Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 102. Viana Hims 1


__ADS_3

Viana Hims Dan Sebuah Jawaban


“Ayah, jangan Lintani ... cukup aku saja! Dia tidak mendapatkan warisan terkutuk itu pun tidak apa-apa. Aku lebih senang hidup di sini, Ayah!” kata Viana sambil menangis saat Syahrain sedang membakar besi, yang ujungnya berbentuk ornamen unik seperti kelopak bunga Cruise.


“Sayang, umurku sudah tua ... aku sebentar lagi tiada, mungkin dialah keturunanku yang akan memiliki Bukit Shaw suatu hari nanti!” Kata Syahrain waktu itu.


“Kenapa bukan ayah saja? Kenapa? Kenapa Ayah harus berada di tempat ini, dan memberi penderitaan pada anak perempuanku?”


Syahrain tidak menjawab, dia mengikat Viana pada kursi dan memangku Lintani kecil yang tertidur dengan penuh kasih sayang. Setelah besi cukup panas, dia meletakkannya di pinggulnya tepat di sekeliling tanda hitam kecil, yang ada di tubuh Lintani sejak lahir.


Anak kecil yang manis itu seketika menangis keras karena rasa panas yang ditimbulkannya, dan tentu saja sakit, karena pria tua itu melakukan tanpa anastesi sedikit pun. Bukankah ini gila?


Syahrain dengan sabar menenangkan cucu kesayangannya, dengan ikut menangis juga. Tentu saja dia bersedih, kalau bukan sumpah, dia tidak akan menyiksa anak dan cucunya seperti itu.


Dia menceritakan bagaimana sumpahnya pada Aston, teman sekaligus saudaranya.


“Bagaimana kalau kau tiada atau dilenyapkan suatu hari nanti?” tanya Aston padanya pada suatu ketika, saat Syahrain berniat untuk mengasingkan diri setelah kematian keponakannya.


“Aku tidak akan memberikan stempel ini pada siapa pun ... untuk datang ke bukit itu, maka seseorang hanya perlu menunjukkan tato yang kubuat padanya!” kata Syahrain tegas.


“Apa kau gila?” tanya Aston gusar.


“Tidak, Ayah kita membuat tanda tangan dengan darahnya pada surat wasiat itu, maka setelah kematian-ku, keturunan yang berhak untuk mengelola bukit Shaw adalah yang memiliki tandanya.”


“Bisa saja banyak orang menirunya, kan?”


“Ciri khasnya adalah, ada tanda lahir atau tailalat di tengahnya. Dan ingat, kalau dia perempuan dan sudah memiliki suami, maka kau harus membuktikan jika yang mendampingi cucuku adalah orang yang baik dan siap berkorban untuk dirinya!”


Ingatan tentang peristiwa itu berhenti sampai di situ.


Setelah Lintani di beri obat, diam dan diberi susu, Syahrain bercerita saat itu pada Viana yang masih menangis dan marah pada sang ayah.


“Maafkan aku karena aku sudah bersumpah yang membuat anakmu harus menanggungnya!” kata pria tua itu.

__ADS_1


“Percuma Ayah minta maaf, tanda itu akan berbekas dan menjadi noda di kulitnya sampai dewasa. Ayah keterlaluan! Apa pentingnya warisan itu, dia bisa bahagia hidup dengan kita di sini, seperti aku, hidup dengan suamiku dan punya keturunan tidak perlu bukit sialan itu!” Viana berkata sambil memukuli tangannya yang memiliki tanda yang sama dengan yang ada di pinggul anaknya.


“Memang itu tujuanku, Viana! Maklumi hal itu! Bukit akan sia-sia kalau tidak dimiliki oleh orang yang tepat. Aku sudah mendidik semua keturunanku dengan baik dalam mengelolanya suatu hari nanti, termasuk dirimu!”


“Aku tidak butuh hartamu, Ayah!”


“Suamimu tidak punya keinginan mencari bukit Shaw seorang diri ... padahal dia bisa pergi menemui si tua Aston. Kalau dia berani membawamu, kau bisa membangun sebuah kota di Rasevan dengan emas itu! Suamimu pengecut!”


“Ayah! Dia sudah tiada dan Ayah masih mengatainya? Aku bahagia hidup bersamanya! Bagi kami harta itu hanya akan membawa pertumbuhan darah!”


“Tidak! Kalau suamimu berani membuktikannya pada Aston!”


“Aku tidak perduli dengan siapa itu Aston! Atau Cemiton sialan!” Viana sangat marah pada Ayahnya, lalu pergi membawa Lintani dalam gendongannya.


“Viana! Aku sudah tua, tidak ada lagi yang bisa memiliki tanda itu setelah aku tiada! Kalau Lin tidak mendapatkan suami yang sungguh-sungguh mencintainya, maka biarkan dia hidup di sini, dan Bukit Shaw akan menjadi milik anak cucu Aston untuk selamanya!”


Viana berbalik, dan berkata, “Aku tidak peduli! Biarkan semua cerita Ayah tetap jadi rahasia Ayah sendiri, untuk selamanya!”


“Tidak, aku yakin semua keturunan Aston dan juga Marka Mise, pasti mengetahuinya juga!”


Setelah mendengar semua itu, Pinot keluar dari persembunyiannya dan mengikuti Viana, lalu, melihat tanda melepuh yang masih basah di pinggul Lintani.


