
Undangan Makan Siang
Askelan menundukkan kepalanya di dekat telinga Lintani dan berkata, “Mengapa rambutmu bisa begitu panjang, apa kau tidak pernah memotongnya?”
Lintani mendongak sehingga wajah mereka berdekatan, lalu dia mengangguk. Dia memang belum memotong rambutnya sejak kematian bayinya. Ah, bayinya, tiba-tiba dia merindukannya lalu, tanpa terasa air matanya menetes begitu saja.
Rambut Lintani memang panjang sampai menutupi bokongnya dia tidak pernah memotong rambutnya, kecuali bila dia bisa menemukan makam pria yang sudah membuatnya hamil. Itulah tekadnya. Dia masuk ke dalam sel saat rambutnya hanya sebatas leher. Sekarang dia Ingin mencari tahu siapa pria yang sudah dibunuhnya waktu itu. Sebenarnya dia heran saat di ruang sidang, hakim dalam persidangan tidak pernah menyebut nama dari pria yang sudah menjadi korbannya.
Ah, bisa jadi, dia hanya dituduh membunuh angin! Atau nyamuk, tapi, dia harus menjalani hukuman selama delapan tahun penjara, itu pun dia sudah mendapatkan keringanan karena kebaikannya.
“Hmm ....” Askelan mencium ujung rambut Lintani, setelah itu dia kembali berkata, “Sepertinya rambutmu memang tidak pernah dipotong lebih dari 5 tahun.” Sambil menggenggam rambut itu di tangannya. Dari rambut itulah aromanya berasal.
“Apa kau menyayangi rambutmu sampai sepanjang ini?” Askelan berkata lagi.
“Lepaskan! Itu bukan urusanmu, sudah perjanjian kita bahwa tidak ada satu pun di antara kita yang berhak ikut campur urusan pribadi masing-masing, kan?”
Lintani berkata sambil bergerak berusaha melepaskan pinggang serta rambutnya dari laki-laki itu, dengan mendorong dadanya sekuat tenaga. Namun, bukannya terlepas tapi, justru dekapan di punggungnya semakin erat, bagai di cengkeraman dua tangan sekaligus, padahal satu tangan Askelan masih memegang rambutnya.
“Kau tidak ingin aku melakukan ini lagi?” kata Askelan saat Lintani menghentikan usahanya melepaskan diri, dia lelah.
“Ya!” sahut Lintani cepat, dia memang tidak ingin Askelan terus memaksanya.
“Tapi, aku tidak ingin kau melakukan sesuatu padaku!”
“Melakukan apa?”
“Membentakku.”
Cih! Laki-laki itu ingin diperlakukan seperti seorang suami sungguhan, meminta agar Lintani bersikap lemah lembut padanya, padahal dia hanya mau menikah karena Ibunya. Sialan!
__ADS_1
“Kalau aku tetap melakukannya, apa yang akan kau lakukan padaku?”
“Aku bisa melakukan sesuka hatiku bahkan membunuhmu pun aku mampu!”
“Aku tahu, kalau begitu bunuh saja aku sekarang juga!”
Askelan terdiam karena dia tidak mungkin membunuh gadis itu kecuali dia benar-benar tidak datang di hotel Monera yang terletak di sebelah barat daya kota untuk memenuhi keinginan ibunya.
Secara perlahan dia melepaskan dekapan tangan di pinggang Lintani dan, dia berkata, “Aku akan membawa gaun pengantin Ibu nanti malam dan kau bisa mencobanya.”
“Sudah kubilang tidak perlu aku pandai berpura-pura di depan ibumu Kalau kau memang tidak tulus, ingat itu adalah sebuah perjanjian di hadapan Tuhan!”
“Aku tidak perduli.”
Tanpa menjawab Askelan membiarkan Lintani pergi dan berjalan dengan cepat menuju lift. Namun, ketika dia sampai di depan pintu lift yang baru saja terbuka, seseorang yang sangat dia hindari keluar dari sana.
