
Masa Kecil Lintani
Waktu Lintani kecil diserahkan, Viana Hims memberi banyak sekali uang dan perhiasan pada mereka sebagai modal untuk membesarkan anaknya. Wanita itu terlihat ingin melindungi anaknya dari sesuatu.
Lux adalah satu-satunya saudara Viana Hims yang tinggal di kota, dan dia yakin saudaranya itu akan merawat anaknya dengan baik. Biar bagaimana pun, Lintani anak yang manis dan pintar, hingga dia harus diselamatkan dari ancaman seseorang.
“Kenapa kau tiba-tiba menitipkannya padaku?” tanya Lux pada Viana—saudaranya.
“Ada orang jahat yang mengancamku kalau Lin tidak diserahkan, maka dia akan menghancurkan seluruh desa.”
“Lalu, kenapa kau tidak menyerahkannya?”
“Dia pasti akan berbohong, semua desa sudah dipasang bom dan aku yakin, walaupun Lin aku serahkan padanya, dia tetap akan membunuh kami semua.”
“Apa istimewanya dia?”
Viana diam, dia hanya menoleh pada Lintani kecil yang mengejar kupu-kupu.
“Jaga dia baik-baik, dia akan sangat berguna kalau dia kelak menemukan pria yang benar-benar mencintainya, maka, berikan gelang ini padanya!” kata Viana Hims waktu itu.
“Gelang apa ini?”
“Bukan apa-apa, dia harus memakainya kalau sudah mengerti dan dewasa, ini adalah gelang peninggalan keluarga suamiku dan dia memberikannya sebelum dia tiada.”
“Oh, jadi ini hanya peninggalan turun temurun begitu?”
“Ya!”
“Kupikir kau menyembunyikan sesuatu padaku?” Lux terlihat ragu saat itu.
“Tudak, percayalah .... Aku yakin takdir akan menemukan caranya sendiri bertemu dengan orang yang layak dia datangi.” Kata Viana sambil menghapus air matanya.
Setelah berkata seperti itu, Viana pergi bersama pelayannya menaiki perahu. Tak lama setelah perahu menjauh, ledakan besar terjadi dan Viana meninggal karena perahunya terbalik dihantam gelombang akibat ledakan, sedangkan dia tidak bisa berenang.
Semua perhiasan dan uang sudah habis, kecuali gelang kayu yang tidak berharga itu. Jadi, mereka masih menyimpannya sampai saat ini. Walaupun begitu, keluarga Lux tetap tidak mau menyerahkan gelang itu pada Lintani, bahkan sampai gadis itu dewasa.
Mereka rugi kalau tidak memanfaatkan gadis itu demi keluarga, sebab sudah bersusah payah mengurus maka harus ada keuntungan yang didapat. Uang dan harta yang diberikan Viana bahkan hanya cukup untuk membiayai hidup mereka selama setahun penuh. Oleh karena itu, Lintani harus mencari uang sendiri.
Namun, setelah mendengar kabar dari mata-matanya, Lux berpikir jika mungkin lebih baik mempertahankan Lintani, sampai dia menemukan kekasih dan memberikan gelangnya. Setelah itu, barulah mereka akan mendapatkan manfaat seperti pesan Viana.
\*\*\*\*\*\*
Sejak kemarin Askelan sudah berada di kamarnya sendiri, dia tahu Lintani akan pulang hari ini sesuai perintahnya.
Askelan duduk di kursi roda dekat jendela lebar di sisi tempat tidurnya, yang menghadap langsung ke taman samping, di mana bunga Lily mulai kuncupnya di musim semi nanti.
__ADS_1
Kakinya terluka hingga memaksanya harus duduk di kursi itu untuk sementara waktu. Sebenarnya luka operasinya sudah hampir kering, tapi dia masih belum kuat untuk berdiri terlalu lama, selain itu dia ingin memanjakan diri.
Sementara Lintani berjalan menyusuri isi rumah, mengenang saat dirinya masih sering berkunjung sebelum Elliyat wafat. Dia tersenyum melihat beberapa foto dan hampir tidak percaya, karena fotonya bersama wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya itu pun berjajar di sana.
Lintani berjalan keluar sambil merentangkan tangannya, menghirup udara segar di sekitar taman, lalu berputar. Dia menikmati kebebasan. Tidak ada penjaga di sisinya, tidak dihantui perasaan takut dan tidak diminta untuk menikah secara paksa.
Namun, di mana Askelan berada, sejak dia datang tadi, tidak ada siapa pun di dalam rumah. Bibi Mo pun asyik di kamarnya sendiri di dekat dapur.
Di luar juga sepi penjaga kecuali mereka yang berjaga di dekat pintu gerbang atau yang berkeliling mengawasi keadaan sekitar. Lintani benar-benar merasa bebas, dia pikir mungkin Askelan sedang ada di kantornya.