“Kau apakan anakmu, Vi?” tanya Pinot sambil mengulurkan tangannya, dia sebenarnya jatuh cinta pada Viana, tapi janda muda itu menolak menikah lagi dengan siap pun.


“Jangan sentuh itu, dia baru terkena luka bakar,” kata Viana menepis tangan Pinot.


“Kenapa?”


“Pin, apa aku bisa percaya padamu?”


“Ya! Tentu saja!”


Viana pun menceritakan semua kisah yang selama ini hanya menjadi bebannya seorang diri. Dia percaya pada Pinot karena pria itu sangat baik dan, sudah bekerja membantu mereka di kebun selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Dahulu, Shaw adalah seorang ayah dari Syahrain, Mise dan Aston, mereka adalah tiga orang bersaudara yang selalu bersama dalam ekspedisi dan, penelitian geologi di mana pun berada yang dilakukan Ayah mereka. Kemudian, Ayah dari ketiga pria pandai itu, menemukan sebuah bukit yang mengandung emas pada tanahnya.


Shaw berniat membagi tiga tanah itu secara adil, tapi, Mise menolak dan ingin menguasainya seorang diri. Mereka beradu kekuatan baik fisik juga data, bahwa dirinyalah yang paling berhak atasnya. Memang, Mise adalah orang yang pertama kali mengusulkan untuk mendaki bukit kering berbatu dan, hanya ditumbuhi jenis semak tertentu.


Anehnya, semak berduri itu hanya ada di sekitar bukit sedangkan daerah lain di kawasan itu tidak ada hal yang demikian. Oleh karena itu, Shaw pun meneliti tanahnya.


Kesepakatan berlangsung alot Mise menentang keinginan Shaw yang, jelas-jelas membuktikan jika tanah itu benar-benar mengandung emas, setelah diteliti. Semua orang bekerja sama, hingga mereka pun memiliki hak yang sama pula.


Namun, karena pertentangan dari Mise, Shaw berinisiatif membuat sebuah perjanjian secara resmi di depan notaris untuk ketiga anak lelakinya. Dia membuat sebuah kompetisi bagi mereka, siapa yang memenangkan pertandingan maka dialah yang mendapatkan hak paling besar.


Shaw membuat tiga tanda untuk memiliki bukit yang kemudian diberi nama dengan namanya itu, secara sah. Yaitu berupa gelang kayu yang diukir gambar gunung, rajah atau stempel besi yang dicelupkan dalam darahnya, serta selembar sertifikat resmi kepemilikan tanah. Bagi yang memiliki ketiga benda itulah yang akan mewarisi bukit Shaw secara sah.


Bukit Shaw boleh dimiliki oleh orang lain atau bukan pemilik benda, asalkan para pemilik ketiga benda itu benar-benar sudah tiada lagi.


Mereka pun bertanding menyelesaikan ujian baik kemampuan otak maupun fisik, salah satunya berupa lari maraton, hingga kemudian, Mise berbuat curang. Dia melukai Aston dan berakhir di pengadilan, karena Mise berusaha membunuh saudaranya sendiri hingga kakinya cacat.


Atas kejadian itu, Mise diadukan dan ditahan atas tuduhan penganiayaan. Namun, dalam menjalani hukuman, pria itu tewas karena penyakit.


Tak lama setelah beberapa bulan dari kematian Mise, Tuan Shaw yang memiliki nama lengkap Cemiton Shaw itu pun meninggal dunia juga. Sebelumnya, dia sempat berpesan dan menyerahkan dua benda pada Syahrain sebagai pemenang terbanyak dari lombanya dan satu benda pada Aston.


Syahrain mendapatkan gelang dan stempel besi yang digunakan untuk mengecap surat wasiat dengan darah, sedangkan Aston mendapatkan sertifikat tanah.


Baik Aston maupun Syahrain, bersepakat menutup masalah ini rapat-rapat. Namun, dikemudian hari mereka baru tahu jika sebelum kematiannya, Mise sempat mengabarkan adanya gunung emas itu pada anaknya yang bernama Marka.


Oleh karena itu, dua anak Aston dan Mise berseteru. Tanpa bisa dicegah, perebutan hak antara dua keturunan pun terjadi, hingga salah satu anak Aston tewas di tangan Marka.


Karena berpikir akan menjadi pertumpahan darah, Syahrain pergi mengasingkan diri dan menghapus nama belakang untuk selamanya. Hanya tinggal Aston Shaw saja yang masih setia di kediaman keluarga Shaw.


Akhirnya cerita tentang penyebab kematian salah satu anaknya pun terkuak dari mulut ke mulut para keturunannya yang lain.


Hanya satu anak Aston yang mengetahui jika ada kekayaan di bukit Shaw yang bisa menjadi miliknya, asalkan mereka memiliki barang yang menjadi keabsahannya. Hal aneh lain yang menjadi kesepakatan antara Aston dan Syahrain adalah, mereka boleh mengatakan cerita tentang bukit dan benda-benda itu, bila anaknya sudah dewasa.


Bersambung

__ADS_1


❤️Bantu dukung dengan like, komen dan hadiahnya, dukungan kalian adalah semangatku 🥰 ini bab tentang masa lalu Viana semoga kalian suka 🙏❤️


__ADS_2