Baru saja dia memiliki ekspresi sangar yang berbahaya, tiba-tiba raut wajah gadis itu berubah lembut dan sedih, dia seolah-olah tertimpa musibah saat itu juga! Dia merasa panas saat melihat Askelan berjalan ke arah. Kini suaranya pun menjadi lemah lembut dan tersenyum manis kepada Lintani lalu, meraih tangannya sambil menggoyangkannya.
“Ayolah Lin, kumohon ... datanglah ke rumah, aku akan mengadakan jamuan makan siang bersama kekasihku hari ini, kumohon!”
“Makan siang? Dan, hari ini?” tanya Lintani sedikit ragu, dia tidak tahu kalau Askelan sudah berjalan mendekati mereka.
“Ya, apa susahnya, hanya makan siang bukankah kau tidak mempunyai pekerjaan?” suara Haifa terdengar begitu lembut dan manja, dia seperti anak kelinci yang menggemaskan dan lemah. Dia memang memiliki rencana makan siang di rumah dengan Askelan setelah mengabarkan jika salah satu dari orang tuanya sakit, lalu, Askelan pun menyetujuinya dengan alasan tenggang rasa.
Lintani diam, karena merasa aneh dengan perubahan wajah Haifa yang begitu cepat. Gadis itu tidak berhenti untuk merendahkannya, dia ingin menolak dan mengatakan jika dia memiliki pekerjaan.
Namun, percuma saja sebab pekerjaan yang dia lakukan sebagai pencetak batu bata tetaplah hina, di Haifa kecuali, jika dia bisa bekerja menjadi seseorang senator do pusat negara. Atau jabatan yang lebih tinggi darinya tapi, dia pun sanksi walaupun, dia mempunyai pekerjaan yang lebih tinggi, apakah gadis ini bisa menghargainya?
Kepribadiannya memang sulit menghargai orang lain karena dia tinggi hati, sehingga hatinya berpenyakit dan tidak mampu mengakui kelebihan orang lain walaupun jelas-jelas orang itu lebih baik darinya.
__ADS_1
“Aku tidak butuh makan malam di rumah terkutuk itu! Aku tidak mau lagi makanan sisa dari kalian, padahal jelas-jelas aku juga mencari uang!” Lintani berkata sambil mengibaskan tangannya hingga Haifa terhuyung, dan dia terduduk di lantai.
“Lin, apa yang kau katakan? Aku hanya ingin kita makan siang, apa itu salah?” Haifa berkata sambil menangis.
“Ya, itu salah karena kau mengundangku datang!” kata Lintani.
“Lin ....!” kata Haifa.
“Ayo! Bangunlah!” kata Askelan sambil membantu Haifa berdiri dengan lembut. Seketika Lintani menoleh sambil menarik napas dalam.
“Askel, Sayang! Kau di sini?” kata Haifa penuh kegirangan.
“Ya! Dan aku melihat semuanya. Apa kau baik-baik saja?” Askelan berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari Lintani yang berdiri di dekatnya.
“Aku baik, aku hanya sedih, Sayang!” kata Haifa sambil mengusap bagian belakangnya dari debu.
“Apa yang membuatmu sedih?” Matanya masih belum beralih dari Lintani.
“Lin, semua karena, Lin! Aku mengundangnya datang untuk makan siang kita nanti, tapi dia menolak. Dia tidak mau lagi menganggapku sebagai saudara!” Haifa berkata dengan menangis.
Lintani mencibir, lalu berkata, “Maaf, Tuan. Saya sudah mengganggu Nona ini. Dia salah mengira saya orang lain!”
“Lin! Apa kamu tega? Papa sakit!”
Lintani menatap Haifa mencari kesungguhan di sana, tapi karena akting Haifa sangat bagus, dia tidak bisa membedakan yang mana kebohongan atau tidak dari bibirnya.
“Baiklah, aku akan datang untuk menengok Papamu!” kata Lintani sambil berlalu pergi.
Bersambung
__ADS_1