
Penyesalan Askelan
“Itu sudah lama sekali, Nona. Apa itu kelahiran yang normal atau melalui operasi?” Dokter kembali bertanya setelah diam beberapa saat.
“Normal,” ujar Lintani datar, dia tidak lagi melirik Askelan karena khawatir pada dirinya sendiri, takut kalau pria itu akan marah atau kecewa.
Dokter itu mengangguk sebelum melakukan rangkaian pemeriksaan lainnya.
Tanpa Lintani sadari, Askelan kembali mengepalkan tangannya dan detak jantungnya tidak beraturan, setelah tadi sempat kehilangan satu detakan. Dadanya sesak, matanya memerah, dia seperti hendak menangis. Namun, apabila Lintani melihat, pastilah dia mengira kalau suaminya itu marah.
Askelan tetap diam selama proses pemeriksaan dan dokter menggunakan alat yang ditempelkan di perut istrinya. Dari pemeriksaan itu mereka tahu jika usia kehamilan sudah mencapai enam Minggu. Itu artinya, rahim Lintani sudah terisi saat hubungan mereka sebelum Elliyat tiada.
Pemeriksaan seperti ini baru dilakukan oleh Lintani untuk pertama kalinya, hingga dia sangat gugup. Saat kehamilan pertamanya di penjara, dia tidak pernah melakukan pemeriksaan apa pun kecuali menjelang kelahiran bayinya.
Berbeda dengan Askelan, dia pernah beberapa kali melakukan pemeriksaan seperti itu dengan Haifa, yang ternyata wanita itu terbukti menipunya. Hati pria itu kini, begitu terluka, dia merasa hancur oleh perasaannya sendiri. Namun, dengan sekuat hati dia menutupinya.
Tidak, Lintani tidak boleh tahu sebab wanita itu akan membunuhnya sedangkan dia ingin hidup lebih lama, dan melakukan apa pun demi membuat wanita yang telah membuatnya jatuh cinta itu bahagia.
Askelan diam dan sikapnya menjadi sedikit berbeda sejak mereka keluar dari ruang periksa, hingga sampai di jalan pun demikian. Lintani tidak berani mengusik, karena dia sendiri takut jika Askelan menunjukkan kekecewaan padanya.
Sesampainya di depan rumah, Askelan menarik tubuh Lintani dalam pangkuannya. Itu keinginan yang sudah sejak tadi tertahan, dia ingin memeluk dan menunjukkan kasih sayang.
“Kau tidak marah?” tanya Lintani sambil memegangi kedua pipi Askelan dengan telapak tangannya.
Posisi Lintani kini lebih tinggi hingga dia sedikit menunduk saat memberikan tatapan lembut yang justru menyayat hati Askelan. Rasa sakit yang tidak akan diketahui oleh siapa pun kini seolah tengah mengucurkan darah.
“Marah karena apa?” tanya Askelan dengan suara bergetar membuat Lintani sedikit heran, sikap yang di luar dugaannya.
“Karena aku pernah punya anak.”
“Tidak ...” Bahkan pria itu berkata sambil memegang menciumi telapak tangan Lintani yang tadi di pipinya. Ciumannya terus naik sampai ke pangkal lengan, leher dan pipinya.
“Elan! Sudah! Ini geli!”
“Apa kau tidak suka?” Askelan berkata setelah menghentikan aksinya.
“Bukan begitu!”
“Kalau kau tidak suka, aku tidak akan melakukannya. Mulai sekarang, katakan padaku, apa yang kau suka dan apa yang tidak, agar aku tidak menyakitimu lagi!”
Lintani mencerna ucapan itu, dengan perasaan aneh—menyakitiku lagi? Apa maksudnya? Batin Lintani.
“Baiklah, aku akan bilang, nanti.”
“Aku mencintaimu, jadikan aku pelayanmu kalau kau mau dan kapan pun membutuhkan aku, bilang saja!”
“Apa itu harus?”
“Ya! Tapi, aku akan ke kantor sebentar ... Istirahatlah di kamar, aku akan segera pulang ....”
“Tidak usah terburu-buru!”
Sementara Jordan sudah keluar dan menunggu di dekat pintu mobil. Dia tidak langsung membukanya, karena tuannya tadi menutup tirai yang menghubungkan antara ruang depan dan belakang, menandakan dia masih ingin melakukan sesuatu dengan Lintani di mobilnya. Asisten itu menunggu dengan sabar, sampai Askelan membuka pintu mobilnya sendiri.
Saat pintu mobil terbuka dan hanya Lintani yang keluar dengan keadaan baik-baik saja, bahkan wajahnya lebih ceria, membuat Jordan bernapas lega.
“Antarkan istriku ke dalam, suruh Bibi untuk menemaninya!” kata Askelan sambil menekan tombol hingga pembatas dalam mobil kembali terbuka.
“Baik, Tuan!”
Jordan mengiringi Lintani sebentar kemudian dia sudah kembali ke mobil, dia terkejut melihat Askelan yang tampak begitu putus asa. Pria itu terlihat bersandar, memejamkan mata, sambil memegangi pelipisnya.
