
Membuka Ikat Pinggang
Apa dia tidak kedinginan, kenapa tidak pakai baju? Pikir Lintani, padahal suhu ruang itu dingin, dengan AC yang menyala selama 24 jam penuh. Gadis itu duduk di sofa sambil menyalakan televisi.
Tak lama Jordan datang mengetuk pintu dan Lintani membukakan pintu untuknya sambil tersenyum gembira karena makanannya datang. Jadi, dia pikir semua itu benar, jika Askelan adalah orang yang perhatian dan memberinya makan walaupun, tidak ada dalam kesepakatan sebelumnya.
“Nona, apa kau menungguku?” tanya Jordan seraya melangkah masuk dan, menyimpan kotak makanan pesanan Askelan di meja.
Jordan tahu jika tuannya memesan makanan itu untuk Lintani yang kelaparan. Dia tidak tahu bagaimana kejadiannya sampai Si Tuan angkuh sampai berbaik hati membelikan gadis pilihan ibunya itu makanan. Sebab sebelumnya Askelan tidak pernah berbaik hati pada orang lain kecuali, yang sudah ada dalam kelepakan atau perjanjian sebelumnya.
“Tentu saja,” sahut Lintani terdengar ruang gembira suaranya.
Setelah itu mereka berdua duduk berhadapan lalu Jordan dengan senang hati membukakan kotak makanan itu dan memberikan sendok serta sumpit padanya.
“Apa ini?” kata Lintani.
“Aku membeli makanan Eropa, tapi ini ada makanan dinsum khas China. Jangan bilang Anda tidak bisa memakainya!”
“Aku bisa! Coba lihat!”
“Anda luar biasa, Nona.”
“Jode, jangan sungkan padaku, aku tidak suka di panggil Nona.”
“Ah, sebenarnya tidak masalah, tapi ...”
__ADS_1
“Panggil saja aku Lin, seperti keluargaku memanggilku.”
“Apakah keluarga Anda itu keluarga Lux?”
“Bukan, tapi mereka keluarga angkatku.”
“Baiklaj, Lin. Silakan makan! Aku kira—“ tiba-tiba ucapan Jordan terjeda karena Askelan mendorongnya ke samping dan kini pria itu duduk di hadapan Lintani, dia mengambil makanan dari kotak yang sama lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
Apakah dia cemburu karena obrolan hangat dan akrab yang didengar antara aku dan Nona, Lin? Batin Jordan.
Bisa juga karena senyum dan tawa Lintani yang tercipta saat pembicaraan mereka, sebab dia duduk di tempat yang bisa melihat apa pun yang dilakukan mereka. Sementara gadis itu tampak begitu riang duduk dan bercanda dengan si asisten dan bukan dengannya.
Jordan tampak terkesima dengan apa yang dilakukan Askelan, itu sikap yang belum pernah dilihatnya sejak delapan tahun bersamanya. Makan bersama satu piring dengan ibunya saja tidak.
Namun yang dia lihat kali ini berbeda, apakah dunianya sudah terbalik. Dia tahu seorang seperti Askelan tidak boleh menjadi lunak dan baik karena kalau hal itu terjadi, orang yang membencinya akan memanfaatkan kelemahannya. Apalagi musuhnya, jangan sampai pihak dari pimpinan Makra atau keluarga Dex Barbase mengetahui tentang Lintani. Keberadaan Lintani sebagai istri Askelan tidak boleh diketahui.
Pria itu adalah Mork, yang sudah menganiaya seseorang hanya karena tertangkap basah mencuri satu pak roti gandum dari tokonya, padahal harga roti itu hanya 3 dolar, harga yang sangat murah untuk makan. Dan orang yang disiksa itu adalah Jabie—adiknya yang kelaparan, karena mereka memang anak yatim piatu yang miskin.