‘Bukankah dia sibuk, bahkan saat-saat menjelang ibunya tiada pun, dia tetap tidak bisa meninggalkan pekerjaannya itu, kan?’ pikir Lintani
Lintani bercermin di depan kaca besar di sisi taman, dia tidak tahu ruangan apa yang terdapat kaca sebesar itu. Dia mencoba mengintip tapi, isi dalamnya tidak terlihat. Jelas saja kaca rebain itu memang gelap, bisa melihat keluar tapi yang ada di luar tidak bisa melihat ke dalam, kecuali, kalau ruangan di dalam lampunya menyala.
Yakin tidak ada orang, Lintani tetap berdiri di depan jendela kaca, lalu, melepas untaian rambutnya.
Setelah itu dia berdiri di tengah kebun bunga Lily, memejamkan mata, sambil merentangkan tangan dan, membiarkan rambutnya itu berkibar ditiup angin musim semi yang lembut.
Tiba-tiba gerimis turun begitu saja, padahal Lintani belum puas bermain.
“Nona! Cepat masuk, aku tidak mau kau sakit!” Mo memanggilnya dari pintu samping villa.
“Bibi, aku bukan anak kecil!”
“Tapi, aku khawatir!”
“Ayo! Ini kamarmu, cepat masuk dan keringkan rambut sendiri ya ... ada Tuan di dalam, jadi aku tidak bisa membantumu!”
Mo berkata sambil menarik tangan Lintani menuntunnya menuju salah satu kamar.
“Apa? Apa kau bilang, Tuan Askelan ada di dalam?”
Lintani tiba-tiba menjadi gugup.
“Ya! Dia menunggumu sejak tadi!” Kata Mo sambil mengetuk pintu kamar, lalu, pergi lagi.
Pintu terbuka sendiri secara otomatis digerakkan oleh remote control yang ada di tangan Askelan.
Tuhan! Tuhan!
‘Apa ini?’ batin Lintani.
Dia terkejut begitu masuk dan melihat pria itu duduk di kursi roda, tepat di depan jendela kaca besar yang menghadap ke taman. Dari sana dengan jelas pria itu bisa melihat semua yang dilakukannya tadi.
‘Ini memalukan sekali!’ batinnya lagi, sambil membayangkan tingkahnya karena dia pikir tidak ada siapa pun di sana!
__ADS_1
Melihat Lintani yang terpaku di depan pintu, Askelan mendengus kesal.
“Kemarilah!” perintahnya sambil menjentikkan jari.
Gadis itu tetap tidak bergerak.
“Aku akan menutup pintunya!” kata Askelan lagi sedikit ketus.
Lintani menggeser langkah kakinya agar pintu bisa menutup, seraya berkata, “Kau di sini?”
Pintu kembali bergerak sendiri dan otomatis terkunci, semua itu tidak membuat Lintani heran karena dia tahu kamar Askelan sebelumnya pun begitu banyak kejutan.
“Ya.” Askelan menjawab tanpa ekspresi.
“Apa kau melihatku tadi di sana?” tanya Lintani lagi sambil menunjuk kaca.
“Ya.”
“Pasti kau menertawakan aku, kan?”
“Tidak!”
“Kau bohong!” Lintani berkata sambil memalingkan wajah dan tersenyum mengejek dirinya sendiri.
“Tidak! Kemarilah!”
Lintani ragu-ragu mendekat, dan ketika berada di hadapan Askelan, pria itu langsung meraih pinggangnya lalu, mendudukkan gadis itu di pangkuannya.
“Tuan, jangan begini, kakimu masih sakit.” Lintani berkata sambil mencoba kembali berdiri tapi, Askelan menahan tubuhnya.
“Hmm ...” Askelan memeluknya hangat. “Apa kau merindukanku?” bisiknya di telinga Lintani, membuat bulu kuduknya meremang.
Lintani diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Namun, dia tidak bisa bohong.
“Ya. Sedikit.”
“Sedikit?” Askelan memandang sambil mengerutkan alisnya, jarak mereka terlalu dekat.
“Ya.”
Mereka saling memandang, dan tidak bergerak, tetap dalam posisi yang sama hingga beberapa lama.
Kedua insan itu sudah pernah tidur bersama, bahkan menyatukan tubuh tapi, saat ini, jantung mereka berdetak tak beraturan, seolah baru pertama kali bertemu dan saling jatuh cinta.
‘Apa ini cinta?’ batin Lintani.
__ADS_1
Sesaat kemudian jantungnya seperti kehilangan satu detakan karena tiba-tiba Askelan menempelkan bibir dan menciumnya.
Bersambung