Jordan menjalankan mobil tanpa bertanya hendak ke mana tujuan Askelan. Dia tidak berani menanyakannya.
Sesekali Askelan meninju kursi di depannya dengan kuat, tapi, tidak ada suara apa pun yang terlontar dari bibirnya. Apa yang dia rasakan, hanya dia sendiri yang tahu. Sementara Jordan hanya menebak jika telah terjadi sesuatu di ruang periksa dokter rumah sakit tadi, hingga pria itu begitu marah.
__ADS_1
Marah pada siapa dia?
Jordan menghentikan mobil tanpa bicara, membuat Askelan membuka mata, sudah sejak tadi dia seperti orang yang tak bernyawa.
“Kenapa kau membawaku kemari?” Askelan bertanya sambil melihat area sekitar pemakaman di mana Elliyat di kuburkan.
Jordan hanya mengedikkan bahunya, dia hanya mengikuti kata hati, sebab apa yang dirasakan Askelan pasti berhubungan dengan masa lalu, dan masa lalunya pasti tidak lepas dari ibunya.
Meskipun begitu, Askelan tidak memarahinya, hingga pria itu turun, tanpa memakai kursi rodanya. Dia berjalan ke arah makam yang tidak jauh dari posisi mobilnya berhenti.
Sesampainya di pusara sang ibu, Askelan berlutut dan memukulkan tinjunya sekuat tenaga ke tanah kosong di sisinya. Dia menyesal kenapa tidak membaca berkas yang diberikan anak buahnya sejak lama. Awalnya dia merasa tidak perlu tahu lebih jauh, tapi, kini justru apa yang seharusnya di ketahui sejak awal, membuatnya terluka lebih dalam.
“Apa anak itu anakku, Bu? Dan aku membiarkan mereka terlantar di penjara sampai dia tiada?”
Askelan kembali memukulkan tinjunya. Dia terus membungkuk.
“Kau tahu, Bu? Aku mengatainya wanita ja Lang dan mengira dia seorang penghibur laki-laki hidung belang!”
“Bahkan, aku sempat salah menilai-mu yang telah memaksaku menikah dengan perempuan yang—“
Aaah!
Dia berteriak sambil kembali memukul tanah.
Ah! Iya ... dia memang keterlaluan sekali. Padahal Lintani tidak pernah menyentuh pria mana pun, selain dirinya sendiri. Itu artinya Lintani bukan wanita seperti yang dia nilai selama ini.
Bagaimana Askelan tidak terluka, bila memikirkan anaknya yang sudah tiada dan dia tidak tahu apa-apa. Ah, tidak ada yang bisa disalahkan selain dirinya sendiri.
Semua karena Dex. Askelan menyalahkan pria itu sepenuhnya. Saat kembali mengingat bagaimana dia memperlakukan Lintani dari awal pertemuan mereka di pondok, dan di pinggir jalan, di restoran, lalu, menikahi tapi tidak memberinya apa-apa hingga wanita itu harus bekerja.
Dia juga menyesali kejadian di pesta Harrad atau pun saat Lintani pulang tengah malam, dia pikir habis melayani puluhan laki-laki, dia tidak tahu jika saat itu keluarga Lux tengah menderanya hingga dia membutuhkan uang. Askelan menuduhnya akan berfoya-foya, tapi, kemudian di tahu kalau uang itu untuk diberikan pada Rauja.
“Ternyata dia benar seperti yang Ibu katakan, lalu, aku harus apa, Bu? Aku tidak kuat menatap matanya, bahkan dia terlalu murni untukku!”
Tiba-tiba Askelan merasa kematian Dex terlalu mudah. Seharusnya Jabie tidak perlu membunuhnya dari belakang, seharusnya dia menguliti pria itu hidup-hidup!
Askelan dengan cepat menoleh dan berdiri, menarik kerah Jordan dan membanting pria itu ke tanah.
“Kau ....! Kenapa kau tidak bilang kalau dia mengandung anakku!”
Buk!
Sebuah tinju melayang keras di tanah, tepat di sisi kepala Jordan. Askelan tahu ini bukan salah sahabatnya itu, tapi, dia butuh pelampiasan. Dia sendiri yang tidak membaca berkas itu dan di biarkan begitu saja.
“Ibuku juga. Kenapa kalian semua tidak bilang!” teriaknya dengan napas yang terengah menahan amarah.
Jordan diam bergeming dia pikir Askelan sangat penasaran, hingga akan membaca berkas dengan teliti, dan pasti tahu jika gadis itu pernah hamil serta melahirkan di penjara. Itu tempat yang mengerikan untuk mengandung dan melahirkan seorang anak.
“Tuan, sisakan energi Tuan untuk membahagiakan Nona. Anda harus cepat sembuh!”
Askelan menatap Jordan sambil berpikir. Lalu dia berdiri sambil meringis menahan pergelangan kakinya yang tiba-tiba terasa sakit. Dia segera duduk di kursi roda, sambil memegangi pelipisnya. Jordan ikut berdiri setelahnya.
“Hubungi Jemal, aku akan ke sana sekarang, setelah itu pulang!”
“Baik, Tuan!”
