Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 50. Ponsel Baru


__ADS_3

Ponsel Baru


Lintani merasa kasihan, Askelan pasti memikirkan keselamatan dirinya dan dia tidak ingin membuat Elliyat kecewa jika dirinya tewas. Hatinya menjadi hangat merasakan betapa besar kasih sayang laki-laki yang masih memeluknya dengan erat itu, pada sang ibu.


Lintani mengulurkan tangannya dan membelai pipi Askelan seraya berkata, dengan suara yang lembut, “Hai ... sudah ... aku baik-baik saja, lepaskan aku sekarang sudah aman, kan?”


Askelan menoleh dengan cepat tanpa melepaskan pelukannya, bibir yang berkedut karena menahan senyum, menurutnya gadis ini lucu, bukankah seharusnya dia yang berkata begitu padanya, sebab sudah melindunginya.


Belaian tangan Lintani kini turun ke dada bidangnya lalu menepuk lembut di sana.


“Jangan begitu mengkhawatirkan keselamatanku, kau lebih berarti bagi Ibumu ...” katanya, masih dengan nada lembut tanpa berusaha melepaskan pelukan dari pria itu. Dia merasa sedikit nyaman menyimpan kepalanya di pundak antara dada dan lengannya.


Dia memejamkan mata untuk menghirup aroma maskulin bercampur keringat yang menguar dari tubuh Askelan. Ini wangi yang seksi dan menggairahkan.


“Apa kau mengantuk?” tanya Askelan sementara mobil masih terus melaju kencang.


Lintani mengangguk.


“Tidurlah kalau begitu.” Sahut Askelan semakin menyandarkan tubuhnya agar Lintani merebahkan kepala di dadanya lebih nyaman lagi.


Sesaat kemudian Lintani benar-benar tertidur.


Setelah memastikan gadis itu tidur, Askelan mulai bicara dengan suara rendah, sambil meraih ponselnya.


“Apa kau pikir ini perbuatan Marka?”


“Kemungkinan besar, Tuan.”


“Kukira mereka putus asa.”


“Tuan, sepertinya ada motif lain, tidak biasanya mereka menggunakan tanda!”


Askelan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Selidiki dari sisa-sisa mobil yang kalian hancurkan dan kalian lumpuhkan orangnya, bawa padaku besok!”

__ADS_1


Telepon ditutup secara sepihak. Lalu, kembali melihat ke wajah Lintani yang masih terpejam, sambil memasukkan telepon genggam ke dalam saku bagian dalam jasnya.


Setibanya di rumah, hari sudah malam, perjalanan berakhir dengan beberapa lubang peluru pada mobil dan penyok, karena sedikit benturan saat Van tadi mencoba meringsek Bantley hitam milik Askelan.


Pria itu sengaja tidak membangunkan Lintani melainkan membopong tubuhnya sampai di kamar. Jordan yang membukakan pintu untuk mereka dan Askelan membaringkannya secara perlahan agar gadis itu tidak terbangun.


Jordan meletakkan ponsel baru yang sempat dibelinya sebelum menjemput Askelan, di atas nakas dekat tempat tidur Lintani, lalu, menutup pintunya rapat-rapat.


“Tuan, dari mana Anda tahu nama Viana Hims padahal, Lux tidak pernah membicarakan hal ini ke siapa pun?”


Kini mereka berbincang-bincang di ruang tamu, karena Askelan belum mau tidur seperti biasanya.


“Kau tidak perhatikan fotonya di ponsel? Ada sebuah buku yang bertuliskan nama itu di atas meja di sudut gambar!”


“Oh.” Jordan tahu jika ketelitian dan kecerdasan Askelan sangat bagus, hanya soal perasaan saja dia buta, karena sejak kecil, tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah dan, ibunya pun sibuk bekerja hingga hampir tidak pernah menunjukkan bagaimana bersikap kasih sayang pada lawan jenisnya.


“Selidiki lagi kalau mungkin tanda di siku tangan ibunya itu memiliki arti.”


“Tuan, untuk apa menyelidiki tanda itu, kemungkinan hanya sebuah tato, sementara kita punya musuh baru yang belum jelas tujuan dan maksudnya?”


Jordan tidak menyangka jika bebannya akan bertambah seberat ini, dia sudah memutuskan untuk menghentikan pencarian latar belakang Lintani yang tidak bisa ditemukan, tapi, sekarang dia justru harus memulai lagi dari awal, mencari informasi tentang sebuah nama Viana Hims. Pria itu pergi setelah menyerahkan semua file tentang isi ponsel lama Lintani, dan menghancurkan hardware-nya.


Askelan menerima kabar dari rumah sakit setelah kepergian Jordan, bahwa Ibunya tiba-tiba saja kritis dan harus masuk ruang ICU malam ini juga. Askelan mengizinkannya setelah menarik napas panjang.


