
Memaafkan Untuk Hal Yang Berbeda
Askelan baru saja menutup telepon dari Jordan saat Lintani masuk dan memeluknya dari belakang. Seketika wajahnya yang keruh, setelah mendengar kabar tentang kejadian di keluarga Shaw, berubah menjadi lembut.
Dia membiarkan sejenak tingkah istrinya, sambil merasakan sesuatu yang mengganjal di bagian belakangnya, karena perut Lintani yang mulai membuncit menempel di sana. Tak lama kemudian, dia melepaskan tangan Lintani yang melingkari Pinggangnya dan berbalik, lalu, kembali meletakkan tangan itu ke tempat semula.
Dua orang itu kini berdiri saling berpelukan, menatap ke arah luar, dari di depan jendela besar dalam kamar.
“Apa aku mengganggumu?” tanya Lintani tanpa mengalihkan tatapannya pada pemandangan di luar jendela.
“Tidak, kau tidak pernah menggangguku sedikit pun!”
“Tapi, sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu, apa tadi kau sedang menelepon seseorang?”
“Jordan yang menghubungi-ku, tadi. Dia sudah mengirimkan desain untuk Kota Rasevan, kau bisa melihatnya lewat surelku kalau kau mau!”
“Kau benar-benar akan membangunnya kembali? Apa kau memiliki uangnya?”
Lintani langsung melepaskan pelukan dan menatap Askelan lekat-lekat sambil menggenggam kedua tangannya. Dia begitu khawatir apabila keinginannya menjadi beban suaminya. Dia tahu biaya yang dibutuhkan untuk membuat sebuah resort di tempat itu tidaklah sedikit.
“Jangan pikirkan soal uang ... membangun tempat itu mendirikan monumen dan mengabadikan makam keluargamu bukankah itu keinginan terbesarmu sekarang?”
“Ya! Tapi ....”
“Sudahlah ....” Askelan memutuskan ucapan Lintani sambil mencium bibirnya sekilas, “Ada banyak uang di brankasku, tidak masalah kalau uang itu habis asal kau senang, Sayang. Aku bisa mencarinya lagi kalau uang kita kurang!”
Askelan menjawab dengan tenang, seolah-olah membangun resort di pulau itu bukanlah sebuah masalah besar baginya.
“Apa kau mau makan lagi, katakan dia mau makan apa sekarang?” kata Askelan membungkuk dan mencium perut Lintani yang menyembul karena pria itu menyibakkan bajunya ke atas. Namun, belum sempat hidung dan bibirnya sampai menyentuh kulit, Lintani menutupinya.
Seketika Askelan mendongak, dan bertanya, “Kenapa tidak boleh?”
“Kau harus mencium Ibunya dulu sebelum mencium perutnya!”
Mendengar ucapan Lintani, Askelan sedikit heran, sebab dia baru saja mencium bibir istrinya, tapi, dia tidak protes dan langsung menegakkan punggung dan menyimpan satu tangan di belakang kepala Lintani lalu, menciumnya dengan ciuman yang dalam dan cukup lama.
Lintani terdiam saat menyambut ciuman Askelan, dia pikir suaminya itu hanya akan melakukannya sekilas saja, tapi nyatanya pria itu justru menikmati permintaannya. Bahkan, ciuman itu berlangsung sampai beberapa lama. Dia sebenarnya tidak sungguh-sungguh memberikan syarat seperti itu, karena sejak perutnya mulai membesar, Askelan lebih sering mencium bagian itu, daripada bibir atau pipi.
Setelah puas mencium bibir Lintani, Askelan mencium perutnya, lalu berbicara sambil mengusapnya, seolah-olah bayi di dalamnya bisa merespons.
“Kau harus sehat dan jadilah anak yang kuat, ya. Jangan merepotkan Ibumu! Jaga Ibumu baik-baik, Aku akan sibuk membangun kota!”
__ADS_1
Lintani tertawa saat Askelan menegakkan punggungnya kembali, lalu dia berkata, “Mana ada bayi yang menjaga Ibunya, tapi kitalah yang harus menjaganya!”
“Tentu saja, dia adalah bayiku, dia akan terus sehat dan tidak merepotkan adalah cara terbaik bayi untuk menjaga Ibunya. Jadi, kita bisa saling menjaga, bukan?”
Penjelasan Askelan yang lugas, tetap saja tidak masuk akal bagi Lintani, sebab semua bayi di mana pun berada pasti akan merepotkan orang-orang di sekitarnya, karena manusia kecil itu belum bisa mandiri. Mereka sangat tergantung dengan orang-orang dewasa untuk menjaga dan memberinya makan agar hidup dan tetap sehat.
“Kau tidak perlu repot-repot membangun kota kalau memang kau tidak mau, apalagi aku tidak pernah memaksa. Jadi, jangan mengeluh kepada anakmu!” kata Lintani sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Lalu aku harus bagaimana kau memang tidak pernah memaksa kalau meminta sesuatu, tapi aku tetap ingin melakukannya!”
“Kau menolak membangun kembali rumah di bukit, jadi apa salahnya kalau sekarang aku membangun resort untukmu dan anak kita di pulau kecil itu!”
