudah tiba dan mengelilingi kapal di mana Askelan berada.

__ADS_1


Tiga kapal utama itu dalam sekejap menjadi benteng, berbaris sejajar di tepi danau dan pagar yang mengelilingi kapal berubah menjadi tameng dari lapisan baja ringan yang mengelilinginya. Kapal Askelan dengan cepat berputar, dan mengambil posisi di belakang  tiga kapal utama.


Di sana baku tembak terjadi, belum lagi satu helikopter dari udara pun ikut meramaikan pertempuran babak kedua ini.


“Perhatian, Elang satu telah muncul!” kata seseorang yang terdengar melalui ear piece yang terpasang di telinga Askelan, Jordan dan kawan-kawannya.


Jabie kembali ke kapal semula dan memakai pakaian, syal, topi yang mirip dengan yang dikenakan Lintani, lalu, dia tidur di kamar yang telah disiapkan Askelan. Walaupun dia terlihat lemah, tapi ada sebuah pistol yang terikat di pahanya.


Seseorang yang bicara itu ternyata dia berada di atas pohon dialah yang, menjadi pengintai atau mata-mata. Dari jauh dia sudah melihat kelompok Marka yang membawa beberapa bom ukuran besar seolah ingin melenyapkan satu kota, hingga habis tak bersisa.


“Bos, sepertinya mereka tidak hanya akan menculik Alfa satu tapi akan menghancurkan kita semua,” kata suara itu lagi


“Apa kau bercanda berapa banyak amunisi yang dibawa?”


“Itu hampir satu kompi penuh, dengan bahan peledak sebanyak itu, dia bisa saja  menghancurkan pulau ini untuk kedua kalinya!”


“Baik, lakukan rencana B. Jangan ada yang menembak kalau tidak ingin tembakan kalian mengenai bom itu dan kita semua tidak ada yang selamat!”


Setelah mendengar perintah Bos mereka kemudian Greg mengibarkan bendera putih pada salah satu kapal dengan kesal. Sebab pengibaran bendera itu artinya mereka harus menyerah dan tindakan selanjutnya akan lebih menyita waktu dan tenaga.


Tembakan benar-benar berhenti menunjukkan bahwa mereka menyerah dengan tangan terbuka.


Sebenarnya semua anggota tidak setuju dengan rencana ini karena akan lebih sulit lagi untuk menangkap Marka hidup-hidup. Mereka bisa saja menghancurkan laki-laki itu sekarang juga tetapi, apabila mereka tidak bersabar, maka, bahan peledak yang dibawa pria jahat itu bisa meledak dan menghancurkan mereka secara bersama-sama.


Askelan menghampiri Jabie yang tengah tertidur di tempat tidur, lalu menatap beberapa wanita lain yang berada di di sekitarnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Berapa orang yang bisa kalian kalahkan dengan tangan kosong?” katanya Askelan dengan raut wajah yang serius.


“Empat!” kata semua wanita itu secara bersamaan, di sana ada empat orang wanita artinya wanita itu bisa mengalahkan 16 laki-laki sekaligus dengan tangan kosong. Menyimpulkan hal itu, Aslan terlihat puas dan dia mengangguk. Setelah itu dia pergi meninggalkan kapal, menuju proses penyerahan diri secara terang-terangan.


Saat Askelan memastikan keadaan Jabie dan rekannya, beberapa pengawal pria memakai alat penyelam dengan cekatan lalu, terjun ke danau. Hingga hanya ada delapan orang pengawal saja yang bersama Askelan dan Jordan. Jadi, total ada sepuluh orang yang kini berlutut di salah satu kapal. Sementara kapal atau speed boat yang lain terlihat dalam keadaan rusak akibat tembakan.


Mengetahui bila pihak Askelan mengibarkan bendera putih, pasukan Marka pun merasa puas dan menyeringai senang. Mereka mengundurkan otot dan segera melaporkan kepada Marka yang berada tidak jauh dari kerumunan mereka. Sebenarnya jumlah mereka tidak banyak karena sesuai perhitungan, hanya ada satu buah kapal mewah yang dinaiki Askelan dan sebuah kapal nelayan.


Marka sedikit terkejut melihat kenyataan bila Askelan membawa armada kecilnya, hingga dia membawa bom ukuran standar untuk melawan dan menghancurkannya.


Namun, setelah melihat bahwa sekarang pasukannya menyerah, ini sungguh di luar dugaan dan membuatnya puas, karena tidak perlu melakukan pemborosan amunisi, untuk meledakkan kembali pulau dan danau itu, seperti yang pernah dilakukannya 19 tahun yang lalu.


Marka hanya membawa anak buahnya sekitar 30 orang, sepuluh orang dia ajak masuk ke dalam kapal di mana Askelan, Jordan dan delapan pengawalnya sedang berlutut, sedangkan kedua tangan mereka berada di belakang kepala.


Sementara itu, sisa anak buah lainnya berada di daratan, mereka merayakan kemenangan dengan membuka perbekalan dan menikmati minuman yang mereka bawa.


“Askel, apa kau masih mengingatku?” Marka berkata dengan pongah. Dia dan sepuluh anak buah lainnya sudah berdiri di hadapan Askelan dan berada di atas kapal yang paling mewah.


“Tentu!” Askelan menjawab ketus masih dengan posisi yang sama, dia bergeming sementara semua anak buah Marka memeriksa badan mereka dan melaju di senjata yang menempel di tubuhnya.


“Aku tidak menyangka kau menyerah secepat ini. Jadi, di mana gadis itu sekarang?” kata Marka lagi, setelah anak buahnya menyerahkan semua senjata yang ditemukan di tubuh anak buah Askelan. Senjata itu sekarang mereka letakkan di atas meja, tak jauh dari Marka yang duduk di kurasi lipat.


“Apa yang akan kau lakukan pada istriku?” Askelan bertanya masih dengan nada yang ketus.


Baik Jordan, Greg dan anak buah lainnya melihat Marka dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2