
Di Tepi Pantai Loyola Yolola1
Lintani tertawa kecil sambil menutup mulutnya, dia berpikir apakah mungkin sebuah ciuman, bisa membuat proses pembuatan perahu bisa berjalan lebih cepat.
“Apa kamu tidak kembali ke kantor?” tanya Lintani begitu berhenti tertawa.
“Apa kau mengusirku?” Askelan balik bertanya. Di saat itu pula Lintani mendekatkan wajahnya dan mencium bibir pria itu sekilas. Tentu saja ciumannya tidak cukup, oleh karena itu, Askelan membopong istrinya ke kamar.
“Mau apa membawaku ke kamar?” Tanya Lintani sambil memberontak, kedua kakinya yang menjuntai itu bergerak-gerak ingin dilepaskan dari rangkuman tangan kekar Askelan pada lipatan lututnya.
“Jangan bergerak kalau tidak ingin kita jatuh bersama ...!” kata Askelan dengan lembut, membuat Lintani cemberut, dia menempelkan sidik jari ke pegangan pintu tanpa di minta. Lalu, Askelan menurunkannya setelah mereka berada di dalam. Berdiri saling berhadapan.
Askelan merengkuh pinggang Lintani yang langsung membelitkan kedua tangan dileher suaminya. Mereka menautkan bibir memberi kesenangan pada diri mereka masing-masing. Sebentar berhenti dan meneruskan lagi. Sampai mereka merasa harus memberi oksigen pada paru-parunya kembali.
“Kau membohongiku, kan? Mana mungkin perahu bisa selesai dengan menciummu?”
“Bisa, aku akan menyuruh mereka segera menyelesaikannya!”
“Kau hanya menggoda, tapi, aku tidak akan tergoda.”
“Baiklah, aku tidak akan memaksa kalau kau tidak mau.” Askelan berkata sambil melepaskan pelukannya.
“Elan ....”
“Ya!”
“Apa kau marah, karena kita tidak melakukannya?”
Askelan hanya menatap Lintani dengan tatapan penuh kasih, sambil membasahi bibirnya dan tersenyum.
“Maaf, aku hanya khawatir kita mengganggunya.” Lintani berkata sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Kali ini Askelan yang tertawa, dia mengusap pipi Lintani dan menyelipkan anak rambut ke balik telinga.
“Kita sudah pernah melakukannya, waktu itu, padahal kau sudah hamil, apa kau lupa?”
__ADS_1
“Ah! Itu karena aku belum tahu kalau aku hamil!”
“Buktinya tidak masalah, kan. Dia tidak akan marah kalau aku melihatnya sebentar di dalam sana!” Askelan berkata sambil berlutut dan mencium perut Lintani.
“Aku, hanya .... Ah! Maaf ... aku hanya takut setelah tahu kalau aku hamil.”
“Tidak perlu minta maaf, kau ratunya dan aku pelayanmu. Jadi, aku tidak akan meminta kecuali kau menginginkan tubuhku!”
Lintani kini diam dan hanya menatap Askelan yang kembali berdiri, dengan tatapan mata yang rumit.
“Aku tidak ingin seperti Haifa, dia kehilangan bayinya padahal, aku tidak melakukan apa-apa, mungkin karena dia sering melakukan hal itu, hingga mudah sekali keguguran!”
“Hmm ... apa benar begitu? Tapi, aku tahu kau bukan penyebabnya!” Askelan berkata sambil mengingat laporan pengawal, bahwa Haifa datang mengganggunya di toilet mal, membuatnya geram.
“Kau tahu?” Lintani tak percaya.
“Ya, sedikit.” Askelan bersuara datar.
Lintani berpikir, jika mungkin Haifa sering melakukan hubungan badan dengan Askelan dan juga pria lainnya, hingga dia begitu takut melakukan hubungan itu, karena tidak ingin keguguran.
“Jadi, kita pergi sekarang? Aku sudah menciummu, kan?”
Lintani menyusul dan berkata, “Melihat perahuku!”
“Oh, oke Tuan Putri.” Askelan berdiri sambil melingkarkan tangannya ke pinggul Lintani dan berjalan ke ruang ganti, mengambil topi bundar yang lebar dan kaca mata hitam untuk Lintani.
“Pakai ini, di sana panas!” kata Askelan sambil memakaikan semua perlengkapan itu pada Lintani dan mengecup kedua pipinya.
“Ayo!”
