
Keraguan Lintani
Lintani berada dalam dilema, dia punya keinginan besar yang muncul dalam otaknya secara tiba-tiba, karena melihat keadaan Rasevan membuatnya ingin membangun tempat itu. Seandainya diperkenankan, dia ingin membuat sebuah monumen untuk keluarganya, menamakan pulau itu dengan nama Viana, dan membuat sebuah taman keluarga. Meskipun demikian, dia tetap tidak mengabaikan keramahan lingkungan dengan menanam banyak pohon besar sebagai ganti semak belukar dan juga buah-buahan.
Lintani tahu bahwa laki-laki yang ada di sampingnya siap untuk melindungi dan memberikan apa pun yang dia inginkan, entah karena apa. Dia juga belum yakin apakah Askelan sungguh-sungguh mencintainya.
Oleh karena itu, dia masih ragu untuk meminta sesuatu sebesar itu. Membangun sebuah kota atau sebuah taman membutuhkan biaya yang tidak sedikit pasti tidak cukup hanya ratusan dolar. Dia tentu tidak akan membuat Askelan bangkrut hanya karena keinginan yang tidak masuk akal.
“Kenapa kau bertanya begitu?” Askelan terlihat aneh dengan pertanyaan istrinya, dia menangkap sebuah keraguan pada nada bicaranya.
“Ya, aku hanya bertanya saja, apa kau akan membenciku kalau aku menghabiskan uangmu?”
“Tidak ...” Askelan berkata sambil merangkul bahu istrinya, hingga lebih mendekat, “Aku sudah terbiasa hidup susah bahkan, aku pernah tidak makan selama beberapa hari karena tidak memiliki uang ... jadi aku tidak akan marah padamu hanya karena uangku habis, aku bisa dengan mudah mencarinya lagi!”
Lintani memundurkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Askelan lebih jelas, laki-laki itu pun membalas tatapannya hingga kedua mata mereka saling beradu penuh dengan kelembutan.
“Kenapa? Apa kau tidak percaya padaku kalau aku pernah mengalami itu?” tanya Askelan lagi, sambil mencubit kecil hidung Lintani dan gadis itu pun mengangguk dengan cepat.
“Apa ibuku tidak pernah bercerita apa pun tentang masa lalunya padamu?”
“Tidak!”
Lintani berkata setelah menggelengkan kepalanya dia mencoba mengingat-ingat saat di penjara, Eliat memang tidak pernah menceritakan tentang sepahit apa masa lalunya. Wanita itu lebih banyak menceritakan tentang bagaimana perjuangan anaknya untuk, sampai berada di puncak pimpinan keluarga Harrad. Hanya sesekali saja Elliyat bercerita bahwa, dia dulu pernah menjadi pengasuh anak terlantar di sebuah rumah singgah yang juga menjadi rumahnya dan putranya itu.
Bisa saja sebagian orang melupakan masa lalunya karena terlalu pahit baginya. Demikian pula dengan Lintani yang sudah melupakan beberapa kisah hidupnya di masa lalu, karena akan menghambat kebahagiaannya.
Matahari sudah terbenam, saat Askelan akhirnya menceritakan juga tentang bagaimana masa lalunya dahulu, sebelum dia mendapatkan surat warisan dan menjadi pimpinan Harrad Tower. Tentunya dia melewatkan cerita bagaimana dirinya dijebak sehari sebelum penobatan menjadi kepala pimpinan perusahaan itu, di mana dia bisa bertemu dengan Lintani tanpa disengaja.
“Aku merasa senasib denganmu!” kata Lintani seraya menempelkan kepalanya di dada Askelan, penderitaan kehidupannya di masa lalu seolah tidak jauh beda dengan apa yang dirasakan suaminya.
__ADS_1
“Tidak sama, sepertinya aku lebih beruntung darimu, aku memang menjalani semua itu, tapi, aku menemukan beberapa teman yang senasib dan merekalah yang menjadi sahabatku sampai sekarang, kau tahu mereka semua memiliki musuh yang sama denganmu!”
“Mereka semua, apa kau tidak?”
“Ya, ya, aku juga memiliki musuh yang sama, tapi aku akan mewakilkannya padamu!”
“Kau aneh, apa dendam seseorang bisa diwakilkan? Bukannya kau bilang, akan melakukannya untukku?”
“Jadi, kau setuju? Cukup aku saja yang melakukannya dan kau hanya perlu menjaga bayimu di rumah!”
Tiba-tiba Lintani merasa terjebak dengan ucapannya sendiri, laki-laki di depannya terlalu pintar, untuk membuatnya tidak ikut campur urusan dendam mereka. Hal itu membuat Lintani tidak bisa ke mana-mana sesuai keinginan Askelan, tanpa perlu memaksa.
