Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 33. Kartu Emas Di Bawah Pintu


__ADS_3

Kartu Emas Di Bawah Pintu


 


“Lin! Tunggu!” teriak Haifa saat sudah sampai di sebuah lorong menuju toilet wanita. Di sana sepi, sebab tidak ada pengunjung lain karena hotel telah di blokir untuk sementara.


Lintani menoleh sebentar, melihat Haifa ada di belakangnya, dia mengabaikan dan tetap meneruskan langkah menuju toilet. Dia pergi ke wastafel dan mulai membersihkan pakaian yang terkena noda, walaupun nanti akan basah, setidaknya pakaiannya tidak kotor. Namun, setelah dia selesai dan baru saja keluar, dia di sambut dengan guyuran air kotor yang mengenai kepala dan bajunya kembali.


“Kau!” kata Lintani kesal dan pemandangan memilukan itu membuat Haifa—wanita yang sudah menyiram air cuka ke pakaian itu bahagia. Dia senang dengan penderitaan saudara angkat yang dinilainya lemah serta tak memiliki kekuatan apa-apa.


Plak!


Tiba-tiba Lintani menampar pipinya dan seketika tawa renyah itu pun reda.


“Kau!” suara Haifa kini tertahan karena menahan geram.


“Ya! Aku!” Kata Lintani dengan tegas. “Apa kau pikir aku tidak bisa melawanmu? Aku tidak munafik seperti dirimu, yang akan terlihat sangat baik hanya di depan orang lain!”


“Sialan! Berani menamparku?” kata Haifa hendak melayangkan telapak tangan ke arah wajah Lintani, tapi, saat itu juga Lintani menahannya.


Hap!


“Jangan ulangi perbuatanmu kalau tidak ingin aku berbuat lebih culas darimu!”


Sesaat kemudian, Lintani melepaskan kembali pegangan tangannya dari pergelangan Haifa, tapi, sentakan ringan saja membuat wanita itu terjatuh, dia tersungkur lemas dan menangis.


“Apa salahku padamu, Lin!” katanya memelas membuat Lintani mengerutkan alisnya, lalu, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah tahu jika trik seperti ini akan Haifa lakukan jika ada orang lain bersama mereka.

__ADS_1


“Kau di sini, rupanya?” kata sebuah suara berat yang akhir-akhir ini sangat akrab di telinga Lintani. Ya, siapa lagi dia kalau bukan Askelan.


Askelan mendekat dan melayangkan tatapan membara ke arah Lintani, sementara dia berlutut untuk meraih tubuh Haifa dan membantunya berdiri. Setelah itu tangannya melingkar di pinggang ramping Haifa.


“Ayo! Aku akan mengantarmu pulang!” katanya sambil berbalik melangkah pergi meninggalkan Lintani.


“Askel Sayang! Apakah kamu percaya kalau aku tidak sengaja telah membasahi baju, Lin tetapi, dia membalas dengan menampar dan mendorongku, apakah ini setimpal?”


Pria pria itu berhenti melangkah dan menoleh pada istri terpaksanya lalu, dia berkata, “Aku belum selesai urusan denganmu!”


Setelah berkata begitu, dua orang itu pun benar-benar pergi.


“Silakan saja, aku akan menunggu kapan pun kau akan membalasku! Sialan!” kata Lintani, tapi, tentu saja ucapan itu hanya dalam hati.


Pada akhirnya semua mempelai wanita akan memakai pakaian pengantinnya, sampai dia tiba di rumah. Begitu juga Lintani, yang mengganti pakaian basahnya dengan baju rancangan Ibu mertuanya, karena tidak ada pilihan lain kecuali, memakai baju pengantin itu lagi.


Mo dan sopir mengantarkan  Lintani kembali ke apartemen dengan senang hati, tetapi, setelah kedua orang itu pergi, gadis itu juga meninggalkan rumahnya, setelah mengganti pakaian.


Lintani melakukan tes secara manual di kamar mandi, dia menggunakan dua alat tes itu dan, keduanya menunjukkan hasil yang sama.


