Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 78. Bertemu Haifa 2


__ADS_3

Bertemu Haifa 2


Askelan mengangguk, lalu duduk berhadapan dengan Lintani di meja dapur, tempat yang biasa digunakan para pelayan untuk menikmati hidangan bagi mereka. Dia memakan kue buatan Mo dan Lintani itu dengan perlahan. Seolah makanan itu terlalu sayang untuk dihabiskan.


“Apa kue itu enak?” tanya Lintani?


“Ya. Kami selalu makan kue seperti ini dulu, kalau dapat uang lebih. Ibu akan membuatnya untukku.”


“Oh, pantas saja kau begitu menikmatinya.”


Sejenak suasana hening, Askelan menunggu pertanyaan dari Lintani, tentang acara makan malam ini, tapi, berulang kali dia melirik padanya, gadis itu terlihat cuek saja.


Lintani enggan bertanya tentang apa yang akan mereka lakukan nanti malam, bahkan kalau itu berama Haifa. Walaupun, sebenarnya penasaran, tapi, dia merasa percuma saja untuk bertanya, bukankah lebih baik tidak tahu dari pada menemukan sesuatu yang menyakitkan. Apa pun itu, dia akan mengikutinya, sekedar tahu, apakah ada harapan untuk terus bersama atau tidak.


Apabila Askelan sudah mengatakannya, pasti dia sudah mempersiapkannya bukan? Pikir Lintani.


Askelan sudah menghabiskan dua potong besar kue di piringnya, Lintani melayaninya dengan baik hingga saat dia hendak berbalik, gadis itu yang mendorong kursi rodanya.


“Biarkan aku bisa sendiri, persiapkan dirimu,” kata Askelan sambil menepuk punggung tangan Lintani yang ada di dorongan kursi.


“Apa yang harus saya persiapkan, saya sudah mandi, makan malam masih lama!”


“Terserah, tapi, ini acara pertamamu pergi denganku, kan?”


Lintani akhirnya melepaskan pegangan tangannya pada dorongan kursi. Dia heran, kenapa pria itu memintanya mempersiapkan diri. Bukankah mereka akan bersama dengan Haifa, untuk apa berdandan dengan baik, kalau hanya menjadi pecundang nantinya. Begitulah benaknya bicara.


Meskipun dia tidak mengerti, apalagi enggan bertanya, Lintani tetap pergi ke ruang belakang, untuk menemui Mo. Di sana dia melihat perempuan yang berusia lebih dari setengah baya itu, sedang melipat gaun warna ungu yang begitu elegan.


Mo hanya memastikan pakaian yang baru tiba hari itu dari desainer, tidak cacat dan benar-benar rapi. Namun, Lintani mengernyit saat melihat rancangan, warna dan ukuran gaun malam yang mirip seperti pakaian yang pernah di rancang oleh dirinya sendiri di masa Elliyat masih hidup.


“Nona, cantik sekali bukan rancangan ini, kau akan jadi pusat perhatian kalau mengenakannya malam ini!”

__ADS_1


Lintani diam dan menyentuh gaun itu dengan hati-hati, dia berharap rancangannya ditemukan. Lalu, dia menjahit serta menjual sendiri baju hasil kreasinya. Ini menarik, menjadi seorang desainer dan dia akan terkenal karena karyanya. Mewujudkan impian Elliyat dan memamerkan gaun pengantinnya setiap saat.


“Siapa yang membuat pakaian ini, Bi? Apa dia seorang perancang busana?” tanya Lintani sambil menempelkan baju itu ke badannya sambil melihat ke arah cermin besar yang ada di dekat jendela.


“Bukan, dia hanya seorang penjahit profesional, dia bilang, seseorang yang merancang lalu Tuan Askel yang membeli semua bahannya. Dan jadilah baju luar biasa ini!”


“Apa dia membelinya sendiri, Bi?”


“Sepertinya tidak, dia pasti meminta bawahannya yang memilih dan membelinya!”


Lintani mengangguk beberapa kali, seorang seperti Askelan tidak akan mungkin pergi ke pasar atau butik hanya untuk mencari bahan pakaian, kan? Pikirnya. Namun, di balik pikiran itu, hatinya senang, seolah Askelan perduli dengan rancangannya yang hilang lalu, meminta orang lain menjahit baju khusus untuk dirinya.


“Nona, duduklah, aku akan mengurus rambut dan kulitmu!”


“Untuk apa?”


“Tenanglah, Nona, Tuan akan menjadikanmu orang yang istimewa malam ini!”


Mendengar Mo berkata demikian, Lintani tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri. Mo tidak tahu apa arti senyum dan tawa majikannya, tapi, yang jelas dia melihat ada sinar kebahagiaan di matanya.


