Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 17. Aroma Menenangkan


__ADS_3

Aroma Yang Menenangkan


 


Askelan menatap Lintani tajam sambil menggesek kartu ID akses ke pintu yang kemudian terbuka, Lintani menerobos masuk sebelum Askelan masuk, tapi pria itu diam saja. Saat gadis itu berjalan melewatinya, udara yang menyertainya tercium seperti aroma bunga lili dan campuran batu bata.


“Tunggu!” Kata Askelan, membuat Lintani yang sudah berjalan beberapa langkah itu berhenti dan menoleh.


“Kau belum menjawab pertanyaanku!”


“Pertanyaan yang mana?”


“Kau dari mana?”


“Apa aku harus melapor padamu kemana perginya aku?”


“Ya. Kecuali kau ingin kompensasi yang akan kau dapatkan, di bayar separuhnya!”


Lintani mengernyitkan dahi karena dia tidak suka jika peraturan yang sudah mereka sepakati bersama, kemudian di langgar dan itu artinya Askelan bisa berbuat sekehendaknya.


‘Sialan!’ batin Lintani.


“Baiklah, aku mau bilang, asal kau tidak bertanya lebih jauh lagi! Aku dari pabrik batu bata, apa kau puas?”


Setelah berkata demikian, Lintani berlalu ke kamarnya hingga Askelan mengetahui di kamar yang mana gadis itu tidur.


Sementara pria itu berpikir tentang apa yang dikatakan Lintani padanya, untuk apa kira-kira dia pergi ke pabrik batu bata?


Askelan belum mengantuk hingga dia memilih untuk duduk di sofa besar ruang tamu, menunggu sampai dia benar-benar mengantuk. Dia tidak akan bisa tidur nyenyak seperti biasanya, sejak delapan tahun yang lalu. Jika malam, apalagi saat lampu kamar mulai di matikan, dia akan sangat merindukan gadis itu dalam pelukannya.


Itulah hal yang menyebabkannya selalu mual saat bersentuhan atau berdekatan dengan gadis lain karena mereka tidak sama, hingga perasaan tidak bahagia dan stress pun muncul, menimbulkan gejolak diperut dan asam lambungnya naik. Ah! Ini sangat menyiksa.


Lintani baru saja selesai mandi dan dia kembali memakai baju yang diambilnya dari rumah Elliyat. Dia masih belum berminat membuka lemari pakaian besar yang ada di sisi tempat tidur dan menghadap ke jendela.

__ADS_1


Gadis itu duduk di depan meja rias sambil menghancurkan kelopak bunga Lily yang sudah mulai kering. Dia menyukai aroma bunga itu, yang diambilnya beberapa tangkai saat dia berjalan-jalan dengan Elliyat tadi di Villa. Lalu, dia membalurkan remahannya ke tangan dan kaki hingga menyebarkan aroma yang menenangkan. Wangi bunga Lily salah satu aroma yang paling sering digunakan menjadi bahan pewangi untuk parfum, sabun mandi, alat kosmetik dan juga bedak bayi.


Setelah itu dia keluar kamar ingin melihat apakah Askelan masih membutuhkan dirinya untuk memijat atau tidak sebab dia tadi menolak karena tidak mungkin mendekat pada pria itu sedangkan tubuh dan baju yang dipakai penuh dengan debu dan tanah liat.


Lintani begitu terkejut melihat Askelan yang duduk menyandarkan kepalanya di sofa ruang tamu dengan pakaian yang masih lengkap. Dia menyentuh pria itu dengan ujung telunjuknya di sekitar pundak dan lengannya.


“Hai, Tuan ...!” Lintani memanggil Askelan dengan suara antara berbisik dan bersuara rendah, mirip desisan. “Tuan Askelan ... apa Anda sudah tidur?”  masih sambil menusuk-nusuk pundaknya dengan ujung jari telunjuk.


Askelan tidak bergerak, membuat Lintani memberanikan diri mendekatkan kepala, sambil menggoyang-goyangkan telapak tangan di depan wajahnya guna memastikan apakah pria itu benar-benar tidur atau tidak.


Dia akhirnya yakin kalau Askelan sudah tertidur hingga dia berani berkata.


“Tuan! Apa kau sudah tidur? Jadi, aku tidak perlu memijitmu, kan? Aku lelah karena aku harus mencari uang, tapi aku hanya punya 14 dolar untuk pekerjaan selama enam jam.”


Lintani menjeda ucapannya, dia mulai menangis dan kembali berkata dengan suara serak yang lembut.


“Tuan, kalau kau tidak memaksaku, aku sudah punya uang banyak dari gajiku bekerja di restoran itu. Kau jahat! Kau sudah merampas gajiku, padahal aku membutuhkannya untuk makan dan membeli pakaian, tahu! Tapi Anda bahkan menyerteku, tanpa belas kasihan! Dimana hati nurani?”


“Aku punya ponsel dan dompet, semua barang berhargaku itu ada di loker restoran dan aku tidak sempat mengambilnya, selebihnya, aku ingin pergi mengecek apakah aku hamil atau tidak ...”


