Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 118. Demi Ikatan Darah


__ADS_3

Demi Ikatan Darah


 


 


Lintani diam tak menjawab pertanyaan Askelan, hingga mereka berdua berada di luar dek kapal, lalu menunjuk tebing dengan ekspresi dingin.


“Biarkan dia menjadi makanan burung bangkai dalam keadaan hidup di sana!”


Askelan mengikuti arah yang di tunjukkan Lintani dengan menarik salah satu sudut bibirnya.


“Ayo! Semuanya, tinggalkan tempat ini!” katanya kemudian.


Semua pengawal yang tadi sempat bersantai, termasuk Pit dan Greg yang tengah beradu panco, menoleh ke arah pasangan itu secara bersamaan. Mereka kemudian bergegas menuju kapal masing-masing dan menjalankan perintah Askelan, bergerak meninggalkan celah tebing.


Kapal melaju dengan kecepatan sedang, melewati pulau mengarungi perairan danau yang terlihat cerah walaupun suhu udara masih saja dingin.


Lintani begitu tercengang setelah sampai di tepi, di mana kemarin lusa, mereka meninggalkan mobil mereka untuk berlayar menuju pulau. Di sana berjajar setidaknya ada lima kapal jika di tambah dengan kapal yang dinaikinya. Dari mana kapal sebanyak itu? Pikirnya.


Walaupun sedikit heran, Lintani meeasa tidak perlu mempertanyakan semua keheranannya, sebab Askelan pasti akan menjawab pertanyaan secara asal. Namun, setidaknya mereka kini aman, karena di tubuhnya tidak lagi dipasang rompi anti peluru seperti seharian kemarin.


“Apa kau masih betah di sini atau pulang?” tanya Askelan, sambil berjalan mendekati sisi kapal menuju jembatan, yang sengaja di buat untuk sampai di daratan.


Saat pertempuran kemarin, jembatan itu sempat rusak akibat hantaman peluru dan dari atas helikopter dan juga hantaman ledakan saat heli itu di bom oleh Greg. Namun, sekarang, jembatan itu sudah bagus seperti pertama kali Lintani melewatinya.


“Ayo! Aku akan mengambil foto kita!” kata Lintani setelah berpikir sejenak dan mengambil ponsel dari dalam tasnya.


“Baiklah! Kau harus menghitung supaya aku bisa bersiap!” sahut Askelan.


“Bersiap untuk apa? Kau tidak perlu bersiap kalau hanya sekedar foto, biasanya foto yang diambil secara acak itu lebih bagus!” kata Lintani sambil mencolek hidung Askelan.


“Bersiap untuk tersenyum!”


“Oke! Tapi kau harus tersenyum semanis mungkin!”


Mendengar keinginan Lintani, Askelan begitu bersemangat, beberapa trik mulai melintasi pikirannya. Dia mengikuti arahan gadis itu melakukan berbagai gaya foto dan lokasi, baik di atas kapal, di dalam dek, di tepi danau dan beberapa tempat lainnya.


Setiap kali Lintani membidikkan kamera ponsel, dan berhitung, Askelan  menempelkan bibir ke pipinya, hingga semua foto mereka, terlihat mesra di mana Askelan selalu menciumnya.


Lintani beberapa kali protes, tapi Askelan tetap melakukannya, membuat wanita itu pasrah walaupun kesal juga.


“Ayo kita temui bedebah itu sekarang!” kata Lintani.


“Sekarang?”


“Ya! Kapan lagi? Di mana kau menyembunyikannya?”

__ADS_1


Askelan berhenti berjalan di atas jembatan, dia melihat sekeliling dan memikirkan sesuatu, tentang Marka. Pria itu sekarang sedang dalam keadaan yang mengenaskan, karena semua teman sedang melaksanakan dendam mereka secara bergiliran.


Dia ingin membiarkan Marka kembali pulih dari semua lukanya terlebih dahulu, kemudian barulah menyerahkannya pada Lintani.


“Tunggu beberapa waktu lagi, aku akan menunjukkan padamu nanti, biarkan dia istirahat sebentar!”


