
Kabar Dari Rumah Sakit
Sekali lagi dia terkejut saat melihat sebuah tanda rajah pada pinggul Lintani, yang mirip dengan gambar tato di tangan Ibunya dalam foto.
Dahulu dia pernah melihat tanda itu, tapi dia belum menemukan kasus penyerangan seperti kemarin, hingga dia melupakannya begitu saja. Apalagi saat mengerjainya di mobil, dia selalu memegangi pinggulnya.
Askelan semakin gemas dan bersemangat karena dia tidak perlu khawatir perempuan itu akan merasakan sakit dan lainnya. Lintani membalas ciumannya kali ini, dia juga mengeluarkan suara seksi yang unik dari mulutnya saat Askelan mulai menghunjamkan miliknya. Jadi, apakah dia gila, dia tidak mual dan benar-benar menikmatinya.
Sebaliknya, Lintani sekali lagi merasakan hal yang sama seperti saat dulu dia terpaksa melakukan hubungan ini. Namun sekarang, dia menikmatinya, dia pasrah dan membiarkan Askelan berbuat sesuka hati di atas dirinya.
Anggap saja inilah kompensasi itu, anggap saja dia membalas kebaikan dan sebagai bukti ketulusan. Kalau pun nanti dirinya hamil pun akan jelas siapa pria yang harus bertanggungjawab. Pikirnya.
Siapa yang lebih dahulu mendapatkan kepuasan, itu tidak penting, yang penting adalah ketika mereka sama-sama mencapai puncak.
Askelan sudah mencabut miliknya kembali dari atas Lintani dan, merebahkan dirinya ke samping setelah puas. Ini pertama kalinya bagi mereka berdua melakukan kerja sama dalam mencapai puncak. Pria itu terpejam sebentar dan kembali terbangun saat mendengar suara dering telepon.
“Halo!” kata Askelan, setelah menempelkan ponselnya ke telinga, saat bicara, dia belum memakai pakaian dan masih duduk di atas tempat tidur.
__ADS_1
Dia diam mendengarkan suara dari ujung telepon yang tampaknya mengabarkan sesuatu hal penting.
“Hmm ... Jadi, begitu? Baiklah, aku akan segera ke sana!” jawabnya.
Askelan menutup ponsel itu, turun dari tempat tidur dan melangkah ke ruang ganti untuk mengambil pakaian yang bersih. Lalu, membawa pakaian itu ke atas pembaringan.
“Apa kau mau ikut lagi ke rumah sakit?” tanyanya pada Lintani. Dia berkata sambil mengenakan bajunya satu persatu di hadapan gadis itu tanpa canggung sedikit pun.
“Apa Ibu baik-baik saja?” tanya Lintani sambil memakai pakaiannya juga.
“Tidak, dia membutuhkan penanganan khusus, dan dokter Rumah Sakit membutuhkan tanda tanganku. Siapa tahu usaha ini berhasil. Ini adalah metode yang belum pernah dicobakan mereka pada Ibu!”
Askelan menjalankan mobilnya dengan lincah hingga tiba di rumah sakit lebih cepat. Sampai di sana, Jordan menyambut mereka dan mengatakan sesuatu pada majikannya itu tentang rencana dokter. Semua hal yang bisa membuat ibunya bertahan hidup lebih lama, akan selalu disetujui oleh Askelan. Karena baginya kesembuhan Elliyat sangat penting, bahkan dia mengharapkan keajaiban terjadi.
Askelan sudah membubuhkan tanda tangan dan Elliyat akan segera menjalani operasi setelah semuanya siap, baik dokter dan juga tempat pelaksanaannya.
Setelah beberapa jam menunggu penanganan operasi seperti yang direncanakan, tiba-tiba kepanikan terjadi di kalangan dokter dan perawat. Askelan segera mendekati ruang ICU yang tampak sibuk, terdengar suara berdenging dari mesin radio Graf pendeteksi detak jantung, menandakan sudah tidak ada lagi kehidupan di sana.
__ADS_1
“Tuan! Maafkan kami!” kata seorang dokter yang keluar karena melihat Askelan hendak menuju ke arah mereka.
Askelan menarik kerah dokter itu dengan kuat lalu mendorongnya sekuat tenaga ke dinding.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa meminta maaf?” tanya Askelan dengan suara rendah penuh penekanan.
“Itu, Nyonya ... Ah!” pria itu belum selesai bicara tapi sudah memekik keras, karena Askelan memukulnya.
“Bukankah kalian bilang akan mengusahakannya?” teriak Askelan lagi, dia yang semula sudah memiliki harapan tiba-tiba harus dihempaskan seperti ini, membuatnya putus asa.
"Askelan ...!" Lintani mendekat dan mencoba menenangkan pria itu dengan membelai tangannya. namun, Askelan menepisnya kuat-kuat.
"Pergi!"
"Apa? Kenapa aku harus pergi?" tanya Lintani membela diri, dia tidak bersalah, dan dia ingin tetap dekat dengan Elliyat.
"Pergi kalian semua dari sini!" katanya lagi.
__ADS_1
Bersambung