
Cinta Setinggi Pengorbanannya (TAMAT)
Pesta diadakan dengan sangat megah, termasuk di Rasevan, walau pun tempat itu baru setengah jadi, tapi tetap saja diadakan pesta dan dirayakan oleh para pekerja yang sedang melakukan pengerjaan pembangunan kota kecil di sana.
Semua kebahagiaan dibagi rata di tiga tempat milik keluarga Harrad, bukan hanya para tamu undangan, melainkan bagi penduduk sekitar juga. Dia mana semua orang bisa menikmati acara dari berbagai tempat. Dari pantai, di vila-vila Loyola, dari jalan raya, dari dalam dan luar hotel.
Kini, semua orang tahu, suatu saat Rasevan akan jadi tempat pariwisata umum gratis yang menarik dan penuh makna, termasuk celah tebing yang mengeluarkan suara khas, serta pemandangan yang sedikit mengerikan di sana.
Namun, sebuah tulisan yang sengaja di buat, membuat para pengunjung kelak akan mengerti jika kerangka kering wada di sana, adalah milik seorang yang sengaja bunuh diri karena mencoba melawan orang yang salah.
Sementara di Hotel, pesta di rayakan oleh para keluarga jauh yang ingin menginap, mereka bisa melihat semua acara pesta di Pantai dari layar lebar yang di pasang di berbagai penjuru.
Di Pantai Loyola sendiri, tampak Lintani dengan gaun indah rancangannya sendiri, dijahit dengan rapi oleh seorang ahli atas petunjuknya.
Dia terlihat begitu menawan hingga luntur sudah citra rendahan dan kampungan yang semula melekat pada dirinya. Semua orang mengelukannya.
Sinar lampu dan lampu Blitz kamera berkelap-kelip sepanjang waktu perhelatan acara hingga selesai.
Rencana Jordan dan para sahabatnya pun berjalan lancar. Walaupun, diselingi tangisan baby boy di sela-sela pesta.
Saat Lintani mengambil minuman, Ketua dua Harrad menghampirinya dan berkata, “Kau sangat mirip dengan ibumu!”
“Ketua, terima kasih atas pujiannya, tapi, bagaimana kau mengenal ibuku?” tanya Lintani heran.
“Aku tidak mengenalnya, hanya saja aku pernah melihat fotonya. Kau memang mirip, tapi nasibmu lebih baik!”
__ADS_1
“Ya. Aku mendoakanmu agar memiliki kehidupan yang lebih baik juga. Hanya kau yang berkata baik sejak kita pertama bertemu.”
“Tentu, karena aku menilaimu memiliki kelebihan.”
“Oh ya? Apa itu?”
“Dulu, aku tidak tahu kelebihan apa itu, tapi, sekarang aku tahu ... kau bukan hanya baik, tapi juga luar biasa. Kalau orang lain yang memiliki kekayaan seperti dirimu, mungkin sudah membalas kami dua kali lebih kejam dari perbuatan kami dulu.”
“Sebenarnya bukan aku yang baik, tapi, Tuhan tidak mengizinkan kalian mendapatkan balasan dariku. Bukan manusia yang bisa menentukan nasib seseorang. Aku hanya berpikir bahwa setiap manusia memiliki alasannya dalam mengambil sebuah tindakan atau keputusan.”
Ketua dua yang dulu pernah berniat menjodohkan Lintani dengan anaknya itu tersenyum, sambil mengangguk. Dia merasa beruntung walaupun, Lintani tidak menjadi menantunya.
Dan pada dasarnya keluarga harap pun mendapatkan banyak keuntungan darinya
“Terima kasih Sayang, kalau bukan karena dirimu, aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.”
“Benarkah? Kalau aku melakukan rencanaku, aku tidak tahu apakah kau bisa bicara begitu atau tidak!”
“Apa? Kau punya rencana apa sebelumnya?”
“Rencanaku adalah ... Aku akan memaafkan mu, setelah menendang ************ milikmu!”
“Astagah! Sayang!”
Lintani tertawa keras.
__ADS_1
“Untung saja aku tidak melakukannya, karena ada insiden di rumah sakit waktu itu!”
“Ya Tuhan ...!” Askelan berkata sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan bibirnya tetap tersenyum. Dia tidak bisa membayangkan kalau Lintani benar-benar menendang miliknya.
Mereka memasuki kamar di villa itu sambil mendorong kereta bayi secara bersamaan. Di saat yang sama, Lintani melihat sepasang kekasih yang tampak bahagia, sedang duduk di kursi taman, tak jauh dari vilanya.
Dalam hati dia bergumam, “Semoga kalian bahagia, aku memaafkan kalian atau tidak, hasilnya akan sama saja, tidak akan merubah semuanya ... Ibu tidak akan pernah kembali, dan saudaraku pun tidak ada lagi, sungguh sia-sia kalau membiarkan dendam itu tetap ada, lebih baik menggantinya dengan bahagia yang akan membuat hidupku lebih berwarna!”
Epilog
Tiga orang yang terdiri dari dua wanita dan satu pria, tampak saling berpegangan tangan sambil menangis. Mereka berpakaian kumuh dan lusuh, duduk di pinggir jalan, di depan sebuah depot pengisian bahan bakar kecil. Mereka tampak kelaparan, karena terus membasahi bibirnya yang kering.
Tatapan mereka tertuju pada benda yang sama, sebuah televisi yang, menyiarkan pesta besar-besaran keluarga Harrad di tiga tempat berbeda secar bersamaan.
Mereka tidak pernah menduga jika apa yang dahulu sangat mereka banggakan berupa harga diri, sekarang seolah hilang ditelan bumi. Penyesalan dengan semua sikap dan perbuatan buruk pada Lintani, sama sekali tidak sebanding dengan apa yang mereka harapkan, saat melakukannya.
SEKIAN
Semoga kalian suka ceritanya.
❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️
“Pesan moral dari cerita ini ... Manfaatkanlah waktu dengan baik, dan perlakukan siapa pun dengan sopan, tanpa menilainya hanya dari apa yang nampak di luar, sebab kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita temukan di kemudian hari. Jangan menilai buruk pada seseorang, kecuali kita benar-benar melihat sikap buruknya sehari-hari.”
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA
__ADS_1