
Menunggumu
Lintani duduk di dalam kamarnya sendiri, dia tidak bisa tidur semalaman, karena khawatir dengan Askelan. Dia tidak tahu ke mana suaminya itu pergi. Sejak dia bangun tidur, Pit selalu menenangkan dan memintanya untuk tenang serta tidak memikirkannya.
Mana bisa begitu? Pikirnya.
Di sisi tebing itu tidak ada sinyal, hingga semua orang tidak bisa menghubungi Askelan. Pit hanya menduga sesuatu terjadi, tapi, dia tidak tahu apa-apa. Mereka yang ada di sana, tidak bisa menggunakan alat canggih seperti yang dipakai teman-temannya, untuk bertukar informasi.
Semua orang yang ada di kapal kecil itu, tidak tahu keadaan yang terjadi di tepian danau, hingga mereka hanya bisa menunggu.
Setelah Lintani dipindahkan ke kapal itu kemarin, seorang dokter memberinya infus dan obat penenang yang membuat gadis itu terus tertidur pulas. Dia terbangun di malam hari karena kebutuhan hajatnya, saat itulah dia menyadari jika Askelan tidak bersamanya.
Tubuhnya sangat lemas karena sejak kemarin tidak ada makanan apa pun yang bisa masuk ke dalam perutnya. Hanya cairan infus itu yang memenuhi nutrisinya. Meskipun begitu, dia tetap membersihkan diri dan wajahnya dengan agar terlihat sedikit lebih segar.
“Nona, cobalah buah ini sedikit saja ... pasti menyegarkan!” kata Pit mencoba membujuk Lintani.
“Ya, Nona! Buah ini manis dan segar!” dan dokter pun ikut bicara karena mereka yang bertanggung jawab untuk menjaga Lintani di kapal itu.
“Aku tahu, tapi aku tidak ingin memuntahkannya lagi!”
Dalam hatinya, Pit hanya berharap bila Askelan dan pasukannya segera datang menjemputnya. Dia merasa kasihan melihat gadis di hadapannya itu tidak makan sedikit pun sejak kemarin. Kalau bukan karena cairan steril yang masuk ke tubuhnya, mungkin dia tidak akan mampu untuk duduk saat ini.
“Jangan buat saya merasa bersalah, karena kau tidak makan apa pun, Nona.”
“Pit! Kau tidak harus merasa bersalah, aku yang tidak mau,” kata Lintani merasa kasihan pada pria itu, “Tapi, baiklah ... aku akan mencobanya, sekarang sudah siang dan aku lapar.”
Lintani makan sepotong buah dengan melihat pada Pit yang memasang wajah memelas, dan itu berhasil. Satu demi satu potongan buah itu masuk ke perut Lintani.
“Kau jangan tersenyum! Kau harus tetap memasang wajah itu kalau kau ingin aku makan dan tidak muntah!”
__ADS_1
Mendengar ucapan Lintani, Pit menjadi empati pada Jordan yang lebih sering merasakan hal menyakitkan demi Askelan. Bagaimana tidak sakit, saat dia girang karena berhasil membuat wanita itu makan, justru disuruh untuk memasang wajah cemberut agar tidak muntah. Sungguh keinginan bayi yang aneh.
“Jode! Aku salut padamu yang kuat ... padahal harus selalu berdekatan dengan Tuan dan Nona. Sungguh aku bersyukur tidak jadi dirimu. Tuan Askel! Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Cepatlah datang ...!” kata Pit dalam hati.
Lintani meletakkan garpu setelah menghabiskan potongan buah dalam piring itu, membuat Pit menelan ludahnya kasar. Dia tidak menyangka bila dengan memasang wajah keruh, bisa membuat gadis itu tidak muntah. Seandainya tahu lebih awal, tentu dia tidak harus repot-repot menjaga wanita hamil ini dan pergi meninggalkannya setelah makan, lalu, menyusul teman-temannya. Dia sebenarnya khawatir dengan mereka yang belum juga muncul padahal hari sudah menjelang siang.