“Tahukah Anda, Tuan? Ibu selalu memujimu sebagai anak berbakti, tampan dan kuat. Setelah aku melihatmu, aku pun setuju kalau semua yang Ibu Elle katakan itu benar!” Lintani menutup mulutnya saat dia menahan tawa.


Tiba-tiba terdengar bunyi suara yang cukup keras dari perutnya, seketika Lintani menjauhkan kepalanya dan di saat yang sama, mata Askelan terbuka, pria itu menatap Lintani yang masih berdiri dengan canggung di hadapannya.


“Apa kamu lapar? Jangan bekerja di tempat yang tidak memberimu makan!” kata Askelan sambil menegakkan punggungnya, membuat Lintani mundur satu langkah.


Gadis itu tidak percaya jika Askelan bisa terbangun hanya karena mendengar suara perutnya, sedangkan saat dia berkata-kata pria itu hanya tertidur bahkan tak bergerak sama sekali.


‘Apa dia mendengar semua yang aku bicarakan, terutama di bagian yang terakhir, kalau memang dia hanya pura-pura tertidur, itu keterlaluan! Dia benar-benar menyebalkan!’ pekik Lintani dalam hatinya.


Askelan mengambil ponsel dari balik saku bagian dalam jasnya dan dia menghubungi seseorang lalu, memintanya membawa makan malam ke apartemennya.


“Tunggu di sini, Jode akan mengantarkan makanan untukmu!” Askelan berkata sambil berdiri dan membuka jas serta kancing kemejanya satu persatu.

__ADS_1


Ya Tuhan, benarkah dia seorang yang pernah membunuh enam musuhnya hanya dengan sekali tembakan langsung mengenai sasaran. Dia pria yang sudah menggunakan banyak cara untuk bertahan dalam kesengsaraan. Lalu, menunggu waktu yang tepat hingga bisa mengeksekusi lawan dan menjadikan dirinya sebagai pimpinan tertinggi sampai sekarang.


Setelah selesai membuka kemejanya, Askelan berbalik menghadap Lintani membuat hati gadis itu berdebar kuat, dia melihat bentuk dada yang sama dengan pria di dalam mobil waktu itu.


Tidak mungkin dia melupakan bagaimana pria itu melakukannya, warna rambut, kulit dan tubuh bagian atasnya. Semua itu adalah yang pernah dia lihat, selebihnya dia tidak melihat apa-apa karena selama mereka melakukannya, Lintani hanya memejamkan mata.


‘Tidak, tidak mungkin dia!’ Lintani berkata dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


Sementara Askelan menatapnya heran.


“Kalau ada pakaian kotor, biarkan saja di sana, besok Madam akan datang membersihkannya.” Askelan berkata sambil menunjuk sebuah tempat yang berbentuk kotak dekat dapur.


Selama ini dia tidak mengizinkan orang lain tinggal di apartemen pribadinya bahkan dia membeli semua unit dalam satu lantai, karena tidak ingin terlalu banyak terlibat orang banyak orang. Dia pria penyendiri yang akut, sampai-sampai asistennya hanya boleh datang sepekan dia kali.


Asistennya itu seorang yang dia percayai, dialah wanita yang dulu pernah ikut merawatnya saat masih kecil, sementara sang ibu harus bekerja mencari uang demi dirinya bisa tumbuh besar dan kuat sampai sekarang, semua karena kerja keras ibunya.


Keberadaan Lintani di sisinya saat ini adalah sebuah pengecualian karena dia sangat berarti bagi ibunya, wanita yang bisa membuat Elliyat kembali tersenyum dan bertahan hidup lebih lama.


“Aku mau cuci bajuku sendiri.”


“Terserah!” kata Askelan, sambil mengabaikan gadis itu dan hendak melangkah ke kamarnya.


“Tuan!” kata Lintani memanggil Askelan dengan ragu, “Apa kau mendengar semua yang aku katakan? Maafkan aku tidak bermaksud lancang, tapi semua itu aku bohong padamu.”


Bohong? Pikir Askelan, itu adalah ucapan paling jujur dari seseorang yang dia dengar akhir-akhir ini. Tentu saja dia mendengarnya bahkan dia sekuat tenaga menahan diri agar tidak bergerak dan menarik gadis itu ke pangkuan atau menggulungnya dalam dekapan lengan kekarnya. Seandainya Lintani adalah makanan, mungkin sudah lumer dalam mulutnya saat itu juga.


“Tidak, aku tidak mendengar apa pun selain suara perutmu!” dialah yang kini berbohong. Dahulu, dia pernah berkata pada ibunya akan jadi seorang pria yang jujur dan tidak akan pernah berbohong, nyatanya demi seorang gadis dia rela melanggar janjinya sendiri.


“Maaf sudah mengganggu tidurmu.”


“Hmm.” Askelan berkata sambil duduk di meja makan membuka laptopnya dalam keadaan bertelanjang dada.


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2