
Maju Satu Langkah Artinya Kau Bertaruh Nyawa
Lintani berteriak dari tempatnya berdiri, tapi, tidak ada sambutan apa pun, dari dalam kamar itu yang pintunya terbuka sedikit seolah digerakkan oleh angin.
“Tuan! Ini milikmu tertinggal, siapa tahu kau membutuhkannya! Bolehkah aku masuk?” kata Lintani sambil mengacung-acungkan kartu debit berwarna emas itu.
“Baiklah, aku akan berangkat! Aku tinggalkan kartu ini di meja! Oke?” kata Lintani lagi sambil membalikkan badan.
Namun, pintu kamar yang di gerakkan oleh angin itu seperti memancingnya untuk masuk dan melihat isinya. Lagi pula, dia akan menanyakan, tentang ucapannya saat membela Haifa bahwa, mereka memiliki urusan. Urusan seperti apa? Dia maklum jika seorang kekasih membela wanita yang dicintainya, tapi, dia berharap Askelan tidak buta!
Lintani masuk ke kamar Askelan secara perlahan, dia menyimpan tas perlengkapannya di luar dan hanya membawa kartu Emas itu bersamanya. Setelah badannya berada di dalam, pandangannya berputar melihat keadaan kamar yang tidak memiliki satu pun hiasan, bahkan terkesan sederhana dan membosankan.
Kamar itu sangat luas seperti bisa digunakan untuk bermain bola voly. Beberapa langkah dari pintu, Lintani melihat ada sebuah nakas besar dipenuhi banyak laci dan beberapa bagian lemari dengan berbagai ukuran. Mungkin sebagai penyimpanan benda rahasia di dalamnya.
Tak jauh dari benda itu ada sebuah tempat tidur yang tidak kalah lebar dari ranjang di kamarnya, dilengkapi satu meja kecil di sampingnya. Ada sofa tunggal dekat jendela dan dua sofa lain di dekat tempat tidur, televisi yang cukup lebar menempel di dinding. Semua perabotan yang ada di sana berwarna putih.
Lintani mengayunkan satu langkah dan tiba-tiba pintu kamar itu langsung tertutup dengan keras. Dia terkejut dan, berbalik sambil berusaha membuka kembali tapi, tidak berhasil. Gadis itu terjebak di dalamnya.
Ah! Sial! Kepanikan mulai menguasai saat dia berusaha, dengan sekuat tenaga untuk membuka pintunya kembali tapi sia-sia, membuatnya lelah. Lintani melangkah mendekati salah satu sofa ingin duduk di sana. Namun, saat itu juga terdengar sebuah suara yang menggema yang muncul entah dari mana.
“Bergerak satu langkah lagi, maka kau akan kehilangan nyawa!” itu suara yang mirip dengan suara Askelan tapi lebih berat lagi.
__ADS_1
“Tuan Askel! Ini aku, Lin! Aku hanya akan mengembalikan kartumu!” kata Lintani. Suaranya terdengar bergetar karena takut, sambil mengacungkan kartu seolah pria yang dipanggilnya ada di depannya.
Lututnya pun mulai gemetar. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya dan dia terus melangkah tak tentu arah. Jantungnya berpacu begitu kencang, seolah dia mengikuti lari maraton ribuan mil dari kota Hiis ke kota Proach. Telapak tangannya sudah basah saat dia hendak menyimpan kartu di atas nakas. Namun, begitu dia menyentuh sisi benda yang terbuat dari kayu itu, tiba-tiba saja salah satu lacinya terbuka dan sebilah pisau tajam meluncur dari sana.
Seketika Lintani mundur satu langkah, dengan jantung yang seolah berhenti berdetak, dia kembali terkejut. Apa itu tadi yang melayang dengan cepat? Pikirnya.
Wush! Itu sebuah pisau yang bergerak, terbang melewati dada dan kepala Lintani dengan sangat cepat lalu, menancap di langit-langit kamar. Gadis itu mendongak, untuk melihat di mana pisau itu menancap, seketika dinding kamar berubah warna menjadi merah darah yang mengerikan. Ada sebuah tulisan muncul di sana yang jelas merupakan sebuah peringatan.
