Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 131. Aku Punya Bukti


__ADS_3

Aku Punya Bukti


“Apa tujuanmu, melakukan semua ini?” tanya Askelan.


Aston tidak langsung menjawab pertanyaan Askelan, pria itu meliriknya sekilas dan meminta maaf.


“Maafkan aku, Tuan Aske! Atas semua yang sudah terjadi padamu ini!”


Lalu, dia meminta pelayan yang tadi melakukan kekerasan pada Askelan, keluar dari kediamannya, dan meminta pelayan lain merawat lukanya, hingga suasana kembali normal setelah tangan Askelan dibalut dengan benar.


Jordan tetap ada di sana atas izin Aston, hingga ada enam orang dalam ruangan itu, termasuk seorang pelayan perempuan yang sedari tadi hanya menunduk menunggu perintah Aston selanjutnya.


Pria itu menjelaskan alasannya mengapa dia menguji Askelan. Dia memberi jawaban yang tidak masuk akal bagi Yasmin. Saat Aston menjelaskan jika ada seorang anak keluarga Shaw adalah perempuan, maka ia harus mempunyai seorang pendamping hidup yang teguh dan benar-benar mencintainya dengan tulus. Pria yang dicintainya tidak boleh menikahi hanya karena harta yang dimiliki. Apa lagi karena emasnya.


Askelan mengangguk-angguk saat mendengar penjelasan itu, sebab dari awal memang dia tidak mengetahui siapa Lintani, apakah istrinya itu keturunan Shaw apa bukan, dia pun tak tahu, tapi, dia sudah jatuh cinta kepadanya.


“Aku sebenarnya tahu soal warisan itu sejak aku mulai mencintainya atau saat dia hamil anakku ..., Anda tahu, Tuan Shaw, kami menikah karena dijodohkan Ibuku, tapi aku tidak pernah mengusik tanah itu, apalagi membicarakannya, karena dia tidak tahu apa-apa soal itu. Yang penting bagiku dia bisa bahagia!”


Lintami menatap penuh kasih saat Askelan bicara, dia mengira suaminya itu mulai mencintainya sejak dia hamil saat ini, sedangkan maksud Askelan adalah, dia mulai mencintainya sejak dia tahu Lintani pernah hamil di penjara, karena dirinya.


Berbeda halnya dengan Yasmin yang tampak kebingungan.


“Apa yang Kakek katakan? Dari mana Kakek tahu kalau wanita murahan ini seorang keturunan dari keluarga Shaw?”


“Ya! Lin adalah saudaramu juga ... Dia adalah cucu dari adikku, Syahrain Shaw! Bukankah begitu, Lin?”


Lintani mengangguk.


“Kau dibohongi Kakek!” kata Yasmin pada Lintani. Lalu, dia kembali menoleh peda Aston lagi, “Bukankah Kakek bilang Syahrain pergi entah ke mana dan tidak pernah tampak di Kota Hill sampai puluhan tahun lamanya?”


“Ya! Ternyata dia tinggal di Danau Raseven, ada pulau kecil di danau itu dan menikah dengan wanita di sana. Lin adalah cucunya. Dia menyebutkan ciri-ciri Syahrain dengan tepat. Jadi, untuk apa aku meragukannya?”


“Hanya itu saja dan kau percaya?”


“Dia menangis begitu melihat foto Kakeknya, dan itu sangat tulus!”

__ADS_1


“Dia pandai berakting!” kata Yasmin sambil menoleh dengan cepat pada Lintani, wajahnya cemberut.


Yasmin tidak ingin semua rencananya gagal, hanya karena sebuah penipuan yang dilakukan Lintani dan Askelan. Dia menduga Askelan memanfaatkan istrinya setelah dia memenangkan tender, karena dia kini tahu soal Bukit Emas itu, hingga ingin memiliki semuanya.


‘Dasar serakah, sudah menang tender dan sekarang mau menguasai tanahnya?’ pikir Yasmin.


Dia sudah berusaha begitu jauh, bersama dengan beberapa orang kepercayaan termasuk ayahnya dan Petra. Dikarenakan, Aston tidak juga mau memberikan surat wasiat dan sertifikat tanah padanya. Padahal, dia menunjukkan gelang kayu yang ditemukan Petra di jalanan.


“Kakek, yakinlah kalau semua keluargamu hanya tinggal aku seorang, sebab semua benda sudah hilang dan gelang ini pun berada di jalanan!” kata Yasmin waktu itu.


Namun sang Kakek bilang jika gelang itu sepaket dengan benda lainnya. Jadi, kalau tidak lengkap, maka Petra tidak bisa mengklaim kepemilikan tanah atas namanya.


