
Di Tepi Pantai Loyola 1
“Viana! Viana! Kau-kah itu?” kata seseorang yang setengah berlari mendekati Lintani.
Itu suara seorang pria berpakaian kumuh mirip orang gila, dia salah memanggil nama, hingga tidak ada seorang pun tahu, termasuk Lintani, gadis itu hanya menoleh sebentar. Namun, pria itu menatap nanar ke arahnya,q yang saat itu duduk di halaman samping pabrik, di mana ada sebuah taman kecil yang dijadikan tempat produk baru di pajang, untuk diambil fotonya kemudian diunggah ke jaringan media sosial resmi milik perusahaan.
Namun, belum sempat orang itu mendekat, para pengawal sudah menghalaunya, memintanya pergi dan tidak mengganggu Tuan dan Nyonya mereka berbicara empat mata di sana.
Orang itu tidak bisa berbuat apa-apa, hingga dia pergi begitu saja dan meninggalkan sebuah jejak kakinya yang kotor di dekat halaman pabrik.
Askelan memegang dagu Lintani agar menatap ke arahnya dan berkata, “Kau benar-benar ingin pergi ke kampungmu, hemm?” seraya mencium bibirnya, membuat Lintani terkejut. Ini tempat umum, tentu saja dia malu.
“Ya. Kau sudah janji mau menuruti semua keinginanku, kan?”
“Hmm ...” Askelan berkata sambil berlutut, di hadapan istrinya yang masih duduk dengan santai di kursi bambu.
“Aku ingin bertanya sesuatu padamu, bagaimana kalau kenyataannya, keadaan di sana, tidak seperti yang kau bayangkan? Apa kau siap?”
“Apa maksudmu?”
“Sudah aku bilang tadi, aku ingin mendengar cerita masa kecilmu, saat kau dijual ibumu?”
“Oh, itu?”
“Ya!”
“Sebenarnya itu hal ingin aku lupakan, aku sedih mengingat hal itu.”
Askelan terdiam, hanya mengingatkan tentang kejadian itu saja Lintani sedih apa lagi kalau harus mengetahui, keadaan lain yang jauh lebih buruk?
Tiba-tiba pria itu berdiri, memalingkan pandangannya ke segala arah sambil mengusap rambutnya kasar.
Haruskah aku mewujudkan sesuatu yang justru membuat dia lebih bersedih? Pikirnya.
“Ayo!” Askelan menggamit tangan Lintani, “ada tempat yang lebih bagus dari desamu!”
Lintani melepaskan genggaman tangannya kasar, dia merasa heran karena Askelan sangat jelas berusaha untuk mencegah kepergiannya.
“Apa maksudnya, Elan! Apa kau menyembunyikan sesuatu? Tidak ada tempat yang lebih bagus dari danau itu!”
“Kau belum melihat pantai Loyola, kan? Aku akan membawamu ke sana!”
“Aku tidak mau!”
__ADS_1
Mendengar jawaban Lintani, Askelan memeluknya dan berkata dengan lembut, “Aku tidak akan memaksa kalau kau tidak mau.”
Lintani mengendurkan pelukannya lalu dia berkata, “Dengar, Tuan Askel! Aku bukannya tidak menghargaimu, tapi, permintaanku ke sana kau juga yang menginginkannya!”
“Aku? Tidak ...!”
“Bukankah kau bilang kalau kau akan menuruti semua yang aku inginkan?”
“Ya!”
“Dan aku ingin ke sana, kalau kau tidak mau, aku bisa pergi sendiri.”
Tiba-tiba Lintani ingat jika uang dan beberapa barang yang dibawanya dari penjara dulu, dia tinggalkan di gedung kubah, tapi, bangunan itu pun sudah dihancurkan. Dia tidak tahu bagaimana Askelan menghancurkannya, tapi apa pun alasannya, semua yang memang sudah hilang tidak akan pernah menjadi miliknya.
Gadis itu membuang muka dan akan melangkah meninggalkan Askelan, tapi, kemudian dia berbalik.
“Kalalu kau membatalkan apa yang sebelumnya aku rencanakan, aku tidak akan segan-segan mengadu pada Ibu!” katanya.
“Apa?” Askelan bertanya, dia heran dengan maksud Lintani yang akan mengadu pada ibunya, karena Elliyat sudah tiada. Meskipun begitu, dia tetap mengikuti ke mana istrinya pergi, dia berjalan dengan perlahan di belakangnya.
“Ya, Sayang, jangan kuatir ... Aku tidak akan membatalkannya. Kita pergi ke sana kalau perahu sudah selesai, oke?”
Lintani berbalik dan mengulurkan tangannya ke pundak Askelan lalu, mencium bibirnya lembut.