“Kau beruntung sekarang masih hidup sebab kalau kau bergerak sekali lagi, maka, bisa dipastikan kau akan dilenyapkan!”
Membaca tulisan itu, seketika Lintani semakin lemas dan tubuhnya meluruh ke lantai, dia berlutut sambil menangis dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
“Tuan Askel! Sungguh, aku tidak bermaksud buruk!” kata Lintani, kini tubuhnya sudah meringkuk di lantai seperti rubah kecil yang kehausan di gurun salju nan dingin, wajahnya basah dan rambutnya yang semula rapi, menjadi berantakan.
Dia pernah berusaha untuk mengakhiri hidupnya saat menjadi seorang terdakwa, untuk kasus pembunuhan yang tidak pernah dia lakukan. Namun, disaat yang bersamaan dia tahu ada satu nyawa yang bersemayam di rahimnya sehingga dia memutuskan hidup untuk bertahan dengan segala cara demi bayinya.
Namun, sekarang berbeda, dia masih ingin hidup demi melihat Elliyat bahagia, sampai akhir hayatnya. Dia tidak ingin mati sia-sia dalam jebakan kamar Askelan. Walaupun, sekarang dia tahu mengapa pria itu tidak pernah membawanya ke kamar meski pernah tidur bersama. Semua itu disebabkan karena kamar itu membawa malapetaka.
Di ruangan yang seharusnya menjadi tempat istirahat itu, bisa berubah sebagai jagal jika bukan Askelan sendiri yang memasukinya.
Pintu itu dirancang oleh Askelan dengan penuh perhitungan. Memang bisa dibuka dari luar, cukup dengan mendorong saja. Namun, akan tertutup secara otomatis dan, tidak bisa dibuka kembali dengan mudah, kecuali, orang itu masuk bersama Askelan.
__ADS_1
Pria itu memiliki banyak musuh. Oleh karena itu dia tidak membiarkan orang lain, memasuki kamarnya begitu saja hingga dia menyimpan, banyak jebakan di dalamnya untuk membuat rasa takut.
\*\*\*\*\*
Sementara itu di sebuah gudang yang besar dan dipenuhi berbagai barang tak terpakai, Askelan dan Jordan tengah berhadapan dengan tiga orang pria, yang pernah menyekap Lintani kemarin malam.
Ke tiga orang pria itu adalah suruhan Dex yang ingin memastikan siapa Lintani bagi Askelan. Sangat penting mengetahui kelemahan pria yang menjadi musuh saat berada dalam pertempuran.
Dex sudah lama tahu jika Haifa adalah kekasih wanita bagi keponakan istrinya itu, tapi, saat dia melakukan hal yang sama, Askelan tidak turun tangan sendiri mengatasinya melainkan menyuruh para ajudan untuk membebaskannya.
Namun, saat mengetahui dari Petra tentang Lintani saat mereka secara tidak sengaja bertemu di sebuah cafe. Dex lebih tahu siapa yang akan menjadi sasarannya jika suatu saat dia terdesak, atau Askelan mengancamnya.
Jadi, dia tidak sungguh-sungguh bertujuan melenyapkan gadis itu saat menyekap Lintani di jalan menuju pabrik.
“Bagaimana jika kita bekerja sama?” tanya Askelan setelah mendengar pengakuan dari ke tiga pria. Bukan tanpa paksaan mereka mau mengaku melainkan setelah paksaan dari dua pria itu dengan berbagai cara. Tubuh mereka sudah terluka parah bahkan hanya untuk bicara saja sulit.
Askelan duduk sambil menyilangkan kaki dan melipat kedua tangannya di depan dada, menatap anak buah orang yang dibencinya dengan tatapan membara.
Pertanyaan Askelan itu membuat Jordan sedikit heran, biasanya dia malas sekali berurusan dengan hal kecil seperti ini. Dia lebih memilih menghabisi anak buah kecil seperti mereka.
“Apa yang Anda inginkan Tuan, kami akan mengikuti kemauan Anda, asal ampuni nyawa kami.”
__ADS_1
“Baiklah, kalian harus mati!”
Bersambung