Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 142. Seorang Putri Tidur


__ADS_3

Sang Putri Tidur


Askelan menunggu jawaban Lintani sambil terus menatapnya penuh pengharapan. Gadis itu menunduk melihat suaminya setelah berhasil menghapus air mata dengan tisu yang diberikan Mo padanya.


“Apa kau yang sudah membuat makam Pearl?” Lintani balik bertanya. Tatapannya lurus tapi tidak bermakna, sinar matanya seolah kehilangan gairah hidup. Wajahnya yang pucat dan sembab karena terlalu banyak menangis itu, semakin membuat Askelan geram pada dirinya sendiri.


“Ya!” Askelan menjawab penuh semangat sambil berdiri.


“Terima kasih.” Setelah berkata demikian, Lintani beranjak pergi. Namun, baru selangkah dia menjauh, Askelan berteriak padanya.


“Apa kau akan meninggalkan aku lagi?”


Lintani bergeming, dia tidak menyahut tapi juga tidak pergi. Dia masih menenangkan gemuruh di hatinya yang tidak mau kompromi.


Terlalu dalam mencintai, hingga terlalu dalam pula kecewa yang dia rasakan, ketika tahu bahwa, orang yang dicintai telah berbohong. Dia merasa ditipu karena mengira seseorang yang menyakitinya telah tiada, tapi nyatanya, orang itu adalah pria yang telah membuatnya jatuh cinta.


Askelan mendekat dan kembali berkata, “Apa aku harus mati, agar kau puas jika aku mengalami hal seperti anak kita?”


Akh! Tentu saja tidak, karena anaknya yang akan lahir nanti harus memiliki ayah, jangan seperti Pearl. Namun, hatinya masih sakit, dia sendiri pun tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk, melenyapkan kebencian yang bercokol sekian tahun di dasar hati.

__ADS_1


“Kenapa harus kau?” Lintani bicara dengan hatinya, karena bibirnya tidak mampu bergerak. Sementara pipinya mulai basah.


“Kenapa orang itu harus kau, Elan? Kenapa? Kenapa bukan orang lain saja agar aku bisa membunuhnya?” katanya lagi masih dalam hati.


Askelan mengambil secarik kertas dan menyodorkan benda yang berisi data beberapa orang itu, kepada Lintani.


“Aku sudah menghancurkan semua orang ini satu persatu, mereka yang dulu sudah berbuat sewenang-wenang padamu dan Ibu. Sekarang tinggal giliranku, terserah kau akan melakukan apa padaku!”


Suasana menjadi hening selama beberapa detik, Lintani membaca isi kertas itu, sambil mengangguk tanda mengerti, dengan beberapa kemungkinan yang terjadi. Gadis itu memang membenci semua teman sesama narapidana di selnya, tapi dia tidak berdaya. Dan sekarang, Askelan sudah membantunya membalas semua perbuatan mereka.


Dia menoleh pada Askelan dengan raut wajah tanpa ekspresi dan berkata, “Aku tidak pernah memintamu melakukannya, tapi terima kasih!”


Lintani maju satu langkah, kemudian kembali berhenti.


Setelah Lintani berkata seperti itu, dia pergi begitu saja, dengan perasaan yang hancur. Dia tahu bila menjauhi Askelan akan sakit, tapi berada di dekatnya jauh lebih sakit.


Dalam perjalanan pulang, Lintani mengajak Mo pergi ke toko perlengkapan bayi, dia membeli beberapa pakaian anak laki-laki. Walaupun beberapa pakaian dan keperluan sudah di sediakan oleh Askelan di Villa Loyola juga di rumah mereka, Lintani tetap ingin membelinya, karena berbelanja seperti itu adalah kesenangan tersendiri bagi setiap wanita.


Dia tersenyum setelah selesai dan melihat barang belanjaan di bagasi mobil, tidak peduli berapa jumlah nominal yang sudah dikeluarkannya, hanya untuk membeli perlengkapan bayinya. Sebab semua akan di bayar dengan kartu debit milik Askelan. Dia pikir laki-laki itu akan mendapat keuntungan yang banyak juga dari hasil kerja sama dengan perusahaan Shaw untuk mengolah tanah miliknya.

__ADS_1


“Nona, apa kau tidak ingin membeli sesuatu untuk dirimu sendiri?” Mo bertanya karena dari semua barang itu, hanya ada perlengkapan bayi, “Kalau Nona mau, kita bisa pergi ke sana!”


Ada sebuah mal besar yang di tunjukkan Mo pada Lintani, mereka bisa menghabiskan waktu sampai sore. Namun, mata gadis itu justru tertuju pada salon kecantikan yang tidak jauh dari sana, hingga dia mengajak Mo menghabiskan waktu untuk memanjakan diri di tempat itu.


Mereka tiba di rumah ketika hari sudah menjelang malam dan Lintani tertidur di kursi belakang, dia menjadi sangat mengantuk setelah mendapatkan perawatan tubuh.


Mo terkejut saat melihat Askelan sudah menunggu di teras rumah. Dia tahu apa yang diucapkan Lintani saat berada di makam, hingga di menjadi sangat khawatir.


“Apa yang kau lakukan di sini, Tuan?” katanya.


“Tidak ada, aku hanya mau mengangkatnya ke kamar. Dia pasti tidur, kan?” Sahut Askelan setengah berbisik.


“Ya! Bagaimana Tuan bisa tahu?”


“Itu kebiasaannya! Dia sang putri tidur!”


“Oh! Jadi begitu." Mo menanggapi sambil tersenyum. Askelan pandai memanfaatkan situasi.


Jordan sudah membukakan pintu mobil bagian penumpang, sementara Mo dan Sopir membawa semua barang hasil belanjaan mereka. Askelan mengangkat tubuh Lintani dengan sangat hati-hati menuju ka kamar mereka.

__ADS_1


Bersambung


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2