Waktu itu Jordan tengah pergi bekerja dan bis yang biasa menjemput tidak lewat hingga dia pulang terlambat. Jabie yang cacat kakinya itu terpaksa mencari makan ke luar rumah dan mencuri roti, namun Mork si pemilik toko menghina dan menyiksanya sampai kedua kakinya tidak bisa berjalan lagi. Karena penyiksaan Mork itu adiknya hanya bisa bertahan di atas kursi roda.
Tidak hanya itu ternyata Mork memang orang yang kejam, dia kepala bandit keluarga Makra hingga suatu hari tanpa sengaja dia bertemu Askelan yang tengah membawa senjata dan Jordan mengikutinya, tidak dia duga ternyata yang diincar Askelan adalah orang yang sama.
“Bolehkah saya yang melakukannya, Tuan?” kata Jordan setelah memperkenalkan diri dan mengatakan jika Mork adalah orang yang dia benci karena membuat hidup sang adik lebih sengsara.
“Kau bisa menembak?”
__ADS_1
“Saya lulus wajib militer dengan prestasi terbaik. Tentu saja saya bisa!”
Askelan mengizinkannya. Jordan pun senang karena memiliki kesempatan yang, tanpa bantuannya, maka, dia tidak akan bisa melakukan balas dendam. Dia menumpahkan sembilan peluru satu persatu sebagai siksaan pada Mork di sekujur tubuhnya hingga peluru terakhir yang di tembakkan tepat dijantung, membuat tubuh yang sudah bersimbah darah itu tak bergerak lagi.
Sejak saat itu mereka menjadi akrab dan Jordan mendedikasikan dirinya menjadi asisten pribadi Askelan yang setia. Jordan dan adiknya kini sudah hidup dengan nyaman dan Jabie bahkan sudah bebas ke sana kemari berkat sebuah operasi rekayasa tulang kering di kakinya dengan biaya dari Askelan seluruhnya.
“Hai!” Tiba-tiba Lintani mencolek bahu Jordan dan mengagetkannya, dia tengah mengingat masa lalu, di mana dia mulai sedikit demi sedikit mengenali karakter Askelan Harrad, majikannya.
Lintani kembali tertawa dengan ekspresi lucu dan menggemaskan. Jordan bersumpah jika Askelan tidak tertarik pada gadis semanis dia maka tuannya itu memang benar-benar memiliki kelainan!
“Kau melamun, Jode! Apa kau punya pacar?” tanya Lintani membuat Jordan tersedak ludahnya sendiri. Lalu, dia menggeleng cepat, tidak mungkin punya kesempatan seperti itu sedangkan Askelan bisa sewaktu-waktu memintanya datang dan melakukan sebuah misi penting.
Pertanyaan Lintani dan senyum serta tawa yang tidak ditujukan kepada Askelan, membuat pria itu cemberut.
“Jangan bertanya masalah pribadi di sini!” katanya sambil memasukkan kembali makanan dari piring Lintani ke mulutnya.
Lintani membelalakkan matanya karena itu artinya ada peraturan lain yang harus dia turuti di rumah ini? Ah yang benar saja!
‘Sualan kau! Persetan dengan aturanmu, aku tidak perduli, ini tidak ada dalam kesepakatan awal, kan?’ Lintani mengumpat dalam hati.
“Itu urusan pribadiku! Kita sudah sepakat bukan jangan mencampuri urusan pribadi masing-masing, aku Cuma bertanya, dan itu urusan pribadiku!” pekik Lintani, sambil mengunyah santai bahkan tidak melirik sedikit pun pada Askelan hingga dia tidak tahu ekspresi seperti apa yang terdapat di wajahnya.
“Jode, pulanglah!” kata Askelan sambil berdiri seraya melepas gesper yang membelit pinggangnya ramping itu.
Jordan tidak berani membantah, dia pun pergi begitu saja tanpa permisi, dalam hatinya berharap jika Lintani akan baik-baik saja sampai esok hari.
__ADS_1
“Apa yang akan kau lakukan?” Lintani bertanya dengan panik, wajahnya pucat pasi saat ikat pinggang sudah terlepas sempurna dan tergantung di tangan Askelan
Bersambung