“Kau terlalu baik pada orang yang jahat, apa karena dia tidak ada hubungannya dengan keluargamu?”


“Bukan seperti itu ....!” Askelan berkata sambil berjalan menuju mobil dan membawa Lintani ke dalamnya. Setelah duduk dan memasang sabuk pengaman, dia kembali bicara, “Kau masih terlalu lelah, aku juga butuh istirahat setelah berusaha menangkapnya kemarin.”


Lintani mengangguk dan menatap ke luar jendela saat mobil mulai berjalan.


‘Seperti biasanya, kan? Kau tidak pernah menjawab pertanyaan dengan benar!’ batin Lintani.


“Apa kabarmu, Nona?” tanya Jode sambil mengemudi, dia kembali menjadi sopir kali ini.


“Aku Baik!” Lintani menjawab singkat, sambil melirik Askelan yang cemberut. Dia tahu pria itu sangat cemburu.


“Bagaimana kabarmu, Jode? Oh iya, bagaimana keadaan adikmu sekarang?” tanya Lintani masih melirik Askelan yang tetap diam.


“Baik, Nona. Dia mengirimkan salam untukmu!”


“Oh ya? Aku senang mendengar dia baik-baik saja, dia gadis yang hebat. Aku salut padanya, dia lebih kuat dari aku. Bolehkah aku menganggap dia sebagai adikku juga?”


“Tentu saja, Nona!”


“Oh. Dia pasti sangat senang dengan undangan Nona!”


“Jadi, kau meninggalkannya sendirian di rumah?”


“Ya!”


Tanpa sepengetahuan Lintani, Jabie dan beberapa rekannya yang menyamar menjadi dua orang dokter, sudah pulang sejak tadi pagi dengan menggunakan helikopter yang dipersiapkan Askelan untuk mereka. Kecuali dokter asli yang menjaga Lintani di kapal lainnnya, mereka pergi bersama dengan rombongan Lintani.


“Oh ya! Apakah kapal itu akan tetap berada di sana atau kalian akan mengangkatnya lagi ke dermaga yang lain?” Lintani bertanya dengan pertanyaan yang sebenarnya bisa diajukan langsung kepada Askelan—suaminya, tetapi dia sengaja menanyakannya kepada Jordan, karena dia ingin melihat bagaimana reaksi laki-laki itu marah.


“Kau bisa bertanya padaku soal itu, kenapa kau harus bertanya padanya?”


Pertanyaan Askelan seolah angin lalu bagi Lintani, dan dia terus mengajak Jordan bercakap-cakap selama dalam perjalanan, membuat Askelan kesal. Namun, dari sikapnya itu, Lintani menjadi tahu kalau Askelan tidak akan memarahinya walaupun, dia sudah bersikap sangat menyebalkan.


‘Apa dia benar-benar mencintaiku atau karena bayi ini? Ah! Dia manis sekali kalau begitu, membuatku semakin cinta saja, Ya Tuhan!’ batin Lintani.


Semua kapal yang ada di danau akan dibiarkan tetap berada di sana. Namun, ada orang yang bertanggung jawab mengelola dan menjaganya dengan baik, karena suatu saat nanti Askelan  akan benar-benar mengabulkan keinginan Lintani. Danau dan pulau itu akan menjadikan sebagai tempat pariwisata. Terutama untuk mengabadikan makam keluarganya serta monumen untuk, mengingat pengorbanan mereka.


Lintani pulang dan sampai di rumah dengan perasaan gembira walaupun, masih penasaran tentang Marka sedangkan Askelan, tetap dengan kecemberutan di wajahnya.


Lintani kesal karena keinginannya untuk membalas dendam hari ini juga, dihambat oleh Askelan, dan sekarang dia terlihat puas karena sudah membuat Askelan pun merasakan kekesalan yang sama.

__ADS_1


Sepekan setelah kejadian itu, Askelan mengajak Lintani pergi ke suatu tempat, karena penasaran, seperti biasanya  gadis itu bertanya tentang apa yang akan mereka lakukan dan tujuan kepergiannya, tapi, seperti biasanya pula dia tidak akan mendapatkan jawabannya.