“Aku tidak hamil?” gumamnya lirih pada diri sendiri, sambil melihat ke arah alat tes yang menunjukkan satu garis.


Dia beranggapan bahwa pria yang sudah bersamanya di mobil itu adalah orang yang sama dengan laki-laki di pondok kayu. Namun, nyatanya dari cara bercinta yang sama itu tidak selalu menghasilkan hal yang sama pula.


Sungguh dia seorang wanita yang tidak pernah merasakan percintaan dengan banyak pria, tentu saja yang dilakukan pria itu padanya, terpahat jelas dalam ingatan seperti terpahatnya tulisan pada batu dan kaca.


“Ah! Bodohnya aku, bukankah pria itu sudah tiada? Bagaimana mungkin dia menjadi hantu dan bisa menggoyangkan mobil disiang hari?” pekik Lintani di kamar sambil merebahkan diri.

__ADS_1


Dia menghabiskan waktu dengan mendesain seperti yang diajarkan Elliyat padanya dan besok dia akan memperlihatkan hasil karyanya itu. Itu adalah tanda bahwa latihannya selama ini berhasil.


Setelah sekian lama dia menggambar, lama kelamaan dia tertidur. Walaupun, dalam hati dia penasaran dengan apa yang dikatakan Askelan sebagai urusan yang belum selesai, dia tidak menunggu pria itu pulang malam ini.


Lintani terbangun di tengah malam dalam keadaan lapar, dia pergi keluar setelah mencuci mukanya dan mengganti gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya dengan piyama. Entah mengapa baju itu sangat nyaman digunakan.


Gadis itu makan malam yang kemalaman seorang diri karena dia pikir Askelan belum pulang. Terbukti dari pintu kamar pribadinya yang selalu tertutup. Tampaknya kamar itu sangat spesial daun pintunya saja terlihat berbeda.


Setelah selesai makan, Lintani kembali melanjutkan melukis sambil mengamati gaun pengantin buatan Elliyat, dia pikir pasti ada rahasia dari baju itu hingga begitu nyaman digunakan.


Sesekali dia membandingkan dengan pakaian perancang yang ada di lemari kamarnya, ada sedikit perbedaan di sana yaitu pada jahitan dan garis lekuk bagian bahu serta, punggung, inilah mungkin yang membuat baju Elliyat lebih nyaman di pakai dari pada perancang lainnya.


 


                 ******


Keesokan harinya, saat Lintani bangun, dia baru tersadar jika tertidur di meja setelah menghasilkan beberapa gambar bagus. Dia segera membersihkan diri, dan berniat menemui ibunya seperti biasa, dengan membawa serta hasil rancangannya.


Dia menuju dapur memanaskan beberapa makanan sisa, dari acara pernikahannya kemarin terlebih dahulu. Lalu, menikmati makanan yang memang masih bisa dimakan. Dia harus sarapan sebelum melakukan aktivitas, walaupun,  dirinya tidak hamil dia tetap butuh asupan nutrisi. Namun, dia tidak perlu khawatir karena tidak ada janin dalam rahimnya hingga jika tidak makan pun, tidak apa-apa.


Lintani hendak keluar saat dia melihat sebuah kartu debit berwarna emas ada di lantai, tepat di bawah pintu apartemen mereka. Dia berpikir itu mungkin milik Askelan yang tertinggal atau terjatuh karena terburu-buru.


Gadis itu menolak balikkan kartu debit, dia pikir Askelan tidak pulang semalam karena sibuk memadu cinta dengan Haifa kekasihnya. Dia menyeringai dan mengangguk sambil berpikir “Ya! Tentu saja mereka masih bersama sekarang! Tapi, kenapa kartu ini bisa tertinggal, padahal aku tidak melihat apa pun semalam?”


Lintani menoleh di saat bersamaan angin seolah menunjukkan jika pintu kamar Askelan masih terbuka, itu artinya pemiliknya masih ada di sana.


“Tuan Askel! Apa kau masih di dalam?”

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2