
Bukan Cinta Tapi Hanya Rasa Bersalah
Lintani duduk di tepi pantai sambil membuat swa foto dengan latar belakang pantai dan juga villa di mana dia tinggal saat ini.
Pinot mendekat dengan membawa buket bunga mawar besar di tangannya. Kiriman bunga dengan ucapan permohonan maaf itu kembali datang dan pria itu yang selalu membawanya ke hadapan Lintani.
“Nyonya! Lihat, sekarang bunga mawar ini berwarna ungu, ini adalah mawar yang langka apakah aku akan membuangnya juga?”
Lintani mengangguk cepat, dan Pinot sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Dia membuka untaian dari buket bunga itu dan menghancurkan kelopaknya, kemudian menyebarkannya di lautan. Hal ini terjadi setiap hari.
“Aku berharap kelopaknya akan di makan binatang laut yang manis!” katanya setiap kali selesai menyebarkan kelopak mawar yang hancur di lautan. Dia harus bersusah payah untuk bisa melakukan itu dengan kakinya yang cacat.
“Tidak ada binatang laut yang seperti itu!” sahut Lintani sambil melempar kerikil ke dalam ombak yang bergulung.
“Ada, seperti lumba-lumba atau kuda laut, menurutku mereka manis dan lucu!”
“Tapi, mereka tidak makan kelopak mawar!”
“Lalu, Kenapa kau membuangnya ke sana?”
Lintani diam, menghancurkan kelopak mawar ke lautan adalah bukti betapa hancur perasaannya. Tentu saja kabar ini selalu sampai ke telinga Askelan. Dia tahu apa yang dilakukan Lintani walaupun tidak melihat, karena mereka berada di tempat yang berbeda.
Sebenarnya Pinot ingin sekali menasihati wanita itu tentang adanya sebuah kesempatan, untuk memiliki seorang pria yang baik, tidak datang dua kali.
Dia mengalami hal yang sama saat dia begitu mencintai Viana, dia tidak segera mengungkapkan perasaannya dari awal, hingga kemudian dia kehilangan wanita itu untuk selamanya.
Namun dia menyadari posisinya tidak berhak mengatakan apa pun dengan apa yang dilakukan Lintani setiap hari. Pada bunga mawar kiriman Askelan, yang selalu disertai sebuah surat dengan ucapan yang sama.
“Maafkan aku, Sayang. Cintaku tulus padamu, bukan hanya tentang rasa bersalah.” Begitu isi surat itu.
__ADS_1
Namun, Lintani selalu menjawabnya dengan hati, “Bukan ... itu bukan cinta, tapi hanya rasa bersalah!”
Pinot tidak tahu apa yang menjadi penyebab Lintani bersikap seperti itu kepada suaminya sendiri, lagi-lagi dia tidak berhak ikut campur dan tidak berani bertanya.
Laki-laki itu sudah sembuh dari lukanya, tapi, kakinya tidak bisa berjalan dengan normal karena Askelan pernah menghancurkan tulang keringnya, hingga dia harus berjalan menggunakan kruk setiap hari. Walaupun demikian dia tetap merasa beruntung, karena dia masih punya kesempatan untuk berbuat baik kepada anak Viana itu.
Sepekan yang lalu dia mendengar kabar dari salah satu pelayan yang ada di sana bahwa, Lintani akan tinggal di villa Loyola, untuk sementara waktu. Saat kedatangannya dia pun heran, karena gadis itu hanya besama dengan Mo—pelayannya dan tidak disertai dengan Askelan, bahkan sampai saat ini pun, dia tidak pernah datang.
Hari itu, di mana Lintani mengetahui sebuah kebenaran tentang Askelan, dia tidak mau melihatnya lagi, hingga dia memilih pergi. Takdir seperti mendukungnya, saat sebuah kebetulan terjadi, ketika Lintani bangun dari tidur dan, Askelan sedang berada di ruang kerjanya bersama Jordan.
Lintani meminta Mo untuk menemaninya tanpa meminta izin dari suaminya.
“Apa kau marah pada Tuan Askel?” tanya Mo waktu itu.
“Tidak!” sahut Lintani datar. Dia sebenarnya tidak marah kepada Askelan, hanya saja tidak ingin melihat wajahnya saja.
Mo mengikuti keinginan Lintani dengan sabar dan tetap rutin mengirimkan kabar kepada Askelan. Lintani pun mengetahui apa yang dilakukan Mo dan semua pengawal itu, tetapi dia tidak mencegahnya, karena dia pun memberi kesempatan yang sama pada Askelan untuk menunjukkan sebesar apa kesungguhannya.