Mereka berdua berjalan beriringan menuju mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Jordan. Pria itu menunggu sejak tadi, dan saat melihat pakaian Lintani, dia tahu akan ke mana tujuan kepergian mereka kali ini.
“Jode, apa kau pernah pergi ke Rasevan?” Lintani bertanya pada Jordan yang duduk di belakang kemudi. Dia melirik istri tuannya dari kaca spion depan, tanpa sengaja dia pun melihat Askelan yang meliriknya juga dengan raut wajah terlihat keruh, sepertinya tidak suka istrinya mengobrol dengan laki-laki lain.
“Belum, Nona,” jawabnya tegas. Dia melihat danau yang indah itu dari pantauan kamera yang dikirim melalui drone saja.
“Kau harus ikut aku nanti karena kau pasti akan mengawal Tuan Askel, kan?”
“Tentu Nona!”
__ADS_1
“Pulau tempat kelahiranku itu sangat indah, di tengah-tengah pulau, ada sebuah mata air yang sejuk dan menjadi salah satu sumber air kami, tempat itu diberi nama Lintani, dari sanalah namaku berasal. Karena saat Ibuku hamil, dia sering pergi di sana bersama Ayah!”
“Oh, Ya! Saya pasti akan melihatnya Nona!”
“Aku ingin sekali melihat makam Ayahku nanti, aku menanam pohon apel di sana, mungkin sekarang sudah tumbuh besar!”
“Saya turut sedih dengan Ayah Nona. Pasti kau mirip sekali dengan Ayah dan Ibu Nona!”
“Banyak orang bilang aku mirip Ibu! Aku punya foto keluarga yang besar di rumah, kau pasti akan tahu Ayahku!”
Jordan merasa pilu mendengar cerita Lintani, kalau saja gadis itu tahu tempat kelahirannya sudah hancur lebur, pasti hatinya akan jauh lebih hancur.
Baik Jordan maupun Askelan, tidak mungkin pergi ke Rasevan seorang diri, tanpa keperluan yang jelas, karena membutuhkan waktu sehari penuh, hingga sampai di seberang pulau. Mereka memilih menggunakan Armada laut, selain untuk mengenang masa kecil Lintani, berbulan madu dan menikmati suasana danau, mereka juga akan menyelidiki sesuatu.
Apabila mereka datang dengan helikopter, maka akan merusaknya. Sedangkan Lintani tidak mungkin turun dengan menggunakan tangga tali. Jadi, menggunakan kapal adalah cara terbaik untuk tidak menarik perhatian.
Saat mengetahui masa lalu Lintani, masih banyak yang menjadi teka-teki, apa maksud Viana sebenarnya dengan menitipkan Lintani pada Lux.
Mengapa Syahrain mengasingkan diri ke pulau terpencil itu, dan menikah dengan penduduk setempat, hingga memiliki anak dan cucu. Kalau memang benar dia bagian dari keluarga Shaw, tapi Syahrain tidak memiliki nama belakang. Semua anak dan cucunya pun tidak ada yang nama belakangnya sama dengan mereka.
Saat mobil sudah berhenti di depan sebuah pabrik pembuatan furnitur, Askelan keluar dari balik pintu yang sudah dibuka oleh Jordan dan Lintani keluar setelahnya, dari pintu yang sama. Kini, sepasang suami istri itu berdiri sambil berpegangan tangan, melihat pada pintu Pabrik yang di bangun dekat dengan pelabuhan dan pantai Loyola.
Lintani diajak berkeliling dan melihat kapalnya yang hampir selesai. Gadis itu melihatnya, dengan sorot mata yang berbinar-binar, kaarah sebuah kapal yang besar dan sama sekali tidak mirip perahu. Melainkan mirip seperti kapal pesiar mewah yang sering dia lihat di beberapa acara televisi.
Padahal bukan itu kapal yang akan mereka bawa.
Semua yang akan digunakan untuk pergi ke sana, bukan kapal yang dilihat Lintani saat ini, meskipun model serta warnanya sama.
Askelan mengajak gadis itu duduk di atas balai-balai bambu dengan desain kekinian yang baru saja selesai di poles dengan pernis. Dia memegang tangan istrinya dengan lembut.
“Aku juga ingin mendengar kisahmu waktu kecil ....” kata Askelan sambil memainkan ujung rambut panjang Lintani.
“Viana! Viana! Kau-kah itu?” kata seseorang yang setengah berlari mendekati Lintani.
Bersambung
__ADS_1