Sementara Askelan memerintahkan agar Pit tetap berada di posisinya, sampai dia datang, karena itu artinya keadaan sudah jauh lebih aman. Dia tidak betah semalaman hanya menganggur saja di kapal.
“Apa yang terjadi dengan Tuan Askel, jangan sembunyikan apa pun dariku!” kata Lintani.
“Tidak ada apa-apa, Nona. Percayalah! Sebentar lagi pasti Tuan akan datang!”
“Dari kemarin, hanya itu yang kau katakan, apa kau tidak bisa mengatakan hal lainnya lagi? Berikan padaku pelampung, biar aku berenang saja ke sana kalau kau tidak mau!”
“Nona ... lebih baik jaga diri baik-baik, pikirkan bayimu dan jangan berpikir buruk soal Tuan, kumohon!”
“Kau pikir aku tidak bisa berenang sampai ke pulau itu?”
“Kau salah, Pit! Aku dulu terkenal karena aku dulu, sangat lincah berenang. Aku lahir di sini, semua anak di sini pandai berenang! Aku bisa menyusul Tuan Askel ke sana, itu mudah!”
Saat ini Lintani berpikir jika Askelan masih ada di pulau, sebab di sanalah mereka berpisah kemarin. Pit dan semua dokter yang ada di kapal tidak ada yang mau menjelaskan apa pun padanya hingga dia hanya menduga-duga. Dia tidak berpikir panjang, padahal dirinya yang sekarang bukanlah anak-anak seperti di masa lalu.
“Apa dia menemui sesuatu yang berbahaya, mengapa dia menyembunyikan aku di celah tebing Aung ini?”
“Apa nama tebing ini Aung?”
Lintani tertawa, sedangkan Pit kembali merasa girang, dia punya cara untuk mengalihkan pikiran Lintani agar tidak terus menanyakan suaminya, sebab dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi di sana. Walaupun, pikiran buruk tetap ada, tapi, dia segera menepisnya.
“Ya, kau tahu kenapa?”
“Kenapa, Nona?”
__ADS_1
“Karena, kalau kau berteriak, tebing akan memantulkan suaramu dan anehnya di akhir suara akan terdengar suara seperti mengaung!”
“Benarkah?”
“Ya!”
“Ayo! Kita coba!”
Pit keluar kapal sambil tetap membawa senjatanya dan dia mengajak dua orang dokter yang selalu berada di dekat Lintani. Mereka tetap waspada dan masing-masing tetap membawa senjatanya. Lalu, dua orang dokter membantu Lintani yang terpasang selang infus di tangannya.
Setelah berada di dekat pagar pembatas kapal, mereka berteriak sekuat tenaga satu persatu untuk membuktikan cerita itu.
Setiap tebing di mana pun sebenarnya akan memiliki sifat yang sama yaitu memantulkan suara, hanya saja, di dalam sana ada beberapa lubang-lubang kecil yang di dalamnya terdapat udara, hingga suara yang terpantul akan tersimpan untuk beberapa detik, lalu memunculkan suara lain seperti mengaum tapi sedikit lembut dan berdengung, karena udara yang selalu keluar masuk.
Mereka menyukainya, dan hal itu agak sedikit memberi hiburan juga bisa dijadikan sebagai pelampiasan kepenatan.
“Apa kalian menyukainya?” tanya Lintani pada ketiga orang itu, sementara pengawal lainnya hanya melihat tingkah mereka sambil menggelengkan kepalanya.
“Ya! Ini seru Nona. Ayo! Lakukan lagi!”
Mereka melakukannya lagi, hingga terdengar suara deru mesin kapal dari kejauhan, membuat semua orang berhenti berteriak dan menoleh, dengan waspada dan langsung bersiap memegang senjata. Mereka harus tetap bersiap karena tidak tahu siapa yang datang mendekat, apakah itu kapal musuh atau Askelan.
Bersambung
❤️Jangan lupa like, komen dan dukungan lainnya, terima kasih ❤️🙏
__ADS_1