Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 75. Apa Kau Percaya


__ADS_3

Apa Kau Percaya Atau Tidak


Lintani memundurkan lehernya dan menutup bibir Askelan dengan ujung jarinya. Dia tersenyum manis, menatap pria itu dengan tatapan lembut.


Dia berdiri lalu, berkata, “Apa kabarmu, Tuan Askel? Maaf, aku lupa menanyakan keadaanmu, aku terlalu gugup tadi.”


“Aku baik,” sahut Askelan, dia mendongak karena posisi Lintani yang berdiri di hadapannya menjadi lebih tinggi.


“Lalu, bagaimana kabar Jode, kenapa aku tidak melihatnya?” kata Lintani masih takjub dengan keadaan di kamar, hingga bola matanya terus bergerak ke sana ke sini.


“Kau menanyakan kabar laki-laki lain padaku?”


“Tuan, aku menanyakan asistenmu, apa itu salah?”


Kedua orang itu kini saling menatap dengan alis yang sama sama berkerut.


“Dia baik, mereka semua baik, setelah sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit!”


Leo dan Pit memang terluka saat baku tembak terjadi, tapi setelah mereka bisa menguasai keadaan, mereka segera pergi dan menghapus jejak, dengan cekatan dan rapi seperti biasanya. Mereka telah memanipulasi posisi hingga semua korban seolah akibat, dua geng yang saling unjuk kekuatan.


Jordan tahu kalau Helikopter yang semula mereka tumpangi sudah pergi tanpa menunggu perkelahian usai. Lalu, dia menghubungi helikopter lain untuk segera membawa mereka ke rumah sakit, walaupun, mereka semua selamat, namun Pit sudah mengeluarkan banyak darah.


Lintani melanjutkan obrolan, “Mereka? Siapa mereka?”


“Pit, Leo, Mat, Max dan Greg! Ah, sudahlah, kau tidak kenal dengan mereka!”


“Apa salahnya mengenalkan aku pada mereka, bukankah semua itu temanmu?”


“Ya! Mereka semua laki-laki. Dan Jode harus mewakili aku di kantor!”


“Oh ... Apa kau tidak suka kalau aku berteman dengan laki-laki?”


Askelan diam, dia menjalankan kursi roda otomatis itu, lebih dekat ke jendela.


“Katakan bagaimana kau bisa berada di tangan Dex, apa kau mencoba kabur dariku, karena tertarik padanya?” kata Askelan tanpa melihat Lintani.


Lintani diam, Askelan tampak sekali tengah mengalihkan pembicaraan. Namun, Lintani tidak bisa melihat raut wajahnya karena pria itu kini membelakangnya.

__ADS_1


Dia memang hendak pergi, tapi bukan kabur, melainkan karena perjanjian dengan Askelan sudah berakhir, lalu, untuk apa dia bertahan di sisinya? Apalagi dia merasa begitu terancam saat berada di sekitar Askelan hingga dia berpikir lebih baik meninggalkan Kota Hill.


“Aku tidak kabur ... Bukankah perjanjian sudah berakhir? Sudah tidak ada yang bisa membuatmu menahanku tetap menjadi istrimu, karena Ibu sudah pergi, dan—“


“Dan kau memilih Paman Dex?”


“Tidak! Bukan begitu. Aku juga tidak sadar waktu itu dan ketika aku bangun aku sudah berada di kamarnya!”


Lintani masih jelas mengingat kejadian itu, dia sudah berada dalam bis yang membawanya pergi ke Rasevan. Perjalanan membutuhkan waktu lama, hingga dia mengantuk. Antara sadar dan tidak, saat mobil berhenti di halte selanjutnya, seorang perempuan naik sebagai penumpang dan duduk di sebelahnya.


Setelah itu, dia tidak tahu apa yang terjadi dan ketika sadar, dia sudah berada di kamar yang bagus. Tak lama kemudian dia tahu bahwa, wanita yang duduk di bangku sebelahnya dalam bis itu, adalah seorang pengawal Dex. Perempuan itulah yang selalu berada paling dekat dengan Lintani.


Namun, kemudian wanita itu tewas di tangan Askelan. Ya, pria itu sudah melenyapkan wanita yang membius Lintani dalam bis.


Mendengar ucapan Lintani, Askelan menekan pegangan kursi, jari-jarinya saling bertemu, seperti gerakan memeras dengan kuat seolah bisa menghancurkannya.


“Dan kalian tidur bersama?”


“Tidak!”


“Bohong! Hah! Sudah berapa kali kau melayaninya?”


