
Viana Hims Dan Sebuah Jawaban 2
Lintani tidak tahu apa yang harus dia katakan begitu mendengar semua kisah tentang ibu, Kakek, dan seorang musuh, yang sampai saat ini masih hidup dan mungkin memburunya.
Dia membungkuk sedikit lebih dekat pada Pinot, lalu, meneliti wajah pria itu. Lamat-lamat dia ingat tentang sesuatu yang samar, di mana ibunya selalu ke kebun bersama seorang wanita dan seorang pria dewasa. Ibunya pun selalu memakai gelang dan sialnya, gelang itu dia tinggalkan dalam lemari di rumah keluarga Lux.
Ah! Yang benar saja, tapi tidak ... aku tidak akan mencari bukit itu ... Jadi, aku tidak butuh gelang sebagai bukti, aku sudah memiliki Askelan dan itu cukup! Pikir Lintani.
“Lalu, katakan ... apa kau tahu yang terjadi pada keluargaku?” tanya Lintani ketus.
“Semua itu salahku ....!”
“Cepat katakan!” Lintani membentak cukup keras.
“Aku mengatakan semua yang kutahu tentang Kakek Syahrain pada Marka, dia ingin memiliki stempel dan juga gelang yang selalu kau pakai Viana ... apa kau ingat? Aku tidak mau melakukannya, karena aku bukan pencuri. Apalagi Kakek menyimpan stempel itu di bawah tanah, di bawah tempat tidurnya ... dan kau juga tahu! Sulit sekali mengambilnya, jadi, aku memilih memintamu untuk pergi saja.”
“Oh, jadi, ini alasannya kau membawaku pergi waktu itu?” Lintani hanya asal bicara.
“Ya! Aku sudah berusaha melindungimu! Sebelum Marka mengancam akan membunuhmu juga anakmu, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku mencintaimu, Viana ... akhirnya aku memberi informasi tentang di mana stempel itu disimpan Kakek.”
“Lalu, apa hanya itu alasanmu hingga aku harus kehilangan Ayah dan juga anakku? Dasar bodoh!”
__ADS_1
“Maaf .... Aku sungguh minta maaf, semua itu karena aku tidak berhasil mencuri stempel. Marka menculik semua orang satu persatu, dia menginterogasi mereka, agar Kakek Syahrain mengaku di mana dia menyimpannya, aku juga tidak tahu kalau dia akan melakukan kejahatan seperti itu, sungguh!”
“Tentu Ayahku tidak akan mengatakannya, iya kan?”
“Ya. Tentunya semua orang juga tidak ada yang tahu sebab, Kakek hanya menceritakan semuanya padamu, kamu satu-satunya anak yang memang pantas mendapatkan stempel itu.”
“Kau benar-benar tidak membantu Marka melakukan penculikan pada mereka?”
“Tidak! Aku tidak akan tega melakukannya. Aku memilih pergi dan membawamu, sebelum mereka sempat menculik anakmu! Aku bersyukur kau selamat, Viana ... Saat kau meminta untuk kembali menyelamatkan Milo, ada suara ledakan keras itu, apa kau ingat? Perahu kita terbalik, aku berusaha menyelamatkanmu, tapi air danau terasa begitu panas, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi. ”
Lintani merasa sangat geram, “Lalu, kau meninggalkanku begitu saja? Dasar pengecut!”
“Maafkan aku, kita terpental karena ledakan itu, dan aku pikir kau selamat dan kembali ke Rasevan, aku terlalu malu untuk ke sana lagi.”
Saat dia sadar dia sudah berada di rumah saudaranya dan melupakan segalanya, termasuk siapa dirinya. Dia teringat kembali akan sesuatu yang dia lupakan setelah beberapa bulan kemudian, tapi, dia sudah tidak bisa melihat Viana lagi, Rasevan sudah hancur. Lalu, dia terus menyesali diri dan kadang menangis juga tertawa, mirip orang gila.
Pinot beruntung karena saat itu ibunya tengah pergi ke kota untuk menjual hasil kebun, bersama seorang kepercayaan Syahrain. Saat ibunya hendak kembali ke danau, wanita itu menemukan Pinot dalam keadaan pingsan, lalu, membawanya ke rumah salah satu saudaranya.
Di sanalah Pinot dan ibunya tinggal, tapi, akhirnya pria itu tidak tahan memendam bebannya seorang diri, hingga mengatakan semua yang dilakukannya di Rasevan pada ibunya. Tentu saja wanita itu marah dan mengusirnya dari rumah saudaranya. Jadi, seperti inilah dia sekarang, seorang gelandangan yang hampir gila karena dirundung rasa bersalah.
“Tangkap dia!” kata Lintani setelah Pinot selesai bicara, sambil memasukkan kembali pistolnya ke saku celana, “Ikat dia di halaman belakang! Dan jaga, jangan sampai lepas!”
__ADS_1
Lintani merasa bahwa, Pinot harus mendapatkan hukuman karena dia, semua keluarganya akhirnya terbunuh. Walaupun, dia tidak terlibat secara langsung, tapi, dia menjadi salah satu penyebabnya.
“Tolong maafkan aku!” Pinot semakin maju dan menunduk di kaki Lintani, tapi gadis itu menyimpan satu kaki di punggungnya yang membungkuk.
“Cepat, seret dia!”
Semua anak buah melaksanakan semua perintah Lintani dengan senang hati, salah satu anak buah sedang menelepon dan gadis itu tahu, siapa yang dihubungi pengawalnya itu.
Lintani masuk ke kamar dan membanting pintunya, padahal tidak dia tutup pun pintu akan tertutup dengan sendirinya. Dia menangis dan tubuhnya luruh ke lantai, dia merasakan hatinya yang seolah ditusuk ribuan jarum. Sakit ini seperti menguliti dirinya sendiri.
Dia membenci ibunya selama bertahun-tahun tanpa alasan. Namun, setelah mendengar semua cerita Pinot dan Askelan, ternyata dia sudah membenci orang yang salah. Sebab Viana memang benar berusaha melindungi dirinya.
Dia terus menangis, melupakan keindahan matahari tenggelam dan menikmati rasa sakit yang menguasai hatinya bahkan, memenuhi udara penuh dengan rasa kehilangan. Mengapa hanya dirinya yang masih hidup? Pikirnya
“Kenapa Cuma aku yang kau bawa, Ibu ... Kenapa!” katanya sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. Mencoba menekan rasa sakit itu berulang kali meski, gagal. Rasa kehilangan itu masih terasa jelas. Dia hanya pura-pura kuat tadi, saat mendengar cerita Pinot padahal, lututnya sudah gemetar dan tangannya ingin sekali menekan pelatuk senjata yang mengarah ke kepala pria itu.
Menyadari kenyataan jika hanya dirinya yang tersisa, amatlah menyakitkan. Ibu dan ayahnya benar, harta itu hanya akan membawa pertumpahan darah. Dan sekarang, dialah yang bisa membuat pertumpahan darah itu.
“Kenapa kau biarkan Milo tiada, apa karena perahu kita tidak cukup untuk membawa Kakak bersama? Atau ... apa dia juga hilang di culik Marka?”
Tiba-tiba Lintani meraih pistolnya lalu, menggenggamnya kuat-kuat, menghapus air matanya kasar. Kini bola matanya seolah berisi kebencian yang lain. Dia harus pergi ke Rasevan, baik dengan atau tanpa Askelan.
__ADS_1
Bersambung
❤️mohon dukungannya, like, gife, rate 5, dan vote!🙏❤️