“Hai! Kenapa kau menghancurkannya padahal aku tidak pernah memintamu untuk menghancurkan tempat itu, kan?”
“Memang tidak, tapi Aku pernah melihatmu ketakutan jadi aku pikir rumah itu buruk!”
“Ya ... sebenarnya rumah itu tidak buruk, yang buruk adalah kenangan di dalamnya, bagiku!” Lintani berkata sambil duduk di single sofa yang tidak jauh dari dirinya, dan tetap menghadap ke jendela.
“Ya, aku tahu, seperti kau begitu trauma dan aku tidak suka melihatmu seperti itu maafkan aku!”
“Tidak, kau tidak perlu minta maaf, kenangan yang terjadi di dalam rumah itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, kan?”
Askelan terdiam sebentar, lalu, dia berlutut di kaki Lintani yang tengah duduk itu, sambil memegang kedua tangannya.
“Apa yang kau tahu tentang masa laluku, apa Bibi Elle pernah bercerita padamu tentang apa yang menyebabkan aku di penjara?”
“Tidak. Ibu hanya mengatakan bahwa kau di penjara karena menebus kesalahan yang tidak pernah kau lakukan, itu saja! Sekali lagi maafkan aku, aku sudah banyak berbuat salah padamu!”
Maksud dari Askelan meminta maaf adalah, untuk kesalahannya di pondok kayu, walaupun, kejadian itu bukan sepenuhnya kesengajaan, tetapi, penyebab dari kejadian di sana adalah dirinya, hingga Lintani di penjara. Meskipun demikian, apa yang sudah dia lakukan pada Lintani malam itu, merupakan dosa yang tidak pernah dia sesali.
Sementara dalam pikiran Lintani, Askelan meminta maaf demi kesalahannya sesudah menikah secara paksa. Pria itu sudah memperlakukannya tidak seperti layaknya seorang istri, dengan tidak memberinya cukup makan, mengatai dirinya Pela cur, tidak memberinya kesempatan untuk membela diri dan tidak diberi kasih sayang.
Kesalahan sebanyak itu, tentu sulit dimaafkan, kecuali karena cinta. Di muka bumi ini, cinta bisa membuat seseorang akan lebih mudah melindungi seseorang, bahkan tidak peduli jika yang dilindungi itu salah.
“Sudahlah, kau sudah memperlakukan aku seperti seorang ratu, itu sudah cukup bagiku!” kata Lintani pada akhirnya.
“Jadi, kau memafkan aku walaupun, aku dulu sudah banyak bersikap dan berkata kasar padamu?”
“Ya!”
“Terima kasih, Ratuku?”
__ADS_1
“Kenapa kau ingin membuat rumah, kita sudah punya villa sebesar ini, apa tidak cukup?”
“Rumah ini yang membangun adalah Ayahku, aku ingin membuatkan rumah khusus untuk istriku!”
Askelan menempelkan keningnya dengan kening Lintani, saat gadis itu melingkari pundaknya dengan kedua tangan.
“Tapi ... Aku bukan Ratu!”
“Ya! Kau Ratuku sekarang, aku akan menuruti semua keinginanmu!”
“Baiklah!” kata Lintani sambil memundurkan tubuhnya, “Aku ingin melihat desain kota itu!”
Askelan berdiri, lalu menggendong Lintani dengan sekali angkat.
“Lepas! Aku bisa jalan sendiri! Aku mau turun!” Lintani mencoba melepaskan diri.
“Tidak, aku ingin menggendongmu!”
Lintani merasa aneh, sebab bukan dirinya yang justru lebih sering memaksakan kehendak dan memerintah, walaupun dia sudah menjadi ratu. Akhirnya Lintani hanya menurut dan menghela napas dalam.
Askelan menurunkan Lintani saat sudah berada di ruang kerja. Dia menaruh tubuh wanita yang tengah hamil itu di kursi kerjanya. Menyalakan laptop dan menunjukkan sesuatu di sana.
“Lihat ... bukankah itu bagus?”
Lintani tampak tercengang melihat layar laptop di depannya. Di sana menampilkan rancangan sebuah kota kecil di mana ada beberapa bagian dari kawasan yang akan menjadi tempat pariwisata. Tampak jelas pula ada sebuah monumen untuk keluarga Syahrain dan makam yang bagus dengan gapura besar yang terdapat nama Viana di atasnya.
“Ya! Ini sangat bagus, berapa biaya untuk membuat semua itu?”
“Kau tidak perlu berpikir soal uangnya. Semua sudah aku pikirkan baik-baik.”
Askelan membawa Lintani ke sofa yang terletak di depan meja kerjanya. Lalu, dia mendudukkan wanita itu di atas pangkuannya.
Di saat yang bersamaan, ponsel Lintani menyala, ada sebuah notifikasi dari akun media sosial yang diikutinya. Dia mengalihkan tatapan dari layar laptop ke ponsel yang baru saja di ambil dari saku pakaiannya.
Setelah melihat dan membaca berita pada akun media sosial itu, dia menoleh pada Askelan yang juga tengah sibuk dengan ponselnya.
“Apa kau mengenal orang yang bernama Aston Shaw?”
Bersambung
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Buat kalian yang masih setia mendukung lope sekebon 🥰