“Kau sendiri yang sudah membuatku berpikir seperti itu!” Kata Askelan terlihat sangat marah.


“Sungguh, aku memang berada di kamarnya atau entah kamar siapa, tapi aku tidak pernah sekalipun tidur dengannya, dia memperlakukan aku seperti seorang putri karena ingin membuatku jatuh cinta!”


“Dan kau sudah jatuh cinta?”


‘Sebenarnya aku jatuh cinta denganmu, tapi, kau kekasih Haifa, lalu, aku bisa apa?’ batin Lintani.


“Aku membencinya, tahukah kau aku pergi ke mal itu hanya agar bisa bertemu denganmu ....”


Air mata Lintani tiba-tiba menetes


‘Tuhan ... apakah sesakit ini rasanya jatuh cinta tapi hanya di pandang sebelah mata. Sakit sekali rasanya. Ah! Lebih baik tidak jatuh cinta’ batin Lintani.


“Sebenarnya aku tidak pernah tidur dengan pria lain kecuali denganmu, Tuan. Kalau kau mau percaya padaku ... dan satu orang lagi ....” Kata-kata Lintani tercekat di tenggorokan, dia bimbang antara harus mengatakannya atau tidak.

__ADS_1


“Siapa? Apa dia orang yang sudah membayarmu?”


“Bisa di bilang seperti itu, aku di bayar oleh orang lain, tapi, justru menyerahkan tubuhku pada orang lain!” Maksud Lintani adalah Jordan yang membayar tapi Askelan yang memakainya.


“Kau murahan sekali!”


“Ya. Aku tahu, karena itu aku pergi meninggalkanmu, kau tidak akan mau meneruskan hubungan dengan wanita seperti aku, kan?”


Askelan diam dan kembali memutar kursi rodanya ke arah jendela.


“Jadi, kau hanya pernah tidur dengan dua laki-laki? Apa dia istimewa dan kaya, sampai kau mau menyerahkan dirimu?”


“Ya, sepertinya begitu. Aku hanya tahu dia memakai mobil edisi khusus, dan lucunya waktu itu dia memakai topeng, entah apa maksudnya, bahkan kami melakukannya di dalam mobil! Setelah selesai dia tertidur begitu saja, dan seorang pengawal memberikan aku uang seratus ribu dolar, serta sebuah apartemen.” Lintani tertawa kecil, dia bercerita dengan ringan mengalir begitu saja.


‘Apakah dia akan percaya kalau orang itu aku, dan bukannya Haifa?’ batin Lintani.


Askelan mengerutkan alisnya, dia juga pernah lakukan hal itu dalam mobil dengan memakai topeng agar wanita yang akan dijamahnya tidak bisa mengenalnya.


Namun, wanita itu Haifa! Lalu, kenapa Lintani mengakui hal yang sama? Tapi, Haifa tidak pernah menceritakan hal sedetail ini, apa itu artinya dia berbohong? Pikir Askelan.


“Kalau kau memang menerima uang dan apartemen, kenapa kau pergi ke pinggiran kota?”


“Rauja mengambil semuanya. Dia sengaja membuatku berdandan begitu menor, hingga tidak menampilkan wajah asliku. Ah! Sudahlah, kau pasti tidak akan percaya apa yang aku alami selama hidup dengan keluarga itu.”


“Ceritakan saja, aku butuh sedikit hiburan!”


Lintani menatap Askelan heran, cerita kehidupannya bukanlah sesuatu yang bisa menjadi hiburan, tapi, mungkin bagi pria seperti Askelan, hiburannya adalah sesuatu yang menyakitkan.


Dunia seolah berputar dalam poros yang berbeda bagi sebagian manusia, ada manusia yang menderita, tapi, penderitaan orang lain itu justru menjadi konsumsi publik, bahkan sebagai ajang konten hiburan, bagi manusia lainnya dalam berbagai media.


Akhirnya Lintani mengungkapkan secara jujur bagaimana sikap keluarga Lux padanya, secara garis besar. Dia tidak peduli apakah Askelan akan percaya atau tidak. Tiba-tiba hatinya menjadi lega, seolah beban berat itu kini sudah terbagi.


“Apa kau bisa menari juga?” tiba-tiba tanya Askelan.


“Apa? Menari? Tentu saja, tapi itu dulu, sebelum aku di penjara.”


“Kau sudah menghibur banyak orang, tapi belum pernah sekalipun menghiburku .... padahal aku suamimu!”

__ADS_1


“Lalu?”


Bersambung


__ADS_2