
Ciuman Di Muka Umum
Wanita itu tampil begitu sempurna, tinggi tubuhnya hampir sama dengan Askelan, rambutnya dicatok dan riasan wajah tanpa cela.
Gaun ungu yang dikenakannya sungguh mewah, bagian atasnya terbuka menampakkan bentuk tubuhnya yang ideal dan bahus. Bagian bawahnya panjang sampai di pergelangan kaki, tapi, belahannya cukup tinggi memperlihatkan paha, yang putih sehingga menimbulkan minat bagi laki-laki yang memandangnya.
Askelan memakai setelan jas hitam yang berkilau dan dasi kupu-kupu yang senada, semua pakaian dan aksesoris pria itu seperti membuatnya bagai raja-raja, yang memiliki tampuk kekuasaan tanpa batas hingga separuh bumi di masanya.
Namun, tanpa di sengaja, pakaian ini justru terlihat serasi dengan pakaian yang dipakai Lintani.
Rambutnya di sisir rapi ke belakang memperlihatkan wajah yang bersih karena habis bercukur, jarak antara mata dan alisnya dekat, memperlihatkan ketajaman dan kewaspadaan khas, seorang pria mapan dan banyak musuh. Dagu dan hidungnya merupakan perpaduan sempurna dari Tuhan yang menciptakan dengan keserasian tiada tara, itu pahatan wajah yang sempurna.
Sedangkan Lintani tidak melakukan apa pun pada dirinya selain mandi dan menaburkan bedak, lalu, memakai sedikit maskara serta, lipstik warna pink di bibirnya.
Dia mengepang rambutnya ke belakang dan menyisakan sedikit helaian di dekat telinganya. Namun, gadis itu tidak sadar kalau kecantikannya itu, justru mengalahkan ratu pesta yang konon katanya akan datang memeriahkan acara.
“Kau?” kata Haifa setelah berjalan mendekat, mereka tidak bisa menghindari pertemuan itu karena Lintani harus membawa minuman dalam nampan, yang tiba-tiba disodorkan oleh kepala pelayan padanya.
“Ayo! Cepat, bawa ke dalam!” kata ketua pelayan.
“Maaf, permisi Tuan, Nona ...” kata Lintani seraya menunduk hormat pada sepasang kekasih di dekatnya. Dia melangkah pergi dari hadapan pasangan itu, tanpa lepas dari tatapan mata tajam seorang Askelan.
Lintani melaksanakan tugasnya dengan cekatan, sementara Haifa, sebentar-sebentar meliriknya waspada.
Tempat pesta adalah aula gedung yang cukup luas mencapai luas lapangan bola, di penuhi ornamen klasik khas gedung milik keluarga Harrad, dengan lampu dan ukiran guci-guci kecil di sekelilingnya. Lampu besar di tengah ruang juga berbentuk guci, air mancur di tengah menjadi satu garis lurus dengan lampu di atasnya pun berbentuk guci.
Gedung itu bagian dari Hotel Yardo Harrad yang dirancang dan di bangun oleh ayah Askelan sendiri.
Askelan memilih pergi ke lantai dua, di mana dia bisa melihat ke semua sisi. Dia melepaskan tangan Haifa dan menaiki tangga, meninggalkan Haifa bersama teman-temannya.
Di lantai itulah para Tetua duduk dengan gaya dan busana mewah mereka masing-masing, mengelilingi meja panjang, sudah tersedia di atasannya minuman khas pesta, anggur, buah, makanan, dan tentu saja para istri masing-masing yang masih hidup.
Askelan duduk di antara mereka setelah di persilakan. Tentu saja hanya para orang tua seperti mereka yang ada di sana sementara semua sepupu, paman, bibi dari keluarga itu, memilih berbaur di lantai dansa.
__ADS_1
“Berarti rumor itu benar, kau berkencan dengan artis itu?” tanya salah seorang dari ke enam orang yang ada di sana sambil melirik ke bawah, artis yang dimaksudnya adalah Haifa.
“Ternyata seperti itu seleramu, ya?” kata yang lainnya dan, semua tertawa.
“Padahal, kami mengundang Yasmin, cucu perempuan dari keluarga Shaw yang mungkin kau sukai!” kata nenek Askelan.
“Ya, siapa tahu ketua Cemiton Shaw berkenan mewariskan gunung emas itu padanya, maka, kekayaannya akan mengalir padamu juga!” Kata pria lainnya yang duduk di ujung.
“Ya! Itu kalau pewaris aslinya tidak ditemukan sampai Ketua Shaw wafat.” Kata sang nenek lagi.
“Kau berpikir begitu?” tanya Askelan.
“Ya! Kenapa tidak, dia cucu satu-satunya dari keturunan Shaw dan dia tidak punya lagi cucu kecuali si anak pungut yang banyak gaya itu!” sahut wanita tua itu.