Lintani tertegun sejenak tapi, kemudian berkata, “Ya, ya, terserah! Tapi ingat kau harus melaporkan apa pun soal pria itu padaku!”
“Haish ... kau istriku bukan bosku!”
Askelan menatap dengan wajah ditekuk dan tidak berdaya, dia sendiri yang berjanji akan mengabulkan semua permintaan Lintani sesuai kesanggupannya, hingga dia hanya bisa mengangguk dan menepuk lembut kepala istrinya.
“Baiklah, Tuan Putri, sekarang istirahatlah kau sudah terlalu banyak bekerja hari ini,” kata Askelan sambil berdiri, kemudian meraih tangan Lintani dan membantunya bangkit dari duduk lalu, berjalan secara perlahan menuju tenda yang sudah disiapkan oleh anak buah mereka.
Beberapa tenda berdiri, di bagian tanah yang cukup datar dan tidak terlalu banyak bebatuan. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan malam di danau yang luasnya mirip selat di antara dua pulau. Suasana perairan terlihat begitu epik dan terkesan klasik, diterangi cahaya bulan separuh di atas kepala.
Semua orang yang ada di sana, menikmati makan malam yang dibuat oleh Jordan dan Greg, mereka membakar daging unggas dan juga ikan sirip merah, yang ditangkap oleh dua orang anak buah yang menjaga kapal. Mereka menikmati sambil mengelilingi api unggun, tanpa mengendurkan kewaspadaan.
Setelah kenyang Lintani di antar menuju tenda oleh Askelan, dia menemaninya sebentar sambil berbaring di sisinya, hanya untuk memastikan istrinya itu tidur. Dia mencium dan membelai pipi Lintani yang sudah memejamkan mata, menyelimutinya dengan benar dan kembali keluar untuk menemui beberapa sahabatnya.
Mereka berbicara dengan hati-hati, dengan mengelilingi api unggun melaporkan perkembangan yang terjadi di kota dan juga di sekitar danau. Pembicaraan mereka sampai pada sebuah kesimpulan jika sepertinya taktik mereka berhasil, jika Marka malam ini sudah bergerak kembali ke markasnya.
Mereka terus dalam keadaan seperti itu hingga larut malam, sesekali mengelilingi tenda tempat Lintani tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
“Jadi, dia sudah bergerak secepat ini?” tanya pria itu sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Dia bersandar sambil menengadahkan wajahnya ke langit-langit ruangan kerjanya.
“Benar, Bos!” kata salah satu dari tiga orang berbadan tegap dan, seorang berkaca mata yang kurus, dia terus menatap layar ponselnya.
“Apa tidak ada pergerakan lagi?” tanya pria itu.
“Tidak!” kata pria berkacamata dan bertubuh kurus, sambil menunjukkan layar ponselnya.
Dari ponsel itu terlihat layar yang terus bergerak memperlihatkan kerumunan kecil yang, tengah menikmati makan malam di sekitar api unggun.
“Baiklah! Tunggu sampai besok, apa mereka akan pulang atau menuju bukit Shaw. Kalau mereka menuju ke sana, hancurkan mereka!”
“Baik, Bos!” kata ketiga orang itu lalu, segera pergi meninggalkan ruangan yang cukup mewah dan Marka seorang diri.
Marka, seorang pria berkulit agak kemerahan, lebih dari setengah baya yaitu hampir 60 tahun, memiliki banyak armada dan kekuatan di bawah tanah. Dia melakukan bisnis jual beli senjata dan barang haram lainnya.
Kali ini, dia merasa memiliki musuh baru yang cukup kuat. Selama beberapa waktu dia terlihat diam tak melakukan banyak pergerakan karena sedang melakukan sebuah perhitungan. Dia tidak menyangka, apabila Askelan bisa menggunakan uang dan keuntungan perusahaan pribadinya dengan baik, membangun jaringan pasukan secara tersembunyi, dan semua yang terlibat adalah orang yang dulu pernah berurusan dengannya.
Pria tua itu juga tidak menyangka jika diam-diam, Askelan memiliki sebuah armada baik laut maupun udara. Dia juga menyelidiki pemuda yang kini menjadi suami dari wanita yang dicarinya, ternyata cukup licik.
Kelicikan pria itu adalah dengan menyembunyikan semua armada di belakang nama beberapa perusahaan pribadinya. Bahkan, yang lebih mencengangkan lagi, Askelan adalah anak dari wanita yang pernah dicintainya sepenuh hati.
Namun, Elliyat kini sudah tiada, awalnya, dia menjadi kasihan dengan anak wanita itu, tapi, setelah mengetahui siapa Askelan yang justru menjadi musuhnya, dia pun berubah pikiran.
Bersambung
❤️Jangan lupa like dan komentarnya🙏❤️
__ADS_1