Mo mengintai rambut Lintani dengan tiga untaian, lalu, menjadikannya sebuah sanggul yang bagus di kepala Lintani, dia menyisakan sedikit anak rambut di dekat telinga sebagai pemanis. Wanita itu tahu selera Askelan yang tidak menyukai gadis berhiasan wajah tebal, hingga dia memoles Lintani dengan riasan lembut.


Lintani bernapas lega saat Mo akhirnya mengatakan jika semua beres dan terakhir dia memakai baju. Dia merasa memakai gaun yang dia rancang sendiri, tapi, bagaimana bisa orang itu membuatnya sama persis padahal gambarnya saja hilang.


Mo memberi sebuah tas tangan yang berwana senada, membuat Lintani yang masih bercermin itu menoleh.


“Untuk apa membawa tas, aku tidak memiliki apa pun untuk di bawa.”


“Nona, ini dari Tuan, terima saja!” Mo menyelipkan pegangan tas itu di tangan Lintani yang sontak saja langsung membuat isinya. Ternyata di dalamnya sudah ada telepon genggam, dan sebuah dompet yang berisi kartu kredit dan tanda identitasnya yang baru.


Lintani tersenyum puas, dia merasa menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Bibirnya tersenyum sambil melihat pantulan dirinya di cermin.

__ADS_1


Hari sudah mulai gelap saat Lintani dan Mo selesai melakukan rangkaian perawatan dan berhias pada berpakaian. Setelah itu dia pergi, melenggang ke teras rumah untuk, menunggu Askelan yang ternyata sudah berada di dalam mobilnya.


Jordan membuka pintu mobil untuk Lintani dan mempersilakannya duduk tepat sisi Askelan. Berbagai perasaan muncul di dalam benaknya yang, tidak keruan karena tahu Haifa akan datang.


“Jemput perempuan itu,” kata Askelan saat Lintani sudah duduk nyaman, dan Jordan mulai mengemudikan kendaraan.


“Kita akan menjemput siapa, Jod? Bukankah makan malam itu biasanya hanya berdua? Tanya Lintani pada Jordan, tapi, matanya melirik Askelan dengan kesal.


Jordan hanya mengedikkan bahunya.


“Apa kau mau kencan juga dengan kami, jadi kita dobel date, ya?”


“Tidak, Nona, saya tidak punya kekasih!”


Jordan sudah beberapa kali melirik Askelan dari kaca spion di depannya, tapi dia tetap tidak mengerti maksud tuannya itu mengajak dua wanita yang jelas-jelas berseberangan makan malam bersama.


Namun, seharusnya Lintani sadar dan mengerti bagaimana posisi dirinya bagi Askelan dari posisi duduk mereka. Semua terlihat jelas, saat menjemput Haifa dan gadis itu sudah menunggu, dengan gelisah di depan rumahnya. Alangkah terkejutnya dia melihat bahwa yang duduk di sisi sang kekasih di kursi belakang, adalah orang yang selama ini menjadi rivalnya.


“Askel Sayang, kita mau makan malam di mana?” tanya Haifa dengan suara lembut mendayu- dayu seperti biasanya. Dia duduk di samping Jordan di kursi penumpang depan, hingga saat bicara dengan Askelan dia harus menoleh kebelakang.


“Nanti kau juga akan tahu,” kata Askelan terdengar acuh.


“Aku penasaran Sayang, aku sudah berpakaian seperti sekarang seperti yang kamu mau, aku pikir kita akan amankan di Restoran Lafonte!”


“Ya! Kita akan ke sana!” sahut Askelan lagi.


Obrolan seperti itu saja sudah membuat Lintani kesal, apalagi hal yang lain. Akan tetapi, dengan sekuat hati dia menahan. Sebelumnya dia merasa tidak perlu cemburu jika Askelan bersama dengan Haifa, lalu, mereka bermesraan di hadapannya, sebab dirinya hanyalah istri sementara. Jadi, mereka berhak melakukan apa pun dan, dia tidak punya alasan mempermasalahkan.


Namun, Askelan memutuskan untuk mempertahankan hubungan dan memintanya tetap tinggal bersama, walaupun, ibunya sudah tiada. Tentu saja wajar jika Lintani kemudian merasa punya hak untuk tidak setuju dengan apa yang dilakukan Askelan padanya.


‘Kenapa harus ada Lin di sini?’ batin Haifa kesal. Dia tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Lintani yang ada persis di belakangnya.

__ADS_1


“Lin, apa kau baik-baik saja?” tanya Haifa. Gadis itu terlihat begitu menghargai Lintani, walau hatinya sepanas besi yang membara.


Bersambung


__ADS_2