
Pemandangan Memilukan
“Perahu ini ... apa kau menggunakan uang kompensasi itu untuk membuatnya?”
“Ya, tentu saja! Apa ada yang salah?”
“Ini terlalu mewah, mungkin untuk membuatnya kau harus mengeluarkan beberapa juta dolar, pasti tidak cukup hanya dengan uang 150 ribu saja, kan?”
“Cukup ... aku hanya menambahnya sedikit.”
Lintani diam sambil mengerutkan keningnya lalu, menyahut, “Terima kasih.”
“Tidak perlu berterima kasih.” Kata Askelan sambil membasahi bibir, membuat Lintani gemas dan langsung menyambar bibirnya yang basah dengan hangat. Askelan menyukainya, hingga dia membalas ciuman itu setelah meletakkan tangannya di belakang kepala Lintani agar dia mudah melakukan pagutan yang lebih dalam.
Sementara itu, ada Greg dan Jordan yang berdiri di ruang kemudi, tentu saja mereka melihat semua itu dengan jelas. Mereka hanya memalingkan muka ke arah lain, sambil menarik napas panjang.
“Aku yang akan memukul kepalamu, kalau kau melenceng dari jalur dan kita menabrak tebing!” kata Jordan melihat Greg sedikit berbelok.
“Dan aku akan membunuhmu kalau kau benar-benar memukul kepalaku!” Greg melirik rekannya setelah menstabilkan kemudinya.
“Sialan, kau!”
“Tapi, apa mereka sering melakukannya?”
“Jangan tanya padaku soal itu!”
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Jordan, pria yang kini berubah profesi menjadi nakhoda itu mengangguk dan mengambil kesimpulan jika Askelan sering melakukannya.
“Ah! Syukurlah aku tidak jadi kau, Jode!” katanya sambil tertawa kecil.
“Apa maksudmu? Aku pun tidak berharap jadi kau Greg!”
“Jangan-jangan kau sangat tersiksa setiap kali melihatnya, atau mati-matian harus memenangkan sesuatu di bawah sana!” Greg berkata sambil menaik-turunkan alisnya, pandangan matanya tepat ke arah lipatan kedua paha Jordan.
“Tutup mulutmu!”
“Haha!” Greg tertawa keras sampai badannya membungkuk.
Setelah pembicaraan itu, terdengar suara dari interkom yang ada di dekat jendela, itu isyarat dari teman-teman lainnya menandakan mereka sudah saling berdekatan. Mereka bisa saling melihat melalui tampilan radar pada layar monitor yang ada di sebelah kiri tuas kemudi kapal.
Mereka membagi tugas menjadi empat bagian pada tiap-tiap titik mengelilingi pulau. Hanya ada delapan pengawal yang berada dalam satu kapal dengan Lintani dan Askelan. Sementara puluhan lainnya tersebar pada empat kapal yang berbeda.
Semua kapal itu, dari luar tampak seperti perahu nelayan biasa, tapi sedikit lebih besar dan memiliki ruangan yang bisa menampung sepuluh orang di dalamnya. Tentu saja isinya adalah perlengkapan senjata dan kebutuhan dasar lainnya seperti air minum dan makanan.
Mereka saling mengirim pesan, baik Max, Mat, Leo dan Pit, mengepalai setiap kapal. Merekalah yang akan mengambil segala tindakan jika ada sesuatu yang mencurigakan.
Sesampainya di pulau kecil itu, Lintani berjalan hati-hati dengan Askelan yang selalu menjaganya, hatinya miris dan sedih saat melihat di mana-mana hanya ada semak belukar dan bebatuan, seolah tidak ada kehidupan di sana.
Selama hampir 19 tahun, setelah luluh lantak oleh bom, maka, tempat itu hanya mirip hutan tak berpenghuni. Apalagi pemerintah setempat melarang semua aktifitas warga di sekitar danau, dan juga melarang penduduk untuk menghuninya kembali. Kesan menyeramkan, jelas sekali mereka rasakan.
Lintani melihat ke sekeling, setelah naik ke daratan sekitar 50 meter, melihat kapal mewah mereka tertambat di sana dengan dua pengawal tetap menjaganya. Enam pengawal lainnya, ikut mendampingi majikan mereka disertai Jordan dan Greg, masing-masing memegang senjata.
__ADS_1
Mereka terus berjalan mengikuti dua pengawal yang sebelumnya menyelidiki tempat itu, mereka sudah membuka jalan dengan memotong semua ranting dan semak bagi Askelan dan Lintani. Sampai di suatu tempat agak lapang, di mana di sana tidak ada pepohonan, hanya ditumbuhi rumput liar dan semak belukar yang tidak terlalu tinggi, memperlihatkan bahwa pernah ada kehidupan sebelumnya. Namun, di sana pulalah terlihat bekas ledakan yang begitu besar membentuk sebuah kubangan yang kering.
Lintani lemas seketika, tubuhnya lepas dari pelukan Askelan dan luruh ke tanah, air mata keluar tanpa suara. Kesedihan itu semakin besar menyadari semua sudah lenyap tak bersisa. Dia ingat, di sanalah tempat tinggalnya, banyak rumah penduduk yang berdekatan dan menciptakan kehangatan. Tak jauh dari tempatnya duduk, ada sebuah lembah, di sanalah mata air Lintania berada. Namun, kini hanya berupa gundukan tanah saja.
“Apa kau masih kuat untuk melihatnya, kalau tidak, lebih baik kita pulang saja!” Askelan berkata sambil berlutut dan memeluk istrinya. Dia sudah tahu akan seperti ini jika Lintani melihat kampung halamannya.
Tiba-tiba Lintani menoleh pada dua pengawal yang membawa parang panjang, benda itu yang digunakan untuk memotong semak belukar di sekitarnya. Gadis itu berdiri dan mengabaikan suaminya.
“Di mana kalian menemukan tulang-tulang itu?” tanyanya sambil mengusap air mata kasar. Askelan yang melihatnya hanya menarik napas dalam, mengambil sapu tangan dan mengusap pipinya sampai kering. Tak ada air mata lagi sesudah itu.
“Ayo! Naiklah. Aku akan menggendongmu!” kata Askelan sambil menepuk pundaknya.
“Aku tidak mau!”
Lintani hanya meliriknya sekilas, lalu, mengikuti langkah dua orang yang berjalan menuruni lembah. Perasaannya tidak menentu, hingga dia mengabaikan suaminya. Namun, Askelan sadar dengan perasaan wanita itu dan memakluminya.
Mereka terus berjalan turun menyusuri lembah, semua lokasi di sekitar mereka terlihat sama, hanya berupa semak belukar dan bebatuan yang mirip serpihan akibat ledakan. Ada beberapa kubangan besar seperti yang pertama mereka lihat, tadi. Artinya, titik ledakan buat cukup banyak, pantas saja semua kehidupan di sana seolah hilang tak bersisa.
Akhirnya mereka memasuki sebuah celah antara bebatuan besar, di sana juga masih ada beberapa tulang lain berserakan. Kedua orang itu menjelaskan jika di dalam celah bebatuan besar itu ada sisa ledakan juga yang hampir hilang karena terkena dampak cuaca setelah sekian tahun lamanya.
Mereka meneliti tempat itu hampir satu bulan penuh, hingga menemukan fakta jika sebelum tempat itu dihancurkan, beberapa manusia yang di sekap di dalamnya sudah tiada.
Bersambung
❤️❤️🙏🙏 Terima kasih atas dukungannya, jangan bosan buat like komen
__ADS_1