Semua orang yang ada di sana adalah orang tua, yang sangat di hormati oleh Askelan karena mereka adalah keluarga ayah dan kakek neneknya juga. Walaupun, pria itu sebelumnya tidak diakui dan besar tanpa kemewahan seperti saudaranya yang lain, dia tidak mendendam pada mereka, kecuali mereka yang jelas-jelas menyatakan diri sebagai musuh dan, mengatakannya sebagai anak buangan.
“Maksudmu Marka? Kabarnya dia pernah meledakkan danau demi meyakinkan dirinya, tentang rumor keturunan asli Shaw itu tidak ada di sana!” kata kakek berkepala botak.
“Kau pikir semua orang bisa seperti kau, Askel? Tidak! Kau harus bersyukur kami tidak mempermasalahkan dari rahim siapa kau dilahirkan!” kata seorang tetua yang duduk paling ujung.
“Ibuku wanita baik-baik, jadi kalian jangan kuatir dia akan merebut sesuatu yang bukan haknya!” sahut Askelan.
“Ya! Untuk itulah kami mengundangmu di sini! Kami dengar ibumu sakit?” kata seorang berjanggut lebat yang duduk di depannya.
“Ya!”
“Kami akan mengunjunginya, suatu hari nanti!” kata pria itu lagi.
“Terima kasih!” ujar Askelan sambil menundukkan kepalanya.
“Tentu saja kau harus berterima kasih!” kata pria di sebelah Askelan sambil menyandarkan tubuhnya lalu, menoleh ke arah yang lain, “Ya, rupanya ibunya sudah mendidiknya dengan benar, hingga dia tumbuh jadi anak yang sopan.”
“Askel, kami berharap keuntungan Harrad Tower akan berlipat ganda di tanganmu, tahun depan, belum ada yang bisa membawa keuntungan sampai enam kali lipat dalam setahun. Kau sudah membuat kantung kami penuh!”
__ADS_1
“Haha!” Serentak semua orang yang terdiri dari enam orang termasuk nenek kandung Askelan, tertawa karena uang, ya, karena uang.
Askelan melihat ke bawah, saat para tetua itu tertawa dan, dia melihat istrinya tengah berbincang dengan Petra.
Saat itu, Lintani baru akan naik tangga karena mendapatkan tugas, untuk melihat apakah anggur yang ada di meja Tetua sudah kosong dan, dia harus menuangkannya. Hanya ada satu pelayan pria yang berjaga.
“Lin, benarkah itu, kau?” kata Petra. Dia memperkenalkan Lintani pada Yasmin, dialah ratu keturunan Shaw yang akan dijodohkan para tetua pada Askelan.
Namun, Yasmin terlanjur mendengar dari Petra tentang apa yang dilakukan Askelan malam itu demi menyelamatkan wanita pelayan di hadapannya.
“Ah, aku tidak menyangka, Pet! Kau memperkenalkan aku dengan seorang pelayan! Aku tidak percaya Askelan menolong wanita seperti dia di hadapanmu!” kata Yasmin, dia benar-benar memakai mahkota kecil di atas sanggul rambunya yang indah. Pakaian yang dikenakannya pun sangat mewah, bertabur mutiara yang dihancurkan.
Lintani menjadi minder, diperkenalkan dengan wanita anggun, cantik, elegan dan segala gelar kemuliaan tampak layak disandang Yasmin. Dia tahu kalau Petra memperkenalkannya pada wanita itu, hanya untuk menjadikannya bahan lelucon.
Lintani belum sempat mengambil foto keluarga Harrad karena belum punya kesempatan. Pesta itu terlalu ramai dan dia sibuk.
Petra terus saja bicara pada Yasmin, “Kalau kau tidak percaya, lihat saja nanti, bagaimana Askelan menatapnya!”
Tiba-tiba hati Lintani menjadi sangat miris, dia akan menjadi bahan ejekan sebentar lagi. Dia berjalan dengan cepat setelah menunduk hormat pada Yasmin dan Petra, pergi ke lantai dua, dan mengerjakan tugasnya. Dia menyempatkan diri mengambil satu gambar secara cepat, hingga Sofia, ibu tiri Askelan, meminta dibuatkan teh hangat.
Lintani kembali turun untuk mengabulkan permintaan wanita itu dan, Askelan mengikutinya sampai ke bawah. Pria itu berkata sambil memalingkan muka hingga tampak seperti tidak sedang mengobrol.
“Apa yang kau lakukan di sini? Bodoh!”
“Aku menuruti permintaan Ibumu, Tuan!” kata Lintani sambil terus berjalan.
“Apa kau sudah mendapatkannya?”
“Belum semua.”
“Kalau kau sudah membuat videonya, cepat tinggalkan tempat ini!” Setelah berkata demikian, Askelan pun melangkah melewati Lintani, yang tiba-tiba saja berhenti karena melihat sesuatu yang sepertinya akan menjadi sebuah gelombang.
Bersambung
__ADS_1