Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 149. Hadiah Berharga


__ADS_3

Hadiah Berharga


“Ah. Yang benar saja! Jangan-jangan ini hanya alasanmu. Lihat ... aku punya sesuatu yang menarik untuk hadiahmu, karena kau sudah melahirkan anak kita, kalau kau melihatnya, apa kau masih mau menolakku?”


Askelan berkata dengan heran, sambil meraih kotak di atas meja kecil. Dia yang semula duduk bersandar di samping Lintani, kini menegakkan punggung dan menghadap ke depannya.


Lintani menerima kotak dari tangan suaminya, seraya berkata, “Itu, bukan alasan sembarangan, semua wanita yang baru saja melahirkan, tidak bisa langsung bersama setidaknya setelah dua bulan!”


Askelan menatap Lintani lurus, dia menangkap kejujuran di sana, apalagi setelah mengingat bagaimana penderita istrinya saat akan melahirkan disertai darah yang mengalir dari sela dua pahanya.


Askelan mengangguk pelan, tanda dia mengerti karena melahirkan seorang bayi itu tidak mudah. Namun, menunggu selama itu, setelah dia menunggu kemarahan Lintani tiga bulan terakhir, sepertinya dia tidak sanggup.


Tidak menyentuhnya selama dua bulan lagi, apa aku kuat? Pikirnya.


“Baiklah,” kata Askelan terlihat pasrah sekarang.


Dia membantu Lintani membuka kotak berpita merah, dan memperlihatkan isi di dalamnya, membuat Lintani menitikkan air mata.


“Kau menangis lagi? Kalau tahu kau akan menangis, aku lebih baik tidak memberikannya padamu!”


Lintani tersenyum menatap Askelan, sambil menghapus air matanya.


“Aku menangis bukan karena sedih, beberapa hal bagi seseorang bisa membuatnya meneteskan air mata karena terlalu bahagia.”

__ADS_1


“Benarkah? Jadi, kau bahagia?”


“Ya!”


Lintani berkata sambil memasukkan cincin ibunya yang dia temukan tersangkut di tulang kerangka Viana, waktu itu di Rasevan. Cincin itu sudah kembali berkilau, sama halnya dengan mainan dari kaleng dengan pegangan dari kayu, ada dua bulanan di sisi kanan kirinya, hingga bila digerakkan, akan mengeluarkan suara. Benda itu pun sudah diperbaiki, tanpa mengurangi bentuk dan ukurannya semula.


Ada juga sertifikat tanah, dokumen perjanjian kerja sama, surat perjanjian keluarga Shaw, beberapa foto Syahrain dan juga satu-satunya foto dirinya bersama Viana yang sudah dibaharui, dia tidak tahu bagaimana Askelan melakukannya, tapi semua itu adalah hal yang sangat berharga bagi Lintani.


“Ini dokumen perjanjian kerja sama, kau harus memberikan tanda tanganmu di sinj,” kata Askelan sambil memperlihatkan isinya.


“Apa itu harus?”


“Ya! Itu harus, dan lakukan secepatnya, agar perusahaan bisa membuat salinannya dan yang asli ini akan aku simpan!”


“Baiklah!”


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, pria itu membalas ciuman Lintani dengan rakus, sampai wanita itu kualahan, lalu dia meletakkan telapak tangannya pada wajah Askelan agar pria itu menghentikan aktivitasnya.


Lintani tidak tahu lagi harus bagaimana meyakinkan Askelan, dia harus ke kamar mandi dan dia ingin pria itu segera pergi. Sangat riskan kalau pria itu yang harus membantunya dan melihat bagaimana keadaannya di dalam sana.


“Dengar ...,” kata Lintani sambil memegang pipi Askelan dengan kedua telapak tangannya, “Aku tidak bermaksud untuk mengabaikanmu seperti kemarin-kemarin lagi, maaf, karena telah menghukummu dengan cara seperti itu ... kau boleh menemuiku kapan saja asal jangan berlebihan menciumku, oke? Aku takut kau ingin tapi, aku tidak bisa melayanimu!”


“Hmm ...” Askelan mengangguk dan Lintani melepaskan tangannya.

__ADS_1


Saat melihat Lintani beringsut dari duduknya, Askelan pun bertanya, “Kau mau ke mana, apa yang kau inginkan?”


“Bukan apa-apa, pergilah! Aku hanya ingin ke kamar mandi!”


Tanpa bicara lagi, Askelan langsung mengangkat tubuh Lintani dalam dekapannya, membuat Lintani melotot. Walaupun, gerakannya begitu hati-hati, dia tetap saja riskan.


“Turunkan aku! Aku bisa sendiri!”


Askelan tidak menanggapi, dia membawa Lintani ke kamar mandi lalu, mendudukkannya di atas kloset.


“Terima kasih, sudah cukup ... Aku bisa melakukannya sendiri!” kata Lintani saat melihat Askelan tidak juga beranjak dari hadapannya. Pria itu menatapnya tak berkedip sambil berkacak pinggang.


“Elan, pergilah!”


“Apa maksudmu mengusirku? Aku akan menjagamu di sini, aku tahu kau sudah menahannya dari tadi. Jadi, cepat lakukan sekarang juga, Sayang ...!”


Ah! Apa dia masih malu, padahal sudah sering melakukannya denganku? Yang benar saja. Pikir Askelan.


“Keluar, kataku!” bentak Lintani. Tentu saja dia risi kalau harus membuang hajat di hadapan orang lain, walaupun, suaminya sendiri.


“Apa kau takut aku akan melakukannya di sini?” kata Askelan sambil mendekatkan wajahnya pada Lintani


Bersambung

__ADS_1


❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️


Tetap dukung ya, sebentar lagi tamat 🙂


__ADS_2