Oleh karena itu mereka membuat sebuah rencana, merekayasa kebangkrutan perusahaan agar sang Kakek luluh dan memberikan tanah warisannya untuk, mendatangkan infestor besar, hingga perusahaan mereka bisa kembali bangkit.


Akhirnya usahanya berhasil, Aston memberikan sertifikat tanah itu. Lalu Yasmin mengumumkan secara resmi jika Bukit Shaw akan diolah mulai satu bulan ke depan setelah semua kebutuhan kerja sama dan seluruh persiapan untuk produksi, sudah terpenuhi.


“Apa kau berbohong pada Kakekku hanya karena kau mengetahui tentang Bukit Shaw?” tanya Yasmin sambil mencengkeram pergelangan tangan Lintani dengan kuat. Askelan yang melihat reaksi itu, tidak rela, hingga dia menepiskan tangan Yasmin begitu saja.


“Lepaskan tangan istriku!” kata Askelan, sedangkan Jordan pun mendekati Yasmin dan memegang tangannya agar tidak melakukan sesuatu yang lebih pada nona mudanya.


Lalu, Lintani berdiri berhadapan dengan Yasmin seraya berkata, “Aku tidak punya maksud apa pun seperti yang kau katakan, aku melihat Tuan Shaw sangat mirip dengan Kakekku, saat aku bertemu beliau di rumah sakit ... siapa yang tahu kalau ternyata dia masih kerabatnya!”


“Jadi, kau mengaku sebagai cucunya juga? Seperti beberapa orang lainnya?” kata Yasmin dan mencoba melemahkan Lintani di hadapan semua orang, dengan berdalih jika ada orang yang juga mengaku sebagai cucu dari Shaw tapi tidak memiliki buktinya.


“Apa ada orang yang mengaku sebagai cucumu, sebagai kebohongan, Kek?” tanya Lintani sambil menoleh pada Aston dan pria tua itu hanya mengedikkan bahunya.


“Apa yang harus aku buktikan kalau aku adalah benar cucu Kakekku Syahrain?” tanya Lintani, masih melihat pada Aston.


“Katakan siapa mereka yang ada dalam gambar silsilah itu?” Yasmin yang berkata sambil menunjuk gambar yang terhampar di tempat tidur itu.


“Aku tidak tahu!” sahut Lintani jujur.


“Nah, kau berbohong, kan? Mana ada keluarga yang tidak tahu silsilanya sendiri?” Kata Yasmin kwtus.


Namun, bagi Aston, justru Lintani berkata jujur sebab Syahrain pergi tanpa membawa satu pun yang mencerminkan bahwa dirinya dari keluarga Shaw waktu itu. Hanya dua benda keramat yang akan menjadi pertumpahan darah saja yang ada dalam tas beserta beberapa pakaiannya.

__ADS_1


“Sudahlah ... Yasmin ... kalau kau tidak menyukainya, kau bisa pergi, aku masih ingin mendengar ceritanya tentang Syahrain!” Aston berkata dengan suara parau.


“Jadi, kakek memilih untuk mendengar penipu itu?” hasut Yasmin.


“Aku bukan penipu!” Kata Lintani.


“Tunjukkan buktinya kalau begitu?” sahut Yasmin lagi, dia tampak sangat keras kepala.


Lintani sempat memikirkan tentang tato di pinggulnya, tapi dia masih ragu apakah benar hal itu yang mereka maksud.


“Sudahlah, kau tidak perlu menunjukkan bukti apa pun, sudah cukup, Tuan Askelan memberiku semua data ini tentang Lin. Dan kau pergilah!” kata Aston.


Yasmin melirik selembar kertas yang ada di tempat tidur dekat dengan gambar silsilah. Lalu, dia berkata sambil meraih kertas itu.


“Apa ini ibumu?” Yasmin berkata.


“Ya!” Lintani menyahut.


“Apa kau memiliki tato yang sama seperti ini?” tanya Yasmin sambil menunjuk pada gambar kecil di tangan Viana.


“Ya!”


Jawaban Lintani membuat Aston dan Yasmin tercengang.


“Tunjukkan sekarang juga!” katanya.


“Tunggu! Biar aku saja, orang lain tidak boleh sembarangan menyentuh iatriku!” kata Askelan tiba-tiba merengkuh pinggul Lintani posesif.


Lintani tersenyum melihat keposesifan suaminya, sambil melingkarkan satu tangan ke pundak lebar itu, saat Askelan membungkuk untuk menyibakkan roknya.


“Kau bisa melihatnya, kan?” kata Askelan setelah pakaian istrinya tersibak, menampakkan pinggul sebelah kanannya yang menampakkan tato dengan gambar bunga Cruise kecil di sana.


Bersambung


🙏👍❤️❤️❤️👍🙏

__ADS_1


__ADS_2