“Kenapa kau tidak memberikan kesempatan kepada Tuan Askel, Nona?”
“Aku juga sedang memberi kesempatan padanya, kalau dia memang mengerti aku ... maka, dia tidak akan menemuiku kecuali aku yang akan menemuinya nanti. Kalau dia terus menunjukkan wajahnya di hadapanku, berarti cintanya memang egois dan itu artinya dia tidak bisa memahamiku!”
Kedua manusia itu saling memberi ruang pada hati, untuk membuka lembaran baru dan memaafkan masa lalu mereka, suatu saat nanti.
“Apa kau tidak bisa memaafkannya?”
“Aku bukannya tidak bisa memaafkannya tapi, sebelum memaafkan orang lain, bukankah kita harus memaafkan diri sendiri? Kita bukan manusia suci yang tak berdosa bukan?”
“Ya! Kau benar, Nona.”
__ADS_1
“Nah, aku membenci seseorang yang sudah merusakku sekian tahun lamanya, kesalahanku adalah kebencianku padanya. Dan, itulah yang harus aku maafkan, aku masih membutuhkan waktu untuk bisa memaafkan diriku sepenuhnya!”
Begitulah hari-hari terus berjalan hingga mereka sama-sama terbelit terasa rindu. Namun, Lintani mengabaikannya. Berbeda dengan Askelan, pria itu tak hentinya merutuk dan marah-marah baik di rumah maupun di kantor. Semua sahabat dan pegawai selalu menjadi sasaran, setiap harinya.
Askelan begitu menyesalkan hari itu, ketika dia selesai memeriksa dokumen bersama Jordan, dia kembali ke kamar dan melihat Lintani sudah tidak ada di sana. Dia pun mencarinya, tapi kemudian dia tahu bahwa, Mo pun tidak ada.
Namun, dia masih bersyukur karena wanita itu meninggalkan sebuah catatan di atas meja makan. Dia menuliskan pesan bahwa, Lintani mengajaknya pergi ke villa di pantai Loyola, tetapi, Nona mudanya itu tidak mau ditemui oleh tuannya. Dia meminta agar Askelan bisa memahaminya dan tidak mendatangi wanita itu untuk sementara.
Ada satu hari di mana bukan hanya Askelan saja yang, menyesalkan kepergian Lintani, tapi juga, Aston dan Yasmin, saat secara bersamaan mereka datang mengunjunginya di Villa Hardo. Mereka harus kecewa karena tidak bisa menemui Lintani di sana. Kedua orang itu sengaja datang untuk meminta maaf, setelah melihat dan membaca isi file yang dikirimkan Jordan ke surel mereka.
Yasmin sangat merasa bersalah kepada Lintani, dia menyadari betapa tragisnya kejadian di mana keluarganya, mengorbankan segalanya atas kelakuan Marka. Hampir tidak ada yang tersisa hingga Yasmin pun merasakan bila dirinya sudah begitu jahat, padahal mereka sama-sama tidak memiliki seorang ibu.
Bukan hanya Yasmin dan Aston saja yang mengetahui tentang kejadian di Rasevan, tapi ayah Yasmin dan juga Petra pun mengetahuinya, hingga mereka menjadi begitu malu karenanya.
“Apa dia marah padaku?” tanya Aston.
“Tidak, Kakek. Lin yang marah padaku, hingga dia tidak mau menemui kita.” Yasmin berkata penuh penyesalan saat Askelan menemui mereka di ruang tamu tanpa kehadiran Lintani bersamanya.
“Bukan begitu, dia hanya membutuhkan perawatan, dia harus berada di tempat yang menenangkan sesuai petunjuk dan terapi yang dia dilakukan!” Askelan beralasan untuk menutupi masalah pribadinya dengan Lintani.
“Apa kami bisa menemuinya sekarang ataupun besok, atau lusa?” tanya Aston dari kursi rodanya.
“Entahlah, aku harus membicarakan dulu dengan dokternya, kalau memang bisa, aku akan mengantarkan kalian ke sana!”
“Baklah, aku akan menunggu kabar darimu, kuharap berita itu akan datang secepatnya!” kata Yasmin sambil berdiri dan mendorong kursi roda Aston perlahan meninggalkan rumah Askelan.
Bersambung
❤️🙏Jangan lupa like dan dukungannya👍🙏
__ADS_1