Setelah mereka berada di dalam mobil, Lintani mengabulkan permintaan Askelan yang ingin mengetahui kisah tentang masa kecilnya. Dia menceritakan bagaimana dirinya di bawa oleh ibunya hari itu, dia bangun setelah matahari meninggi. Namun, dia melihat suasana rumah yang sepi tidak seperti biasanya.
Saat dia berjalan ke dapur, dia melihat Viana tengah mengumpulkan beberapa mainan, alat tulis, tas dan sepatutnya, semua baju dan perlengkapan lainnya. Tanpa banyak bicara, wanita itu membawa anak perempuannya dengan setengah berlari, menuruni rumahnya yang terletak di tempat yang lebih tinggi dari tepian danau.
Viana membawa Lintani kecil dengan setengah berlari, dan wajah yang ditutup topi besar, dia tidak tahu mengapa ibunya memperlakukannya dengan cara seperti itu, dia pun di pakaikan baju sebanyak tiga lapis.
“Jadi, Ibumu tidak mengatakan apa pun, padahal kau bisa menanyakannya?” tanya Askelan, dia masih mengusap-usap tangan Lintani sejak tadi.
“Aku bertanya, tapi Ibu hanya bilang, jadilah anak baik. Kau akan tinggal dengan Bibimu, mulai sekarang! Aku ingin bertanya pada Kakek waktu itu tentang Bibi di kota, karena aku tidak pernah tahu, tapi, aku tidak melihat Kakek di mana pun!”
“Cuma seperti itu?”
“Ya, Ibu tidak pernah menjawab, dan dia hanya memberiku sebuah ponsel yang hancur waktu itu.”
“Adakah ada hal lain yang kau ingat?”
“Saat di perjalanan, Ibu hanya bilang, jangan pernah mengingat cerita Kakek, semua yang dikatakannya hanya dongeng masa lalu.”
“Hmm ... apa yang Kakek ceritakan padamu?”
__ADS_1
Lintani tertawa, dia ingat, semuanya, karena dia sangat senang mendengar cerita Kakeknya. Pria tua itu begitu memanjakannya, dia sering mengajaknya menangkap ikan bersirip merah, lalu membakarnya di tepi danau sambil bercerita tentang gunung emas yang terletak jauh sebuah kota.
“Kata Kakek, gunung itu dimiliki oleh seorang ratu yang sangat cantik. Sang Ratu akan memerintah negeri itu dengan adil bersama seorang raja pilihan hatinya, yang sangat menyayanginya setulus hati. Sebab kalau tidak tulus, dia tidak akan lulus ujian untuk menikahi ratu!”
“Oh ya? Apa kau pikir ada gunung seperti itu?”
“Tidak, kata Ibu, semu cerita Kakek itu hanya dongeng ....” Pandang Lintani menerawang keluar jendela.
“Mungkin saja ibumu benar ....”
“Ya, tapi, aku masih ingat bagaimana Kakek mengajariku bagaimana menyaring tanah hingga bisa menghasilkan emas!”
“Itu, ilmu yang bagus. Kau bisa menjadi dosen kalau kau mau untuk mengajarkan bagaimana mencari emas dari bongkahan tanah.”
“Tidak ... aku tidak selesai kuliah, bagaimana aku bisa menjadi dosen, apalagi aku masih hamil anakmu!”
Askelan langsung menjatuhkan pandangan ke perut Lintani dan mengusapnya lembut.
“Kau harus cepat keluar, biar kau bisa membantu Ibumu mewujudkan mimpinya!”
“Apa kau tahu apa mimpi terbesarku sejak aku kecil?”
“Hmm ... menjadi desainer?” Askelan bertanya sambil menegakkan punggungnya.
“Bukan!”
“Lalu?”
“Menjadi nelayan, yang bisa mencari banyak ikan! Atau mencari kerang dan mutiara di dasar lautan! Itu luar biasa, mereka sangat dihargai kalau membawa banyak ikan, dan akan menghasilkan uang, itulah yang ada dalam pikiranku.”
Askelan hampir saja tertawa mendengar cita-cita istrinya yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya, bagaimana bisa seorang wanita berkeinginan menjadi seorang nelayan? Sungguh itu adalah cita-cita yang sangat sederhana, tapi, susah untuk direalisasikan.
“Oh, ya! Aku ingin tahu, apa sebelum kau pergi, ada sebuah ledakan atau suara keras yang Kau dengar?”
“Bukan sebelumnya, tapi, aku melihat ledakan saat aku sudah menaiki mobil Tuan Lux!”
“Dan, Ibumu sudah kembali ke perahunya?”
“Ya!”
Askelan tiba-tiba memeluk Lintani erat, dia sangat bersyukur karena dia selamat waktu itu. Seandainya tidak, maka, gadis itu mungkin tidak akan menjadi istrinya.
“Aku senang kau ada di—“ ucapan Askelan terhenti, saat Jordan mengisyaratkan bahwa mereka sudah sampai di tepi Pantai Loyola.
__ADS_1
Bersambung