“Lakukan yang terbaik menurut kalian!—Baiklah, aku akan ke sana sekarang.”


Askelan pergi ke rumah sakit setelah melihat ke dalam kamar Lintani yang tertidur, lalu, menutup pintunya rapat-rapat.


******


Lintani datang ke rumah sakit keesokan harinya dan, hanya menemukan kamar perawatan Elliyat yang kosong, dia mencari informasi mengenai keberadaan wanita itu, tapi, setelah tahu dari pihak rumah sakit, justru membuatnya menangis.


Dia hanya bisa melihat Elliyat dari balik kaca dengan berurai air mata, dia tidak tega melihat wanita itu dikelilingi tabung dan, berbagai alat medis yang membantunya bertahan hidup. Beberapa bagian tubuhnya terlihat bengkak. Dia bertanya ke sana ke mari pada perawat dan dokter, tapi, jawaban mereka semakin membuatnya bingung.


Para dokter mengatakan bahwa segala upaya sudah mereka lakukan, kini mereka hanya pasrah dengan keadaan. Melakukan apa yang mereka maksudkan, sama sekali Lintani tidak tahu. Dia belum siap kehilangan ibunya apalagi dia belum sempat memberinya hadiah yang berharga.

__ADS_1


Hal ini semakin membuatnya sedih, ibu kandungnya sudah menjualnya, ibu angkatnya tidak mau lagi mengakui sebagai anak, bahkan meminta kompensasi atas perawatannya sejak kecil. Namun, kini apakah Tuhan pun akan mengambil ibunya yang terakhir dan justru paling baik? Dia tidak siap.


Lintani menangis sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Tubuhnya terguncang saat dia berbalik dari kaca, lalu, melorot ke lantai dan bersimpuh di sana seperti orang yang kehilangan tenaga. Setelah puas menangis, dia pun memutuskan pergi karena tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia berjalan keluar rumah sakit untuk ke toko Shane. Dia harus membantunya, selain karena membutuhkan uang, dia kasihan pada wanita itu kalau harus bekerja sendirian.


Ketika dia hendak menghentikan bis, dua orang pria menggiring tanpa menyentuh Lintani ke mobil mereka.


“Nona Lin, kami harus menjaga Anda. Jadi, kami mohon kerja samanya!” kata salah seorang dari mereka.


“Apa mau kalian?”


“Kami akan mengantarkan Nona ke mana saja!”


“Benarkah? Kalian tidak akan menculikku, kan?”


“Tidak, Nona. Nyawa keluarga kami taruhannya!”


Lintani melihat keseriusan di raut wajah mereka hingga dia menurut karena tidak mau menjadi orang yang menyebabkan keluarga orang-orang ini kehilangan nyawa. Askelan tentu saja bisa berbuat demikian, pikirnya. Lalu, dia mengatakan tujuannya dan mobil itu melesat dengan cepat menuju arah yang diminta.


Di dalam mobil ada lima orang yang semuanya ramah serta tersenyum hangat saat Lintani masuk, mereka bersikap hormat dan sopan, tidak ada kontak fisik sedikit pun. Saat Lintani turun di depan toko, dan mulai bekerja, mereka tetap ada di sana, berpatroli tak kenal lelah, sebentar menghilang dari penglihatan gadis itu, tapi, sesaat kemudian sudah ada lagi di tempat semula.


“Lin, apa kau lihat mobil di sana itu?” kata Shane saat mereka tengah istirahat di sela-sela kesibukannya.


“Ya!”


“Apa mereka kurang kerjaan terus di sana dan mondar-mandir?”


“Abaikan mereka, Shane! Kita masih banyak urusan.” Lintani tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya jika mereka sebenarnya menjaganya. Apalagi menceritakan jika kemarin dia hampir mati karena terjadi baku tembak dengan musuh Askelan. Saat Shane bertanya kenapa kemarin dia tidak datang, Lintani hanya mengatakan jika ibunya kambuh.


Lintani ingin bertanya soal kemarin pada Askelan tapi, dia tidak melihat pria itu di mana pun, bahkan di ruang ICU. Dia pikir Askelan tidak tahu kalau ibunya masuk ke ruangan intensif itu. Hingga dia masih tidur di rumah.


Saat Lintani bangun tadi, dia melihat ponsel baru di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, hingga dia langsung memeriksa isinya dengan senang hati. Namun, ada keraguan menggunakannya, karena dia pikir ada alat pelacak di dalamnya. Dia juga tidak tahu harus menghubungi siapa. Hanya ada satu kontak di sana, tertulis dengan jelas nama Askelan Harrad, lengkap dengan foto profilnya yang tampan.


Dia tengah menimang benda pipih itu ditangannya, saat benda itu bergetar dan berbunyi dengan nada ceria, lalu, muncul profil Askelan Harrad di sana.


“Ah!” Lintani terkejut, “Untuk apa dia meneleponku?”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2