Jordan mendorong kursi roda menuju mobil, lalu Askelan masuk sendiri sementara Jordan menyimpan kursi di bagasi.
Mereka pergi ke rumah seorang dokter yang sudah tua di sebuah tempat, yang terkenal dengan pusat pengobatan tradisionalnya.
Setelah mobil berhenti di depan sebuah rumah antik yang cukup besar, Askelan masuk sendiri dengan tidak sabar tanpa kursi roda.
Pria tua dengan kaca mata kecil bertengger di hidungnya, menatap Askelan dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu berdecak kesal.
CK!
__ADS_1
“Kau? Sudah kubilang jangan memaksakan diri! Aku tidak mau membantumu kalau harus memulai pengobatan dari awal!”
Askelan diam, dia berbaring di sebuah dipan kayu jati yang dilengkapi dengan kasur dari bulu angsa yang lembut.
Pria itu, Jemal. Dialah yang selama ini merawat Askelan, seorang dokter ahli tulang yang sudah pensiun tapi, kemampuannya tidak diragukan lagi. Dia hanya berdiri sejak kedatangan Askelan bahkan, mengabaikan Jordan yang menyusul sambil membawa kursi roda.
“Siapa yang menyuruhmu datang dan tidur di sana? Kau tidak perlu ke mari lagi, kalau kau menurut padaku, maka bulan depan kau sudah bisa berjalan lagi dengan normal!”
“Aku ke makam Ibuku tadi, jadi aku harus berjalan ke sana, kan? Tidak ada jalan untuk kursi roda ke sana!”
“Alasan saja!”
Jemal akhirnya mendekat dan memeriksa pergelangan kaki Askelan. Luka bekas peluru sudah pulih dengan cepat, bahkan tulang mata kakinya pun mendekati sempurna.
“Kau berlutut terlalu lama?”
“Ya!”
Jemal sepertinya tidak bisa menyalahkan seorang anak yang merindukan ibunya sampai berlutut. Dia pun maklum, lalu mengolesi kulit di bagian mata kaki sebelah kiri Askelan, dengan minyak hangat.
“Aku akan membungkusnya, agar syarafnya tenang dan tidak terasa sakit lagi, kau bisa beristirahat dengan nyenyak nanti malam,” ujar Jemal sambil mengambil kain kasa dan membalut kaki Askelan.
“Baiklah, tidak masalah!”
Tiba-tiba Jemal melihat buku-buku tangan Askelan yang bengkak dan berdarah.
“Kenapa tanganmu? Apa kau memukuli batu nisan Ibumu?”
Askelan melihat tangannya, bahkan dia tidak merasakan sakit di bagian itu.
“Ini tidak sakit, dan aku tidak seperti yang kau katakan!”
“Lalu, apa ini? Kau tidak bisa membohongiku sampai kau meninju tanah berulang kali ... Kalau kau membenci seseorang dan tidak dapat melakukan pembalasan padanya, maka doakanlah dia agar hidupnya jadi lebih baik, agar kau juga mengalami kebaikan dikemudian hari.” Pria itu berkata sambil mengolesi tangan Askelan, dengan minyak dari perut lebah yang di campur beberapa rempah.
Mendengar nasehat Jemal, Askelan tersenyum kecut, dia tidak sudi mendoakan orang yang sudah mati. Dia ingin Dex atau siapa pun yang terlibat penjebakan di bukit itu, hidup kembali agar bisa membalas.
Bukankah jauh lebih baik di berharap untuk Lintani agar mereka bahagia selamanya? Tiba-tiba Askelan tersenyum tipis, dia segera bangkit dan duduk di kursi rodanya.
“Ayo! Pulang, Jode!” perintahnya cepat.
“Baik, Tuan!” Jordan berkata sambil bersiap di belakang kursi, saat itu Jemal mendekat.
“Kau tahu, apa yang membuatnya seperti itu? Apa karena seorang wanita?” tanyanya sambil menunjuk Askelan dengan dagunya.
“Mungkin!”
“Aku harap bukan artis itu, aku tidak menyukainya!”
“Aku juga, Paman!”
“Harrad tidak akan bermasa depan kalau memiliki wanita penjaja cinta, dalam keluarga mereka!” kata Jemal cukup keras, dia berniat menyindir Askelan, agar mau melepaskan Haifa.
“Aku jamin tidak ada wanita seperti itu dalam keluarga Harrad, Paman!” sahut Askelan tanpa menoleh.
“Itu bagus! Kalau begitu, sampaikan salam pada orang yang bisa membuatmu tersenyum seperti itu!” jawab Jemal.
Saat mereka berbincang, Askelan sudah sampai di mobilnya, dia masuk setelah Jordan membukakan pintu.
Askelan mengangguk, lalu berkata, “Namanya Lin, Paman. Itu nama istriku .... dia ratu keluarga Harrad!”
Ucapan Askelan membuat Jemal dan Jordan yang baru saja menutup bagasi, saling berpandangan.
‘’Sejak kapan keluarga Harrad memiliki seorang ratu?” gumam mereka secara bersamaan.
Bersambung
__ADS_1
❤️ Jangan Lupa Like dan komennya 🙏❤️