“Tempat apa ini?” tanya Lintani saat mobil yang mereka naiki, sampai di sebuah lokasi yang mirip tempat di mana dia pernah mengalami nasib naas.


Lintani hanya ingat jalan-jalannya saja, sedangkan area sekitarnya sudah berubah sangat drastis. Terakhir kali dia dibawa Askelan ke sana, keadaannya masih sama dengan saat kejadian delapan tahun yang lalu. Hanya jalan aspalnya saja yang berubah.


Dan sekarang, dia sedikit kebingungan, karena tidak melihat tempat mengerikan itu di sejauh mata memandang. Ya, Lintani tidak menemukan lagi rumah kayu sebagai saksi bisu hilangnya kehormatan sebagai seorang wanita.


Lokasi di mana rumah itu berdiri, sekarang merupakan tanah kosong yang baru saja di bajak dan di pupuk bahkan, tampak beberapa pekerja kebun tengah sibuk bekerja di sana.


Pepohonan besar sudah ditebang dan digantikan dengan aneka macam pohon buah-buahan yang mulai meninggi. Hanya beberapa saja dari pohon hutan itu yang dibiarkan tetap rimbun dan menjulang tinggi, sebagai peneduh. Sedangkan pepohonan lainnya, seperti baru di tanam beberapa bulan yang lalu.


Suasana di sana sangat menyegarkan dan begitu nyaman di jadikan tempat untuk melepas lelah.


“Apa yang kau lakukan dengan kawasan ini?” tanya Lintani sambil menoleh pada Askelan yang duduk tenang di sampingnya. Sementara mobil yang dikemudikan oleh Jordan, masih berjalan dengan kecepatan sedang karena jalanan mulai menanjak, melewati area perbukitan.


“Aku ingin berkebun, sepertinya menyenangkan menjadi petani, dan bisa memberimu buah segar setiap hari.” Askelan berkata sambil mencolek hidung Lintani.


“Hmm ....” Lintani berkata sambil kembali menoleh ke kaca jendela, “Kalau tidak salah di sini dulu ada sebuah rumah yang terbuat dari kayu!”


“Kau masih ingat?” Askelan lebih mendekatkan wajahnya ingin melihat reaksi istrinya lebih jelas, walaupun ada desir halus di hatinya yang tiba-tiba muncul secara bersamaan dengan rasa penasaran.


“Ya! Kau pernah membawaku ke sana, kan?”


“Sepertinya kau tidak suka rumah itu, jadi aku menghancurkannya!”


“Benarkah itu yang jadi alasanmu menghancurkannya? Bukankah kau bilang rumah itu salah satu peninggalan Ayahmu yang berharga?”


“Tapi, kau juga berharga. Aku melihatmu ketakutan, bahkan kau sempat pingsan. Jadi, aku dihancurkan saja,” kata Askelan sambil memejamkan mata, padahal intinya dia memang ingin menghapus segala jejak kebenaran yang ada, dan agar Lintani melupakannya juga, untuk selamanya.


Lintani mencerna ucapan Askelan dengan rasa tidak percaya lalu, dia bertanya, “Benarkah hanya karena itu kau menghancurkan rumah itu?”


“Ya! Bagaimana menurutmu sekarang, tempat ini bagus, kan?”


“Lumayan!” kata Lintani datar. Dia tidak habis pikir kalau Askelan menghancurkan rumah yang sebenarnya cukup bagus itu, karena dirinya, padahal Lintani hanya tidak menyukai kenangan di dalamnya saja.


Tiba-tiba Lintani sedikit curiga dan dia bertanya, sambil menoleh, “Elan, aku sepertinya teringat sesuatu sekitar delapan tahun yang lalu soal rumah itu!”


“Apa yang kau ingat?” Askelan berkata dengan hati-hati.


“Hmm ... apakah rumah ini sudah menjadi milikmu, pada tahun itu?”


Bersambung


 


 ❤️🙏Tetap dukung ya walaupun up cuma satu bab❤️ Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2