
Mata Yang Sama
Mo diam sejenak untuk berpikir mengingat tempat itu, dia tidak begitu yakin, tapi setidaknya, sopir pasti tahu, “Ya! Aku tahu!” Sambil terus menggunting.
“Kita ke sana, aku akan mengubur rambutku di sana!”
Meskipun heran dengan keinginan Lintani, tapi, dia tetap mengangguk sambil menyahut, “Ya, baiklah.”
“Anakku di kubur di sana, dia tiada setelah tiga hari saja dia hidup, bahkan dia belum bisa melihat siapa ibu yang sudah melahirkannya!”
Tiba-tiba Mo menitikkan air mata, dia tahu seberapa dalam nonanya itu terluka. Tanpa Lintani mengatakannya pun dia tahu, jika anak yang dilahirkannya adalah anak Askelan. Wajar saja kalau dia menolak untuk bertemu dengan suaminya itu, setelah mengetahui kebenarannya.
“Aku memberinya nama Pearl, kau tahu kenapa aku menamakan itu?”
Mo diam, dia mendengar cerita Lintani yang mulai mengalir.
“Saat dia bisa membuka mata, matanya begitu jernih dan sangat murni seperti mutiara, tapi, setelah itu dia tidak pernah membuka matanya lagi. Matanya mirip sekali dengan ayahnya.”
Lintani berkata sambil menitikkan air mata pula, dia ingat bagaimana perasaannya saat pertama kali melihat Askelan, bagaimana dia tidak menyadarinya dari awal, bahkan membuat hatinya jatuh dalam kubangan cinta terlalu dalam.
__ADS_1
“Tuan hanya tidak ingin Nona marah seperti ini ... karena itulah, dia menyembunyikan semuanya dari Nona. Maafkanlah dia, Nona. Tuan sama sekali tidak tahu sebelumnya kalau wanita itu adalah Nona. Dia sangat tersiksa setelah malam itu, bahkan aku pikir terjadi sesuatu di sana. Nyatanya, itu benar. Kau sudah membuatnya gelisah dan tidak bisa tidur sepanjang malam selama delapan tahun.”
Mo pun bercerita bagaimana dia begitu terkejut ketika pertama kali melihat Askelan, tidur sambil memeluk Lintani di apartemen waktu itu. Dia bisa melihat mereka berpelukan, melalui pintu kamar yang dibiarkan terbuka.
Tentu saja Lintani mengingatnya, itu adalah pertama kalinya dia tidur dengan Askelan dan dia pun tidak tahu, mengapa pria itu memeluknya begitu erat, bahkan dia langsung tertidur seperti tidak pernah tidur selama berhari-hari.
Sepertinya yang tersiksa bukan hanya aku tetapi, Askelan juga. Pikir Lintani.
“Tuan menyukai wangi bunga lili seperti Elle pun, menyukai bunga yang sama dan rambutmu ini, tercium seperti wangi bunga itu juga, apa kau menghancurkan kelopak bunga itu dan memakainya pada rambutmu?”
“Ya!”
“Pantas saja.”
“Bukankah, itu lebih baik karena kau bisa mengerjainya dan bisa memiliki bayi lagi dari pria yang sama?”
Lintani diam.
Mo sudah selesai memotong saat bicara, dia melihat Lintani dari depan dan menyamakan hasil potongan, lalu, memperbaikinya.
__ADS_1
“Apa seperti ini cukup, Nona?”
Dua wanita itu sama-sama melihat ke arah cermin besar di ruang tengah di mana mereka berada dan, Lintani hanya tersenyum Dia melihat dirinya yang berbeda, rambutnya pendek dan ada poni menutupi dahinya. Dia tampak lebih manis dan lucu.
Setelah pekerjaannya selesai, dan Lintani sudah puas menatap dirinya sendiri di depan cermin. Mo kembali mendekatinya.
“Nona, Tuan Askel meneleponku, dia bilang, Kakekmu datang ke rumah bersama dengan Yasmin. Apa kau mau menemuinya suatu hari nanti?”
Lintani tetap diam, dia memang berjanji pada Aston untuk menemaninya di rumah sakit, tapi, hatinya sendiri masih sakit. Bagaimana mungkin orang yang sakit harus menjaga orang sakit. Dia tidak ingin keadaannya justru merepotkan Aston karena selalu menangis. Dia tidak ingin menambah beban bagi orang lain, hingga dia tidak akan menemui pria itu kecuali, hatinya sudah lebih baik.
“Aku akan menemuinya nanti!” Lintani berkata sambil melangkah ke kamar untuk merebahkan diri.
Sore harinya, ketika Lintani berniat untuk pergi ke rumah sakit, ternyata cuaca tidak mendukungnya. Hujan deras mengguyur bumi seolah tercurah dari langit. Basah dan gelap di mana-mana, udara jadi lebih dingin dari biasanya.
Lintani melihat pemandangan di luar sambil memeluk dirinya sendiri dia sudah memakai dua lapis sweater bahkan, menyalakan penghangat ruangan tetapi, udara dingin masih dia rasakan. Dia ditemani secangkir coklat hangat tapi, tidak bisa menghilangkan rasa yang membekukan itu, hingga dia berpikir bahwa masalahnya berasal dari hati dan yang bisa menghangatkan adalah suaminya.
Lalu, dia ingat dulu pernah kedinginan seperti itu saat berada di kamar Askelan, sampai tidak sadarkan diri dan dia terbangun dalam keadaan yang sangat hangat, karena Askelan dalam pelukannya.
Dia memegang ponsel ragu-ragu untuk menyalakan benda pipih itu bahkan, tiba-tiba saja dia berharap Askelan menghubunginya. Sejak berada di Villa dia tidak menyentuh benda itu untuk menghubungi suaminya dan, hanya menyalakannya untuk membuat swafoto saja. Barulah saat ini dia tergerak untuk melihat aplikasi chattingnya.
__ADS_1
Bersambung
❤️❤️❤️🙂👍❤️❤️❤️